Trio Kancil

Trio Kancil
#LANGIT 35


__ADS_3

     Langit yang awalnya tidak tahu kalau ada udang di balik batu, dalam ujian ini. Dia mengira hanya membuat uji karya dalam keterbatasan, dan meminta para murid harus bisa menciptakan karya terbaik dari hasil pemikiran mereka.


     Setelah Langit, membaca laporan kegiatan ini. Kemudian, dia menanyakan kepada Honda dan Mazda. Ternyata ada niat terselubung dari para orang berpengaruh di dunia. Mau itu pemerintahan, penguasa, dan dari dunia hitam.


     Langit mengatakan kepada teman-temannya, kalau nyawa lebih berharga dari uang. Maka Langit tidak akan membuat karya yang membahayakan nyawa orang lain.


     Karya yang di buat oleh kelompok Langit sekilas seperti alat penjernih air. Mereka tidak tahu kalau setiap air yang dimasukan ke dalam tabungnya, akan langsung terlihat nama zat-zat yang terkandung di dalamnya. Setelah itu air akan dialirkan ke tabung satunya lagi setelah melewati menyulingan. Air yang sudah masuk ke dalam tabung kedua, air benar-benar bersih dari zat-zat yang berbahaya. Selanjutnya air akan dimasukan ke dalam tabung ketiga yang isinya beberapa tabung yang lebih kecil. Bisa buat beberapa jenis minuman sesuai kesukaan kita. Hanya saja di sana mereka baru membuat lima tabung kecil. Panas atau dingin bisa diatur sesuai keinginan kita.


    Keempat pemuda-pemudi itu begitu fokus dalam merangkai karyanya. Mereka akan berhenti beristirahat, dalam setengah jam. Kemudian dilanjutkan kembali. Bila sudah lelah mereka akan berhenti sejenak. Suzuki yang mengawasi langsung pun selalu menyuruh murid-muridnya untuk memperhatikan kondisi tubuh. Dia melarang memaksakan diri, karena itu malah akan berakibat buruk.


     Mereka melakukan pekerjaannya sampai matahari terbenam. Hasilnya mereka sangat puas. Dalam waktu satu hari ini mereka bisa menyelesaikan 35% dari keseluruhan karya.


    Tanpa diketahui oleh pihak Academy Matsumoto, Langit memasang alat pemancar yang tersambung dengan satelit milik keluarga Andersson. Jadi mereka bisa berkomunikasi dengan dunia luar.


    Langit sangat membutuhkan informasi yang terjadi di luar pulau. Entah kenapa dia merasa tidak tenang dengan keselamatan Mazda. Langit juga sengaja meminta kepada Alex untuk mengirimkan lima pasukan bayangan, untuk menjaga Mazda.


    Honda sudah ada di dalam lindungan dan pengawasan Alex. Langit masih melacak keberadaan orang-orang yang ada hubungan dengan ketiga profesor yang meninggal di bunuh baru-baru ini. Biasanya orang-orang terdekat atau pernah berhubungan dengan si korban adalah kemungkinan besar itu pelaku.


    Langit selalu menghubungi Akira yang diminta untuk mengerjakan tugas darinya. Mengumpulkan informasi tentang keluarga yang meninggal di Pulau Hi dua puluh tahun lalu, tapi di sembunyikan datanya dari dunia.


     Langit juga membaca biodata para petinggi Academy Matsumoto, yang dikirim oleh Alex. Bagi Langit pasti ada petinggi yang terlibat dalam semua insiden yang terjadi selama ini.


******


     Suzuki kembali menghubungi Hikari. Dia ingin tahu maksud dari perkataannya tadi pagi. Tentu saja Suzuki harus merayu dahulu Hikari yang marah padanya tadi. Butuh setengah jam bagi Suzuki untuk meluluhkan hati kekasihnya itu.


"Hoshi kun, hati-hati di sana ya! Mereka ada kemungkinan besar menyusup ke pulau di mana kamu berada. Kalau ada apa-apa, minta bantuan kepada onii san. Ingat janji Hoshi kun, kepadaku," kata Hikari yang terisak kembali terlihat di layar telepon Suzuki.


"Iya. Kamu jangan ragukan calon suami kamu ini. Kalau benar mereka sampai datang kesini, berarti semakin meyakinkan kita, kalau ada keterlibatan para petinggi Academy Matsumoto dan para penguasa dunia. Aku akan lebih baik mati dari pada harus di manfaatkan otakku ini untuk keburukan umat manusia," balas Suzuki sambil menatap Hikari.


