
Lelaki itu menghisap lagi cerutu yang dipegang tangan kirinya. Menandakan dia orangnya kidal. Saat dia menghembuskan asap dari cerutunya, dia mengalihkan pandangannya ke arah pigura foto keluarga.
" Apa anda sudah tahu, apa yang sudah terjadi kepada rekan tim Garuda anda yang lainnya?" Tanyanya dengan mata yang menatap Lazuardi tajam.
" Ah, aku yakin kalau anda pasti sudah tahu. Makannya keberadaan anda sulit untuk ditemukan. Kalian memiliki tali persahabatan yang erat, ya!" Katanya sambil tersenyum merendahkan.
" Karena setiap aku bertanya dimana anggota Tim Garuda yang lainnya, semuanya diam tak menjawab. Dengan alasan sudah lama tidak melakukan kontak. Aku membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk mengetahui keberadaan kalian. Waktu yang sangat lama hanya untuk mencari lima orang saja." Katanya sambil berdiri dan mendekat ke arah Lazuardi.
" Lima orang, berarti Dirman tidak masuk daftar mereka." Gumam Lazuardi dalam hati.
" Apa alasan kamu mencari kami?" Tanya Lazuardi dengan mata tertuju kepada lelaki yang kini berdiri di depannya.
" Tentu saja untuk membalaskan kematian orang tuaku!" Jawabnya dengan sorot mata yang tajam bahkan bola matanya memerah.
" Siapa orang tuamu itu?" Tanya Lazuardi lagi.
" Sumanto, pemimpin kelompok Ayam Jantan. Apa anda dapat mengingatnya?" Lelaki itu balik bertanya kepada Lazuardi.
" Lalu kamu siapanya Sumanto?" Lazuardi tidak menjawab pertanyaan dari lelaki itu, tetapi malah balik bertanya lagi.
" Aku Ribut anak kedua, dari pasangan Sumanto dan Sri Asih. Dua orang yang dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah atas dasar pelaku pemberontakan!" Teriaknya di depan muka Lazuardi lalu mengacungkan pistolnya ke pelipis Lazuardi.
" Ya, itu benar dan terbukti kalau kedua orang tuamu adalah para pemberontak yang ingin menggulingkan pemerintahan yang sah. Menyelundupkan senjata api dari luar negeri, dan melakukan perdagangan manusia. Kemudian kalian juga sering berbuat hal yang meresahkan kepada warga." Jawab Lazuardi tidak takut dengan ancaman pistol di kepalanya.
" Kita berbuat begitu demi kemajuan negara ini, bukan mau menghancurkan negara." Teriaknya lagi, tidak terima dengan segala ucapan Lazuardi tentang orang tuanya.
" Kemajuan untuk negara dalam hal apa?" Tanya Lazuardi lagi.
Ribut yang merasa kesal langsung menarik pelatuk pistolnya. Dan mengarahkan moncong pistolnya ke arah kepala Lazuardi.
" Dor!!!"
Satu peluru meluncur ke arah kepala Lazuardi, tetapi itu dapat di hindarinya. Lazuardi langsung melompat ke samping. Karena sejak Ribut mengarahkan pistolnya, mata Lazuardi fokus terhadap arah moncong pistol. Jadi dia akan tahu ke arah mana peluru akan meluncur.
Setelah Ribut menembakan pistolnya, dan itu juga di ikuti oleh tembakan dari dua orang lainnya. Ternyata di tempat yang lain juga, bunyi tembakan saling bersahutan. Setelah Ribut menembakan pistolnya ke arah Lazuardi. Mungkin itu pertanda serangan mulai dilakukan.
*******
Beberapa saat sebelum terdengar bunyi tembakan.
Langit menarik Bintang menaiki anak tangga menuju ke lantai paling atas. Langit dan Bintang berpapasan dengan Paramitha.
__ADS_1
" Kenapa kalian cepat kembali!" Katanya sambil menarik Bintang masuk ke kamar.
" Cepat pakai ini!" Paramitha memberikan rompi anti pelurunya untuk dipakai Bintang.
Sedangkan Langit melihat ke luar halaman depan lewat balkon kamar orang tuanya. Dilihatnya ada tiga mobil asing yang terparkir di sana. Langit menghitung kira-kira ada berapa orang musuh yang menyerang.
" Langit pakai ini untuk melindungi diri kalian." Paramitha menyerahkan pistol yang di pegangnya kepada Langit.
" Lalu Ibu?" Tanya Langit.
