
Angkasa mendapatkan pesan email dari Peter. Dia mengirimkan informasi yang didapatnya dari majalah bisnis yang dibaca di perpustakaan. Angkasa pun sangat senang, dengan ini menjadi titik terang kenapa Savior Caracas, dibunuh?
Angkasa dan Chelsea bermain sampai kelelahan. Mereka tertidur di sofa, dengan Chelsea tertidur di atas perut Angkasa. Kedua tidur sangat pulas sampai, Paris yang pulang dari kuliahnya. Mereka belum bangun juga.
Paris memotret Angkasa yang sedang tertidur bersama Chelsea. Lalu mengirimkan foto itu kepada Bintang. Tidak sampai satu menit Bintang pun membalasnya dengan video call.
"Mana aku ingin melihat, Kak Angkasa yang sedang bersama anak itu?!" Pinta Bintang sambil menatapnya memohon.
"Kamu nggak sabaran banget!" Paris mulai sewot kalau sama Bintang tidak mau kalah.
Paris pun mengalihkan kamera ke arah Angkasa yang sedang tidur bersama Chelsea. Pekikan senang langsung terdengar dari mulut Bintang.
"Kak Angkasa, sudah pantas jadi seorang Ayah! Papa Muda, ini mah. Kapan kalian akan menikah?"
"Dia, tidak mau menikah. Saat aku bilang, Daddy menyuruhku segera menikah, dan mengajak dia. Aku langsung menolak olehnya." Wajah Paris berubah menjadi sendu.
Bintang pun terdiam sesaat, "kamu jangan menyerah!"
Paris pun menganggukkan kepalanya. Senyum simpul tercipta, walau hanya sesaat. Paris dan Bintang pun mengakhiri pembicaraannya karena Ghazali, baru saja pulang.
Paris membawa Chelsea untuk di baringkan di atas kasur. Saat baru keluar dari kamar Angkasa. Paris melihat posisi tidur Angkasa sudah berubah, kini menyamping menghadapnya. Paris pun jongkok di depan sofa. Tepatnya di dekat wajah Angkasa.
"Kenapa wajah kamu bisa tampan banget?" Paris bermonolog, "tapi galaknya minta ampun."
"Kalau dipikir-pikir, aku ini salah satu gadis yang beruntung. Bisa selalu dekat dengan kamu," bisik Paris dengan tangan yang terulur dan mengusap rambut Angkasa, pelan.
Ide jahil tiba-tiba saja terlintas dalam otaknya. Semalam Angkasa menciumnya diam-diam. Maka, dia pun akan melakukan hal yang sama. Paris pun mencium bibir Angkasa dengan pelan karena takut membangunkan orangnya. Setelah itu dia langsung pergi ke kamar apartemen miliknya. Dengan senyum bahagia yang tercipta di wajahnya. Hatinya berbunga-bunga, seakan baru saja mendapatkan pengakuan cinta.
******
Peter masih berkutat mencari orang yang bernama Madrid. Walau sudah lebih dari tiga jam, dia belum juga menemukannya. Sampai dia tidak sadar kalau sudah lewat tengah hari. Seandainya saja Madina tidak menyapanya, dia akan terus berkutat di sana.
"Peter, apa masih lama?" tanya Madina.
"Oh, apa kamu sudah selesai mengerjakan tugasnya?" Peter balik bertanya dan membereskan majalah dan koran yang ada di depannya.
"Sudah. Bila, Peter belum selesai, aku akan menunggu di luar," jawab Madina.
__ADS_1
"Kalau begitu kita keluar saja," balas Peter dengan senyum hangatnya.
Peter dan teman-temannya, Medina, makan siang di restoran Turki. Mereka sangat senang hari itu, apalagi Peter yang mentraktir semua makanan mereka. Setelah selesai, mereka pun pulang. Ada rasa enggan berpisah dari Peter. Dia masih ingin bersama Medina, setidaknya sampai sore hari. Padahal Medina, bukan tipe orang yang suka banyak berbicara. Namun, bagi Peter, hanya duduk di dekatnya saja sudah membuatnya senang.
Saat Peter mengantarkan Madina, ke depan flat, tempat tinggalnya. Dia bertabrakan dengan seorang perempuan yang berwajah mengerikan. Seperti terkena air keras, di sebagian wajahnya.
