
Paris menggenggam tangan Angkasa. Mereka berjalan memasuki mobil Angkasa. Perasaan Paris campur aduk, saat ini. Terkejut, tidak percaya, senang, sedih dan takut. Terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Angkasa. Tidak percaya dengan yang terjadi saat ini. Senang karena laki-laki yang dicintainya menginginkannya. Sedih karena Daddynya sudah menghianatinya juga. Takut kalau semua ini adalah kebohongan yang memanfaatkan dirinya.
Angkasa membukakan pintu mobil untuk Paris. Dia meminta Milan, untuk mengikuti mobilnya. Angkasa pun mulai melajukan mobilnya ke arah pinggiran kota. Dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Agar mengulur waktu untuk Bintang mempersiapkan semuanya.
"Apa yang tadi kamu ucapkan itu benar? Kalau kita akan menikah?" tanya Paris masih tidak percaya.
"Iya. Apa kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Angkasa.
"Bukannya kamu tadi menolak permintaanku untuk menikah. Tapi sekarang malah kamu buat seakan-akan kita akan menikah beneran." Paris memasang wajah kesal dengan bibir yang mengerucut dan tangan di dada.
"Maafkan aku. Aku akui memang plin plan tadi. Bintang sudah meyakinkan aku untuk menikahi kamu. Hanya saja, aku tadi berpikir kalau papaku, tidak setuju. Maka kamu tidak akan di akui sebagai menantu keluarga Andersson. Apa kamu tahu? Saat tadi aku menolak ajakan kamu untuk menikah. Bintang dan Langit langsung memarahi aku. Mereka berdua silih bergantian memarahi aku selama satu jam, sampai telingaku sakit." Angkasa menunjukan earphone yang ada di telinganya.
Paris, hanya menatapnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Angkasa barusan. Jujur, dia senang mendengarnya. Dia juga tidak bisa membayangkan bisa hidup bahagia jika bukan dengan Angkasa. Biarlah dia egois untuk menggapai kebahagiaan dalam hidupnya bersama orang tercinta.
Sambil menyetir, tangan Angkasa yang sebelah menggenggam tangan Paris. Dia ingin gadisnya itu mempercayai keputusan yang sudah dia rencanakan.
"Aku sudah siap, seandainya papa marah sama aku, dan mencoret dari daftar anggota keluarga Andersson. Bintang dan Langit mendukungku agar selalu bersama dengan kamu." Angkasa sekilas melihat ke arah Paris, sambil tersenyum.
Paris terkejut, menatap Angkasa dengan meneliti. Kalau laki-laki yang sedang menggenggam tangannya itu tidak sedang ngelindur. Namun, genggaman hangat tangannya membuktikan kalau dia dalam keadaan sadar.
"Jangan gila, Darling!" pekik Paris, "eh, Angkasa, kamu--"
"Darling," potong Angkasa. "Aku senang kamu memanggilku seperti itu."
Paris pun tersenyum di kulum. "Darling, kamu jangan nekat!"
"Jika ini konsekuensi karena menikahi kamu. Aku akan menjalaninya. Mungkin hartaku akan banyak dibekukan. Paling hanya tinggal tak seberapa? Apa kamu tidak masalah hidup sederhana saat menjalani kehidupan keluarga kita nanti?" Angkasa melihat ke arah Paris, ingin melihat reaksinya seperti apa.
"Iya! Aku bersedia. Asalkan bisa hidup dengan kamu, aku tidak keberatan," jawab Paris dengan senyum kebahagiaan.
"Hm, terima kasih, Honey." Angkasa kembali fokus mengemudi.
__ADS_1
Perasaan Paris langsung melambung tinggi saat mendengar, panggilan sayang dari Angkasa. Senyum di bibirnya masih saja tersungging. Menunjukan kalau sekarang dia merasa sangat bahagia.
