
Langit kembali ke asrama sekolah, dia tidak melihat Kawasaki Kenzo, berada di kamarnya. Langit pun mengunci pintu kamar agar dia tahu saat nanti Kawasaki Kenzo, mau masuk. Langit kemudian mengeluarkan dokumen yang tadi dia dapatkan dari Kepala Intelijen dan Komisaris Kepala Kepolisian.
Saat Langit lagi asik membaca dokumen, ada seseorang yang mencoba membuka pintu kamarnya. Langit pikir dia Kawasaki Kenzo, maka dengan cepat dia membereskan semua dokumen penting itu kedalam koper yang terkunci dan menyimpannya di bawah kasur.
Langit membukakan pintu. Ketika, saat baru terbuka sedikit, orang dibalik pintu itu tiba-tiba mendorong dan menyerang dirinya. Orang itu menendang perut Langit, dengan sangat kuat.
Langit yang posisi tidak siap bertahan atau menyerang, dia terlempar sampai ke dekat kasur milik Kawasaki Kenzo. Orang yang menyerang Langit, berpakaian serba hitam dan memakai penutup kepala. Dia mengarahkan pistol yang sudah memakai peredam suara, ke arah Langit.
Langit berkonsentrasi ke arah moncong pistol. Agar dia tahu kemana arah peluru nanti meluncur.
Satu tembakan dilancarkan ke arah kaki Langit. Namun, dengan gerakan yang gesit, Langit menghindarinya. Dua tembakan yang kembali diarahkan kepadanya, dan masih bisa di hindari olehnya.
Langit mulai terdesak, dia tidak memegang senjata. Tidak ada barang atau alat yang bisa dia dijadikan senjata baginya. Otak Langit berpikir, bagaimana cara dia agar bisa merebut senjata milik musuhnya?
Langit pun mengambil bantal milik Kawasaki Kenzo, yang kebetulan ada di sampingnya. Kemudian, dia lemparkan ke arah lawan. Langit juga mengambil selimut, dan di tutupkannya ke arah tubuh lawan.
Langit memegang tangan lawannya yang memegang pistol. Saat dia akan merebut pistolnya, lawan itu malah menembakkannya ke arah Langit. Namun, dengan sigap Langit, memutar pergelangan tangan lawan, sehingga pelurunya mengarah ke langit-langit kamar. Langit pun terus menarik pelatuknya dan menembakkan semua peluru yang ada di dalam pistol sampai habis.
Setelah itu, mereka berdua berkelahi dengan tangan kosong. Langit mengakui kalau lawannya sangat tangguh. Dia beberapakali menyerang, tetapi Langit juga banyak mendapatkan serangan dari lawannya.
Langit memanfaatkan selimut yang ada di lantai. Dia kembali menyelimuti tubuh lawannya. Saat orang itu berusaha menyingkapkan selimut, Langit benar-benar mengarahkan seluruh kekuatannya untuk menghajar lawannya sampai tidak berdaya.
Langit senang saat lawannya sudah tidak berkutik. Dia mengira kalau musuhnya sudah tidak sadarkan diri dan dirinya sudah selamat dan aman. Ternyata perkiraan Langit salah. Ada musuh satu lagi yang tiba-tiba saja menyerang Langit, yang baru muncul di balik pintu.
Orang itu langsung membawa temannya yang sudah dikalahkan oleh Langit, tadi. Ternyata dia masih sanggup untuk berlari. Akhirnya, kedua orang itu pergi meninggalkan kamar Langit.
Kondisi kamar Langit, kini benar-benar kacau. Bulu dari bantal yang berserakan di lantai. Dinding kamar terdapat beberapa bekas peluru yang tadi di tembakkannya.
Kawasaki Kenzo masuk ke kamarnya, dia shock melihat kekacauan di sana. Langit hanya bisa tersenyum garing.
"Langit kun, ini ...? Kenapa bisa begini?"
"Tadi ada orang yang tiba-tiba masuk ke kamar dan menyerang kulit."
"Siapa?"
__ADS_1
"Tidak tahu. Dia memakai baju serba hitam dan memakai penutup kepala. Orang itu laki-laki yang memiliki tubuh kekar dan gerakan yang sangat gesit."
"Tapi, kamu tidak apa-apa 'kan? Tidak terluka?"
"Tidak, hanya saja badanku terasa remuk. Aku rasanya ingin berendam dengan air panas."
