
" Memangnya ada kejadian apa?" Tanya Mentari pada William.
" Itu...."
" Dulu saat kita melakukan permainan Truth or Dare? George memberi tantangan pada Alex untuk mencium seorang wanita yang kebetulan lewat di sana. Saat Alex menolak, George malah ganti tantangan dengan menyuruhnya minum anggur yang berkadar alkohol rendah. Tentu saja Alex marah, sudah tahu bahwa dia tidak akan melakukannya apa yang diperintahkannya itu." Willy bercerita.
" Padahal sejak dulu kalau ada Alex atau Fatih ikutan permainan itu, tidak boleh melakukan hal yang melanggar apa yang diyakini mereka." Lanjut Jacky.
" Itu George lakukan karena wanita yang disukainya, tergila - gila sama Alex. Jadi seperti balas dendam," kata Amanda memberitahu rahasia kekasihnya itu.
" Wah, benarkah itu?" Willy terkejut saat mendengar pengakuan George lewat Amanda.
" Hah, tadinya aku hanya ingin mengerjainya. Mana ada laki - laki yang tidak suka sama wanita seksi menggoda dan menyerahkan diri padanya. Kemudian malah ditolaknya mentah - mentah." Kata George.
" Itu karena mereka bukan wanita tipe kesukaan Alex. Lain halnya dengan Cantika, Alex langsung tergila - gila dibuatnya." Willy memberitahu.
" Aku duluan, ya. Mau pergi jalan - jalan!" Willy beranjak dari kursinya.
" Ayo baby, kita lihat matahari terbenam!" Ajaknya pada Mentari.
" Itu ketiga Mister Green, tipe wanita kesukaannya yang pakai baju yang tertutup, ya?" Tanya Amanda.
" Ya sepertinya begitu. Karena baru kali ini aku melihat wajah Alex yang memancarkan kebahagiaan." Jawab George sambil tersenyum,
" Kemarin saat di pesta pernikahan Fatih, kita tidak sempat bertemu. Jadi tadi agak terkejut juga saat melihat terus senyuman di wajah Alex yang tidak pudar, apalagi cara menatap wanitanya. Begitu penuh rasa memuja," kata Jacky.
" Alex pantas mendapatkan kebahagiaan itu, setelah apa yang dilaluinya selama ini," kata Olivia.
*******
Willy mengajak Mentari jalan - jalan menyusuri bibir pantai, sambil bergandengan tangan. Terlihat jelas rona kebahagiaan dari pasangan kekasih yang baru jadian beberapa hari yang lalu. Kedekatan William dan Mentari terjalin saat mereka bertemu di cafe Cantika dulu. Karena mereka juga punya hobi yang sama, yaitu suka kuliner makanan pinggir jalan hingga restoran. Mereka sering jalan bareng mencari makanan enak. Dari situ karena sering membicarakan soal makanan mereka merasa cocok satu sama lain. Dan saat Willy di Amerika, dia merasakan perasaan rindu pada Mentari, walau tiap hari mereka berbicara lewat telepon. Tetap saja Willy merasakan rindu yang teramat sangat. Dan saat kemarin dia datang ke Indonesia, maka Willy mengungkapkan isi hatinya pada Mentari. Dan Mentari memang dari awal sudah suka sama Willy, menyambut perasaan Willy dengan senang hati. Dan kini dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu kini menikmati waktunya.
Sinar matahari yang mulai tenggelam di sebelah Barat, memancarkan warna merah, orange, dan kuning emas. Cahaya itu menerpa wajah Mentari yang sedang tersenyum bahagia karena melihat keindahan ciptaan Tuhan. Willy yang melihat betapa cantiknya wajah Mentari yang disinari matahari senja, tanpa sadar dia mencium mesra bibir kekasihnya itu. Mentari yang mendapat serangan mendadak itu, berusaha menolaknya. Tapi pelukan Willy begitu erat di pinggang dan di tengkuknya, sehingga Mentari pasrah sampai Willy melepaskan pagutan itu. Napas Mentari terputus - putus, karena tadi dia menahan napasnya.
" Baby, kenapa tadi kamu tidak bernapas?" Tanya Willy.
" Oppa Willy….!"
" Apa yang telah Oppa lakukan barusan padaku !" Teriak Mentari.
" Mencium kekasihku," jawabnya sambil memandang wajah cantik Mentari.
" Itu tidak boleh, kita belum menjadi suami - istri." Mentari berusaha melepaskan pelukan Willy.
" Kalau begitu ayo kita menikah sekarang!" Kata Willy penuh semangat.
" Mana bisa begitu. Kalau aku menikah harus ada Ayah yang akan menjadi wali nikah aku." Mentari dibuat gemas sama saudara kakak iparnya itu.
__ADS_1
" Kemarin Si Al juga menikahnya mendadak." Sewot. Willy.
" Itu kan yang jadi wali nikahnya ada Erlangga." Mentari sekarang dibuat pusing atas keinginan Willy.
" Mentari maukah kamu menjadi istriku?" Tanya William dengan serius sambil menatap mata kekasihnya itu.
" Ya, aku mau." Jawab Mentari dengan senyuman penuh kebahagiaan di wajahnya, matanya pun berbinar - binar terlihat dengan jelas apa yang tengah ada di dalam hatinya.
" Maukah kamu hidup menua sampai maut memisahkan kita?" Tanya William lagi.
" Ya, aku selalu ingin denganmu selamanya sampai hanya kematianlah yang memisahkan kita." Jawab Mentari penuh dengan keyakinan.
" Maukah kamu mengandung dan melahirkan anak - anakku kelak?" William merendahkan suaranya dan nyaris tidak terdengar karena tertutup oleh suara ombak.
