Trio Kancil

Trio Kancil
Season 2 #Chapter 41


__ADS_3

    Di kegelapan malam yang hanya dihiasi bintang-bintang tanpa adanya bulan. Satria dan Bintang berlari di perkebunan palawija, dengan sekuat tenaga mereka. Walau Satria harus menyeret Bintang, yang sudah mulai kelelahan.


" Pak Dirman!" Tiba-tiba Bintang berteriak. Sesaat kemudian dia kembali berteriak.


" Tidak! Kak Langit! Ayah!" Teriak Bintang yang masih bisa dengar keadaan di rumahnya lewat earphone yang masih menempel di telinganya. Walau kadang putus nyambung.


" Ada apa?" Tanya Satria panik begitu mendengar teriakan Bintang yang hendak berlari kembali lagi kerumah.


" Bintang!" Ditariknya Bintang oleh Satria sekuat tenaga karena berusaha melepaskan diri darinya.


" Kak, mereka telah membunuh Pak Dirman dan Ayah, juga Kak Langit." Kata Bintang setelah terakhir terdengar rentetan peluru yang ditembakkan. Setelah itu tidak terdengar suara apa-apa lagi.


" Kita harus menolong mereka!" Kata Bintang diiringi dengan suara tangisannya.


" Percuma, sudah terlambat! Jangan sia-siakan pengorbanan mereka agar kita bisa hidup." Satria mencengkram kedua tangan Bintang, berusaha menyadarkan Bintang.


" Aku nggak mau hidup sendirian!" Teriak Bintang dengan air mata yang berderai membasahi pipinya.


" Masih ada aku! Angkasa juga masih ada. Dia pasti mencari kita saat pulang kembali ke sini!" Balas Satria sambil menghapus air mata Bintang. Dan Bintang pun akhirnya menuruti keinginan Satria, untuk tidak kembali ke rumahnya.


    Bintang menangis meraung-raung, karena telah kehilangan orang-orang yang disayangi dan dicintainya. Satria yang mendengar Bapaknya telah meninggal juga, tak kuasa menahan air matanya. Satu-satunya orang tua kandungnya yang masih dia miliki kini telah tiada. Orang tua angkatnya yang selalu menyayanginya, dan memberi nasehat untuknya juga telah tiada. Sekarang yang dia punya adalah janjinya kepada mereka untuk selalu menjaga Bintang.


   Kedua anak manusia yang telah kehilangan orang tuanya itu. Kini berjalan tanpa arah dan tujuan. Dan saat mereka berjalan di pinggiran hutan terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. Mereka berdua mencari asal sumber suara ledakan itu. Setelah berjalan lumayan jauh di bawah jurang terlihat sebuah mobil yang sedang terbakar.


" Mudah-mudahan mereka semua mati!" Kata Satria sambil matanya tak lepas dari objek sebuah mobil yang habis dimakan api.


" Siapa, Kak?" Tanya Bintang.


" Para penjahat tadi, Kakak rasa itu mobil mereka!" Jawab Satria.

__ADS_1


" Ayo kita, harus cepat-cepat pergi dari sini. Jangan sampai keberadaan kita diketahui orang lain." Satria pun menuntun Bintang, berjalan kembali di sisi hutan.


******


Sesaat sebelum mobil Ribut jatuh ke jurang….


" Ayo cepat jalankan mobilnya! Aku harus segera mendapatkan pertolongan medis." Kata Ribut sambil menahan rasa sakit yang amat sangat karena ada beberapa peluru yang mengenai badan dan kedua kakinya.


" Baiklah Tuan!" Kata laki-laki bule yang merupakan bawahannya itu.


" Sialan, Si Dokter itu. Ternyata dia sudah menyiapkan segalanya. Berbeda dengan teman-temannya, mereka mudah dikalahkan karena perlawanan mereka hanya satu orang saja." Ribut meringis saat menggerakan badannya, terasa peluru yang bersarang di perutnya semakin masuk kedalam.


" Ya, benar Tuan. Semua para penghuni rumah itu bisa melakukan serangan balasan. Bahkan anaknya Dokter juga bisa menggunakan pistol." Kata laki-laki bule itu sambil memegang setir dengan sebelah tangannya, karena tangan yang sebelahnya lagi menahan keluarnya darah di perutnya.