"Syukurlah!"
"Kawasaki Kenzo, habis darimana? Kenapa baru pulang?"
"Kencan dengan calon istri!"
"Wah ... sekarang kamu dan Matsumoto Hana, sudah semakin dekat, ya!"
"Iya, dia itu kayak kucing betina."
"Tapi, sepertinya si kucing betina sudah berhasil ditaklukan." Langit tertawa mengingat kembali bagaimana Matsumoto Hana, selalu galak sama Kawasaki Kenzo.
"Iya. Begitu sudah berhasil dijinakkan, dia maunya bermanja-manjaan sama aku." Kawasaki Kenzo tersenyum bahagia.
*******
Almahira yang satu kamar dengan Matsumoto Hana, hanya bisa tersenyum saat mendengarkan cerita kencan temannya itu. Matsumoto Hana bercerita dengan menggebu-gebu, saat kencannya tadi dengan Kawasaki Kenzo, dan sesekali Almahira malah menggodanya.
"Pokoknya, laki-laki itu kebanyakan mesum. Suka berbuat seenaknya!"
Matsumoto Hana, bercerita kalau Kawasaki senang sekali memeluk tubuhnya. Ciuman pun dia sendiri tidak bisa menghitungnya, saking sering mereka lakukan.
"Kalau begitu bilang saja sama Kawasaki Kenzo, nanti saat kencan jangan memeluk tubuh kamu. Apalagi mencium bibir kamu!" kata Almahira sambil tersenyum geli dan menunjuk ke arah bibir teman bicaranya . Bahkan dapat dilihat dengan jelas kalau bibir Matsumoto Hana, kini bengkak. Serta beberapa tempat di leher dan tulang selangkanya ada bekas jejak napak tilas Kawasaki Kenzo.
"Almahira chan, aku dengar dari Otou san, kalau kamu dan Langit dan, itu satu keluarga. Benarkah?!"
Almahira bingung harus bilang apa, kepada Matsumoto Hana. Kalau dia dan Langit, itu adalah pasangan suami-istri. Saat itu dia dan Langit, sedang berpelukan di kamar hotel. Malangnya mereka berdua, ternyata pintunya tidak tertutup sempurna, dan tuan Matsumoto Heiji, bisa masuk begitu saja. Kemudian Langit bilang kalau kami satu keluarga.
"Iya, begitulah. Seperti kamu dan Kawasaki Kenzo."
__ADS_1
"Oh, kamu dan Langit san, bertunangan. Aku juga bisa melihat kalau dia, begitu sangat mencintaimu, dari tatapan matanya."
Almahira tersenyum tersipu malu, mendengarnya. Kali ini berbalik, malah Matsumoto Hana yang menggoda teman satu kamarnya itu.
Kedua gadis itu, tidak tahu kalau ada kamera pengintai dan perekam suara yang terpasang di dalam kamar mereka. Semua yang mereka lakukan dan bicarakan sedang di awasi oleh seseorang di depan monitor yang banyak dan menampilkan beberapa tempat yang sering di kunjungi oleh Langit dan Almahira.
*******
"Akira, tolong beritahu Langit. Mulai sekarang harus berhati-hati. Sediakan selalu senjata kemanapun dia pergi!" Alex menghubungi orang kepercayaannya yang bertugas menjaga Langit.
"Baik, Tuan!"
"Sediakan penjaga atau bodyguard untuk Almahira. Dia itu tidak bisa berkelahi, apalagi menggunakan senjata."
"Berapa orang yang diperlukan untuk menjaga nona Almahira?"
"Terserah, yang penting selama dua puluh empat jam, Almahira selalu bisa mereka lindungi."
"Baik, Tuan! Akan saya siapkan sekarang!"
Akira pun, memilih beberapa orang yang memiliki kemampuan yang baik dari anggota Yakuza miliknya. Akira sudah merasa kalau ini akan mendekati akhir. Lawannya pun sudah mulai menampakan diri mereka, ke permukaan. Hanya saja, saat ini dia belum bisa menemukan markas musuh.
*******
Babak konflik sudah menuju *******. Berarti hampir mendekati akhir. Apa yang akan dilakukan oleh Langit, untuk melawan musuh mereka.
Siapakah musuh yang sebenarnya?
Tunggu kelanjutannya ya!
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
__ADS_1
TERIMA KASIH.