
Alex dan teman - temannya tengah di kepung oleh belasan orang yang mengarahkan pistol pada mereka. Alex terkepung saat masuk ke ruangan paling ujung di jajaran sel penjara itu. Sebenarnya ada dua ruangan di ujung sana. Alex dan teman - temannya memilih masuk ke pintu ruangan sebelah kanan. Dan ternyata mereka masuk ke sarang musuh yang jumlahnya lebih banyak dari mereka.
" Selamat datang di markas Kelompok Rajawali Hitam. Tak menyangka kalau kalian bisa sampai sini."
Seorang pria berbadan tegap dan atletis, berdiri di hadapan Alex. Dengan mengarahkan dua pistol di kedua tangannya, ke arah mereka berempat. Alex memberi kode lewat ketukan sepatunya pada A dan B, yang mengerti akan arti kode sandi dari Alex. A dan B merupakan pasukan tentara bayaran yang di bentuk oleh Grandpa-nya Alex. Untuk melindungi keluarganya dari orang - orang yang berkuasa di dunia gelap. Ayah Arthur membentuk sendiri pasukan yang tugasnya melindungi keluarga Anderrson dari kelompok yang ingin menghancurkan atau melukai mereka.
" Dor....!"
" Dor....!"
" Dor....!"
Begitu Alex selesai memberi kode, sesaat itu juga Alex, A, dan B melepaskan tembakannya secara beruntun. A menembak sisi kanan, B menembak bagian belakang dan Alex yang menggunakan dua pistol, menembak sisi kiri dan bagian depan. Alessio hanya diam tak berkutik akan serangan dadakan yang di lancarkan oleh ketiga orang itu. Serangan yang sangat cepat, bahkan lawannya pun tak sempat menarik pelatuk mereka. Akibat serangan barusan musuh mereka langsung tumbang semua, kecuali satu orang. Pria yang tadi menyambut mereka ketika masuk ke ruangan itu. Dia sempat menghindar dengan menarik tubuh orang disampingnya menjadi tameng.
" Dor....!"
" Dor....!"
Kemudian melesatkan tembakannya ke arah Alex dan Alessio yang menghadap ke arahnya.
" Aaaaaakh !!!"
Alessio terkena di bagian perutnya. Dan Alex di dada bagian atas. Berbeda dengan A dan B yang memakai rompi anti peluru. Alex dan Alessio tadi datang kesana tanpa persiapan tempur. Karena mereka mengira yang menculik si Kembar hanya orang jahat biasa yang menginginkan uang tebusan. Ternyata Pria itu sangat ahli menggunakan senjata. Selain pistol dia pun menggunakan belati sebagai senjatanya. Terbukti dia mampu melemparkan belati ke arah A dan B yang ada di belakang Alex dan Alessio, dan mengenai paha mereka. Alessio yang marah dan tidak terima dirinya tertembak, dia membalas secara membabi buta memuntahkan peluru ke arah Pria tadi dan langsung terkapar bersimbah darah.
Alex mengeluarkan kotak medis berukuran kecil yang di simpan di dalam kopernya. Dia mengobati luka tembak Alessio agar pendarahan di perutnya terhenti.
" Tahan sebentar aku akan mengeluarkan peluru di perut mu."
__ADS_1
Dengan menggunakan senter kecil sebagai bantuan penerangan untuk melihat peluru yang bersarang di perut Alessio. Alex dengan mudah bisa mengeluarkan peluru itu. Untungnya peluru itu bersarang tidak terlalu dalam.
" Obat ini akan menghentikan pendarahan di luka mu. Tapi rasanya lumayan akan terasa sakit. Jadi tahan."
Alessio hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti. Begitu Alex menaburkan bubuk obat itu pada luka Alessio.
" Aaaakh....!!!"
Alessio menjerit kesakitan dengan suara keras, memenuhi seluruh lantai bawah tanah. Obat yang di berikan oleh Alex sangat manjur untuk mengeringkan luka dengan cepat tapi rasa sakitnya sungguh sulit untuk di ungkapkan dengan kata - kata.
" Aku sudah bilang akan terasa sakit."
