
Akira pun meminta pihak penanggung jawab ujian ini, untuk memperlihatkan rekaman cctv keadaan di Pulau Mori. Ternyata bukan hanya Akira saja yang ingin tahu keadaan murid-muridnya. Wali kelas yang menjadi guru pendamping, mereka juga ingin tahu keadaan muridnya.
Kamera cctv di Pulau Mori, tidak menangkap adanya keberadaan murid-murid yang sejak tadi sudah pergi berlayar.
"Apa mereka belum juga sampai ke Pulau Mori?" tanya Nissan Hikari.
"Mana mungkin belum sampai ini sudah hampir dua jam, dari waktu keberangkatan mereka sore tadi." Toyota Eiji membantah pembicaraan teman seprofesinya itu.
"Lalu sekarang mereka berada dimana?" tanya Subaru Matsuda yang ikut melihat dan memeriksa rekaman kamera cctv.
"Apa ... mereka pergi ke ... Pulau Hi?!" tanya Akira ragu-ragu.
"Apa!" Semua orang yang di sana terkejut mendengar ucapan Suzuki.
"Kalau begitu mereka berada dimana sekarang?!" tanya Suzuki dengan putus asa mencari keberadaan murid-muridnya.
"Bisa jadi mereka ada di sana sekarang," kata Subaru Matsuda.
"Bagaimana kamu punya pikiran kalau mereka pergi ke Pulau Hi?" tanya Nissan Yukari.
"Insting seorang guru, yang punya murid tidak bisa diam," jawab Suzuki dengan kesal mengingat kembali kelakuan murid-murid di kelasnya.
"Baiklah kita cari tahu, keberadaan mereka di Pulau Hi!" ajak Toyota Eiji.
"Maaf, sensei. Kita tidak bisa mengakses keadaan di Pulau Hi, karena tidak ada kamera cctv yang menyala di sana. Semalam semua cctv di Pulau Hi, rusak. Baru ketahuan saat tadi siang dan belum bisa pergi ke sana untuk memperbaikinya.
"Jangan bilang kalau kalian juga punya pemikiran yang sama denganku," kata Subaru Matsuda.
"Bagaimana, ya. Sepertinya kita punya satu pemikiran," balas Suzuki Hoshi.
"Lalu bagaimana, caranya kita pergi ke Pulau Hi. Semua kapal laut baru saja dipakai untuk mengantar para murid ke pulau yang lainnya?!" tanya Nissan Yukari.
*******
Murid-murid Academy Matsumoto, yang berada di Pulau Hi. Kini benar-benar terisolasi. Tidak bisa komunikasi dengan dunia luar. Tanpa ada peralatan apapun yang bisa dimanfaatkan untuk kertahan hidup. Dua puluh orang anak kembali nyawanya terancam di Pulau Hi.
__ADS_1
Langit justru merasa senang, dengan kejadian ini. Dia memperkirakan kalau ada orang yang ingin mengungkap dan menutupi kejadian kecelakaan di Pulau Hi, dua puluh tahun lalu. Bahkan Langit, kini merasa ada yang ingin balas dendam atas kejadian itu.
Langit yang sedang Almahira, kumpul kembali dengan yang lainnya. Hari juga sudah mulai gelap. Langit dan Almahira pun melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Banyak murid-murid Academy Matsumoto, yang tidak tahu itu. Langit yang sebagai imam dan Almahira menjadi makmumnya. Mereka malah menjadi tontonan, dan mendengarkan saat Langit membaca ayat-ayat suci.
Langit sebelumnya sudah tahu geografis Pulau Hi, begitu juga dengan Almahira. Sebelumnya mereka sempat membicarakan kecelakaan ledakan bom itu, sewaktu di rumah mertuanya. Jadi, Langit tahu kalau di Pulau Hi, ada dua gua. Satu di dekat lereng bukit, dan satunya lagi di dekat pantai.
Maka Langit pun memilih gua yang dekat pantai, agar dia mudah memantau atau melihat bila ada kapal laut yang lewat. Murid laki-laki pun mencari kayu bakar untuk membantu penerangan dan juga menghangatkan suhu di dalam gua. Sebab hari itu sangat dingin sekali.
