Trio Kancil

Trio Kancil
#LANGIT 21


__ADS_3

      Bintang dan Ghazali duduk di ruang tamu, menunggu Langit yang mengejar Almahira. Bintang dan Ghazali tersenyum ramah kepada tuan rumah yang baru pertama kali mereka temui.


     Kartini terpesona dan menatap Bintang yang begitu sangat cantik. Sehingga Rafli menyenggol kaki istrinya itu menggunakan kaki dia. Sebab tatapannya membuat tamu merasa tidak nyaman.


"Tadi katanya Bintang kembaran Langit, ya?" tanya Rafli melihat ke arah Bintang yang duduk di depannya.


"Iya benar, Pak. Kita saudara kembar." Bintang tersenyum ramah saat menjawab pertanyaan calon mertuanya Langit. Malah semakin terlihat kecantikannya.


"Dimana kalian tinggal?" Kali ini Kartini yang bertanya.


"Rumah kami ada di Jakarta," jawab Bintang.


"Jadi kalian datang dari Indonesia?" Kartini terkejut mendengar itu.


"Iya, Bu. Saya dan suami sengaja datang ke sini karena Langit bilang ingin menikahi teman sekolahnya yang bernama Almahira." Bintang menganggukkan kepalanya.


"Jadi Bintang juga sudah menikah?" tanya Kartini penasaran karena tadi Langit mengenalkan laki-laki tampan itu suaminya Bintang.


"Iya, Bu. Kita sudah menikah beberapa bulan yang lalu."


    Rafli dan Kartini saling pandang. Kemudian mereka tersenyum ke arah Bintang.


"Jadi orang tua kalian mengizinkan kalian untuk menikah muda?" tanya Rafli karena Langit juga kemarin meminta untuk bisa menikahi putrinya.


"Iya. Mama dan papa justru melarang kita melakukan hubungan dengan lawan jenis. Maksudnya tidak boleh berpacaran. Kalau cinta, ya langsung saja nikah. Biar tidak jatuh ke dalam perbuatan zina." Bintang menjawab dan sesekali menatap Ghazali dan tersenyum kepada suaminya itu.


"Iya, benar. Lebih baik langsung dinikahkan saja. Apalagi kehidupan di sini, melakukan **** bebas itu hal biasa. Tidak sesuai ajaran agama Islam. Kami juga melarang Almahira pacaran," kata Rafli.


******


    Langit dan Almahira yang sudah baikan, kini mendatangi ruang tamu. Mereka datang sambil bergandengan tangan, dan senyum bahagia terpatri di wajah mereka.


     Rafli dan Kartini melihat keduanya dengan tersenyum senang. Mereka meminta Almahira untuk duduk di sofa bersamanya. Kini keenam orang itu duduk saling berhadapan.


"Jadi kedatangan keluarga Langit kesini mau melamar Alma?" tanya Rafli dengan serius.


"Bukan." Bintang menjeda ucapannya, "kita datang kesini mau meminang Almahira untuk dinikahkan dengan Langit."


    Almahira, Rafli, dan Kartika sangat terkejut dengan ucapan Bintang barusan. Ketiganya kini melihat ke arah Langit yang malah membalas dengan senyumannya.


"Jadi kamu beneran serius untuk menikahi aku?" tanya Almahira kepada Langit.


"Iya, 'kan sudah aku bilang kalau sungguh-sungguh mencintaimu dan ingin menjadikan sebagai istriku," jawab Langit.

__ADS_1


"Hebat! Anak Papa ternyata sudah dewasa, ya." Tiba-tiba terdengar suara laki-laki di depan pintu yang terbuka.


"Assalammu'alaikum," salam seorang wanita cantik berhijab sambil menggandeng anak kecil.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang ada di ruang tamu.


"Mama, Papa!" Panggil Bintang sambil berdiri. Diikuti oleh Ghazali dan Langit.


"Profesor?" tanya Rafli ragu-ragu.


    Alex dan Cantika bersama ketiga putranya masih berdiri di depan pintu karena belum di izinkan masuk oleh tuan rumah. Mereka hanya tersenyum saja. Bintang yang dahulu mendatangi, Cantika. Memeluk tubuh mamanya dengan erat, "kangen."


"Iya, Mama juga sudah kangen sama Bintang." Cantika membalas pelukan Bintang dengan penuh sayang.


"Belum juga satu bulan, masa sudah kangen," kata Shine menjahili Bintang.


     Bintang yang selalu gemas terhadap adiknya itu hanya bisa mencubit pipinya. Akhirnya mereka akan saling ejek dan akan mendapat tatapan tajam dari Cantika. Baru setelah itu akan diam dan tertawa terkekeh.


