Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 29


__ADS_3

     Angkasa yang tadinya ingin menyusul Akira ke Perancis, mengurungkan niatnya karena permintaan Bintang. Ada hal yang harus dilakukannya sekarang.


"Ada apa Bintang?" tanya Angkasa begitu masuk ke apartemennya.


"Salam dulu dong Kak!" 


"Assalammualaikum,"


"Wa'alaikumsalam,"


"Ada hal penting apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Angkasa sambil duduk dan mengambil alih Chelsea dari pangkuan Bintang. Diciumnya pipi gembul milik Chelsea dengan gemas.


"Apa sebaiknya kita datangi rumah milik Caracas dan Wina. Mungkin saja ada petunjuk atau barang bukti kalau mereka mati dibunuh."


     Angkasa terdiam mendengarkan perkataan dari Bintang. Sebenarnya, dia juga ada keinginan untuk mencari tahu kebenaran dari kematian orang tua Chelsea. Hanya saja saat ini, pikirannya terlalu condong kepada Paris. Dia takut apa yang dikatakan oleh Milan beberapa hari lalu, akan menjadi kenyataan. Milan akan membawa dan menjadikan Paris, miliknya. Ingatan saat itu terus saja berputar dalam otaknya sejak semalam.


     Bagi Angkasa, hal yang lainnya bisa menunggu, tetapi Paris baginya tidak. Istrinya harus bisa didapatkan lagi olehnya. Apapun yang terjadi, dia tidak boleh menundanya. 


"Maaf Bintang, aku akan ke Perancis untuk membawa Paris kembali. Aku minta kamu dan Langit saja yang mengurus Caracas dan Wina," kata Angkasa sambil menepuk-nepuk bokong Chelsea yang kelihatannya sudah sangat ngantuk.


"Hm, entahlah. Itu seharusnya menjadi tugas kamu," kata Bintang.


     Bintang pun tidak janji akan melakukan itu, jika tidak bersama Langit. Dia sudah berjanji kepada Ghazali, tidak akan melibatkan diri dalam perkelahian. Kecuali, jika dalam mepet dan dia harus membela dirinya sendiri dengan berkelahi.


"Apa aku minta pada Papa, untuk mengirim balik Peter ke sini, ya?" tanya Angkasa dengan suaranya yang lirih.


"Aku setuju! Selain bisa membantu, dia juga bisa PDKT langsung sama Madina," jawab Bintang penuh dengan berbinar.


     Maka, Angkasa pun menghubungi Papanya dan meminta agar Peter dikirim kembali kepadanya.


"Pah, bisa kirim Peter kembali ke sini?" tanya Angkasa dengan hati-hati, dirinya sudah mempersiapkan jika keinginannya itu ditolak.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Alex balik dengan nada datarnya. Dia masih kesal karena Angkasa sudah melanggar perintahnya.


"Aku butuh bantuannya saat ini," jawab Angkasa.


"Bukannya sudah ada Akira," balas Alex.


     Angkasa tahu kalau saat ini papanya masih marah kepadanya. Jadi, percuma saja banyak bicara karena akhirnya tidak akan dikabulkan permintaannya.


"Maaf sudah ganggu waktu Papa," ucap Angkasa kemudian memutuskan panggilan teleponnya.


     Wajah lesu Angkasa langsung terlihat, Bintang pun tahu kalau permintaan mereka tidak disetujui oleh papa mereka. Angkasa lebih memilih masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya bersama Chelsea.


     Angkasa tahu konsekuensi dari melanggar perintah papanya. Maka, dia pun sudah siap jika harus kehilangan haknya sebagai anggota keluarga Andersson, saat menikahi Paris.


     Angkasa pun menghubungi Akira, tetapi tidak juga dapat tersambung, panggilannya itu. Maka Angkasa pun bersiap-siap pergi dan membawa Chelsea bersamanya. Waktu pun menunjukan jam 23.15 semua orang sudah terlelap dalam tidurnya.


     Angkasa pun menuliskan pesan untuk Langit, yang sedang tertidur dan untuk Bintang yang tidur di apartemen milik Paris. Tidak ada waktu lagi untuk mengulur-ngulur dalam menyelamatkan Paris. Kali ini lawan yang dihadapi oleh mereka selalu bergerak cepat.


     Angkasa dengan mengendarai mobil super cepatnya. Membelah jalanan Di Jerman yang lenglang menuju Prancis. Tidak sulit bagi Angkasa untuk mengemudikan kendaraannya dengan cepat. Hatinya sejak siang terus gelisah memikirkan Paris.


******


     Pagi-pagi waktu sarapan Angkasa baru sampai ke rumah keluarga Alaric. Rumah mewah itu terpasang gerbang yang sangat tinggi. Angkasa pun menekan tombol bel agar ada penjaga yang membukakan pintu gerbangnya. Namun, saat penjaga tahu siapa tamu yang datang ke sana di pagi hari, mereka menolak kunjungan Angkasa. 


"Maaf, Tuan Muda Angkasa. Anda tidak bisa masuk ke dalam kediaman Alaric," kata penjaga gerbang.


"Aku mohon! Aku harus bertemu dengan Paris," pinta Angkasa lagi.


"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan." Penjaga gerbang itu pun pergi meninggalkan Angkasa.


"Oke. Kalian pikir aku akan menyerah begitu saja!" Angkasa masuk ke dalam mobilnya dan memulai aksi baru lagi. Sebab, yang tadi gagal.

__ADS_1


     Nama Angkasa salah satu nama yang tidak diizinkan masuk ke dalam rumah. Maka Angkasa pun sangat kesal. Kemudian, Angkasa memilih dengan cara menyusup untuk masuk ke rumah keluarga Alaric.


     Angkasa membobol sistem keamanan rumah Alaric, setelah itu dia menyusup menggunakan alat panjat. Dia menggendong Chelsea di punggungnya dan tas disimpan di depan dadanya. Menaiki benteng seperti ini masih mudah bagi Angkasa.


     Chelsea sepertinya tahu kalau mereka sedang melakukan penyusupan. Maka, dia tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun. Bayi berusia satu tahun lebih itu seolah tahu perasaan Angkasa. Meski mata Chelsea terbuka lebar, tapi mulut dia diam.


     Angkasa menanjat lagi ke lantai tiga menggunakan alat bantunya lagi. Menggunakan alat-alat militer buatan Andersson bisa memperlancar tujuannya. Dalam waktu singkat, Angkasa sudah sampai ke beranda kamar Paris. Angkasa sangat terkejut saat melihat keadaan kamar Paris, yang berantakan. Angkasa pun bingung mau masuk lewat mana karena semuanya sudah dipasang teralis besi. Seakan Paris itu sedang di penjara. Angkasa pun mencoba menyebrang ke balkon kamar sebelah. Sebab, dilihatnya kamar itu tidak menggunakan teralis besi.


*******


Apakah Angkasa berhasil masuk ke dalam rumah Alaric?


Dimana Akira dan Athena berada?


Tunggu kelanjutannya ya.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


Mampir juga ke karya teman Author. Cerita seru !



 


 

__ADS_1


 


__ADS_2