
Ghazali sudah lengkap memakai seragam baju tim keamanan. Karena di sana ada Agen C, yang hebat dalam menggunakan senjata dan bela diri.
Kini Ghazali bersama beberapa orang tim keamanan berhadapan langsung dengan Agen C dan Hera.
"Wah, Tuan Muda Ghazali. Senang bisa bertemu denganmu!" kata Agen C.
"Kalau aku tidak!" kata Hera.
DOR …
Hera langsung menembakan pelurunya ke arah Ghazali dengan cepat. Dia melampiaskan kemarahan yang ada di dalam dirinya kepada suami dari Bintang itu.
Namun Ghazali dengan sigap menendang tangan Hera. Sehingga tembakannya mengarah ke sembarang arah dan memantul ke dinding, akhirnya bersarang mengenai salah satu alat kesehatan yang terpasang di salah satu agen ALFABET.
"Wow, hebat! Selain tampan kamu juga seorang ahli, ya!" kata Hera sambil tersenyum menggoda ke arah Ghazali.
Ghazali merasa jijik, saat melihat ke arah Hera. Wanita yang sudah membuat anaknya mati, padahal baru tumbuh di dalam perut Bintang.
Ghazali memilih menghadapi Agen C, dari pada Hera. Maka jadilah Ghazali melawan Agen C. Mereka berkelahi dengan tangan kosong. Ghazali menguasai berbagai jenis bela diri, begitu juga dengan Agen C.
Sedangkan Hera melawan salah satu anggota tim keamanan menggunakan dua belati yang dibuat khusus untuk dirinya. Hera juga menguasai ilmu beladiri yang cukup mumpuni.
Keempat orang itu berkelahi dalam pengawasan beberapa pasukan keamanan. Jangan sampai perkelahian mereka, mengakibatkan para pasien yang masih terluka parah itu menjadi korban kebrutalan dalam perkelahian itu.
Ghazali menahan tendangan kaki kanan Agen C dengan menggunakan sebelah tangan kirinya. Tendangan dari Agen C itu sangat kuat dan membuatnya terasa kebas tangan kiri Ghazali.
"Tunggu!" Ghazali berteriak sambil menahan pukulan Agen C.
"Apa?" tanya Agen C.
"Kenapa kalian menjadikan Bintang sebagai target?" tanya Ghazali karena setahunya Bintang dan mereka tidak saling mengenal.
"Karena itu awalnya keinginan klien. Karena misi gagal dan uang jadi tidak bisa cair. Padahal kita semua sudah banyak yang jadi korban," kata Agen C.
"Ditambah si klien telah di tangkap oleh polisi! Jadinya Big Bos marah!" Agen C tersenyum kecut, "sebagai hukuman, maka uang pembayaran buat kami akan hangus."
"Jadi kalian melampiaskan kemarahan itu kepada Bintang!" Ghazali mulai marah karena alasan begitu.
__ADS_1
"Ya itu salah satunya. Alasan lainnya adalah Bintang itu gadis cantik yang punya sejuta pesona. Sampai-sampai si Big Bos juga menyukainya." Agen C tertawa terkekeh.
"Agen G, cemburu karena Big Bos sudah jatuh hati kepada Bintang," Agen C berbicara dengan santainya.
"Jadi kalian ingin membunuh Bintang untuk balas dendam kepada Big Bos, karena sudah kecewa tidak mendapatkan uang dari misi kalian?" tanya Ghazali dengan geram karena sudah menjadikan Bintang sebagai korban pelampiasan mereka.
"Ya bisa dibilang begitu, tadinya. Namun karena kebodohan kakak dari agen G, semalam. Semua jadi kacau!" jawab Agen C.
"Maksudnya?" tanya Ghazali.
"Rencananya semalam kita akan menculik Bintang di saat hari pesta pernikahannya. Untuk ditukar dengan uang. Kita akan melakukan transaksi dengan si Big Bos. Namun si bodoh itu malah melakukan percobaan pembunuhan terhadap temannya Bintang. Jadinya tim keamanan keluarga Hakim dan polisi bekerja sama menjaga tempat kalian. Serta banyak dari mereka yang berkeliaran di area kecelakaan wanita itu," lanjut Agen C.
********
Sementara itu di tempat lainnya, Michael sedang berkelahi melawan Agen D. Bahu kiri Michael yang terkena tembak, kini sudah banyak mengeluarkan banyak darah. Namun tangannya itu masih memiliki kekuatan untuk memukul dan menangkis.
