
Sudah dua hari Cantika mengantarkan anak - anaknya kesekolah. Dan hari ini dia merasa ada mobil yang mengikuti mereka sejak keluar dari rumahnya. Awalnya Cantika agak takut tapi saat mendapat pesan SMS dari Alex kalau mulai hari ini akan ada pengawal yang mendampingi mereka, dia mulai agak tenang. Cantika berpikir untuk apa menempatkan mereka, toh selama ini dirinya dan anak - anak baik - baik saja, dan aman - aman saja.
Setelah mengantarkan anaknya kesekolah Cantika pergi ke cafe. Ternyata suasana cafe di pagi hari juga lumayan ramai, banyak mahasiswa dan pekerja kantoran di lingkungan sekitar yang makan sarapan disana. Dan karyawan baru yang dipekerjakan oleh Alex juga sudah mulai bekerja.
Saat Cantika melayani pembeli, datang Arga dan menarik Cantika ke ruangan kantor di lantai atas.
" Ada apa Mas Arga ?",
" Apa benar kamu menerima lamaran dari bule itu !", Arga tiba - tiba bertanya.
" Apa maksudmu ?",
" Jawab aku Cantika ? Apa bule itu melamar kamu ?", Suara Arga mulai meninggi.
" Kenapa Mas marah ?",
" Bukankah sudah aku bilang padamu, sabar dan tunggulah aku. Aku akan menikahi kamu !!!", Arga begitu panik takut kebenaran dari berita yang didengarnya itu.
" Sudah berapa tahun, aku menunggu Mas untuk meminang aku ?",
" Aku kan sedang berusaha ", suaranya mulai melemah .
" Dan bukankah sekarang Mas sudah punya tunangan dan akan menikah sebentar lagi ",
" Sudah aku katakan dari dulu, hanya kamu wanita yang akan aku nikahi ", Arga mulai merasa sesak.
" Sebaiknya mulai sekarang kita menjalani kehidupan masing - masing, dengan pasangan kita ",
" Tidak... Tidak mau !!", Arga menolak tegas.
" Ayolah Mas Arga, mungkin kita tidak ditakdirkan berjodoh ",
" Jangan bicara seperti itu ", Arga merasa putus asa.
" Mungkin ini yang terbaik buat kita, Mas ",
" Cantika, kamu tidak mengenal siapa Alex kan ? ",
" Ya aku tidak mengenalnya, tapi Allah mengenalnya. Mungkin inilah jawaban dari shalat istikharah ku selama ini. Anak - anak menginginkan dia menjadi ayahnya. Erlangga juga sudah memberikan izin. Paman Ja'far juga sudah memberi restu ",
__ADS_1
" Tapi kamu tidak mencintainya, Cantika. Apa kamu ingin menikah dengan orang yang tidak kamu cintai ?",
" Bukan tidak mencintainya, tapi belum mencintainya saat ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, Mas. Mungkin besok atau lusa cinta itu datang dalam hatiku untuknya ",
" Aku harap kamu mengubah keputusanmu itu ", Arga pergi meninggalkan Cantika.
Cantika duduk bersandar di sofa, matanya terpejam mengingat pembicaraan singkatnya antara Alex dan Paman Ja'far kemarin lewat telephon. Dengan beraninya Alex memperkenalkan dirinya meminta restu untuk menikahi Cantika pada Pamannya itu dan mengakui bahwa dia adalah ayah dari si kembar. Alex akan secepatnya kembali ke Indonesia untuk melamarnya secara resmi, bahkan kalau bisa langsung nikah saja. Ternyata Paman Ja'far memberikan restunya pada Alex, ini diluar dugaan Cantika. Kenapa Pamannya langsung memberikan restu pada Alex, tanpa mencari tahu siapa Alex, bibit - bobotnya keluarga Alex.
Bukan hanya itu, Alex juga menghubungi Erlangga yang lagi di pondok. Meminta izin padanya untuk meminang sang Kakak. Erlangga tak langsung memberikan jawabannya, tapi dia minta diskusi dulu sama ketiga ponakannya itu. Tentu saja si Trio Kancil setuju Alex jadi ayahnya. Akhirnya Erlangga memberikan izin pada Alex untuk menikahi Kakaknya.
Cantika menilai kalau Alex adalah orang yang selalu bergerak cepat dalam bertindak. Dalam waktu sekejap saja banyak hal yang bisa dilakukannya. Seolah jangan menyia - nyiakan waktu dan kesempatan yang ada.
