
Langit bingung harus bilang apa, agar Almahira bisa mengerti keadaan sekitarnya, tanpa membuatnya ketakutan. Ditatapnya mata gadis berkerudung, dan sudah berkaca-kaca.
"Dengarkan aku!" pinta Langit saat pandangan keduanya saling mengunci.
Almahira pun mengangguk-anggukan kepalanya. Tanda dia mengerti permintaan Langit. Tangan Langit pun menggenggam tangan Almahira dengan lembut. Dia ingin menghilangkan ketakutan dalam diri teman perempuannya itu.
"Ada orang jahat yang sedang berkeliaran di sekolah kita," bisik Langit dengan sungguh-sungguh. Itu malah membuat Almahira bergetar tubuhnya karena takut dirinya yang diincar.
"Jangan takut! Aku akan melindunginya," janji Langit dengan berbisik.
"Tapi--" Almahira tidak sanggup lagi meneruskan pembicaraannya karena dia teringat sesuatu.
"Aku merasa sedang di incar oleh seseorang atau beberapa orang, belakangan ini," kata Almahira dengan suara pelannya.
Mendengar penuturan Almahira membuat Langit terkejut. 'Bagaimana mungkin seorang siswa bisa diincar? Apa yang menyebabkan Almahira beberapa kali mendapat ancaman percobaan pembunuhan,' terlalu banyak pertanyaan dalam otak Langit yang ingin ditanyakannya langsung ke Almahira.
"Apa kamu bisa beladiri?" tanya Langit kepadanya.
"Tidak," jawab Almahira sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu bisa menggunakan senjata api atau senjata yang lainnya?" tanya Langit lagi dengan berbisik dan memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Tidak," jawabnya lagi dengan suara yang makin tidak terdengar.
Langit menarik napasnya seakan putus asa, memikirkan cara melindungi Almahira.'
'Hah ... aku harus mencari seseorang yang bisa melindungi Almahira, disaat jauh dariku,' gumam Langit dalam hati.
"Dengar ya! seandainya kamu merasa dalam bahaya atau ada sesuatu yang membuat kamu curiga. Lekas hubungi aku! Kapanpun? Dimana pun? Dalam situasi apapun" Langit memberi peringatan untuk Almahira.
Almahira pun menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Kalau ada apa di asrama kamu hanya boleh menghubungi Hikari. Ingat Hikari! Tidak boleh sama yang lainnya termasuk Hana." Langit tiba-tiba saja menyebut nama Hikari, gadis tomboi yang selalu mengganggunya.
__ADS_1
"Hikari?" tanya Almahira dengan mengerutkan keningnya.
"Dia adikku," jawab Langit dengan berbisik. Jangan sampai suaranya terbawa angin dan terdengar oleh orang lain. Sebab itu bisa saja membuat Hikari mendapat ancaman, bila benar yang diincar adalah Langit dan menargetkan orang sekitarnya.
Langit pun mengantar Almahira sampai ke pintu gerbang. Dia pun menunggu sampai Almahira masuk ke dalam gedung asramanya. Langit pun mengirim pesan kepada Hikari untuk mengawasi dan menjaga Almahira.
*******
Seperti malam kemarin, Langit pun melakukan penyusupan ke ruang-ruang umum di gedung asramanya. Sebelumnya dia meng-hacker komputer utama di sana. Kemudian dia juga memasang cctv buatannya sendiri.
Pekerjaan malam ini lebih lama memakan waktu lebih dari satu jam, di banding hari kemarin. Langit pun keluar masuk kamar asramanya dengan pelan-pelan.
Langit memeriksa dan mengamati kamera cctv yang sudah di pasang tadi olehnya. Setelah dipastikan semuanya berjalan dengan baik dan benar. Langit langsung tidur karena hari sudah lewat tengah malam.
Kawasaki tadi sempat bangun dan melihat saat Langit memainkan laptop kecil miliknya. Dia jadi merasa curiga dengan apa yang sedang di kerjakan oleh Langit barusan. Maka Kawasaki pun bangun dan ingin membuka laptop milik Langit untuk memeriksanya.
