
Hari ini keluarga Alex dan Cantika berangkat ke Amerika. Walau jam keberangkatan mereka di undur karena, drama yang dilakukan oleh Alex terhadap Cantika. Karena dua hari tidak mendapatkan jatahnya, Alex meminta double. Padahal rencana awalnya mereka akan berangkat jam sepuluh pagi, kini menjadi jam empat sore.
Padahal semua sanak saudara keluarga Cantika sudah menunggu karena ingin mengantar kepergian mereka. Oleh karena itu Cantika terus meminta maaf pada keluarganya, yang sudah susah payah menyediakan waktu untuk mengantarnya. Sedangkan Alex hanya tersenyum saja menanggapi mereka.
" Kamu itu Al, tidak bisa apa menahan diri satu hari saja!" Kata Aurora kepada Alex yang gemas dengan kelakuannya.
" Hehehe…. Mah. Al itu sudah lebih dari dua hari tidak dikasih sama Cantika. Kurang menahan diri gimana?" Kata Alex sambil tersenyum jahil.
" Tuh contoh Fatih! Dia itu tidak tiap hari minta jatah sama Zahra. Karena dia bisa menahan dirinya." Kata Aurora membanggakan anak sulungnya.
" Ya Alex sama Fatih itu beda, Ma. Jangan samakan kita berdua dong!" Alex tidak terima dibanding-bandingkan.
" Tentu saja kalian sama. Dalam tubuh kalian mengalir darah keturunan Keluarga Green, dan kamu juga tahu apa kelebihan dari keluarga kita!" Kata Aurora dengan penuh kebanggaan akan nama keluarganya.
" Iya, Al tahu. Makannya Al mudah membuat Cantika hamil." Bisik Alex pada Aurora dengan senyum jahil di bibirnya.
" Kamu itu…." Aurora ingin sekali rasanya menjitak kepala Alex, tapi mana berani dia lakukan itu kepada anak kesayangan sepupunya itu yang sudah dianggapnya anak sendiri.
Sementara Cantika sedang berpamitan dengan keluarga ayahnya. Dia memeluk erat tubuh Tantenya sambil terisak.
" Jaga dirimu baik-baik disana, ya!" Pinta Bintang.
" Iya, Tante." Cantika menganggukan kepalanya.
" Kamu harus sering telepon kabari kami saat disana!" Kata Sakti saat Cantika pamit pada Pamannya itu.
" Baik, Paman." Jawab Cantika sambil tersenyum karena Satria mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
" Kalau pulang kesini, jangan lupa mampir ke rumah kami!" Kata Satria yang berdiri disamping Bintang.
" Baik, Om. Aku belum sempat main ke rumah Tante yang berada di Kalimantan. Jadi nanti aku akan kesana kalau pulang kesini lagi." Balas Cantika.
" Iya kami akan menunggu kedatangan keluarga kamu. Mungkin nanti bayinya sudah keluar, ya. Saat kembali kesini?" Tanya Bintang.
__ADS_1
" Mohon doanya, mudah-mudahan Cantika diberi kemudahan dan kelancaran saat melahirkan nanti." Pinta Cantika kepada keluarga Tante dan Pamannya.
" Tenang Honey, kalau kamu melahirkan aku akan menjemput mereka agar datang kesana." Kata Alex dan disambut baik oleh mereka.
Sedangkan Si Trio Kancil sedang melakukan perpisahan dengan Didi dan Dodo, sama Galaksi dan Erlangga. Dengan drama berderai air mata kelima bocah kecil itu saling berpelukan untuk perpisahan mereka. Dan itu malang mengundang tawa Galaksi dan Erlangga. Kedua pemuda itu tertawa geli melihat perpisahan ala-ala Si Trio Kancil itu.
" Didi kamu jaga diri baik-baik, ya. Jangan marahin Dodo kalau mau pake mainan punya kami. Biarkan saja dia bermain sepuasnya." Kata Bintang kepada Didi dengan air mata yang mengalir di pipinya yang chubby. Begitupun dengan Didi, dia menangis menahan suaranya. Jadi hanya menganggukan kepalanya saja sebagai jawaban kepada Bintang.
" Dodo kalau kamu mau main robot-robotan atau mobil-mobilan, tinggal pakai saja. Kami nggak akan marah, asal simpan lagi di tempatnya. Nanti Mama marah kalau sembarangan menyimpannya." Kata Langit kepada Dodo adiknya Didi.