" Tapi Bos, aku nggak menyangka akan sakit seperti ini. Bahkan lebih sakit dari rasa tertembak tadi." Alessio meringis menahan rasa sakitnya.
A dan B pun di mengobati lukanya menggunakan obat yang sama dengan Alessio. Mereka meringis menahan rasa sakit yang amat sangat. Walau bagi mereka ini sudah sering merasakannya, tetap saja sakitnya tak tertahan. Alex pun sama, dengan di bantu oleh A untuk mengeluarkan peluru di dadanya, dia menaburkan sendiri obat itu di atas lukanya. Setelah mereka selesai mengobati luka - luka mereka. Akhirnya mereka bergerak lagi, ke bagian ruangan satunya lagi.
" Papa....!!!" Teriak Angkasa, sedangkan Bintang hanya bergumam.
" Halo, tuan Alessio apa kabar ?"
" Senang bisa berjumpa dengan mu." Kata lelaki yang berdiri di belakang Angkasa dan Bintang.
" Kamu siapa ? Apa aku juga mengenal mu ?"
Alessio terheran dengan orang yang mengenal dirinya. Alessio berpikir kalau orang itu adalah rekan bisnisnya yang mungkin dia lupakan. Karena Alessio merasa baru pertama kali bertemu dengan Lelaki itu.
" Aku Bagas Dijaya, anak dari Bagus Dijaya. Orang yang pernah menjalin kerjasama dengan anda, Tuan Alessio."
__ADS_1
" Oh anaknya Bagus. Terus kenapa kamu menculik anak - anak itu ?"
" Untuk di tukar dengan kebebasan Anggit, saudara sepupu ku."
" Oh. Gara - gara kamu aku jadi terluka."
" Sekarang kau bebaskan kedua anak itu."
" Tapi maaf tuan Alessio, itu tidak mungkin. Karena ini satu - satunya cara untuk membebaskan sepupuku." Kata Bagas tegas.
" Ya, terserah kamu. Aku hanya memberikan saran saja."
" Angkasa, Bintang tutup mata kalian rapat - rapat jangan sampai kebuka. Jangan dengarkan apapun suara yang ada di sini. Bayangkan saja kita sekeluarga berlibur di pantai. Kita berenang di lautan." Alex mesugesti kedua anaknya.
Alex tidak mau anak - anaknya mengalami trauma akibat melihat tindakan kekerasan atau kekejaman di depan mata mereka. Kalau bisa Alex ingin menyelamatkan dan mengeluarkan terlebih dahulu anak - anaknya. Tapi itu sulit karena Bagas tidak mau melepaskan sandera.
" Dor....!!!"
" Dor....!!!"
Baku tembak terjadi di antara mereka. Alex dan teman - temannya harus hati - hati agar tidak terjadi peluru salah sasaran mengarah pada dua bocah itu.
Angkasa yang memejamkan matanya, berusaha membayangkan dirinya, Langit, Bintang, Mama, dan Papanya berlibur di pantai yang memiliki laut yang indah, kemudian mereka berenang bersama, bermain air bersama.
Berbeda dengan Angkasa, Bintang tidak dapat membayangkan apa yang di minta Papanya. Karena pada kenyataannya kini dirinya berada di ruangan yang lembab, dan pengap, serta agak gelap. Ditambah suara tembakan yang di lancarkan oleh orang - orang yang ada di dalam ruangan itu. Membuat Bintang ketakutan. Karena rasa ketakutan yang berlebihan dan tekanan yang di rasakan oleh Bintang. Menyebabkan dia pingsan, tak sadarkan diri.
Merasa ada yang aneh sama saudara kembarnya. Angkasa membuka matanya dan melihat Bintang yang kepalanya bersandar di bahunya. Wajah Bintang bila dilihat dari ruangan yang terang akan terlihat sangat pucat seolah - olah tidak ada darah dari wajahnya. Tapi yang sekarang terlihat jelas oleh Angkasa wajah Bintang di penuhi peluh. Melihat keadaan saudaranya Angkasa panik.
__ADS_1
" Papa....!!! Bintang....!!!" Teriak Angkasa yang mengalihkan semua perhatian kepadanya.
\* \* \* \* \* \* \*