Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 02


__ADS_3

     Angkasa sudah sampai ke apartemen, dilihatnya ada seorang gadis sedang bersandar di depan pintu. Gadis itu langsung tersenyum bahagia begitu melihat Angkasa.


"Darling ... kenapa lama sekali? Aku sudah bosan menunggu." Gadis itu sambil mendekat ke arah Angkasa.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Angkasa.


"Tentu saja mau bertemu calon suamiku!" Tangannya memegang tangan Angkasa, tapi langsung dilepaskan karena tatapan tajam dari Angkasa seolah berkata 'lepaskan tanganku!'


"Siapa yang calon suamimu? Peter?" tanya Angkasa sambil terus berbalik tidak jadi masuk ke dalam apartemennya. Dia lebih baik bicara di luar apartemennya.


"Tentu saja kamu, Darling! Kita 'kan sudah dijodohkan dari kecil," katanya lagi sambil berjalan cepat karena Angkasa langkahnya lebar.


"Dengar Paris! Tidak ada perjodohan di antara kita!"


     Keduanya pun masuk ke dalam lift. Hanya ada mereka berdua di dalam.


"Bukannya dulu Daddy sama Papa Alex membicarakan tentang perjodohan kita!"


"Kamu salah mengartikan perkataan mereka!"


"Tidak. Aku yakin itu yang dikatakan oleh mereka."


     Tubuh Angkasa kini ditarik agar berhadap-hadapan dengan Paris. Posisi mereka terlihat sangat dekat. Bila sekilas seperti sedang bermesraan. Pintu lift pun terbuka dan menampakan Athena yang berdiri dengan barang belanjaan, dan akan masuk ke dalam lift.


"Cepat keluar! Ini tempat umum. Tidak tahu malu, bermesraan di tempat umum!" Kata Athena dengan nada sindiran kepada Angkasa dan Paris.


     Angkasa pun dengan cepat melakah ke luar lift. Paris pun mengekorinya dan ikut kemana pun Angkasa berjalan. Angkasa berjalan menuju cafe yang ada di sebrang jalan. Dia tahu Paris mengikutinya, maka Angkasa pun melangkah dengan lebar saat di menyebrang jalan raya.


     Paris yang tidak bisa menyebrang jalan, hanya berdiri di tepi jalan. Dia punya trauma, saat kecil dia tertabrak kendaraan, ketika hendak menyebrang jalan.


"Darling ... tunggu, aku! Bantu aku menyebrang," kata Paris dengan nada kesal.


     Angkasa yang sudah berada di sebrang jalan harus kembali lagi. Dia pun menarik lengan baju bagian bahunya Paris. Gadis itu tersenyum lebar karena Angkasa mau kembali lagi dan membawanya menyebrang.


     Kini kedua orang itu sedang minum jus di cafe yang banyak di kunjungi oleh mahasiswa. Hampir kebanyakan pengunjung memandang penuh damba kepada Angkasa. Aura yang dipancarkan olehnya selalu memikat banyak orang. Begitu juga dengan Paris, gadis berperawakan tinggi langsing, seperti model kelas dunia. Ditambah dengan pakaian bermerk yang dia pakai. Menambah daya tarik orang-orang di sana.


"Katakan ada perlu apa sebenarnya?" tanya Angkasa sambil mengaduk-aduk jus miliknya.


"Ish ... kamu itu selalu saja tidak sabaran."

__ADS_1


"Kalau nggak ada yang mau dibicarakan aku akan pergi!" Angkasa pun berdiri, tapi Paris langsung menarik tangannya.


"Papa sakit keras. Dia ingin aku cepat menikah!" 


     Angkasa terdiam sambil memandang ke arah Paris. Temannya sejak dia tinggal di Amerika, gadis kecil yang selalu belajar mati-matian supaya dia bisa ikut kelas akselerasi, agar selalu satu angkatan dengan trio kancil. Kemanapun dia pergi, Paris selalu mengikutinya. Dia juga belajar bahasa Indonesia, agar bisa memahami apa yang Angkasa dan saudara kembarnya sedang dibicarakan. Melakukan apapun yang disukai oleh Angkasa. Hanya menjadi dokter saja yang tidak bisa dilakukan oleh Paris. Bukannya tidak mampu, hanya saja siapa yang akan melanjutkan perusahaan orang tuanya, kalau dia tidak belajar bisnis.