Michael dan Agen D, saling adu pukul dan adu tendang. Keduanya sama-sama muntah darah. Mereka berkelahi hampir satu jam. Tenaganya juga sudah banyak terkuras. Napasnya pun sudah ngos-ngosan.
"Aku harus cepat-cepat menghabisinya! Tenagaku juga sudah habis," gumam Agen D.
"Lebih baik aku habisi dia sekarang juga!" gumam Michael.
DOR …
DOR …
Dua suara tembakan secara bersamaan terdengar menggema di area sepi itu. Michael berhasil menembak Agen D tepat di kepalanya. Sementara Agen D berhasil menembak dada Michael.
Sesaat setelah suara bunyi tembakan itu terdengar. Agen D langsung tumbang dan menggelepar, kemudian tidak bergerak lagi.
Sedangkan Michael jatuh terduduk, sambil memegang dadanya yang merasakan sakit dan mengeluarkan banyak darah. Bibirnya tersenyum saat melihat lawannya sudah tidak berkutik lagi.
"Akhirnya selesai juga!" Michael merasa puas akan hasil akhirnya.
"Nona Bintang, aku harap bisa selalu hidup bahagia sampai akhir! Karena nona memang pantas untuk mendapatkan itu," Michael menengadahkan wajahnya ke langit. Sampai akhirnya Michael juga tidak sadarkan dirinya, karena kehabisan darah.
*******
__ADS_1
Bintang yang baru saja sadar dari pengaruh obat biusnya. Kini menatap langit-langit kamar inap tempatnya berada sekarang.
Tangannya memegang perutnya, dan mengelusnya pelan. Air matanya mengalir bagai anak sungai yang memiliki arus yang deras.
"Bintang, sekarang apa yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit?" tanya Cantika begitu melihat air mata Bintang keluar dari mata indah beriris biru langit itu.
"Iya, Mah." Bintang menganggukan kepalanya.
"Apa? Dimana yang sakit?" tanya Alex dengan begitu panik.
"Di sini dan di sini, Pah!" Bintang menunjuk dada kiri dan perutnya, dengan suaranya yang lemah.
Menyadari maksud Bintang Cantika malah menangis tergugu. Pasti sakit lah perasaan seorang ibu yang telah kehilangan buah hatinya.
Dipeluknya tubuh putrinya itu dengan penuh rasa sayang. Cantika menggumamkan kata-kata nasehat dan penyemangat di telinga Bintang.
"Sayang, mungkin saat ini belum menjadi rizki bagi kamu dan Ghazali. Namun jaga, anak kalian kelak dia akan menjadi bekal kalian di akhirat. Anak yang menunggu kedatangan orang tuanya di depan pintu surga." Cantika mencoba menghibur Bintang.
"Bintang tidak tahu, kalau lagi hamil,Ma. Saat melihat banyak darah keluar, Bintang sudah merasa gagal menjadi seorang ibu, yang selalu menjaga dan melindungi anaknya," kata Bintang sambil menangis tergugu dalam pelukan Cantika.
Cantika dan Alex ikut menangis saat Bintang bicara seperti itu. Bagaimanapun mereka itu sudah menjadi orang tua, pastinya memahami apa yang Bintang rasakan.
"Sabar ya, Sayang. Mudah-mudahan Allah segera menggantikan dengan anak-anak yang sholeh dan sholehah," balas Cantika.
"Allah tahu, Bintang belum mampu menjadi seorang ibu. Makanya Dia ambil kembali," Bintang masih menangis tergugu.
"Kamu jangan berpikiran seperti itu!" Alex membantah perkataan Bintang. "Soal pantas tidak pantas, Allah lah yang dapat menilainya. Kamu jangan pesimis begitu! Mana Bintang anak Papa, yang selalu optimis dalam hidupnya."
Bintang pun menganggukan kepalanya, dalam pelukan Cantika. Sebenarnya hatinya masih sangat sakit. Dia juga merutuki kebodohannya sendiri. Karena tidak menyadari kalau dirinya sedang hamil.
*******
AKHIRNYA SELESAI JUGA 😭😭😭 AKU SAMPAI 3X NGETIK KARENA SEBAGIAN HILANG. KEMUDIAN KATA-KATA BANYAK YANG KEPOTONG. NGGAK NGERTI KENAPA!!! PADAHAL MEMORI MASIH PENUH. TERPAKSA AKU HAPUS DOWNLOAD ANIME KU...
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.