
Kini Bintang di kelilingi sama ketiga sahabat baiknya. Ada Husna, Selena, dan Luna. Mereka ingin tahu kejadian yang sebenarnya telah terjadi pada sahabatnya yang baru saja bertunangan, tapi ganti calon laki-lakinya.
"Hm … jadi sebenarnya yang aku cintai sekarang itu Om Ghaza. Aku juga meminta Om Aria untuk memutuskan hubungan kami, tapi dia tidak mau. Aku juga mengerti, karena Om Aria sudah menunggu aku selama dua belas tahun," jelas Bintang kepada ketiga sahabatnya.
"Tunggu dia sudah menunggumu selama dua belas tahun?! Berarti saat itu kamu lagi berusia enam tahun?" tanya Luna tak percaya.
"Sebenarnya dulu saat masih kecil, yang meminta pada Om Aria untuk menikahi aku kalau sudah besar nanti, hehehe …," jawab Bintang sambil tertawa menahan malu.
"Wah … hebat kamu, anak lima tahun sudah berani bilang ingin menikah," kata Husna tak percaya.
Teman-temannya Bintang tertawa bersama. Kalau mereka lagi berkumpul selalu saja ada yang membuat mereka tertawa bersama. Walaupun hanya hal yang sepele.
"Eh tapi, gantengan Ghazali loh," kata Luna sambil tersenyum menggoda Bintang.
"Iya, menurutku juga begitu. Aku suka senyuman dan tatapan matanya saat di melihatmu. Gimana … gitu!" tambah Husna sambil mencolek pipi Bintang untuk menggodanya.
"Eits tunggu dulu, menurut aku, badan Om Ghazali itu, ehk … seksi dan hot!" Selena memanasi Bintang yang sudah merah merona wajahnya.
"Kok, kalian ngomongnya jadi begini!" kata Bintang sambil tersenyum menahan malunya.
"Ulu … ulu, yang lagi kasmaran!" goda Husna, makin menjadi.
"Nggak tahu ahk! Bintang mau pulang saja!" Bintang langsung berdiri dari kursinya tapi ditahan oleh Selena.
"Kamu itu belum selesai menceritakan semuanya," kata Selena sambil menahan tangan Bintang.
Mau nggak mau Bintang akhirnya duduk lagi, dengan muka yang ditekuk.
"Hei, Bintang kayaknya kamu yang agresif duluan sama Ghazali?" Luna masih saja asik menggoda Bintang.
"Siapa bilang? yang benar tuh, Om Ghaza yang agresif suka nyium Bintang duluan!" Bintang tanpa sadar membuka kartunya sendiri.
"Oh, jadi kalian sudah ciuman nih?!" ketiganya kompak menggoda Bintang.
Bintang yang baru saja sadar dengan ucapannya barusan. Makin merah wajahnya karena saking malunya. Dia sampai menutupi wajahnya.
"Ahk! Kalian ini, suka sekali menggoda aku," Bintang menelungkupkan wajahnya di meja.
"Hehehe … terus sama Om Aria, suka di cium sama siapa?" Luna makin menjadi menggoda Bintang.
__ADS_1
"Nggak tahu! Bintang belum pernah berciuman sama Om Aria!" kata Bintang masih menelungkupkan wajahnya.
"A--Apa!" teriak ketiganya terkejut, sambil melihat ke arah Bintang.
"Terus, kamu suka saat dicium sama Ghazali?" Luna makin kepo, jiwa penasarannya langsung bangkit.
"Apaan sich!" Bintang memasang wajah cemberut kepada Luna.
"Aku bantu jawab, ya!" goda Husna sambil mengerlingkan matanya kepada Bintang.
"Apa jawabnya?!" tanya Luna dan Selena kompak.
"Bintang suka … jadinya pingin lagi dan lagi," Husan menahan tawanya, sedangkan kedua temannya tertawa lepas, karena melihat ekspresi Husna yang meniru Bintang.
"Iya, itu sangat terlihat jelas di wajahnya," balas Luna masih sambil tertawa.
"Kalian senang? Bintang mau pulang!" Kali ini Bintang beneran beranjak dari kursinya, dan tidak ada yang menahannya.
Keempat orang itu, tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi oleh beberapa orang, di tempat yang berbeda-beda. Terutama mereka mengawasi Bintang yang sedang menjadi target mereka.
*******
Bintang berjalan ke arah mobilnya yang sedang terparkir di luar cafe. Tanpa curiga kalau dia sedang diawasi. Bintang merasa ada yang selalu memperhatikannya, saat dia melihat ke sekelilingnya ada beberapa orang yang memperhatikan dan tersenyum kepadanya. Maka Bintang pun membalas senyum mereka secukupnya.