"Maaf," kata Peter dan wanita itu hanya menatapnya tanpa bicara. Kemudian pergi begitu saja.
"Siapa dia? Apa kamu mengenalnya?" tanya Peter kepada Madina.
"Kalau tidak salah, dulu ada paket untuk orang yang bernama Sofia Praha, dan itu dialamatkan ke flat miliknya. Aku kira namanya Sofia Praha."
"Apa dia penghuni lama di sini?" Peter sungguh sangat penasaran dengan wanita tadi.
"Iya, sepertinya. Semenjak aku pertama kali tinggal di sini, dia sudah ada."
"Apa dia tinggal seorang diri?"
"Iya, hanya saja kadang ada orang-orang yang berkunjung ke flat dia."
"Kamu, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi aku. Secepatnya, aku akan datang," kata Peter dengan sungguh-sungguh.
"Iya, terima kasih."
Peter pun pulang setelah, Madina masuk ke flat-nya. Dia juga memasang cctv yang mengarah ke area flat Madina dan Sofia. Agar dia bisa mengawasinya di mana saja. Peter juga, penasaran dengan tamu-tamu yang datang mengunjungi Sofia.
*******
Angkasa sedang memasak untuk makan malam nanti. Ada Paris yang ikut membantunya. Brooklyn dan Athena sedang bermain bersama Chelsea, di ruang tengah. Angkasa memasang wajah kesalnya, berbeda dengan Paris yang memasang wajah ceria.
"Kenapa kamu mengajak mereka berdua?" bisik Angkasa.
"Baguskan kalau kita makan malam bersama dengan banyak orang!" balas Paris sambil melirik dan tersenyum jahil.
Angkasa malah membelalakkan matanya karena ucapan Paris. Seharusnya dia tahu kalau dirinya, tidak suka kalau banyak orang di area pribadinya. Termasuk di apartemen yang kini dia tinggali.
"Jangan marah begitu! Nanti aku cium loh!" Paris malah tertawa senang, saat Angkasa memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Paris, tetap tidak akan menyerah untuk mencapai cita-citanya. Yaitu, menikah dengan Angkasa. Saat masih di sekolah dasar dulu, dirinya ditanya, apa cita-cita kalau sudah besar? Maka, dengan penuh semangat dia akan bilang menjadi istrinya Angkasa, kalau Bintang ingin menjadi istrinya Arya.
Sudah rahasia umum sejak zaman sekolah, kalau Paris itu cinta banget sama Angkasa. Hanya saja sikap datar dan cuek dari Angkasa, membuat orang salut sama Paris, yang bisa bertahan sampai sekarang.
Angkasa sebenarnya menikmati waktu memasak dengan Paris. Hanya saja, dia tidak suka kalau ada banyak orang yang berada di area pribadinya. Meski hanya bertambah dua orang saja.
******
Saat waktu makan malam, Peter pun datang dengan wajahnya yang lusuh. Terlihat jelas dia sangat kelelahan. Angkasa pun memintanya untuk istirahat saja. Jangan dulu memberikan laporan, apa yang sudah dia kerjakan tadi.
Athena yang bertemu dengan Peter dan saling beradu pandang. Mengingat kembali kejadian semalam. Meski dia sedang mabuk, tetapi masih bisa mengingat apa yang sudah terjadi di antara mereka. Athena pun berjalan ke arah Peter yang hendak melangkah menuju kamarnya.
"Bisa … kita bicara dulu?" tanya Athena dengan ragu-ragu.
"Kalau bisa nanti saja. Aku sungguh sangat lelah," jawab Peter dengan suaranya yang pelan.
"Oke, aku akan tunggu kamu," lanjut Athena.
Brooklyn yang sedang bermain dengan Chelsea, memperhatikan interaksi antara Peter dengan Athena. Dia sebagai laki-laki, nalurinya berkata kalau Athena menyukai Peter. Namun, untuk alasannya dia tidak tahu.
******
Teman-teman, maaf aku telat up. Harusnya ini aku up kemarin sore. Apa daya, sakitku makin parah, dan baru bisa menyelesaikan 1000 kata, hari ini.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
Dukung karya teman aku juga ya,
baca, kasih like dan komen yang membangun.
__ADS_1