Langit pun memeluk Almahira karena jaketnya dia pinjamkan kepada Subaru Sora, karena dia memakai baju tanpa lengan. Sementara pasangan lainnya, ada Kawasaki Kenzo dan Matsumoto Hana, Yamaha Ryu dengan Hino Rey, Mitsubishi Akai tentunya dengan Lovely, dan yang membuat orang kaget adalah Daihatsu Sena dengan Daihatsu Yosuke, gosip yang beredar mereka tidak pernah akur. Namun, kini semua orang di sana melihat betapa posesifnya Yosuke kepada Sena.
"Sayang, apa Daihatsu Sena itu pacaran dengan Daihatsu Yosuke?" bisik Langit, tepat di telinga Almahira.
"Mungkin saja. Karena aku tidak sengaja pernah melihat wallpaper handphone dia gambarnya dia dan Yosuke, berpose sangat intim."
"Apa mereka terlibat hubungan in---"
Langit tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi karena dua jari milik Almahira menutup bibirnya. Langit pun mengerti, akhirnya dia malah memilih diam.
Udara malam semakin dingin, untungnya tadi mereka mendapatkan kayu dalam jumlah banyak. Jadi, tidak takut kehabisan atau apinya padam. Mereka semakin mengeratkan pelukan pada pasangannya masing-masing.
Matsumoto Hana pun tidak berkutik dalam pelukan Kawasaki Kenzo. Demi bertahan hidup, dia menurunkan egonya. Kawasaki tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Langit beberapa kali memergoki mereka berciuman dengan liar. Bahkan Langit pun belum berani begitu dengan Almahira, yang sudah menjadi istrinya. Gaya hidup dan pemikiran orang Indonesia sama Jepang, banyak bedanya.
"Sayang, aku mohon lihat baik-baik, dan ingatlah, apa yang dilakukan oleh teman-teman yang lainnya. Keadaan Mitsubishi Dai, agak aneh!" bisik Langit kepada Almahira.
Langit pun mendekati Mitsubishi Dai yang duduk bersandar ke dinding gua. Saat Langit menggoyangkan bahunya, dia malah tersungkur dan membuat Langit panik.
"Mitsubishi Dai! Bangun!" Langit menggoyangkan badan Mitsubishi Dai yang sudah kaku.
Langit pun memeriksa urat nadi di lehernya. Ternyata sudah berhenti denyutnya. Begitu juga dengan jantungnya sudah tidak berdetak lagi. Ternyata bukan hanya Mitsubishi Dai yang mengalami itu. Ada beberapa murid lainnya mengalami hal yang sama.
"Hai, kalian semua! kondisi Mitsubishi Dai dan beberapa teman yang lainnya ada yang aneh!" teriak Langit.
"Apa maksudmu?" tanya Mitsubishi Akai, dan langsung mendekati Langit yang sedang memeriksa saudara kembarnya.
"Lihatlah keadaan saudaramu!"
__ADS_1
Mitsubishi Akai, memeriksa saudara kembarnya. Suhu tubuh sudah terasa dingin, dan urat nadi tidak terasa denyutnya. Seketika dia meneteskan air mata. Dia bisa mastikan sendiri kalau saudara kembarnya telah meninggal. Ada lima teman lainnya yang mengalami hal yang sama.
"Apa dia sudah meninggal?" tanya Kawasaki Kenzo.
"Aku tidak yakin. Kawasaki kun, tolong buat dua api unggun lagi agar suhu di dalam gua ini lebih hangat lagi!" perintah Langit.
"Langit kun, apa mereka masih hidup atau sudah mati?" tanya Daihatsu Sena, mendekati Langit.
"Tidak tahu," jawab Langit singkat.
"Apa kamu saudaranya Angkasa?" tanya Lovely mendekati Langit dan memperhatikan wajahnya.
"Gawat!" gumam Langit.
"Langit kun, aku sudah berhasil buat api unggun. Lalu apalagi?" tanya Kawasaki.
"Letakan mereka yang tidak sadarkan diri, di antara dua api unggun itu!" Langit pun mendekati Subaru Sora.
"Maaf, ya aku pinjam dulu jaketnya!" pinta Langit ingin meminta jaketnya lagi.
*******
Apa yang akan dilakukan oleh Langit terhadap teman-temannya yang tidak sadarkan diri?
Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada mereka?
Ikuti terus kelanjutannya ya 🥰
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE, NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1
MAMPIR JUGA YA KE KARYA SAHABAT AKU, SESAMA AUTHOR. Judulnya: My Seoul: Love ia Gone. Author: Chika Ssi