" Tingkatkan kecepatannya, aku sudah tidak kuat lagi. Ini begitu terasa menyakitkan." Perintah Ribut kepada bawahannya.


" Baiklah Tuan!" Laki-laki bule itu menuruti perintah atasannya.


" Sial!" Umpat laki-laki bule itu karena tidak bisa mengendalikan laju mobilnya.


" Apa yang sedang kamu lakukan!" Teriak Ribut karena mobil melaju terlalu cepat di pudunan jalan berbukit itu.


" Remnya rusak!" Begitu laki-laki bule selesai bicara, mobil mereka menabrak pembatas jalan dan jatuh ke bawah jurang.


" Aaaaaakh!!!" Teriak keduanya.


Boooom!!! Suara mobil yang meledak memekakkan telinga. Dan dengan cepat mobil itu langsung diselimuti oleh api yang besar. Ribut dan laki-laki bule itu mati terpanggang di dalam mobil. Karena tubuh mereka terhimpit oleh badan mobil yang sudah ringsek.


*******

__ADS_1


    Di sebuah lahan perkebunan milik keluarga Dokter Lazuardi. Yudha berlari dengan wajahnya yang sangat pucat. Dirinya mau mengambil pisau pemberian Kakeknya yang tertinggal tadi siang di rumah Dokter Lazuardi. Pisau itu digunakan untuk membersihkan isi perut ikan yang akan dibakar untuk dijadikan menu makan bersama siang tadi.


    Saat pulang Yudha lupa mengambil kembali pisau itu. Padahal itu adalah pisau kesayangannya yang sering dia gunakan untuk keperluannya sehari-hari. Yudha baru menyadari pisaunya tidak ada saat akan membelah singkong yang tadi didapatkannya dari kebun di samping rumahnya. Bapaknya yang baru pulang kerja malam hari, ingin singkong rebus. Maka Yudha pun menurutinya.


    Tapi saat dia mulai mendekati rumah Dokter Lazuardi terdengar suara tembakan yang saling membalas. Yudha begitu takut dan akhirnya bersembunyi di dekat sebuah pohon besar. Yudha juga melihat laki-laki bule itu menyalakan korek api dan melemparkannya ke dinding rumah. Api langsung menyala dengan besar dan menjalar begitu cepat ke tempat yang lainya. Sehingga rumah Dokter Lazuardi diselimuti oleh api sekelilingnya. Yudha yang sedang bersembunyi tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakan karena kuatnya rasa takut dalam dirinya, sehingga tidak bisa memberitahu kepada Bapaknya.


*******


    Langit yang berjalan dengan langkah gontai berusaha sekuat tenaga tetap sadar. Karena tubuhnya sudah tidak bisa diajak berkompromi akibat kelelahan fisik dan batinnya. Langit, dalam pikirannya saat ini harus menemukan bintang. Dia akan berusaha memenuhi permintaan orang tuanya. Untuk menjaga kedua adiknya, Angkasa dan Bintang.


    Malam yang gelap dan pandangannya sudah mulai kabur, Langit berjalan ke arah yang menuju sebuah sungai yang besar. Di saat kesadarannya yang sudah tipis Langit terperosok ke pinggiran sungai, yang kebetulan airnya sedang meluap. Langit pun terbawa arus air sungai itu, sampai dia terdampar di daerah ibunya Cantika berada.


*******


    Satria dan Bintang berjalan kaki dan sesekali berhenti untuk beristirahat. Mereka berjalan sampai tengah hari dengan perut kosong. Sampai mereka bertemu dengan salah seorang petinggi kepolisian yang kenal dekat dengan Dokter Lazuardi. Bintang pun menceritakan kejadian yang menimpa keluarganya. Mendengar cerita Bintang, orang itu pun memberikan perlindungan kepada Bintang dan Satria.


    Orang itu juga yang meminta mereka berdua menyembunyikan identitas mereka. Karena takut para penjahat masih mencari mereka. Dan dia mengirim Satria dan Bintang ke Kalimantan, tempat kampung halamannya. Karena disana ada banyak kerabatnya yang bisa dimintai untuk menjaga mereka berdua.


    Akhirnya Satria dan Bintang pun tinggal di Kalimantan sampai sekarang.


*******


Ini cerita masa lalu sudah berakhir.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH ITU MEMBUAT AKU MAKIN SEMANGAT LAGI.


TERIMA KASIH.


__ADS_2