
Saat dalam perjalanan pulang, Almahira dan Kawasaki berhenti di dekat sebuah gua. Mereka berdua beristirahat sejenak sambil memeriksa tubuh mereka masing-masing.
Sebelum berangkat ke gudang tadi, Suzuki menjelaskan kalau mereka selain ujian membuat karya dan bertahan hidup di pulau tak berpenghuni. Mereka juga bisa menjegal lawannya. Entah merusak karya lawan atau mengcopy karya mereka dan saling mendahului dalam menyelesaikan dan menyerahkan karyanya kepada juri atau guru pengawas ujian.
Selain otak, tubuh juga harus dilatih. Semua murid Academy Matsumoto, harus mendekati kata sempurna tidak boleh ada celah cacat atau lemah. Meski tidak perlu selalu menjadi nomor satu. Sebab sejak pertama kali, Academy Matsumoto didirikan tidak pernah ada satu siswa pun yang bisa bertahan nilainya di puncak selama dua tahun berturut-turut. Pasti saja akan dikalahkan oleh teman yang lainnya. Hampir semua siswa nilainya sama, jadi walau nilai murid itu urutan nomor satu, kemampuannya akan sama dengan murid nomor urutan ke seratus.
Almahira meraba semua bagian bajunya. Bahkan saku dan sepatunya juga dia periksa.
"Di badanku tidak ada!" kata Almahira sambil kembali menepuk-nepuk badannya.
"Bagus kalau begitu. Aku dapat lima buah yang menempel di bajuku," balas Kawasaki sambil menyodorkan alat perekam dan pelacak serta kamera.
"Wah ... banyak banget!" Almahira menatap takjub pada Kawasaki karena bisa menemukan benda sekecil itu yang menempel di badannya.
"Jadi, sekarang kita lanjutkan lagi perjalanannya?" tanya Almahira, saat melihat Kawasaki kembali menggendong ranselnya.
"Iya, sebaiknya kita cepat-cepat pulang. Lalu makan siang, selanjutnya kita akan memulai pembuatan karya kelompok kita," jawab Kawasaki sudah benar-benar siap berangkat kembali melanjutkan perjalanannya.
Kawasaki dan Almahira pun melanjutkan lagi perjalanan pulang ke villa. Sekitar jam sembilan pagi mereka sudah sampai di villa.
Langit menyambut kedatangan kedua orang yang tampak lelah. Barang bahan baku pun di letakan di dekat pintu masuk. Tubuh Almahira terasa remuk karena sudah berjalan cukup jauh, sambil membawa beban di punggung dan tangannya.
Langit pun menerima barang pesanannya dari Almahira. Dia sudah tidak sabar ingin mencoba membuat racun dan penawarnya.
Saat Almahira melewati pintu ruang depan villa. Tiba-tiba ada suara alarm berbunyi. Sontak itu membuat Almahira dan Langit terkejut.
"Suara alarm apa ini!" Kawasaki yang sudah masuk ke dapur berlari lagi ke ruang depan villa.
"Sepertinya Almahira membawa sesuatu dari luar," kata Langit sambil meraba tubuh Almahira.
"Langit kun!" teriak Kawasaki karena dengan santainya Langit meraba tubuh Almahira.
"Langit!" teriak Almahira terkejut oleh tingkah Langit padanya di depan orang lain.
__ADS_1
Langit yang terkejut karena teriakan suara dari dua orang itu, langsung berhenti menggerayangi tubuh Almahira. Dalam otak Langit tidak menjurus ke sana. Dia hanya ingin memeriksa tubuh istrinya itu. Langit tahu kalau di tubuh Almahira ada benda asing yang ikut bersamanya.
"Maaf, tapi ada benda asing yang kamu bawa ke dalam villa. Jadi harus di periksa dengan seksama," kata Langit sambil tersenyum malu dan menggaruk kening yang tidak gatal.
Almahira terkejut dengan ucapan Langit barusan. Maka dengan cekatan dia memeriksa lagi bajunya. Kemudian dia menepuk-nepuk bajunya lagi.
"Tidak ada apa-apa kok!" seru Almahira.
"Coba kamu kembali lewati pintu ini!" suruh Langit.
Almahira menuruti perintah Langit. Dia kembali melewati pintu menuju ruang depan, alarm kembali berbunyi.
