
Aria menginap di rumah Bintang agar dirinya bisa mengawasi keadaannya. Dilihatnya gadis yang biasanya tersenyum dan bertingkah manja itu, kini terbaring lemah di atas kasur Hello Kitty kesukaannya. Kamar Bintang tidak berubah semenjak zaman Sekolah Dasar dahulu. Semuanya serba Hello Kitty, hanya saja kadang diganti warna saja, sesuai keinginan sang pemilik kamar.
Bintang hanya bangun saat mau shalat saja setelah itu dia akan tidur lagi sambil memegang tangan Aria. Baik Bintang maupun Aria saling mentautkan jari-jari tangan mereka, seolah berkata aku nggak akan pergi, atau jangan pergi.
"Om … mau tidur di sini, bersama Bintang?" tanya Bintang kepada Aria yang setia duduk di kursi yang berada di samping kasur Bintang.
"Tidak, Bintang. Om tidurnya di sini saja sambil duduk," tolak Aria, karena dia tahu dirinya adalah pria dewasa, yang tidak tahu apa dia bisa menahan dirinya bila tidur disamping gadis yang dia cintai.
"Kalau begitu, ada kasur lantai di bagian bawah lemari baju. Pakai saja itu!" dengan suaranya yang masih serak, Bintang menunjuk ke arah lemari bermotif Hello Kitty berwarna pink dan merah.
Aria pun membawa kasur lipat yang bercorak Hello Kitty, dan mengelarkan di bawah kasur, sisi kanan Bintang.
"Bintang apa kamu lapar?" tanya Aria sambil memandang langit-langit kamar Bintang, terdapat banyak hiasan glow in the dark berbentuk bintang kecil, yang akan menyala bila lampu kamar dimatikan.
"Tidak … " jawab Bintang dengan suaranya yang lemah.
"Tapi kamu belum makan sejak tadi. Waktu siang juga hanya beberapa suap," Aria bangkit dari tidurnya, dan kini melihat ke arah Bintang yang juga melihat ke arahnya.
"Om, bobo ya. Ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatan kalau begadang," kata Bintang sambil memegang pipi Aria dengan lembut.
"Kamu kebiasaan, ditanya apa? Malah jawab apa?" Aria tertawa tertahan, agar suara tawanya tidak mengganggu orang lain yang sedang tidur. Bintang pun ikut tertawa walau hanya gerakan di bibirnya saja.
Aria memegang bibir Bintang yang agak kering, biasanya bibirnya itu terlihat segar menggoda. Diusapnya bibir Bintang dengan ibu jari Aria, terasa agak kasar karena seharian ini Bintang sedikit minumnya.
"Mau minum?" tanya Aria lagi sambil memandang wajah Bintang yang masih bengkak karena menangis terus. Bintang pun menganggukan kepalanya. Dengan cekatan Aria langsung membawa segelas air yang ada di meja nakas di samping kasur Bintang. Aria memberi minum Bintang menggunakan sedotan agar tidak tersedak.
"Sekarang tidur, ya!" pinta Aria kepada Bintang.
"Tepuk-tepuk," pinta Bintang kepada Aria. Maksudnya menepuk lengannya atau punggungnya. Maka Aria pun menepuk-nepuk lengan Bintang dengan lembut, dan Bintang pun kembali tertidur.
Bintang kalau sulit tidur akan meminta orang lain untuk menepuk-nepuknya. Saat balita mungkin bagian bokongnya yang ditepuk-tepuk, makin gede pindah ke punggungnya, makin dewasa pindah ke lengannya. Hanya Ghaza yang selalu memeluk Bintang jika dia kesulitan untuk tidur. Dia melakukan itu dari zaman pake popok sampai sebesar ini. Makanya Aria sangat cemburu saat tahu Bintang sering dipeluk oleh Ghazali saat dia kesulitan dalam tidurnya.
Bagi Ghazali dan Bintang mereka melakukan itu sebagai Paman dan keponakan. Bukan sebagai seorang laki-laki dewasa dan perempuan dewasa. Saat itu Bintang dan Ghazali tidak ada perasaan apa-apa. Justru bagi Bintang saat dengan Aria, jantungnya selalu berdebar-debar.
Aria berhenti menepuk-nepuk lengan Bintang, disaat terdengar napasnya yang mulai teratur. Itu tandanya Bintang sudah tertidur. Aria mencium kening Bintang sebelum dia pergi tidur juga.
*******
__ADS_1
Keesokan harinya, Aria mencari informasi tentang Ghazali. Dia mendatangi rumah Khalid, dan menanyakan tentang keberadaan Ghazali yang sulit dihubungi.
"Assalamu'alaikum, Om … Tante … " salam Aria begitu sampai di depan rumah Khalid yang begitu megah dan mewah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Khalid dan Aurora bersamaan.