" Ya,aku ingin hanya kamu yang akan menjadi ayah dari anak - anakku nanti." Mentari sudah tidak bisa lagi membendung perasaan bahagianya saat dilamar oleh orang yang dicintainya itu.
" Kalau begitu ayo secepatnya, kita menikah." Ajak William masih dengan rona bahagia karena gadis yang menjadi pujaan hatinya telah menerima lamaran darinya.
" Kalau begitu, oppa harus minta izin sama Ayah dan Bunda." Senyum jahil Mentari terlihat dari wajahnya yang cantik.
" Baiklah, kamu bilang pada Ayah kalau aku telah melamarmu."
" Dan nanti sepulang dari sini, aku akan melamar kamu secara resmi." Kata William meyakinkan Mentari.
Mentari hanya mengangguk - anggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
" Oppa, turunkan aku…."
* * * * * * *
Alex dan Cantika berjalan di sisi pantai sambil bergandengan tangan. Sedangkan ketiga anak - anaknya berlarian di depan mereka. Keluarga kecil itu sedang menikmati waktu kebersamaannya. Hembusan angin laut yang menerpa tubuh mereka, tidak dihiraukannya.
" Anak - anak jangan terlalu dekat ke bibir pantai, nanti kalau pakaian kalian basah harus cepat pulang. Maka tidak akan jadi jalan - jalannya sambil naik kuda." Kata Cantika mengingatkan ketiga anaknya itu.
" Papa…. Apa masih jauh tempat kudanya?" Tanya Bintang sambil menghindari ombak yang menyentuh kedua kaki mungilnya.
" Sebentar lagi Sayang, lihat disana!" Tunjuk Alex pada sekelompok orang yang agak jauh dari sana, sedang memegang beberapa kuda.
" Ayo kita balapan, siapa yang sampai pertama kali, maka dia duluan yang boleh memilih kudanya!" Ajak Langit.
" Ayo, siapa takut!" Jawab Angkasa.
Mereka bertiga pun berlari menuju tempat kuda - kuda itu berada. Dan sudah bisa dipastikan kalau Bintang yang berlari paling belakangan tertinggal sama dua saudara kembarnya itu.
" Ayo Honey, kita juga ikut berlari menyusul mereka!" Alex yang masih menggenggam jemari Cantika menariknya dan mengajaknya berlari. Dan Cantika mau tidak mau mengikuti langkah suaminya itu.
" Ah, tunggu Sayang larinya jangan terlalu kencang!" Pinta Cantika, dan Alex malah membopong tubuhnya dengan bridal style.
__ADS_1
" Sayang apa yang kamu lakukan….! Cepat turunkan aku!" Teriak Cantika yang terkejut dengan tindakan suaminya itu. Sedangkan Alex malah tertawa melihat reaksi dari istrinya itu.
" Aku juga nggak mau kalah sama anak - anak." Kata Alex.
Dan entah bagaimana, Alex dan Cantika yang malah sampai duluan dibanding ketiga anaknya itu.
" Karena Papa dan Mama yang sampai duluan, jadinya Papa dan Mama yang duluan memilih kudanya," Kata Alex dengan bangga.
" Sayang kamu itu harusnya mengalah sama anak - anak," kata Cantika pada Alex, saat melihat wajah Langit yang kecewa. Karena dikira dirinyalah pemenang lomba dadakan itu bersama saudara kembarnya.
" Baiklah. Langit kamu mau pilih kuda yang mana?" Tanya Alex sambil menemukan sebelah kakinya, agar sejajar dengan anak bungsunya itu.
" Langit mau kuda yang itu, Pah." Langit menunjuk kuda berwarna hitam.
" Baiklah," Alex pun meminta kepada petugas untuk memberikan kuda yang dipunya oleh Langit.
" Kalau Bintang ingin kuda yang putih!" Teriak Bintang.
" Bintang kamu harusnya nanti memilihnya yang terakhir. Karena kamu yang sampai terakhir tadi." Angkasa tidak terima kalau dia jadi orang yang terakhir dalam memilih kudanya.
" Kalau begitu Angkasa mau pilih kuda yang mana?" Tanya Alex menengahi kedua anaknya.
" Angkasa mau yang berwarna coklat," tunjuk Angkasa pada kuda yang berdiri di dekat dengan kuda pilihan Bintang.
Dan setelah selesai memilih kuda pesanan ketiga anaknya itu. Ketiganya dinaikan dan dituntun oleh pekerja disana, menyusuri pinggiran pantai. Kalau Alex memilih kuda jantan yang besar dan kuat, yang bisa ditunggangi oleh dua orang. Alex dan Cantika naik kuda berdua menyusuri bibir pantai dan menikmati pancaran dari cahaya matahari di sore hari.
" Sayang apa kamu senang?" Tanya Cantika pada Alex yang sedang memeluknya dari belakang menggunakan sebelah tangannya. Karena sebelahnya lagi sedang memegang tali kekang kuda mereka.
" Ya, tentu saja Honey. Aku merasa sangat senang." Jawab Alex sambil menopangkan dagunya di bahu Cantika.
" Kalau begitu bulan madu hari ini, sudah terasa manisnya seperti madu?" Tanya Cantika sambil tertawa.
" Belum. Akan terasa semanis madu bila hari ini kita habiskan waktu membuat adik untuk Si Kembar nanti malam" Bisik Alex dengan mesra. Cantika jangan ditanya seperti apa wajahnya sekarang. Apalagi pantulan cahaya matahari dikala senja menambah warna merah diwajahnya.
" Aku akan tagih janjimu, Honey. Yang akan membuat bulan madunya terasa semanis madu!" Tagih Alex pada Cantika.
\* \* \* \* \* \* \*
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA.
KASIH BINTANG LIMA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS YA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1