Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 28


__ADS_3

     Kini Bintang sudah sampai di rumah keluarga Khalid. Dengan langkah penuh semangat dia memasuki rumah yang sudah dianggap rumahnya sendiri.


"Assalamu'alaikum," salam Bintang begitu membuka pintu depan rumah.


"Wa'alaikumsalam," balas Aurora yang sengaja datang menyambut Bintang ketika melihat mobilnya tadi memasuki gerbang rumahnya.


"Oma," panggil Bintang lalu memeluk Aurora.


"Mulai sekarang jangan panggil Oma, tapi Mama!" Ghazali yang tiba-tiba muncul ke ruangan depan mengomentari panggilan Bintang.


"Iya, Sayang. Mulai sekarang panggil Oma dengan Mama," kata Aurora kepada Bintang.


"Eh," Bintang mengerutkan keningnya. Dia berpikir 'masa cara panggilannya sama dengan mama(Cantika)dan papa'.


Aurora melihat Bintang mengerutkan keningnya. Dia mengerti apa yang ada dipikiran calon menantunya itu. "Kalau Bintang menikah dengan Ghaza, berarti Bintang juga akan menjadi anak Mama."


"Oh, iya Oma. Eh, Mama."


     Aurora pun menguraikan pelukannya, dan setelah itu dengan cepat Ghazali memeluk Bintang dengan erat, karena dia sudah sangat rindu dengan calon istrinya itu.


"Eits, kalian belum diperbolehkan untuk saling berpelukan," Aurora memisahkan Ghazali dan Bintang yang baru saja berpelukan nggak sampai tiga detik.


"Ma, Ghaza 'kan hanya memeluknya saja. Nggak lebih!" Ghazali merengek kepada Aurora.


"Walaupun hanya berpelukan belum bisa diperbolehkan!" Aurora melotot ke arah Ghazali.


"Iya benar Oma, nanti ujung-ujungnya nyium Bintang lagi," kata Bintang setuju dengan Aurora. Sendirinya juga takut khilap seperti malam itu. Karena terlalu kuat rasa rindunya kepada Ghazali.


"Apa Ghaza sering mencium, Bintang?!" tanya Aurora dengan suaranya yang meninggi.


    Bintang sungguh terkejut mendengar suara Aurora yang memenuhi ruang tamu itu. Bintang merutuki kebodohannya yang sejak tadi pagi mulutnya selalu lemas saja ngomongin sesuatu yang memalukan dirinya.


"Nggak, Ma. Cuma waktu itu doang," kata Ghazali yang kesal sama Aurora yang telah membuat Bintang begitu ketakutan.


"Bohong! Mama lihat bibir Bintang jadi bengkak waktu malam pertunangan kalian," kata Aurora yang kali ini sukses membuat muka Bintang memerah.


"Kalian itu mulai sekarang dilarang bertemu sampai hari pernikahan kalian!" Aurora menarik Bintang bersamanya dan meninggalkan Ghazali sendirian.


"Nggak bisa gitu dong, Ma!" Ghazali pun ikut mengekori mereka memasuki ruang keluarga.


"Kamu harus bisa jaga diri, Ghaza! Jangan sampai kalian melakukan hal yang lebih jauh lagi!" Aurora menasehati Ghazali dengan sangat keras, karena dia tahu putra bungsunya itu berbeda wataknya dengan si sulung.


"Tapi masa nggak boleh bertemu?!" Ghazali masih saja mengekori Aurora dan Bintang.


"Apa kamu mau Mama memundurkan pernikahan kalian sampai dua tahun lagi?!" Aurora membalikan badannya dan menghadap Ghazali.

__ADS_1


"Tidak jangan!" teriak Bintang dan Ghazali bersamaan.


"Kalau gitu, kalian harus mau di … " Aurora terdiam lupa namanya kalau pasangan calon pengantin tidak boleh bertemu itu apa?


"Mau di …?" Ghazali dan Bintang bertanya dengan tatap harap-harap cemas.


"Eh … pokoknya jangan bertemu dulu!" Aurora mencoba menghilangkan rasa malunya lupa mau bilang apa kata yang tepat untuk itu.


"Mama 'kan tahu kalau Ghaza itu selalu ingin ketemu sama Bintang," Ghazali mencoba seribu cara agar diizinkan selalu bisa bersama Bintang, mau bertemu dimanapun.


"Kamu nggak mau tahu rasa malam pertama yang begitu indah, karena ada rasa rindu yang membuncah di hati kamu?!" bisik Aurora kepada Ghazali.


"Memang ada bedanya, Ma?" Ghazali balik bertanya dengan berbisik juga.


"Tanya sama Papa dan Kakakmu, Fatih?!" bisik Aurora lagi dengan senyumnya yang horror.


"Oke, kalau begitu akan Ghaza tanya dulu sama Kak Fatih," Ghazali menganggukkan kepalanya dengan perasaan penasarannya.


"Hm … anak bungsu ku masih polos saja. Umurnya saja yang tua. Emosinya masih bisa labil," gumam Aurora dan tersenyum melihat Ghazali menaiki anak tangga menuju lantai atas.


"Bintang juga, harus bisa menjaga diri, ya?!" pinta Aurora sambil mengusap punggung Bintang.


