Trio Kancil

Trio Kancil
#LANGIT 29


__ADS_3

     Langit masih mempelajari blue print pembuatan bom yang dibuat oleh Manza. Dia sangat penasaran dengan bom yang dibuat oleh orang jenius itu. Sebuah karya yang disembunyikan. Bahkan pembuatnya sendiri, menyesal telah menciptakan benda seperti itu.


Tadi sore, Langit membaca hasil laporan dan riset tentang senjata biologis yang sederhana dan mudah. Yaitu, senjata yang bisa dibuat dari memanfaatkan sesuatu yang ada di alam sekitar. Baru pembuatan racun dari hewan dan obat penawarnya yang tadi dipelajari olehnya. Sebab nanti akan sangat diperlukan saat ujian di pulau.


     Langit masih mencorat-coret mencoba mempelajari bom buatan Mazda itu. Almahira yang terbangun di tengah malam, melihat Langit, sedang sibuk di meja belajarnya. Maka dia pun menghampiri suaminya.


"Ayang, belum tidur?" tanya Almahira begitu berdiri di samping meja.


"Hm, sebentar lagi." Langit mendongakkan kepalanya. Kemudian diberinya senyuman manis untuk sang istri.


"Jangan begadang. Besok kita sudah masuk sekolah lagi," kata Almahira sambil menarik lengan Langit.


    Akhirnya, Langit pun menuruti keinginan, Almahira. Mereka tidur dengan rasa canggung karena ini adalah malam pertama kali mereka tidur di satu kamar. Kemarin malam, Langit pergi penyusup ke gedung kantor kepala sekolah Academy Matsumoto bersama, Angkasa.


     Ternyata beda rasanya tidur bersama saat di malam hari dan subuh. Langit malah tidak bisa tidur sekarang. Dia jadi deg-degan saat melihat wajah Almahira yang ada di depannya.


'Tidur, Langit! Tidur!' gumamnya sambil memejamkan matanya.


     Namun, Langit tidak bisa tidur karena Almahira menjadikan tubuhnya sebagai ganti guling. Langit pun membuka matanya dan melirik ke arah istrinya yang tidur nyenyak. Kini pikirannya melayang teringat akan kata-kata Ghazali, tadi sebelum pulang.


"Jangan sia-siakan waktu yang ada. Jika kamu sudah tahu nikmati indahnya surga dunia. Maka akan ketagihan," kata Ghazali sambil menahan tawanya.


    Langit pun memejamkan matanya lagi, kini dalam hatinya dia berdzikir. Langit berpikir sekarang bukanlah saatnya. Nanti masih ada banyak waktu. Jika, misinya sudah selesai dia bebas mau memadu kasih dengan Almahira sepuasnya.


      Akhirnya mereka pun tidur dengan saling berpelukan. Langit, tidak sadar sejak kapan dia mulai tertidur. Tidurnya terganggu oleh suara alarm waktu sholat Tahajjud.


"Hm," Langit terbangun dengan posisi saling berpelukan dengan Almahira.


    Diraihnya jam weker yang ada di meja malas dekat Almahira. Kemudian Langit membangunkan istrinya itu karena setengah jam lagi waktu adzan Subuh akan tiba.


"Sayang, bangun!" Langit mengecup kening Almahira.

__ADS_1


     Almahira sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Satu kecupan pun dia berikan ke pipi Langit sebagai balasan. Terpancar rasa kebahagiaan dari mata kedua orang itu.


    Kini keduanya sholat Tahajjud berjamaah. Sampai sholat Subuh berjamaah, dan dilanjutkan dengan mengaji. Langit senang saat mendengar suara Almahira mengaji, sangat merdu.


*******


     Saat sarapan, pelayan rumahnya sudah menyiapkannya. Almahira membuat untuk bekal makan siang nanti di sekolah. Pelayan di rumah Langit, semuanya ramah dan baik. Mereka adalah satu keluarga, yang dulu hidupnya pernah ditolong oleh Alex. Kini hidup mereka bahagia dengan menjadi penjaga dan pengurus rumah orang yang sudah di anggap pahlawan oleh keluarganya. Meski bertetangga dengan Yakuza yang mempunyai nama besar.


"Ojo san, tolong antarkan kami ke sekolah ya!" pinta Langit kepada kepala pelayan rumahnya.