"Tumben, Aria pagi-pagi sekali sudah mampir kesini?" tanya Aurora sambil tersenyum ramah menyambut teman putra bungsunya itu.
" Sebenarnya, saya ada perlu sama Ghaza. Apa Ghaza-nya ada?" kata Aria pura-pura tidak tahu kalau Ghazali sedang tidak ada dirumah.
"Ah, sayang sekali Ghaza sedang tidak ada di rumah," balas Aurora dengan memasang wajah menyesal.
"Oh, Ghaza-nya pergi kemana Tante?" tanya Aria dengan nada sedikit antusias.
"Ghaza sedang menjalankan misi dari, Om," Khalid yang menjawabnya.
Mendengar jawaban dari Khalid, Aria jadi tidak berkutik. Mau bertanya lebih jauh itu sudah melanggar privasi orang lain.
"Baiklah Om, kalau begitu bisa minta nomor ponselnya? Karena sejak kemarin saya kesulitan dalam menghubungi Ghazali?!" pinta Aria kepada Khalid.
Aria akhirnya pulang dengan rasa kecewa. Dirinya tidak bisa menemukan informasi lebih banyak lagi.
"Ah, tanya pada kak Fatih saja!" pekik Aria saat di dalam mobilnya.
Maka Aria pun cepat-cepat melajukan mobilnya ke rumah Fatih yang tidak jauh dari kediaman Khalid. Aria pun menekan pintu gerbang rumah Fatih yang masih di kunci.
Karena tidak ada yang membukakan pintu gerbangnya. Maka Aria pun menelepon Fatih.
"Assalamu'alaikum," salam Aria begitu panggilannya di angkat oleh Fatih.
"Wa'alaikumsalam," jawab Fatih.
"Kak, kenapa pintu gerbang rumahmu masih di kunci!" kata Aria sambil menggerak-gerakkan pagar besi yang berdiri kokoh itu.
"Kamu sedang berada di depan rumah?" tanya Fatih.
"Iya, saya di depan rumah Kakak," jawab Aria.
__ADS_1
"Ok, tunggu. Akan Kakak buka dulu."
Tak berapa lama pagar besi itu terbuka secara otomatis. Aria pun memasukan mobil sport mewahnya kedalam halaman rumah Fatih yang nggak kalah bagusnya dengan rumah Khalid. Hanya saja di halaman rumah Fatih ada arena taman bermain milik si Kembar.
"Aria tumben, pagi-pagi sudah kesini?" tanya Fatih sambil menuruni anak tangga.
"Aku ingin bertemu dengan Ghaza, tapi dia sedang tidak ada di rumahnya. Apa Kakak tahu dia ada di mana?" tanya Aria penuh harap kalau Fatih mau memberi tahunya.
"Kakak nggak tahu kalau Ghaza sedang nggak ada di rumah?!" kata Fatih.
"Mungkin, dia sedang sibuk karena ada beberapa orang yang telah melakukan penggelapan keuangan di Rumah Sakit Harapan," balas Fatih.
"Aku rasa bukan itu, karena Bintang dan Ghaza sedang marahan sekarang. Sampai-sampai Bintang jatuh sakit. Seharusnya Bintang juga dirawat di rumah sakit. Kakak tahu sendiri kalau Bintang tidak suka berada dirumah sakit," kata Aria.
" Mereka berdua sedang marahan, sampai Bintang sakit? Dan Ghaza nggak tahu itu?! tanya Fatih, dan Aria hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Mana mungkin, Bintang sakit, Ghaza diam saja. Dulu saat Bintang sedang sakit, Ghaza dari Jerman rela pergi ke Amerika demi menjenguk Bintang," kata Fatih lagi.
"Informasi yang aku dapat walau cuma sepotong-sepotong, adalah Ghaza putus sama Amara, Bintang merasa telah di manfaatkan oleh Ghaza, Ghaza malam-malam datang ingin bertemu sama Bintang tapi dia lagi marah jadi tidak mau bertemu. Karena tidak bisa menghubungi Ghaza, Bintang menangis terus," kata Fatih.
"Itu maksudnya apa?" tanya Fatih sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak tahu. Biasanya kalau mereka marahan, ujung-ujungnya Ghazali yang meminta maaf sambil bawa coklat dan es krim sebagai sogokan," jawab Aria dan di angguki oleh Fatih.
"Baiklah nanti kalau ada informasi lagi, akan Kakak kasih tahu," kata Fatih.
"Baiklah Kak, aku tunggu kabar baiknya. Maaf pagi-pagi sudah menganggu," kata Aria sambil tersenyum jahil, karena melihat Fatih yang mandinya terlihat terburu-buru, rambutnya masih sangat basah bahkan airnya masih menetes.
"Awas kamu, ya!" kata Fatih sambil mengepalkan tangannya. Sedangkan Aria berlari keluar rumah Fatih sambil tertawa.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1