
Pelangi memasuki ruang tamu, sambil menggandeng tangan lelaki paruh baya. Yang masih terlihat jelas ketampanan di wajahnya meski telah berusia setengah abad.
Cantika dan Erlangga berdiri menyambut kedatangan lelaki yang diperkirakan adalah Om Angkasa adik ayah mereka. Wajahnya mirip sekali dengan wajah Dokter Lazuardi yang ada di foto.
Ketika melihat Erlangga menyambut kedatangannya. Lelaki itu tiba-tiba memeluk Erlangga dengan erat, menumpahkan rasa rindunya. Sedangkan Erlangga yang tiba-tiba dipeluk oleh lelaki itu, membalas pelukannya. Dapat terdengar dengan jelas Isak tangisnya.
" Om," Pelangi memanggil pamannya itu.
" Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri." Lelaki itu melepaskan pelukannya terhadap Erlangga.
" Siapa nama kamu, Nak?" Tanyanya kepada Erlangga.
" Erlangga, Om. Dan ini Kakak saya Cantika, dan mereka suami dan anak-anaknya Kak Cantika." Jawab Erlangga dengan seulas senyuman di wajahnya.
" Wajahmu begitu sama persis dengan ayahmu." Lelaki itu memegang wajah Erlangga, dengan mata yang berkaca-kaca.
" Pelangi bisa pinjam tempat yang lebih private!" Pintanya kepada Pelangi.
" Bisa, Om. Ayo ikut Pelangi ke ruang kerja." Pelangi jalan paling depan menuntun mereka semua. Menaiki anak tangga menuju lantai kedua.
" Disini Om bebas mau bicara apa saja tanpa ada yang mengganggu." Pelangi membukakan pintu ruang kerjanya.
Kini Cantika beserta seluruh keluarganya dan keluarga lelaki itu masuk kedalam ruang kantor yang sangat luas. Ada beberapa sofa set disana dengan desain modern. Dan mereka pun duduk disana.
" Maaf, saya belum mengenalkan diri saya beserta keluarga."
" Ini istri saya yang bernama Venus. Dan anak sulung saya Andromeda, terakhir putra bungsu saya Galaksi." Lelaki itu mengenalkan satu persatu anggota keluarganya.
" Dan saya adalah Sakti Putra Wijaya. Atau kalian mengenalnya dengan nama Angkasa Rafa Putra Lazuardi."
" Mungkin keluarga saya sendiri pun tidak tahu siapa saya yang sebenarnya. Maka akan saya ceritakan siapa saya, dan siapa keluarga saya dahulu."
" Tapi sebelum itu, bagaimana bisa kalian mencoba mencari keberadaan ku?" Tanya Sakti penasaran.
" Itu karena ketiga keponakanku main ke rumah hantu yang berada di atas tebing di Desa Nelayan di Pantai Selatan." Kata Erlangga.
" Oh, di rumah yang dekat dengan laut. Tempat Dahlia tinggal." Sakti tersenyum bahagia mengingat banyak kenangan indah disana.
" Dan saat mereka masuk kedalam rumah itu. Terdapat foto dan lukisan yang wajahnya mirip dengan aku."
__ADS_1
" Dan mereka tahu kalau Kakek mereka memiliki wajah yang sama dengan Om-nya, yaitu aku."
" Dan mereka bertiga pun menceritakan hasil penemuannya itu kepada kami. Yang kebetulan kami sedang mencari identitas sebenarnya dari ayah kami."
" Karena ayah mengalami amnesia, dan beliau tidak mengingat siapa dirinya sebenarnya."
" Maka kami pun mendatangi rumah hantu itu dan disanalah kami memulai pencarian kami terhadap keluarga ayah."
" Sampai beberapa hari yang lalu saat saya daftar ulang di universitas, saya melihat orang yang memiliki wajah yang mirip dengan Om Angkasa, adik dari ayah kami." Jelas Erlangga.
Semua orang yang ada disana terdiam mendengarkan cerita Erlangga. Begitu juga dengan Pelangi diam terhanyut oleh cerita Erlangga.
" Lalu sekarang dimana Kak Langit?" Tanya Sakti.
" Ayah sudah lama meninggal karena dibunuh, Om. Bahkan saya pun tidak dapat mengingat sosok ayah, karena beliau meninggal saat saya berusia tiga tahun." Jawab Erlangga.