"Baik, Langit sama!" Kepala pelayan itu menundukan kepalanya sebagai tanda hormatnya. Walau sudah Langit, berulang kali bilang tidak perlu menundukan kepala kepadanya, tapi mereka masih saja melakukannya. Sampai akhir, Langit membiarkannya, mungkin itu cara menghormati tuannya.


*******


    Saat mobil, Langit akan keluar dari gerbang rumah, dilihatnya Suzuki sedang menjemput Hikari. Seperti biasa gadis tomboi itu pasti merajuk karena masih ngantuk atau apa pun alasannya, agar dia bisa di jemput oleh Suzuki.


"Bukannya itu Suzuki sensei!?" tanya Almahira sambil menunjuk salah guru sekolahnya.


    Saat Langit hendak memanggilnya, dia di suguhi pemandangan yang sudah biasa baginya, tapi tidak bagi Almahira.


"Sayang! Suzuki sensei dan Hikari mereka ...." Almahira sangat terkejut saat melihat kedua orang itu berciuman dengan sangat menggebu, dilihat dari gertur tubuh mereka berdua, di depan gerbang rumah Shin Kishimoto.


"Mereka itu sudah bertunangan," kata Langit saat mobil mereka melewati dua sejoli yang tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.


"Jadi 'laki-laki bodoh' yang sering dia sebut itu adalah Suzuki sensei?!" Almahira masih saja melihat ke arah Suzuki dan Hikari. Dirinya masih tidak percaya.


"Ya, mereka sudah tunangan tiga atau empat bulan yang lalu, kalau tidak salah." Langit mencoba mengingat-ingat lagi.


    Almahira yang baru tahu informasi ini sangat terkejut. Sebab Hikari sering menyebutnya kucing jantan yang galak adalah kekasihnya, di saat dia senang. Namun, mananya akan berubah menjadi laki-laki bodoh, jika dia sedang merasa kesal kepada tunangannya itu.


"Apa mereka itu tunangan karena saling mencintai atau di jodohkan?" tanya Almahira penasaran.

__ADS_1


"Kedua-duanya," jawab Langit sambil membaca blue print milik Mazda, yang semalam belum selesai di pelajari olehnya.


"Kalau tidak salah Hikari bilang, si kucing jantan yang galak itu, suka memberi makan yang enak buatannya. Berarti, Suzuki sensei itu pandai memasak, ya?" Almahira masih penasaran karena Hikari bilangnya sering di buat kesal oleh kekasihnya yang tidak peka. Namun, dia senang memakan bekal yang di buatkan untuknya.


"Ya, sepertinya begitu. Bila menu makanan yang di sajikan di meja makan tidak sesuai seleranya. Dia selalu minta ke Suzuki san," jawab Langit yang masih saja fokus membaca.


    Langit dan Almahira sudah sampai di depan gerbang sekolah Academy Matsumoto. Tidak lama Hikari juga sampai dan ikut bergabung bersama Almahira, sementara Langit sudah pergi duluan. 


*******


     Langit memasuki perpustakaan sekolah. Ruangan yang begitu luas dan sangat banyak sekali buku di sana. Semua dinding di ruangan itu tertutup oleh lemari buku. Saat dia sedang memilih buku yang ada hubungannya dengan android dan bom. Tanpa sengaja dia melihat satu pemandangan yang menodai matanya.


    Kehidupan orang-orang di luar sana yang menganut kehidupan bebas. Melakukan hal tidak sesuai norma agama itu tidak masalah asal tidak ada yang merasa dirugikan. Langit melihat Lovely dan Mitsubishi Akai--kembaran Mitsubishi Dai--sedang melakukan hal itu. Cepat-cepat saja Langit langsung kabur dari sana. Bisa bahaya kalau sampai dia diketahui oleh kedua orang itu. Bisa-bisa dirinya jadi incaran mereka.


"Dasar mereka itu sudah pada gila! Melakukan hal begitu di perpustakaan." Langit menggerutu terus sampai keluar dari ruangan itu.


Langit, hati dan pikirannya, sudah dipenuhi adegan tadi. Maka kini dia menyibukkan diri dengan menyelesaikan semua tugas pelajarannya. Mau itu sebanyak apapun.


*******


GARA-GARA NGANTUK, AKU HARUS NGETIK ULANG LAGI SAMPAI BEBERAPA KALI.


TERNYATA MEMAKAN BANYAK WAKTU.


😁😁😁


********


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2