*******
Mobil Angkasa telah sampai ke cafe milik Ghazali, yang dulu dia bangun saat kuliah di sana, dan sampai sekarang masih eksis. Tempat paling nyaman buat anak-anak muda makan dan belajar juga bersosialisasi. Tempat itu kini sudah diubah dekorasinya menjadi tempat pesta pernikahan yang cantik, walau berukuran kecil, dibandingkan di ballroom hotel.
Namun, dekorasi yang cantik dan elegan, sungguh sangat enak dipandang mata. Bunga warna merah mendominasi juga lampu-lampu hias berwarna putih hangat, menghiasi seluruh area cafe. Meja-meja juga di tata serapi mungkin di sisi kanan karena di sebelah kiri ada menu makanan dan minuman. Walau tidak terlalu banyak karena tamu undangan yang hadir juga hanya sedikit.
Ada panggung kecil yang nantinya akan menjadi tempat ijab qobul. Paris seorang muslim, sementara Helsinki, bukan. Jadinya, dia akan dinikahkan oleh wali hakim. Langit meminta imam dan beberapa pekerja yang berada di Islamic Center Jerman, menjadi penghulu, wali nikah dan saksi.
Milan, terbengong melihat itu. Ghazali pun memintanya untuk duduk dan melihat proses pernikahan Angkasa dan Paris.
Bintang dan Almahira membawa Paris, untuk didandani sebagai pengantin wanita. Segalanya sudah benar-benar Bintang, persiapkan dengan matang. Pelajaran pengalaman menikah dadakan dirinya dan Langit. Membuat dia tahu apa yang pertama kali harus dilakukan dan menyiapkan apa saja.
*******
Kini Angkasa menjabat tangan yang menjadi wali nikahnya Paris. Jantung dia terasa berdebar dengan kencang, tapi hatinya sungguh senang. Angkasa terus berdoa dalam hati semoga diberi kelancaran dan kemudahan.
"Saya terima nikah dan kawinnnya Paris Emira Alaric untuk saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah!"
"Sah."
"Alhamdulillah,"
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” (Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan)
Bintang pun membawa Paris kehadapan Angkasa. Penampilan Paris yang berhijab membuat Angkasa, terpana.
Paris yang berdandan begitu cantik membuat Angkasa tidak bisa memalingkan wajahnya dari gadis yang baru saja telah menjadi istrinya itu. Dengan langkah perlahan Paris berjalan ke arah suami barunya. Kini keduanya berdiri berhadapan.
__ADS_1
Angkasa memasangkan cincin nikahnya kepada Paris. Kemudian Paris, mencium tangan Angkasa sebagai bukti penghormatan padanya. Sedangkan Angkasa berdoa dan meniupkan ke ubun-ubun Paris.
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan atas dirinya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepadaMu dari kejelekan atas dirinya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya."
Doa Angkasa yang di aamiin kan oleh Paris. Paris pun meminta keridhoan Angkasa agar bisa menjadi istri yang sholeha. Tempatnya berbagi dan mengharapkan ridho pahala dari Allah.
Setelah selesai menandatangani semua dokumen pernikahan mereka. Keluarga mereka memberi selamat dan mendoakan kebaikan bagi rumah tangga baru bagi Angkasa dan Paris. Sekarang Paris Emira Alaric telah sah menjadi istri dari seorang Angkasa Rafa Abdulmalik.
"Aku senang sekali, Honey. Akhirnya kamu menjadi istriku!" Angkasa memandangi wajah cantik Paris yang berhijab dan tangan mereka saling menggenggam.
"Aku juga senang bisa menjadi istrimu, akhirnya semua bisa berjalan dengan lancar," kata Paris sambil tersenyum bahagia.
Paris merasa bersyukur semuanya berjalan dengan lancar. Dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bintang. Apa saja yang harus dilakukan olehnya nanti setelah selesai ijab qobul.
******
Akhirnya Angkasa dan Paris sudah menikah, dan sah sebagai suami istri.
Bagaimana reaksi Alex dan Helsinki?
Apa Angkasa dan Paris benar-benar akan bahagia setelah mereka menikah?
Tunggu kelanjutannya ya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1