"Tuh 'kan, masih ada barangnya di tubuh kamu!" Langit menarik lagi Almahira dan hendak memeriksa tubuh istrinya itu.
"Sayang, di sini ada orang lain," bisik Almahira di dekat telinga Langit.
"Ya sudah aku minta sama Daihatsu Sena, untuk memeriksa kamu," balas Langit.
Maka Almahira dibantu oleh Daihatsu Sena, memeriksa bajunya. Ternyata alat penyadap ada di belakang kerah bajunya dan tertutup oleh jilbabnya.
*******
Suzuki yang baru saja selesai memeriksa blue print karya anak didiknya di kejutkan oleh panggilan video call dari tunangannya. Suzuki terkejut karena di pulau itu sengaja tidak memasang alat pemancar telepon seluler, agar tidak terhubung dengan dunia luar.
Suzuki pun mengangkat panggilan dari Hikari. Begitu tombol 'ok' di geser, wajah sembab tunangannya langsung memenuhi layar.
"Hikari, bagaimana kamu bisa menghubungi aku?"
"Tentu saja, bisa! Dengan kekuatan cinta, apapun pasti bisa."
"Iya, aku percaya. Terus ada apa menghubungi aku?" Suzuki tersenyum dikulum karena melihat keadaan Hikari. Namun, Hikari malah cemberut saat melihat kekasihnya malah tersenyum seperti sedang mengejeknya.
"Oh. Kalau tidak ada apa-apa tidak boleh menghubungi! Oke baiklah. Selamat tinggal. Aku tidak akan peduli lagi sama kamu! Terserah kamu mau di incar atau dicelakai juga. Aku nggak akan peduli!"
__ADS_1
Hikari langsung mematikan saluran panggilan video call dengan Suzuki. Begitu balik menghubungi video call, Hikari tidak menjawab panggilannya.
"Hah, dia marah." Suzuki memandangi handphone miliknya.
Suzuki memikirkan lagi kata-kata Hikari tadi. Kekasihnya itu bukan gadis yang suka mengajak bercanda jika saat bekerja. Meski dia itu anak yang manja dan tomboi, tapi, Hikari orangnya bertanggung jawab.
"Apa ada yang mengincar aku? Atau ada yang berusaha mencelakainya?" gumam Suzuki.
"Apa ada orang yang menyusup ke pulau ini?" Suzuki bermonolog sambil melihat ke layar yang menampilkan beberapa rekaman di dalam villa dan sekitarnya. Namun semuanya dalam keadaan aman tidak ada yang mencurigakan.
*******
Setelah sarapan, Langit, Almahira, Kawasaki, dan Daihatsu Sena, memulai membuat karya kelompok mereka. Langit sengaja meminta karya yang tidak akan memicu persaingan dan pencurian karya mereka. Barang yang terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak memiliki nilai tinggi. Namun, itu sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Sebab karya kelompok akan dikenalkan kepada masyarakat luas. Berbeda dengan karya pribadi yang hanya segelintir orang yang tahu. Mereka adalah orang yang sangat ahli di bidangnya.
Langit yang awalnya tidak tahu ada udang di balik batu, dalam ujian ini. Dia mengira hanya membuat uji karya dalam keterbatasan.
Namun, setelah Langit membaca laporan kegiatan ini. Kemudian dia menanyakan kepada Honda dan Mazda, ternyata ada niat terselubung dari para orang berpengaruh di dunia. Mau itu pemerintahan, penguasa, dan dunia hitam.
Rata-rata mereka akan mengincar karya yang dikira bisa menunjukan kekuasaannya. Makanya, Langit tidak mengizinkan teman-teman membuat robot atau senjata canggih, bahkan software yang bisa mengguncang dunia.
Langit mengatakan kepada teman-temannya, kalau nyawa lebih berharga dari uang. Maka Langit tidak akan membuat karya yang membahayakan nyawa orang lain. Mereka semua pun sepakat akan membuat karya yang terlihat biasa saja padahal luar biasa, bagi banyak orang.
*******
KARYA APAKAH YANG DIBUAT OLEH LANGIT DAN TEMAN-TEMANNYA?
APAKAH BENAR ADA YANG SEDANG MENGINCAR SUZUKI?
BACA DI BAB SELANJUTNYA YA 😄
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.