
Ghazali menghindari peluru yang ditembakkan oleh Agen S, ke arahnya. Saat dirinya menghindar Ghazali melesatkan dua peluru dalam waktu yang hampir bersamaan. Bukan Agen S sasaran tembaknya, melainkan kedua rantai besi yang mengikat kaki Bintang.
Bintang yang sudah terbebas kakinya dari rantai besi. Langsung menendang Agen S, yang kebetulan berada di dekatnya. Karena kuatnya tendangan Bintang, sampai membuat Agen S yang belum siap menerima serangan dari Bintang, terpelanting sampai ke dinding besi kapal.
Bintang langsung berlari ke arah Ghazali. Meminta membuka borgol yang terpasang di belakang tangannya. Karena tidak ada kunci maka Ghazali pun akan menggunakan peluru untuk melepasnya.
"Om, tolong lepaskan borgolnya," Bintang menunjukkan borgol yang ada di balik tubuhnya.
Ghazali pun membalikan tubuh Bintang sehingga mereka berhadapan. Sambil memeluk Bintang dengan sebelah tangannya. Dia mengarahkan pistol pada borgol yang ada di tangan Bintang.
"Angkat sedikit tangannya," bisik Ghazali tepat di telinga Bintang. Bintang pun menuruti keinginan suaminya itu.
Selain memutuskan rantai borgol di tangan Bintang. Peluru itu juga mengarah ke paha Agen S. Sekali tembak dua sasaran. Otak cerdik milik Ghazali, selalu berguna di saat seperti ini. Dia juga dapat bonus memeluk Bintang.
"Aaaaaakh!" Teriak Agen S, saat pahanya terkena tembakan.
Namun Agen S tidak mau kalah. Dia melesatkan dua tembakan secara beruntun ke arah Bintang dan Ghazali.
Ghazali dan Bintang melompat ke samping untuk menghindari peluru itu. Di saat bersamaan ada beberapa awak kapal yang masuk ke pintu ruangan itu. Sehingga, dua orang dari mereka yang terkena peluru salah sasaran.
"Ahk!"
"Uhk!"
Dua orang itu langsung tumbang di depan pintu.
"Bodoh! Apa yang kalian lakukan di sini?!" teriak Agen S, kepada anak buahnya itu.
"Karena kami mendengar banyak suara tembakan di ruangan bawah ini," jawab salah seorang awak kapal.
Seolah tidak mau membuang kesempatan itu. Maka Agen S menyuruh anak buahnya untuk menangkap Ghazali dan Bintang.
Ghazali dan Bintang saling pandang, dan mereka membaca pikiran satu sama lain. Ghazali memukul dan menendang setiap orang-orang yang mendekat kepada mereka. Sedangkan Bintang mengawasi Agen S. Karena bisa saja saat mereka fokus ke perkelahian, dia menembak ke arahnya.
Lima anak buah Agen S, berhasil dilumpuhkan oleh Ghazali dalam waktu singkat. Karena mereka hanyalah awak kapal biasa yang tidak punya ilmu beladiri yang mumpuni.
__ADS_1
"Ah … hebat juga ya. Putra bungsu seorang Khalid. Aku kira dia hanya anak manja, dan bodoh. Ternyata aku salah, menilai kamu." Agen S, sengaja memprovokasi Ghazali untuk memancing amarahnya.
"Ternyata, selain lemah. Kamu juga bodoh!" kata Ghazali kepada Agen S sambil tersenyum miring.
Agen S tidak terima disebut bodoh oleh Ghazali. Maka dia pun menembakan peluru secara beruntun, ke arah Ghazali. Namun Ghazali berhasil menghindar dan menembakan pelurunya ke arah Agen S. Sama gesitnya, Agen S juga menghindari peluru yang ditembakkan oleh Ghazali.
Karena di ruangan itu tidak ada tempat untuk berlindung. Mau tidak mau mereka menyerang sambil menghindar, dari sasaran peluru lawan.
Kini kedua orang itu sudah kehabisan peluru. Mau tidak mau kini Ghazali dan Agen S, beradu jotos. Mereka berdua duel di tengah tengah ruangan itu. Pukulan dan tendangan mereka berdua lancarkan. Saling beradu dan menangkis di antara keduanya.