    Hikari malah semakin menangis mendengar kata-kata Suzuki barusan. Dia tidak mau kehilangan orang yang di cintainya itu.


"Kalau kamu mati, maka aku juga akan mati!" Ancam Hikari sambil menghapus air mata di pipinya dengan kasar.

__ADS_1


"Jangan! Kamu jangan berbuat bodoh, aku mohon!" pinta Suzuki dengan suaranya pelan.


"Makanya jangan bilang mati!" Hikari kesal dengan calon suaminya itu.


"Hm, tunggu aku, pulang! Kamu jangan nakal ya, kasihan otou san, sering dibuat pusing sama kamu." Suzuki tersenyum agar gadis tomboi itu tidak menghawatirkan dirinya.


     Suzuki sudah merasakan kalau dirinya sedang di mata-matai belakangan ini. Dirinya yang sudah terlanjur ikut menyelidiki kasus yang terjadi Laboratorium Matsumoto, sudah menyiapkan dirinya, untuk mempertaruhkan nyawanya. Seandainya saja dia bertunangan dengan Hikari, sebelum terjadi pembunuhan para Ilmuwan Matsumoto, mungkin saja dia tidak akan ikut terlibat dengan ini. Dia tidak mau membuat gadis yang dicintainya itu bersedih.


*******


     Langit sudah mengumpulkan beberapa orang yang di curigai olehnya. Tidak terasa, ternyata waktu sudah menjelang dini hari. Langit bahkan tidak merasa ngantuk, malam itu.


"Gawat ini sudah dini hari, aku belum tidur. Bagaimana ini? Apa aku kena insomnia?" Langit bermonolog sambil menguar rambutnya.


     Langit pun mendatangi kamar Almahira. Dia mengetuk pintu kamar tidur istrinya, dengan pelan.


"Ayang, ada apa?" tanya Almahira begitu membuka pintu kamarnya.


"Aku tidak bisa tidur," jawab Langit dengan wajahnya memelas.


    Langit yang selalu dalam mode siaga. Merasakan ada pergerakan di luar villa. Padahal dia baru tidur satu jam lebih sedikit.


     Pergerakan Langit yang tiba-tiba, membuat Almahira juga ikut terbangun dari tidur lelapnya. Langit langsung menengok keluar lewat kaca jendela yang tertutup oleh gorden.


"Ada apa?" bisik Almahira yang berdiri di belakangnya.


"Ada sesuatu di luar villa," jawab Langit sambil menunjuk ke arah luar.


    Almahira jadi merasa takut terjadi sesuatu kepada mereka. Di cekram lengan Langit, ketika akan keluar kamarnya. Kemudian Langit memeluk tubuh Almahira yang ketakutan.


"Tenang saja. Kita semua akan baik-baik saja," kata Langit sambil memeluk erat tubuh istrinya.


*******

__ADS_1


     Ternyata bukan hanya Langit saja yang merasakan adanya pergerakan mencurigakan dari luar villa. Suzuki yang sudah bersiap-siap saat bertemu dengan Langit yang akan mengambil senjata miliknya di kamar.


"Sensei, apa kamu membawa senjata?" tanya Langit dengan suaranya yang pelan.


"Ya, hanya saja aku membawa satu pistol saja," jawab Suzuki.


"Syukurlah kalau begitu. Aku hanya membawa satu pistol bius."


    Ternyata Kawasaki juga sudah bangun dan sedang mengawasi keadaan di luar villa. Daihatsu Sena, bahkan sudah bersiap dengan pistol di tangannya.


     Langit pun memberikan pistol biusnya kepada Almahira. Serta mengajarkan cara-cara menggunakannya. Langit takut perhatiannya tidak bisa fokus antara melindungi istrinya atau menyerang musuhnya.


    Almahira dan Daihatsu Sena, mereka bersembunyi di lantai dua. Sedangkan Suzuki di lantai satu bagian belakang villa. Langit berada di bagian samping villa. Sedangkan Kawasaki bersiap di bagian depan villa.


*******


SIAPAKAH YANG ADA DI SEKITAR VILLA?


MAU APA MEREKA DATANG TENGAH MALAM?


APA YANG AKAN TERJADI DI SANA?


BACA BAB-BAB SELANJUTNYA YA 😁


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE, NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


MAMPIR JUGA YA KE KARYA TEMANKU, AUTHOR: EVELINIQ, JUDULNYA: FIND THE PERFECT LOVE


KASIH LIKE+FAV+KOMEN YANG MEMBANGUN YA 🥰

__ADS_1



__ADS_2