Saat Kawasaki membuka laptop milik Langit. Bunyi alarm langsung terdengar. Kawasaki begitu terkejut dan langsung melemparkan laptop itu ke meja belajar milik Langit.
Langit pun terusik saat mendengar bunyi alarm tanda bahaya buatannya. Dengan sigap Langit bangun dan memasang kuda-kuda, bersiap untuk melawan.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Langit dengan gaya santainya.
Tidak mau menarik rasa curiga Kawasaki kalau di laptop itu ada sesuatu rahasia. Sehingga Langit pura-pura tidak menganggap penting benda itu. Kalau dia sampai marah-marah karena barangnya di pegang oleh orang lain. Ada kemungkinan orang lain akan mencuriga pada dia. Bahkan bisa juga disuruh memperlihatkan rahasia yang ada di dalam laptopnya.
"Tidak aku sepertinya berjalan lagi ketika aku tidur," jawab Kawasaki dengan berusaha menutupi kegugupannya.
"Oh kamu punya penyakit somnabulisme?" tanya Langit pura-pura terkejut, padahal dari kemarin dia sudah tahu.
"Iya, sebagian orang bilang sleepwalking," jawab Kawasaki dengan malu.
Langit memandang ke arah Kawasaki secara intens. Sesungguhnya kebanyakan orang di sini memiliki dua muka bahkan lebih. Tuntutan harus punya nilai bagus adalah faktor utama orang-orang di sana berubah seperti itu. Hasil karya yang menakjubkan yang harus bersaing antar murid. Saling menjatuhkan di belakang layar. Saling mendukung di depan muka. Langit dapat melihat itu dengan jelas walau baru dua hari dua malam, dia mengamati.
*******
__ADS_1
Keesokan paginya Langit menjemput Almahira di depan gerbang asrama putri. Tentu saja kehadiran Langit mengundang perhatian kaum hawa di sana. Mereka berteriak memanggil namanya di atas balkon kamar mereka. Langit pun membalas panggilan mereka dengan lambaian tangannya.
Almahira berlari ke arah Langit dan di ikuti sama Hikari. Langit sangat senang saat melihat mereka berdua dalam keadaan baik-baik saja.
"Assalamualaikum, Almahira." Suara Langit terdengar merdu di telinga Almahira.
"Wa'alaikumsalam," jawab Almahira dengan tersipu malu.
"Pagi … onii san!" Hikari menyapa Langit dengan penuh semangat.
"Pagi Hikari," balas Langit sambil tersenyum hangat ke arah gadis tomboy itu.
"Kyaaaak!"
Suara para gadis saat melihat Langit tersenyum barusan. Kelakuan mereka membuat Almahira dan Hikari kesal. Almahira dan Hikari langsung menarik masing-masing satu tangan Langit, dan langsung berjalan meninggalkan gerbang itu.
"Tunggu kalian kenapa?" tanya Langit tidak mengerti.
"Kami tidak suka saat melihat mereka berkelakuan genit seperti itu kepada onii san!" jawab Hikari dengan intonasi nada yang meninggi.
*******
Langit berjalan di belakang Almahira dan Hikari. Kedua gadis itu berjalan dengan riang dan sesekali tertawa. Langit senang kalau Almahira bisa berteman baik dengan Hikari. Setidaknya di asrama putri ada yang bisa mengawasi Almahira.
Subuh tadi Langit mencari tahu data tentang Almahira. Selain kedua orang tuanya yang bekerja sebagai diplomat di KEDUBES, ternyata ayah dan ibu Almahira itu, dulunya juga alumni Academy Matsumoto.
Data itu tidak ada di profil yang dimiliki oleh Academy Matsumoto. Namun ada di dalam data yang berhasil ditemukan oleh Langit di dalam forum pertemanan para alumni SMP mereka. Sepertinya kebenaran saat sekolahnya di sini dulu, itu ditutupi entah apa alasannya. Dalam biodata mereka selalu ditulis SMA di Jepang. Tempat kuliah mereka menimba ilmu adalah salah satu universitas negeri di Indonesia, dan kedua orang tua Almahira saat itu sudah menikah, di usianya yang masih muda.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.