
"Maaf … Mitsubishi san, aku sudah punya tunangan. Jadi tidak boleh pergi berkencan dengan laki-laki lain," balas Almahira sambil tersenyum simpul dan melirik ke arah Langit.
"Apa!" teriak beberapa orang yang duduk berkumpul di meja Langit.
Semua orang yang berada di meja yang diduduki Almahira dan teman-temannya sangat terkejut. Saat mereka mendengar perkataan Almahira yang sudah punya tunangan.
"Alma chan, benarkah itu?" tanya Hana tidak percaya.
"Alma san, apa itu benar?" tanya Kawasaki dengan perasaan kecewa.
"Almahira san, kamu nggak bohong kan?" Mitsubishi Dai menatap Almahira dengan lekat.
"Benarkah itu, Almahira san?" Hino Rey bertanya sambil menepuk dadanya karena tadi tersedak.
Almahira bingung saat teman-temannya itu bertanya dengan bersamaan. Dia sebenarnya bingung tadi, asal ceplos saja bicara. Namun, tidak menyangka akan begini respon dari mereka. Jadinya, sekarang dia bingung sendiri harus bilang apa.
"Iya, Almahira ... sudah punya calon suami!" Langit membantu menjawab karena Almahira terlihat kebingungan.
Kini perhatian semua orang tertuju kepada Langit. Sementara dirinya sendiri santai saja menanggapi reaksi dari teman-temannya itu.
"Langit kun, apa sudah tahu siapa tunangannya Almahira" tanya Kawasaki sambil melihatnya dengan telisik ke wajah tampan Langit.
"Bukan hanya tahu, bahkan aku mengenalnya dengan sangat baik!" Langit tersenyum saat menjawab pertanyaan Kawasaki.
"Benarkah itu Langit kun?" Kali ini Hana yang bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Siapa?" tanya Mitsubishi Dai yang juga menatap Langit dengan intens.
"Dia adalah--"Langit tidak melanjutkan perkataannya karena Almahira menendang tulang keringnya di kolong meja. Sehingga membuat Langit meringis.
"Adalah ... siapa?" Semuanya semakin mendekat ke Langit yang sedang meringis sambil memegang kakinya yang sakit.
'Gila itu kaki nendang keras banget. Memar nggak ya, kakiku ini?' gumam Langit dalam hatinya.
"Almahira tidak mengizinkan aku memberi tahu," jawab Langit.
__ADS_1
Kini semuanya melihat ke arah Almahira. Sedang Almahira malah melotot ke arah Langit dan memberi kode kepadanya.
"Eh itu ... soalnya dia laki-laki pemburu dan posesif. Selain itu dia juga tidak suka kalau banyak orang asing yang menghubunginya." Almahira terpaksa membohongi teman-temannya.
"Wah.... Pasti akan banyak murid yang patah hatinya, jika mengetahui kabar ini," kata Yamaha Ryu sambil melirik ke arah Kawasaki. Sebab dia juga tahu kalau saingannya itu juga menyukai Almahira.
Istirahat yang lama satu jam malah membuat mereka asik bergosip, dari pada pergi ke klubnya masing-masing. Apalagi sekolahan akan mengadakan ujian lapangan. Acara yang paling ditunggu-tunggu oleh anak kelas dua SMA. Ujian bertahan hidup dengan menciptakan suatu karya di alam bebas dan bertahan hidup mengandalkan yang ada di alam. Itu akan diadakan selama satu minggu lamanya.
Angkatan kelas ada lima kelas, dan tiap kelas di isi dua puluh orang. Jadi akan ada seratus orang murid yang melakukan ujian itu.
"Hei, apa kalian pernah tahu kalau beberapa belas tahun yang lalu pernah terjadi insiden yang menghebohkan dunia pendidikan dan para ilmuwan?" Subaru Sora berbisik dan menatap teman-temannya.
"Apa itu?" tanya Hino Rey dan Kawasaki bersamaan.
"Katanya dulu terjadi kecelakaan gara-gara hasil karya salah satu kelompok murid. Kelompok mereka membuat bom peledak yang bisa di kendalikan dari jarak jauh. Entah apa yang terjadi, bom itu tiba-tiba meledak dengan dahsyat sampai satu pulau itu hancur. Tentu saja para murid dan guru pengawas meninggal semua di sana. Makanya di pulau itu dibuat sebuah monumen yang bertuliskan dua puluh nama murid yang meninggal dan lima guru pengawas.