Mendengar kabar tentang kematian kakaknya, Sakti menangis tersedu sedan. Dan istrinya pun memeluknya dari samping mencoba menenangkan dirinya.
" Maafkan Om, yang tidak berusaha mencari kalian. Karena Om sendiri saat kejadian itu terjadi baru saja berangkat ke Jerman untuk mengikuti program pertukaran pelajar."
" Saat Om kembali ke Indonesia, betapa terkejutnya Om melihat rumah yang sudah hangus terbakar. Dan saat ditanya ke pihak kepolisian, mereka menjawab kalau semua penghuni rumah telah meninggal hangus terbakar." Sakti bercerita dengan derai air mata yang membasahi pipinya yang mulai berkeriput di ujung matanya.
" Kemudian Om mencari pengacara keluarga, dan mencari tahu apa yang telah terjadi sebenarnya."
" Ternyata sebelum kejadian itu, ayah sudah menghubungi pengacaranya. dan dia pembuat perjanjian surat wasiatnya untuk diperbaharui."
" Pengacara bilang kalau terjadi apa-apa terhadap keluarga kami. Ayah menitipkan aku kepadanya."
" Sebenarnya malam itu, belum saatnya aku berangkat ke Jerman. Seharusnya besok, jam keberangkatan pagi waktu keberangkatanku. Aku tidak mengerti kenapa ayah memajukan jam keberangkatan aku waktu itu. Dan ayah juga meminta Kak Langit dan Bintang yang mengantarkan aku ke bandara. Dan Satria yang menjadi supirnya malam itu."
" Biasanya ayah dan ibu yang akan mengantar anak-anaknya saat bepergian. Tapi malam itu, mereka seolah sudah tahu akan terjadi penyerangan di rumah. Makanya mereka menyuruh semua anak-anaknya pergi dari rumah." Pikiran Sakti menerawang jauh mengingat masa lalu miliknya.
" Apa Om tahu siapa yang telah melakukan penyerangan itu?" Tanya Cantika berharap Om-nya tahu siapa yang sudah menyerang keluarga ayahnya.
" Tidak, pengacara tidak menyebutkan siapa saja mereka. Dan apa motif dari penyerangan itu." Jawab Sakti.
" Terus kenapa Om mengganti nama?" Tanya Erlangga.
" Om diminta untuk mengganti identitas. Ini untuk melindungi nyawa keluarga korban yang masih hidup." Jawab Sakti.
__ADS_1
" Dengan membuang segala hal yang berhubungan dengan identitas kita sebelumnya. Dengan identitas baru buat kita."
" Oleh pengacara itu Om dibuatkan identitas baru dengan keluarga baru juga." Lanjutnya.
" Keluarga baru Om adalah keluarga Wijaya, kerabat jauh dari pengacara keluarga." Sakti menceritakan kronologi perubahan namanya.
" Oh pantesan, soalnya tadi saya agak bingung saat Pelangi bilang itu foto Om Sakti. Aku juga sempat pesimis bisa bertemu dengan Om Angkasa." Kata Erlangga.
" Kalau begitu apa Om tahu dimana Tante Bintang berada sekarang?" Tanya Cantika.
" Apa bintang juga masih hidup?" Sakti malah balik bertanya, terselip rasa bahagia.
" Sebenarnya suami saya saat kecil telah bertemu dengannya."
" Mungkin pengacara keluarga sudah tahu keberadaannya dimana?" Ucap Cantika.
" Tidak, pengacara tidak bilang apa-apa tentang Bintang kepadaku." Kata Sakti.
" Apa Tante Bintang juga sama, telah mengganti identitasnya?" Gumam Cantika, bertanya pada dirinya sendiri.
" Om senang bisa bertemu dengan kalian. Om harap kedepannya hubungan kekeluargaan kita dapat terjalin dengan sangat baik." Kata Sakti sambil tersenyum bahagia.
*******
Sementara itu di sebuah rumah yang asri seorang perempuan dewasa sedang menyiram bunga di pekarangannya.
" Bintang, kapan kamu akan pergi ke Jakarta untuk mencari keberadaan keluarga Kak Langit?" Tanya seorang lelaki bertubuh tegap di usianya yang sudah setengah abad lebih.
" Apa Mas Satria bisa mengantar Bintang ke Jakarta?" Perempuan dewasa itu malah balik bertanya.
" Ya, tentu saja bisa. Urusan pertambangan pun sudah di ambil alih oleh putra sulung kita."
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1