Di tengah-tengah perjalanan ada beberapa motor yang menghalangi laju mobilnya, dan menggiring Bintang ke tepi bahu jalan. Saat ini jalanan sangat sepi, tidak ada kendaraan lalu lalang, padahal hari masih tengah hari.
Bintang menaruh curiga kepada orang-orang itu, mau merampoknya. Dia menyalakan tanda bahaya, agar Michael tahu keadaan dirinya saat ini.
"Turun!" salah satu pria itu menggedor kaca mobil Bintang. Namun Bintang tidak menggubrisnya, karena sebentar lagi Michael akan datang.
"Woy … turun! kalau nggak, kaca mobilnya akan kita pecahkan!" teriak pria lainnya lagi yang pakai jaket hitam
Ada lima orang laki-laki yang mengelilingi mobil Bintang. Bisa saja Bintang melawan mereka, tapi saat ini dia harus menjaga tubuhnya jangan sampai terluka, karena dia itu calon pengantin yang sebentar lagi akan menikah.
Brug! Brug! Brug!
Michael yang sudah datang, langsung menghajar kelima pria itu, tanpa ampun. Tendangan dan pukulan, dia lancarkan kepada kelimanya. Walau Michael dikeroyok oleh lima orang, tidak masalah baginya. Tidak sampai dua menit, kelima orang itu sudah jatuh terkapar tidak bisa bangun lagi.
"Nona Bintang, anda tidak apa-apa?" tanya Michael begitu dia menghampiri mobil Bintang.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa, Uncle! Terima kasih," jawab Bintang sambil tersenyum manis kepada pengawalnya itu.
"Silahkan Nona melanjutkan lagi perjalanannya," pinta Michael kepada Bintang sambil membalas senyumannya. Michael itu tipe laki-laki yang jarang tersenyum di hadapan orang lain, kecuali bila dia loyal kepadanya.
"Terima kasih Uncle. Hati-hati, ya!" balas Bintang kemudian menutupkan kaca jendela mobilnya, dan melanjutkan lagi perjalanannya.
Dari kejauhan, tempat terjadinya penghadangan terhadap Bintang, ada Agen Z yang sedang mengawasi kejadian itu. Dia ingin mengetahui siapa sosok Bintang sebenarnya.
"Cih, ternyata targetnya bukan orang sembarangan. Pantas saja klien berani membayar dengan uang yang sangat banyak."
"Rupanya dia punya bodyguard yang selalu mengikutinya." Agen Z tadi saat di cafe sempat melihat Michael walau cuma sesaat, karena wajah bule-nya yang sempat mencuri perhatiannya.
*******
Agen Z mengumpulkan rekan-rekannya, untuk membicarakan tentang target mereka saat ini. Dia sendiri belum tahu informasi yang banyak tentang Bintang. Selain nama, alamat rumah, universitas, dan fotonya. Serta target adalah calon menantu seorang Khalid Hakim.
Perkumpulan mereka diawali dengan informasi tentang kejadian yang dilihat oleh Agen Z. Dia juga menjelaskan alasan kenapa dirinya menyewa para preman untuk menggertak dulu Bintang. Tapi hasil yang didapatkan sungguh membuatnya tercengang.
"Jadi informasi apa yang sudah kamu dapatkan?" tanya Agen Z kepada rekannya Agen Y yang sedang asik menggerakan jari-jarinya pada laptop yang ada di meja depannya.
"Aku rasa ini, bisa membuat kamu berpikir ulang kembali untuk menerima misi ini," kata Agen Y sambil menyodorkan laptop miliknya.
Agen Z membaca sebuah artikel berita tentang malam pertunangan Bintang, yang sudah di hapus dari media elektronik dan media sosial. Dia membaca berita yang menurutnya seperti sebuah drama.
"Apa informasi yang bisa di dapat dari berita ini? seperti sebuah drama sinetron saja," tanya Agen Z sambil mengembalikan laptop kepada Agen Y.
"Sini aku lihat!" Agen S menarik laptop yang ada di atas meja itu. Kemudian membacanya dengan seksama, dan dia juga mengamati orang-orang yang ada di dalam foto berita itu.
"Jadi target kita adalah putri satu-satunya keluarga Andersson!" Agen S merasa senang.
"Kita lanjutkan saja misi ini!" lanjutnya lagi kepada rekan-rekan Agen yang lainnya.
"Pimpinan yakin akan melawan mereka?" tanya Agen X setelah ikut membaca artikel berita itu.
"Kenapa? kita juga para agen hebat. Apalagi jika kita bersatu, pasti bisa mengalahkan mereka!" balasnya lagi.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.