
Kini Alex sedang berada di kamar Cantika, setelah perdebatan panjang antara mereka. Alex ingin membawa Cantika ke Rumah Sakit, sedangkan Cantika lebih suka istirahat di rumah saja. Akhirnya Alex mengalah dan membawa Cantika pulang ke rumah. Rencana makan bersama di restoran masakan Nusantara menjadi batal. Sebagai gantinya mereka makan di rumah dengan memesan makanan dari restoran itu.
Cantika berbaring lemah di kasur ukuran queen miliknya. Wajahnya masih pucat pasi, tapi tidak menghilangkan kecantikan di wajahnya. Bukan hanya Alex saja yang cemas dan khawatir melihat keadaan Cantika. Semua orang yang ada di sana juga sama mengkhawatirkan keadaannya.
Alex meminta rekaman CCTV ke pada pihak Wisata Taman Air. Dan mereka mau di ajak bekerja sama. Rekaman itu memperlihatkan saat Cantika berjalan keluar kamar mandi wanita, dia di ikuti oleh orang yang memakai setelan jas hujan yang menutupi seluruh tubuhnya. Bahkan kepalanya pun di tutupi oleh hoodie. Sewaktu Cantika berjalan di samping kolam renang yang dalam, orang itu mendorong Cantika kesamping. Alex meminta Akira untuk melacak keberadaan orang yang terekam dalam kamera pengawas itu.
Ja'far yang mendengar kecelakaan yang menimpa Cantika, cepat - cepat datang menjenguk keponakannya itu.
" Apa sudah ditemukan siapa pelaku yang telah mencelakakan Cantika ?" tanya Ja'far saat melihat Alex sudah selesai berbicara dengan seseorang di telponnya.
" Kita sudah mengantongi nama si pelaku. Kali ini tidak akan diampuni. Dia harus menerima ganjarannya ", kata Alex.
" Al, aku dan Papa sudah siap untuk mengguncang perusahaan milik Dijaya Group ", Fatih datang sambil membawa laptopnya.
" Bagus. Daddy juga sudah meminta teman - teman dan kenalannya untuk menarik semua saham di perusahaan Dijaya ", Alex makin bersemangat untuk menghancurkan orang yang telah melukai orang - orang yang disayanginya.
Hasil dari penyelidikan dan pengamatan yang dilakukan oleh Alex yang dibantu oleh Akira. Kalau orang yang mendorong Cantika ke kolam renang adalah Anggit. Alex meminta semua rekaman CCTV pada hari itu pada pihak Wisata Taman Air.
Terlihat jelas saat Anggit datang dengan mobil miliknya ke area parkir. Dia berjalan sambil membawa tas jinjing, masuk ke area Wisata. Rekaman yang yang terus mengarahkan gambar Anggit di kumpulkan. Saat Anggit sembunyi di bagian atas wahana sambil mengawasi Cantika pakai teropong jarak jauhnya. Saat Cantika dan lainya mulai berbenah untuk mengakhiri bermainnya. Anggit turun kemudian dia berjalan ke area yang sepi dan memakai jas hujan yang di bawanya di tas jinjing. Terlihat Anggit menendang kesal saat Cantika, Bintang, Gaya, dan Christina sudah masuk ke dalam kamar mandi. Sepertinya dia terlambat karena terlalu jauh tempat dia sembunyi tadi. Kesempatan datang kepadanya, saat Cantika berjalan ke luar dari kamar mandi. Anggit tidak mennyia - nyiakan kesempatan itu untuk mencelakai Cantika. Anggit berjalan cepat mengikuti Cantika. Dan ketika satu langkah di belakang Cantika, Anggit mendorongnya ke kolam yang dalam. Kemudian dia berlari. Dia bersembunyi dan membuka jas hujannya, kemudian membuang jas itu ke tong sampah. Anggit pun berjalan cepat ke luar area Wisata. Dan kembali ke parkiran, mengendarai mobil meninggalkan tempat Wisata Taman Air.
" Bagus, akan aku laporkan kejadian ini pada polisi ", kata Ja'far saat Alex menunjukan beberapa rekaman CCTV itu.
" Mark apa jas hujan yang dia buang di tong sampah sudah di ambil ?" tanyanya pada Mark yang tadi ditugaskan oleh Alex.
" Sudah, ini disimpan di dalam tas " , Mark menunjukan tas yang dipegangnya.