Cantika pasrah mungkin ini adalah jalan yang terbaik yang telah Allah gariskan untuknya.
* * * * * * *
Disekolah Trio Kancil sedang makan siang dibawah pohon di belakang bangunan kelasnya. Banyak anak - anak lain juga melakukan hal yang sama. Mau itu sendirian atau berkelompok.
" Kak Angkasa kalau nanti Mama sama Papa menikah kita akan tinggal dimana, ya ?", Langit bertanya apa yang menjadi pikirannya sejak pagi tadi.
" Terserah mereka saja, kita cuma bisa ikut di mana mereka akan tinggal ",
" Langit juga suka tinggal disini. Tapi Papakan tinggal ya jauh di Amerika sana ",
" Kalau Mama dan Papa tinggalnya berpisah, itu sama aja bo'ong meski mereka telah menikah",
" Jadi gimana, Langit nggak mau kalau sudah punya Papa tapi nggak tinggal bersama",
" Bintang juga nggak mau lagi berpisah" ,
" Kita bicarakan ini, nanti saja sama Mama Papa ", Angkasa mengakhiri pembicaraan itu.
Tiba - tiba datang penjaga sekolah menghampiri mereka bertiga.
" Ada apa Mang Safri ?", Tanya Bintang.
" Itu ada yang nyariin kalian bertiga di halaman depan ",
" Siapa Mang ?" , Tanya Angkasa.
__ADS_1
" Aduh Mang lupa tanya. Tapi dia bilang suruhan Ibu Cantika ",
" Oh, ya udah Mang. Makasih ya Mang ", jawab mereka hampir bersamaan.
Dan mereka bertiga pun jalan beriringan ke halaman depan sekolah. Disana ada laki - laki pake topi dan kaca mata berdiri di dekat mobil.
" Apa Paman yang sedang mencari kami ?", Tanya Angkasa waspada pada orang yang asing baginya.
" Iya, barusan Ibu Cantika meminta saya menjemput kalian. Katanya ini darurat jadi kalian hari segera ikut Paman menemui Ibu kalian ", jawab laki - laki itu.
" Emangnya ada masalah darurat apa ?" Tanya Angkasa lagi.
" Paman juga tidak tahu. Tapi tadi Ibu kelihatan panik banget ",
" Ya, udah kita cepat pergi kesana ?", Ajak Bintang.
" Tunggu kita harus minta izin dulu sama Bu Guru ", kata Langit
" Aduh sebaiknya kita cepat pergi. Karena sudah terlalu lama Ibu Cantika menunggu. Nanti dia tambah khawatir ", cegah laki - laki itu.
Saat suasana di halaman sepi tak ada orang.Tiba - tiba pintu mobil terbuka dan laki - laki tadi mendorong ketiganya masuk kedalam. Yang sudah ada sopir dan dua orang di kursi paling belakang. Ketiganya duduk di kursi bagian tengah.
Saat di perjalanan Angkasa memberikan kode pada kedua saudara kembarnya itu. Dan keduanya mengerti. Karena mereka melalui jalan yang tidak biasa mereka lewati. Ketiganya sadar kalau mereka lagi diculik.
Setelah satu jam perjalanan, mereka sampai di rumah yang dikelilingi benteng tinggi. Mereka digiring masuk ke rumah itu, dan di masukan ke dalam kamar kosong. Ketiganya tidak berontak, karena mereka tahu tidak punya kekuatan atau tenaga untuk melawan orang dewasa.
Di dalam kamar ketiganya memeriksa keadaan kamar, siapa tahu ada pintu rahasia atau ada jalan untuk melarikan diri. Kamar itu hanya punya satu pintu, dan jendela kecil yang letaknya di sebelah atas, yang sulit bagi mereka untuk naik dan keluar lewat sana.
Langit mendengarkan pembicaraan orang - orang disana dibalik pintu. Terdengar penculiknya menghubungi seseorang lewat telephone.
Sedangkan Angkasa sedang memikirkan bagaimana caranya meminta bantuan pada orang - orang suruhan Papanya. Yang mereka miliki jam tangan, sabuk, dan jepitan rambut milik Bintang.
Jam menunjukan tengah hari dan satu jam lagi waktunya pulang sekolah. Mungkin saat itu orang - orang akan sadar dan mencari mereka karena mereka telat pulang sekolah.
" Kak, ini bagaimana ? Apa kita diam dan menunggu bantuan datang, atau kita lawan mereka ?!", Tanya Bintang pada Angkasa.
" Kita tunggu sampai sore hari ",
__ADS_1
* * * * * * *