"Baik Oma!" jawab Bintang sambil menganggukkan kepalanya.


"Kok Oma lagi … Mama!" Aurora mengerutkan keningnya saat mendengar panggilan Bintang untuknya.


"Ya sudah terserah Bintang saja. Nyamannya gimana?!" Aurora berjalan kembali bersama Bintang memasuki sebuah ruangan bawah tanah di kediaman Khalid.


*******


    Aurora dan Bintang masuk ke salah satu ruangan yang ada di ruang bawah tanah. Ruangan itu adalah tempat penyimpanan dokumen-dokumen rahasia dan berharga milik keluarga Khalid. Bukan cuma itu, ada beberapa harta benda yang nilainya milyaran rupiah.


    Aurora mengajak Bintang berjalan sebuah brankas yang tertanam di dinding. Kemudian dia mengetikan password-nya, dan setelah itu dibawanya salah satu kotak yang ada di dalam sana.


"Bintang ini adalah dokumen berkas kekayaan yang dimiliki oleh Ghaza. Pilihlah salah satu untuk mas kawin nanti," kata Aurora sambil mengeluarkan semua dokumen berbagai aset milik Ghaza, baik itu hasil usaha sendiri atau warisan dari keluarganya.


"Maksud Oma?" tanya Bintang tak mengerti.


"Aduh … 'kan nanti kalian saat menikah butuh mas kawin. Nah, sekarang pilih saja salah satu dari aset kekayaan milik Ghaza. Dia sudah menyuruh Mama semalam, agar kamu memilih sendiri ingin mas kawin-nya apa?" Aurora menjelaskan kepada Bintang.


"Kalau Bintang sedikasihnya saja! Nggak mau yang bisa menjadi beban buat Om Ghaza atau Bintang nantinya." Bintang melihat ke arah Aurora dengan rasa takut-takut cemas.


"Jangan bilang kayak Mama kamu? Mas kawin cuma ingin satu set perhiasan. Bintang harus menghargai Ghaza, dia ingin memberikan yang terbaik untuk kamu. Makanya, pilihlah salah satu dari harta miliknya," kata Aurora sambil mengelus kepala Bintang, dan menatapnya sayang.


"Baiklah Oma, yang ini saja!" balas Bintang menarik salah satu amplop yang ada di sana.

__ADS_1


"Yakin yang ini, Bintang?!" tanya Aurora sambil membawa amplop yang dipilih oleh Bintang, dan melihat isinya.


"Iya, Bintang pilih yang itu saja," jawan Bintang dengan mantap, dia tidak peduli apapun isi di amplop itu, yang penting Ghaza yang menjadi suaminya nanti.


"Baiklah, akan Oma simpan mas kawin buat kamu ini," kata Aurora sambil melihat isinya, kemudian tersenyum lebar.


"Ayo kita kembali lagi ke atas!" ajak Aurora sambil membereskan kembali dokumen aset kekayaan Ghazali ke dalam kotaknya.


    Aurora menaruh kembali kotak itu ke dalam brankas di dinding. Tak sengaja di melihat ada beberapa set perhiasannya yang akan diberikan kepada para menantunya nanti.


"Bintang apa kamu mau memilih salah satu dari perhiasan ini, sebagai hadiah ulang tahunmu kemarin?" Aurora mengeluarkan beberapa kotak set perhiasan yang harganya lebih dari setengah milyar sampai puluhan milyar tersebut.


"Bukannya Opa, sudah kasih Bintang hadiah waktu kemarin," jawab Bintang sambil menahan tangannya saat Aurora menyerahkan beberapa kotak perhiasan itu.


"Ini hadiah khusus dari Oma, buat kamu!" kata Aurora lagi sambil memaksa Bintang memilihnya.


"Atau mau Oma pilihkan sendiri?!" lanjut Aurora sambil menatap Bintang.


"Baiklah … O … ma. Bin-tang pilih ... yang di kotak hitam saja ...," jawab Bintang dengan terbata-bata sambil menelan air liurnya. Bintang merasa aura dari Aurora sekarang terasa mencekam. Bintang asal bilang saja, tidak tahu apa isi kotak hitam itu.


"Ah, kamu ini pandai sekali memilih. Bintang, kamu memang pantas untuk menjadi menantu Oma!" kata Aurora penuh antusias.


"He … he … " Bintang hanya bisa tersenyum formalitas. Dia tidak tahu harga dari perhiasan yang ada di dalam sana itu.


"Bintang, apa kamu tahu? ini adalah salah satu koleksi favorit punya Oma. Senang ternyata kamu yang akan memilikinya," kata Aurora sambil menyerahkan kotak perhiasan itu kepada Bintang.


"Oma, harap kalian berdua bisa hidup bahagia!" kata Aurora sambil memeluk Bintang penuh dengan rasa sayang.


"Aamiin," jawab Bintang sambil membalas pelukan calon mertuanya itu.


*******


"Kalian berdua, jangan harap bisa hidup bersama!"


"Apalagi bisa hidup dengan rasa bahagia!"


"Akan aku pastikan itu!"


Jleb ... jleb ...


Dua pisau belati kecil, yang dilemparkannya itu berhasil menancap di foto Ghazali dan Bintang yang terpajang di papan drat.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA MUMPUNG HARI SENIN.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2