
Angkasa berhasil masuk ke kamar yang ada di samping. Dia berlari ke arah kamar Paris. Pintu kamar itu rusak dan terbuka lebar dengan engsel yang nyaris lepas. Hati Angkasa semakin tidak tenang. Dia memanggil nama istrinya dan berkeliling di dalam kamar itu. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.
Angkasa pun memutuskan untuk memeriksa beberapa ruangan yang ada di lantai tiga itu. Dia masuki satu persatu ruangan yang kira-kira biasa di datangi orang.
Keberadaan Paris di sana tidak ada maka. Angkasa mencoba meretas rekaman cctv di kediaman Alaric itu. Dia melihat bagaimana Paris di gendong oleh Milan dan membawanya keluar dan diikuti oleh beberapa orang.
Telepon Angkasa berbunyi. Akira yang melakukan panggilan itu. Angkasa pun dengan cepat menerima panggilannya.
"Halo, Paman Akira ... sekarang sedang berada di mana?" tanya Angkasa.
"Tuan Muda, kita terlambat datang ke rumah keluarga Alaric. Nona Paris sudah dibawa keluar dari sana. Sekarang, kami sedang menyusup ke dalam markas kelompok Red Dragon, yang berada di Italia," lapor Akira.
"Ahk, Paman Akira hati-hati aku ke sana sekarang!" Angkasa pun bergegas keluar dari sana.
Saat berada di lantai dua banyak ruangan yang berantakan dan ada bekas tembakan di sana. Sepertinya pernah terjadi perkelahian di sana baru-baru ini.
"Apa ini ulah Paman Akira?" gumam Angkasa sambil melewati tempat-tempat itu.
"Tuan Angkasa tunggu!" suara perempuan yang memanggilnya, menghentikan langkah Angkasa.
Dilihatnya ada kepala pelayan rumah itu sedang berjalan ke arahnya. Dia kemudian menyerahkan sebuah album foto dan sebuah buku harian. Wanita tua yang selama hidupnya mengabdi di keluarga Alaric, itu meminta Angkasa untuk menolong nona muda mereka.
Angkasa pun meminta kepala pelayan itu untuk memberikan keterangan penculikan Paris dan melaporkannya ke polisi. Tadinya, Angkasa ingin meminta bantuan pasukan bayangan yang berada di wilayah Eropa. Hanya saja, dia tidak jadi melakukannya karena pastinya akan mereka tolak jika tidak mendapatkan persetujuan dari papanya.
Jadinya, Angkasa memaksakan dirinya lagi untuk menyetir mobil ke negara Italia. Dia beristirahat sebentar untuk makan dan mandi. Juga mengurus Chelsea yang sepertinya harus ganti pampers.
__ADS_1
******
Bintang dan Langit menyusup ke rumah milik Caracas. Rumah mewah berukuran sedang jika dibandingkan dengan rumah orang tua mereka yang ada di Perancis atau Inggris, dalam keadaan kosong tidak ada siapa-siapa. Hanya rumah yang dalam keadaan berantakan dan banyak cipratan darah di sana. Sepertinya, di sana pernah terjadi pertempuran hebat.
Langit dan Bintang memeriksa ruang kerja yang ada di rumah itu. Ruangan yang sangat luas dan nyaman. Ada dua meja kerja di sana. Di atas meja masing-masing ada satu mug yang memiliki gambar dan tulisan. Satu bertulikan kata mama dan satunya lagi bertuliskan papa.
Langit memeriksa meja kerja milik Caracas dan Bintang memeriksa meja milik Wina. Langit dengan kemampuannya bisa membuka kode yang dipakai oleh Caracas untuk mengunci email di komputer miliknya. Dia membuka semua file-file yang ada di dalam komputer itu. Langit pun mengirimkan semua datang ke laptop miliknya. Jujur, dia tidak mau lama-lama di sana. Aroma bau anyir darah kadang tercium dan hawa dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Bintang pun melakukan hal yang sama dengan Langit. Dia berhasil membuka password komputer milik Wina. Kemudian, mengirimkan file-file yang ada di sana ke laptop miliknya. Bintang sempat melihat sebuah file yang berisikan foto-foto milik keluarga Wina, saat tadi mengecek isi filenya.
"Kak Bintang, apa sudah selesai?" tanya Langit sambil melihat ke arah Bintang yang masih duduk di kursi meja kerja milik Wina.
"Sebentar lagi. Terlalu banyak file di komputer ini yang harus dikirim," jawab Bintang.
Langit pun berjalan menelusuri ruangan itu. Ada buku-buku yang menarik perhatiannya. Langit pun membuka dan membacanya sekilas sambil menunggu Bintang. Saat dia membuka buku tentang mengolah anggur menjadi minuman yang berkualitas bagus dan baik. Ada sebuah foto tua yang jatuh dari sana.
"Apa kita tidak salah orang?" tanya Langit tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat.
"Aku tidak tahu ada informasi ini. Apa ada orang yang bisa menjawab pertanyaan kita ini?" Bintang malah balik bertanya.
"Apa papa tahu tentang hal ini, ya?" Langit malah balik bertanya.
"Ish, kenapa kita saling bertanya, sih. Bukannya saling tanya jawab." Langit dan Bintang tertawa terkekeh.
"Bawa saja foto itu, nanti kita tanyakan keadaannya kepada papa," kata Bintang.
__ADS_1
Langit dan Bintang kembali menelusuri kamar ada sebuah kamar yang menarik perhatian Bintang. Yaitu, kamar bayi milik Chelsea. Di sana ada foto-foto Chelsea dan kedua orang tuanya. Mereka terlihat sebuah keluarga yang bahagia. Senyuman tercipta dari wajah mereka bertiga.
Bintang pun mengambil satu bingkai foto yang ada di meja nakas. Kemudian, sebuah mainan bayi yang ada di boks tempat tidur.
Sedangkan Langit memilih melihat satu lukisan keluarga Chelsea yang berukuran lumayan besar. Entah kenapa tangan Langit tiba-tiba menggerakkan pigura lukisan itu ke arah samping.
Langit terkejut saat melihat ada sesuatu di balik lukisan itu.
"Kak Bintang, lihat ini!"
*******
Akankah Angkasa bisa bertemu dengan Paris di Italia? atau tidak?
Apa yang dilihat Langit dibalik lukisan keluarga Chelsea?
Tunggu kelanjutannya ya.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1
Baca juga ya karya Author Aveeiiii, kasih like dan komen yang membangun.