" Itu kamu, yang suka lupa menyimpan lagi kalau sudah main. Nanti pas mau main lagi lupa naruh dimana. Ujung-ujungnya minta Mama carikan!" Kata Angkasa kepada Langit, adik bungsunya.
****
Kini Fatih dan Zahra yang berpamitan dengan Alex dan Cantika. Sambil berpelukan mereka saling mendoakan satu sama lainnya.
" Semoga kamu cepat-cepat diberi momongan!" Ucap Cantika saat melepaskan pelukannya dengan Zahra.
" Aamiin. Mudah-mudahan aku bisa segera hamil. Iri banget lihat tubuh Kakak." Kata Zahra sambil mengelus perut Cantika. Setiap kali mereka bertemu, Zahra selalu mengelus perut Cantika dan berdoa mudah-mudahan dirinya juga bisa segera hamil.
" Aku juga maunya gitu. Tapi aku juga harus memikirkan kondisi Zahra juga. Dia juga kerja, jadi aku nggak mau dia sakit karena kelelahan." Balas Fatih sambil memukul lengan Alex.
" Kalau begitu suruh Zahra berhenti bekerja!" Ucap Alex sambil melihat ke arah istri sepupunya itu.
" Aku juga dari awal kita menikah, meminta dia untuk dirumah saja. Tapi Zahra tidak mau. Dia ingin mengamalkan ilmu miliknya untuk menolong orang lain." Balas Fatih.
" Kalau begitu, kamu yang harus ekstra kerja keras agar bisa buat dia hamil." Kata Alex menyemangati saudaranya itu.
" Hehehe…. Memangnya selama ini aku kurang bekerja keras!" Ucap Fatih.
" Pokoknya aku tunggu kabar gembira dari kamu dalam waktu dekat, ya!" Kata Alex sambil melihat jam di tangannya.
" Honey, sudah saatnya kita berangkat!" Ajak Alex kepada Cantika dan menggandeng istrinya itu.
__ADS_1
" Anak-anak ayo! Kita berangkat sekarang!" Panggil Cantika kepada ketiga anaknya yang masih saja bercengkrama dengan Galaksi dan Erlangga.
" Tunggu Al, kita juga ikut!" Kata Khalid. Sambil berlari Khalid datang ke bandara.
" Ada apa?" Tanya Aurora begitu panik saat melihat Khalid berlari menuju ke arah mereka.
" Ayo Sayang kita juga ikut ke Amerika. Kakek Christopher kondisinya kritis." Ajak Khalid kepada Aurora.
" Ya Allah, Kakek kenapa lagi?" Kini Aurora merasa ketakutannya menjadi nyata, karena beberapa hari yang lalu saat dirinya berbicara dengan Christopher bilang titip Mentari, menantu kesayangannya itu, kalau ada apa-apa sesuatu terjadi padanya. Karena dia sudah tidak bisa berbuat banyak karena sudah tua.
" Aku sudah membawa semua keperluan kita. Ayo kita berangkat."
" Fatih kamu menyusul dengan Zahra besok saja!" Kata Khalid.
" Baik, Pah!" Jawab Fatih dan Zahra bersamaan.
*******
Setelah menempuh hampir dari dua puluh jam perjalanan Indonesia-Amerika. Kini Alex dan seluruh keluarga yang ikut ke Amerika, sedang berada di Rumah Sakit milik keluarga Green.
Dilihatnya Christopher sedang berbaring di brankar rumah sakit dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya. Christopher ditemukan tak sadarkan diri oleh Mentari saat akan memberinya makan siang. Saat ditemukan posisi Christopher berada di lantai kamar. Mentari yang panik memanggil Ja'far dan Sinar yang kebetulan masih berada disana. Mentari menelepon William, dan meminta dokter keluarganya disuruh datang ke mansion utama Keluarga Green. Dan akhirnya mereka memutuskan membawa Kakek yang berumur lebih dari sembilan puluh tahun itu ke Rumah Sakit milik keluarga Green.
" William bagaimana keadaan Grandpa?" Tiba-tiba seseorang yang membukakan pintu masuk bertanya tentang keadaan Christopher.
" Daddy? Sylvia?" Alex terkejut dengan kedatangan kedua orang itu.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH ITU MEMBUAT AKU MAKIN SEMANGAT LAGI.
__ADS_1
TERIMA KASIH.