Almahira dan Hana saling berpegangan tangan saat mendengar cerita itu karena ngeri. Terlihat dari wajah mereka yang sangat tegang.
"Di pulau mana kejadian itu terjadi?" tanya Langit penasaran.
"Jadi itu alasannya kenapa sekarang Pulau Hi tidak lagi dipakai untuk melakukan tes ujian, ya." Kawasaki manggut-manggut tanda mengerti.
*******
Hari ini hari Jum'at Langit dan orang murid laki-laki yang muslim diberi izin keluar untuk ibadah. Tentu saja mereka nanti akan mengganti jam pelajaran mereka, setelah selesai jadwal sekolah. Biasanya mulai Jumat malam, para murid sudah bisa pulang ke rumah mereka. Jadwal belajar di Academy Matsumoto dari Senin sampai Jumat.
Langit pun ikut mengantar Almahira pulang ke rumahnya. Sebenarnya ada niat lain atas perbuatannya itu. Langit dan Almahira pulang naik motor milik Langit. Mereka berboncengan dengan Almahira duduk dibelakang sambil memeluk tubuh Langit. Kedua sejoli itu yang baru saja mengakui perasaan mereka. Sangat senang karena bisa jalan-jalan berdua.
Hampir satu jam mereka baru sampai ke rumah Almahira. Kalau cepat cuma dua puluh menit. Ini akal-akalan Langit agar lebih lama berduaan dengan Almahira. Dia menjalankan laju motornya dengan lambat.
*******
Kini Langit sudah berdiri di depan rumah dinas orangtua Almahira. Rumah yang lumayan bagus untuk ukuran dinas diplomat.
"Assalamm'ualaikum," salam Almahira begitu masuk ke rumah.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, loh kakak sudah pulang? Tumben tidak menunggu besok!" Seorang wanita yang berpenampilan sederhana kini memasuki ruang tamu.
"Iya, Bu. Sekalian ada yang mau ketemu sama ayah dan Ibu," jawab Almahira kepada Kartini, ibunya.
Almahira dan Langit mencium tangan ibunya Almahira, secara bergantian. Ibunya Almahira terpana saat melihat Langit.
"Apa dia calon mantu ibu, Kak?" tanya Kartini.
Langit hanya tersenyum ramah saat mendengar perkataan ibunya Almahira. Sementara Almahira mukanya langsung merah.
"Ayah, sini! Ada calon menantu datang!" Teriak Kartini memanggil suaminya yang berada di ruang kerja.
"Bu, apa-apa sih, kok manggilnya calon menantu," kata Almahira malu sambil menggoyangkan tangan ibunya.
"Nggak apa-apa, siapa tahu jadi doa, apa yang ibu katakan barusan," balas Kartini tersenyum jahil kepada anaknya.
Langit hatinya girang banget melihat calon mertuanya itu. Ternyata dia langsung mendapatkan restu dari ibu mertuanya. Tinggal restu dari ayah mertuanya yang dia butuhkan sekarang. Bila sudah didapat, selanjutnya untuk menghalalkan Almahira akan lancar kedepannya.
Seorang laki-laki yang masih terlihat muda meski statusnya sudah menjadi seorang ayah, datang dengan berjalan santai ke arah mereka. Wajahnya khas Indonesia, rahang yang tegas dan kulit berwarna kulit sawo. Rambutnya hitam tebal dan tinggi badannya standar. Wajahnya yang bersinar dan tatapan matanya tegas.
"Ada apa, Bu? Kok berteriak," tanya ayahnya Almahira.
"Ini, Kakak bawa calon menantu kesini. Katanya mau dikenalin," jawab Kartini sambil tersenyum.
"Oh, siapa nama kamu?" tanya ayahnya Almahira dengan nada yang ketus dan tatapan mata tidak suka.
Langit menelan ludahnya, saat berhadapan dengan ayahnya Almahira. Ternyata ada rasa gentar saat berhadapan dengan calon ayah mertuanya itu. Langit dilema antara memberitahu nama aslinya atau jangan. Sebab saat ini dia sedang menjalankan misi. Namun bila tidak, dia juga nggak mau ada masalah kedepannya dengan Almahira dan kedua calon mertuanya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1
*******