Sedangkan Bintang berdiri di sisi dekat pintu, sambil mengawasi mereka berdua. Tangan kanannya pun memegang pistol, takut kalau ada anak buah yang datang untuk membantu Agen S.
*******
Sementara Khalid melawan Agen Z dan Agen A, secara bersamaan. Walau sudah berumur, tapi tenaga dan kecepatan Khalid masih bisa diacungi jempol.
Mereka berkelahi di dek kapal. Khalid yang merupakan seorang penembak jitu. Dia mampu berkelahi sambil mengawasi sekitarnya, dan melancarkan tembakannya ke arah orang-orang yang mengincarnya dari jauh.
Agen Z menembak dan Agen A menyerang secara bersamaan. Dengan cekatan Khalid menarik tangan Agen A yang dipakai memukul, dan di jadikannya tameng untuknya. Sehingga peluru Agen Z mengenai tubuh Agen A.
*******
"Kalian semua berpencar!" perintah Alex.
Kemudian Alex memberikan kode kepada pilot dan co-pilot untuk menembak mesin kapal bagian belakang. Supaya kapal tidak melaju lebih jauh lagi. Tembakan sejenis bazoka pun, dilancarkan dari helikopter. Sehingga kapal pun terhenti lajunya.
Semua orang sangat terkejut dengan suara dentuman yang sangat keras itu, dan membuat kapal oleng. Banyak orang yang terjatuh seketika, karena kapal yang tiba-tiba oleng. Orang yang dalam posisi siaga saja yang tidak jatuh.
*******
Langit dan Angkasa langsung masuk ke dalam. Di sana sudah ada empat Agen yang menunggu mereka.
"Waw … sambutan yang lumayan meriah ya," kata Langit sambil tersenyum sinis.
"Kamu lawan yang wanita. Aku nggak mau melawannya!" kata Angkasa sambil memalingkan wajahnya dari Agen V yang hanya memakai celana panjang dan atasan kemben yang cuma menutup bagian dadanya saja. Selain itu belahan dadanya begitu rendah.
__ADS_1
"Kamu itu! Aku juga nggak mau melawan yang wanita!" bales Langit dengan nada merajuknya.
"Hei! yang wanita kamu menyingkir! Kita berdua nggak mau melawan kamu!" teriak Langit kepada Agen V.
"Kenapa? Kalian meremehkan aku!" Agen V berbicara dengan suaranya yang lantang, karena merasa terhina oleh Langit dan Angkasa.
"Kalau kamu mau melawan kami. Sana pakai baju dulu!" balas Langit dengan lantang.
"Kau menghinaku!" Agen V menembakan pelurunya ke arah Langit. Untungnya Langit cepat menunduk, sehingga peluru itu tidak mengenainya.
"Dasar wanita gila, langsung main tembak aja," gumam Langit sambil berdiri kembali.
Tanpa diduga oleh Langit. Angkasa menembakkan dua peluru ke arah Agen V yaitu satu ke tangan yang memegang pistolnya, dan satu lagi ke arah kepalanya.
Perbuatan Angkasa yang tidak diduga itu. Membuat orang-orang yang ada di sana terkejut oleh tindakannya barusan. Langit pun langsung pucat wajahnya saat melihat Agen V langsung tumbang dan menggelepar.
"Kak Angkasa … bilang dong kalau mau … membunuh orang," kata Langit dengan suaranya yang bergetar.
"Siapa yang membunuh? Dia cuma tak sadarkan diri saja!" jawab Angkasa sambil tersenyum jahil kepada Langit.
"Oh … senjata milik Papa!" kata Langit jadi bersemangat lagi.
"Ini punya aku. Aku mengembangkan senjata milik Papa! Lumayan ringan, dan yang pasti peluru tidak takut habis," balas Angkasa sambil menembakan peluru berduri yang diberi racun pelumpuh, ke arah tiga agen di sana.
Namun mereka bertiga dengan gesit, berhasil menghindar. Mereka bertiga juga langsung menembakan pelurunya ke arah Langit dan Angkasa.
Langit langsung bersembunyi di balik meja Bar yang ada di dekatnya. Sedangkan Angkasa berada di balik meja kayu yang di balikan olehnya.
Rupanya musuh juga sudah bisa berlindung di balik kotak-kotak peti, yang ada di sana. Adu tembak pun terjadi di anatara lima orang itu.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.