"Maaf kalau anak-anak saya membuat kegaduhan di rumah Anda," kata Cantika dengan nada penuh hormat kepada tuan rumah.


"Tidak apa-apa. Justru saya senang rumah jadi ramai begini," balas Kartini.


"Bukankah Anda Profesor Andersson?" tanya Rafli kepada Alex, saat mereka berdiri berhadapan.


"Rafli?" Alex ragu-ragu dengan laki-laki yang ada dihadapannya.


"Iya saya, Rafli. Apa kabar, prof?" tanya Rafli sambil menyalami Alex.


"Alhamdulillah, baik. Ini rumah kamu?" tanya Alex kepada Rafli.


"Iya, Prof. Lebih tepatnya rumah sewa karena saat ini saya sedang mendapat tugas di kedutaan," jawab Rafli sambil tersenyum.


"Apa putrimu bermana Almahira?" tanya Alex balik.


"Iya putri saya bermana, Almahira." Rafli menganggukkan kepalanya kemudian menunjuk anak gadisnya yang berdiri dekat Langit.


"Tuh 'kan, Honey. Apa yang aku katakan dulu, kalau Langit jodohnya orang Indonesia, meski tinggal di Jepang," kata Alex sambil tersenyum jahil ke arah Cantika.


"Iya, Sayang. Kamu peka sekali kalau berhubungan dengan anak-anak," balas Cantik dengan mimik cemberut.


"Aku juga selalu peka akan dirimu juga, Honey." Goda Alex kepada Cantika sambil merangkulnya.


    Pemandangan itu membuat Rafli dan Kartini terkejut. Kedua orang yang dulunya pernah menjadi murid Alex, menatap tidak percaya. Orang yang dulu begitu anti didekati oleh wanita, kini begitu genit terhadap istrinya.

__ADS_1


"Sudah, malu sama tuan rumah," kata Cantika sambil mencubit lengan Alex yang merangkulnya.


"Oh iya, Honey. Kenalkan mereka ...," Alex memandangi wanita yang berdiri di samping Rafli. Dia merasa familiar dengan wajahnya.


"Saya Putri, prof. Kartini Putri Darmawan," akunya Kartini saat melihat Alex memandangi dirinya.


"Oh, jadi kalian akhirnya menikah?" Alex tertawa terkekeh karena mengingat kejadian dahulu.


"Maafkan kami. Sebaiknya kita masuk dan duduk, dulu." Rafli yang mukanya sudah merah padam mengajak para tamunya untuk masuk ke rumahnya.


     Almahira terpana saat melihat wajah lelaki keluarga Langit mirip semua mau itu ayah dan adik kembarnya. Hanya anak yang paling kecil yang punya warna rambut hitam legam.


     Wanita cantik yang berhijab, juga tidak luput dari perhatian Almahira. Dia berpikir kalau wanita muda itu adalah calon ibu mertua. Sebab tadi dia melihat mereka berdua sangat mesra. Sehingga Almahira, menduga Cantika adalah istri muda ayahnya Langit.


"Honey, apa kamu tahu. Kalau mereka berdua dulunya sering bertengkar. Karena selalu pusing, saat mendengar keduanya beradu mulut . Aku kurung saja mereka di gudang." Alex bercerita sambil tertawa terkekeh.


"Oh, benarkah?" tanya Cantika sambil melihat ke arah Rafli dan Kartini, yang mukanya sudah merah karena menahan malu.


"Benarkah itu, Pah. Kalau Ayah dan Ibu dulunya sering adu mulut?" tanya Langit penasaran.


"Bukannya Papa dan Mama juga sering adu mulut, setiap hari entah berapa kali," ucap Rain sambil melihat ke arah Cantika dan Alex.


"Bukan adu mulut seperti itu, Sayang." Cantika langsung merona pipinya karena ucapan si bungsu. Sedangkan Alex malah tertawa.


"Iya calon mertuamu, itu dulunya sering cek cok kayak Tom and Jerry," jawab Alex sambil terkekeh.


     Rafli dan Kartini semakin dibuat malu oleh Alex karena telah membocorkan cerita masa lalu mereka. Padahal tidak banyak orang yang tahu kehidupan mereka berdua sebelum menikah.


"Profesor kesini mau apa?" tanya Rafli basa-basi. Sudah jelas tahu kalau mau melamar putri sulungnya.


"Mau menikahkan Langit sama Almahira," jawab Alex.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN.


BACA JUGA KARYA AKU YANG LAINNYA YA.


__ADS_1


__ADS_2