     Angkasa tidak mau mengikuti jejak kedua saudara kembarnya yang menikah muda. Dia juga tidak mau memikirkan urusan asmaranya, yang dia inginkan sekarang adalah menyelesaikan dulu kuliahnya. Apalagi dia baru memulai masuk, karena baru menyelesaikan koas nya setelah satu tahun kemarin.


"Cari saja laki-laki lain. Aku tidak akan menikah sampai menyelesaikan kuliahku." 


     Angkasa pun berjalan ke luar cafe. Paris yang kesal pun mengikutinya dengan berlari.


"Darling tunggu!"


     Saat Paris berlari mengejar Angkasa, dia bertabrakan dengan seseorang. Sampai Paris dan orang itu terjatuh ke tanah.


"Aduh ...." Paris mengaduh kesakitan kakinya terlilit. Begitu juga dengan orang yang menabraknya barusan.


"Bisa tidak kalau jalan itu pakai mata!" hardik Athena yang ikut terjatuh.


     Angkasa yang melihat dua orang yang terduduk di jalanan, kembali lagi kemudian membangunkan keduanya. Angkasa merasa kesal karena seharian ini dia harus terlibat dengan dua orang perempuan yang sering membuatnya pusing. Kini, Angkasa, Athena, dan Paris berdiri sambil saling berhadapan.


"Tuan! Nyonya! Tolong aku! Selamatkan anak ini, ada yang sedang mengincar nyawanya!" Pinta seorang wanita itu dan menyerahkan anak kecil perempuan sekitar berumur satu tahun kepada mereka bertiga. Setelah itu, wanita tadi pergi berlari, meninggalkan mereka bertiga yang masih terdiam, terpana, dan tidak mengerti apa yang sudah terjadi barusan.


     Anak balita itu kini berada di pangkuan Athena. Kemudian dia menyerahkan bayi malang itu kepada Paris, yang berdiri disampingnya.


"Nih, kamu yang urus!" katanya dan hendak berjalan meninggalkan mereka.


"Tunggu! Kenapa diberikan sama aku!" Paris menarik tangan Athena dengan sebelah tangannya karena yang sebelahnya lagi menggendong bayi perempuan yang kini sedang merangkul lehernya.


"Tuh ... lihat, anaknya juga suka sama kamu!" Athena tersenyum senang saat melihat bayi perempuan itu memeluk leher Paris.


"Ibunya tadi yang memberikannya sama kamu! Kenapa kamu balik ngasih sama aku!" Paris balas sewot sama Athena.


"Sudah kamu aja yang urus. Aku tinggal sendiri, dan harus kuliah. Jadi, kamu saja yang urus sama kekasih kamu itu!" Tunjuknya kepada Angkasa.


"Kenapa aku, dibawa-bawa!" Angkasa tidak terima.


"Karena tadi ibunya anak ini meminta tolong sama kamu." Athena nyolot.

__ADS_1


"Emangnya siapa bayi ini?" tanya Paris.


     Ketiga orang itu saling pandang, kemudian mereka melihat ke arah bayi yang berada di dalam gendongan Paris. Si bayi malah tersenyum senang, sambil memegang wajah Paris.


"Kita harus cari tahu dulu, siapa anak ini sebenarnya?!" Paris melihat ke arah Angkasa.


"Coba cek apa ada petunjuk mengenai bayi ini?" Angkasa menyuruh sama Paris.


"Bagaimana aku bisa mengeceknya, kalau aku sambil gendong begini?!" Lagi-lagi si bayi memeluk erat leher Paris.


"Sepertinya bayi itu memakai kalung!" kata Athena sambil menunjuk ada rantai emas di leher si bayi.


Maka Angkasa pun mencoba melihat kalung yang dipakai si bayi. Ada nama yang tertera di sana.


"Chelsea." Angkasa menyebutkan kata yang ada di kalung itu.


"Jadi, bayi ini namanya Chelsea?!" Paris dan Athena bersamaan menyebut nama si bayi.


"Iya, aku rasa nama bayi ini adalah Chelsea." Angkasa mencubit gemas pipi si bayi.


"Tuh, lihat kalian sudah cocok! sudah seperti mama dan papanya!" Athena tertawa lepas melihat kepada Paris dan Angkasa.


*******


Siapakah Chelsea itu?


Kenapa bayi yang berumur satu tahun, sudah terancam nyawanya?


Siapa yang mengincar nyawa Chelsea?


Tunggu kelanjutannya ya.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2