" Kita lihat kali ini apakah dia akan lolos lagi ?! ", Alex merasa kesal karena saat kasus penculikan anaknya Anggit dapat lolos.
__ADS_1
Arga dan Andi ikut berkontribusi dalam kasus ini. Andi meminta polisi kenalannya untuk mengatasi masalah ini. Jangan sampai kecolongan kayak kejadian kemarin. Dan kasus ini juga bisa dimanfaatkan oleh Arga untuk memutuskan pertunangannya dengan Anggit.
Cantika dan Ja'far melaporkan kasus ini disertai bukti - bukti yang sudah valid. Dibantu oleh pengacara keluarga sekaligus sahabat Ja'far. Dan pihak polisi juga akan menindak lanjuti masalah ini.
\* \* \* \* \* \* \*
Malam harinya Arthur pulang ke Amerika, walau dengan berat hati. Karena urusan di Amerika sudah tidak bisa di tinggalkan.
Sedangkan Alex yang rencananya ikut pulang ke Amerika untuk mengurus dokumen yang diperlukan untuk pernikahannya, dia urungkan. Karena Alex merasa tidak tenang meninggalkan orang - orang yang dicintainya itu. Alex merasa kalau bahaya masih akan mengintai Cantika dan anak - anaknya. Walau dia sudah memberikan mereka para pengawal yang siap sedia selama dua puluh empat jam.
Jadi Arthur yang akan menyiapkan dokumen itu untuk Alex. Dan dirinya juga akan kembali ke Indonesia, dua Minggu lagi untuk menghadiri pesta pernikahan Fatih.
Kini Alex dan ketiga anaknya ikut mengantarkan Arthur ke bandara. Keluarga Khalid juga ikut serta mengantar saudara iparnya itu.
" Memangnya kamu sudah punya SIM ?" goda Arthur.
" Ulang tahun kali ini, Ghazali berusia yang ke tujuh belas. Jadi sudah bisa buat SIM " Ghazali bergelanjut di tangan Mamanya.
" Dad, kalau Ghazali mau mobil, tuh banyak yang di garasi bawah tanah ", saran Alex.
" Nggak mau. Itu mobil tua semua ",
" Mahal kali, dek. Itu mobil klasik koleksi Grandfa nya Al. Kalau kamu jual bisa dapat dua atau tiga mobil sport keluaran terbarunya Uncle Arthur ", Fatih memberi tahu.
" Ih, nggak mau. Tahun kemarin uncle udah janji mau ngasih mobil rancangan terbaru uncle untuk edisi tahun ini ", Ghazali bersikukuh.
__ADS_1
" Ya, sudah uncle buatkan khusus untukmu. Kamu sudah bisa pakai saat nanti kuliah di Amerika " Arthur tertawa melihat Ghazali yang selalu jadi target godaan Alex dan Fatih. Dua orang itu selalu bersatu padu kalau menggoda Willi dan Ghazali.
" Ghazali mau kuliahnya di Indonesia aja. Nggak jadi kuliah di Amerika ", jawabnya.
" Loh. Kenapa ? katanya mau kuliah di Amerika dan tinggal sama Uncle ", Arthur jadi penasaran.
" Ghazali mau tinggal di rumah sama Mama !", tegas Ghazali. Dan malah mengundang tawa orang - orang disana.
" Ya sudah kalau begitu. Nanti biaya kirim sama pajaknya kamu yang bayar ", Arthur mengalah.
" Oh. Sepertinya pesawat sudah siap untuk lepas landas. Al, jaga baik - baik Cantika dan anak - anak " Arthur berpesan.
" Khalid aku titip mereka, ya !" Pintanya pada sahabat sekaligus iparnya itu.
" Ya, bagaimana pun juga mereka sudah aku anggap anakku sendiri ", Khalid membalas pelukan Arthur.
" Angkasa, Bintang, dan Langit. Grandpa pulang dulu, kalian harus hati hati " pesan Arthur pada cucu - cucunya itu.
" Cepat kembali lagi kesini ya, Grandpa " kata Angkasa sambil memeluk Arthur.
" Bintang akan merindukan Grandpa " Bintang terisak sambil memeluk kakeknya itu.
" Kapan - kapan kita yang akan datang ke rumah Grandpa " Langit memeluk erat Kakeknya seolah enggan berpisah.
Arthur pun malam itu pulang ke Amerika.
__ADS_1
\* \* \* \* \* \* \*