" Masih ada yang lainnya. Di setiap ruangan di rumah ini sudah disediakan senjata, jadi kalian jangan takut saat kehabisan peluru."
" Kalian harus hidup demi kami!" Paramitha berbicara dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
" Ibu kenapa mereka melakukan ini?" Tanya Bintang. Maka Paramitha memberikan earphone miliknya kepada Bintang. Sehingga Bintang bisa mendengar pembicaraan antara Lazuardi dan Ribut.
" Langit, jaga adik-adikmu. Karena kamulah yang akan menjadi kepala keluarga Lazuardi sekarang." Paramitha mengelus wajah Langit.
" Untuk jalan keluar, kalian bisa lewat pohon di samping balkon." Kata Paramitha.
" Oh, ternyata disini ada tiga hama!" Tiba-tiba seorang lelaki masuk kedalam kamar Lazuardi.
" Kalian itu sebenarnya mau apa?" Tanya Paramitha.
" Balas dendam, atas kematian orang tua dari salah satu pejabat tinggi Cranny Dracon." Kata lelaki bule yang memiliki tubuh atletis.
" Kami merasa tidak pernah membunuh orang!" Kata Paramitha sambil berjalan ke depan dan menghalangi Langit dan Bintang dengan tubuhnya.
" Entahlah kami hanya menjalankan tugas sesuai keinginan Ribut, untuk menghabisi orang-orang yang telah melakukan penyerangan terhadap keluarganya dahulu. Dan membuat kedua orang tuanya dihukum mati bahkan mempunyai nama buruk."
" Siapa nama orang tua Ribut itu?" Tanya Paramita. Dan tanpa lelaki itu sadari kalau Paramita telah memberikan kode kepada Langit untuk bersiap-siap.
" Aku lupa namanya, tetapi negara ini memberi label kepada mereka sebagai para pemberontak." Lelaki bule itu berjalan mengitari kamar Lazuardi.
Setiap lelaki bule itu bergerak, maka mereka bertiga juga akan bergerak.
Dor!!!
Suara tembakan terdengar dari lantai bawah.
" Oh sudah dimulai rupanya!" Lelaki bule itu langsung mengeluarkan pistolnya dari balik punggungnya.
__ADS_1
Dor!!!
Prang!!!
Bersamaan dengan lelaki itu menembakan pistolnya. Langit melemparkan lampu di meja dekat ranjang, ke arah lelaki bule itu. Dan berhasil mengenai wajahnya dan darah segar langsung keluar dari kepalanya.
" Sial! Rasakan ini!!!" Lelaki bule itu langsung memberondong peluru ke arah Paramitha dan anak-anaknya. Tetapi mereka bertiga langsung berlindung di balik tempat tidur.
Langit pun membalas tembakan itu, sambil berlindung di balik ranjang. Dan berhasil mengenai paha musuh. Entah berapa banyak peluru yang dimuntahkan dari kedua pistol milik lelaki bule itu, yang jelas keadaan kamar sudah luluh lantak. Peluru di pistol yang dipegang Langit pun sudah habis.
" Langit menunduk jangan sampai kamu tertembak!" Paramitha mengambil pistol di balik bantal yang ada di melancarkan tembakan ke arah lelaki bule itu dan berhasil melukai kedua tangannya yang memegang pistol. Sehingga kedua pistol itu terlepas dari tangannya.
" Cepat kalian pergi!" Perintah Paramitha kepada kedua anaknya.
" Sial! Dasar wanita sialan!!!" Ternyata lelaki bule itu masih punya pistol yang di sembunyikan di kakinya. Dan mengarahkan pistolnya ke arah Langit dan Bintang.
Dor!!!
Dor!!!
Paramitha yang melihat itu berlari dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi kedua anaknya. Dua peluru langsung bersarang di tubuh Paramitha.
" Tidak!!!"
" Ibu!!!"
Teriak kedua anak Paramitha, saat melihat tubuh wanita yang telah melahirkan dan membesarkan mereka, kini sedang mengorbankan lagi dirinya demi menyelamatkan anak-anaknya.
Langit pun langsung menerjang tubuh lelaki bule itu. Sampai-sampai pistol di tangannya terlepas. Kini kedua lelaki beda umur itu berkelahi dengan tangan kosong.
Bintang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia membawa ibunya keluar dari kamar itu. Paramitha meminta di antar ke kamar Angkasa. Karena disana masih ada pistol yang disimpan di balik bantal kasur milik Angkasa.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH MALAH BIKIN AKU SEMANGAT LAGI.
TERIMA KASIH.
__ADS_1