
Peter yang baru datang kembali ke Jerman, kini dia diberi misi untuk menangkap Rio de Janeiro. Dia langsung mendatangi rumah sakit tempat Sofia Praha dirawat. Saat dia masuk ke ruang rawat itu, ternyata Rio de Janeiro sedang bercumbu dengan Sofia Praha. Meski wajah wanita itu rusak, cinta Rio de Janeiro tidak hilang untuk kekasihnya itu. Bahkan dia rela menjadi kekasih gelap, saat Sofia masih menjadi istri dari Madrid.
Kedua orang itu terkejut saat melihat Peter datang. Rio de Janeiro, tahu siapa Peter. Sementara, Sofia tahunya Peter adalah kekasih Madina karena sering mengantarkannya pulang. Rio de Janeiro langsung mengacungkan pistolnya ke arah Peter. Sofia sangat terkejut saat melihat kekasihnya tiba-tiba menodongkan pistol kepada Peter.
Peter hanya biasa saja menghadapi Rio de Janeiro. Dia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit.
"Lebih baik kita bicara di luar. Aku tidak mau kalau tiba-tiba peluru itu salah sasaran kena sama kekasih kamu," kata Peter.
Sofia terkejut dan mulai panik saat mendengar kata-kata Peter, barusan. Rio de Janeiro pun, akhirnya menurunkan pistolnya. Namun, dia tidak beranjak dari sana. Dia tidak mau meninggalkan kekasihnya, sendirian.
"Bicarakan saja di sini. Aku tidak akan pergi dari sisi Sofia." Rio de Janeiro menatap tajam Peter, dan dia membelai rambut Sofia berusaha memberikan ketenangan untuknya.
Peter pun memilih mengikuti keinginan Rio de Janeiro. Terserah nanti akan bagaimana akhirnya.
"Kami sudah tahu identitas asli kamu. Rio de Janeiro saudara kembar Helsinki. Jadi, sebaiknya kamu menyerahkan diri sebelum FBI, datang dan meringkusmu!" Peter tersenyum miring saat dilihatnya wajah Rio de Janeiro menjadi pucat.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Rio ditangkap oleh FBI," kata Sofia Praha.
Kata-kata Sofia Praha yang membela dirinya, membuat Rio de Janeiro, merasa mendapat kekuatan untuk melawan. Dia pun menantang Peter.
"Kamu, dengar sendiri 'kan? Kekasih aku tidak merelekan diriku untuk menyerahkan diri. Jadi ...." Rio de Janeiro kembali mengarahkan pistol yang sudah memakai peredam suara ke arah Peter.
Peter hanya menatap kedua orang itu. Dia sudah bisa memperkirakan kemungkinan situasi terburuk. Maka, dia sudah meminta pihak rumah sakit untuk mengosongkan seluruh lantai itu dan memblokirnya agar tidak ada yang bisa keluar dan masuk.
Pihak kepolisian Jerman pun sudah turun tangan dan siap membantu. Dalam penangkapan Rio de Janeiro, karena sekarang dia sudah menjadi buronan Internasional.
Satu tembakan Rio de Janeiro di arahkan kepada Peter. Dengan gerakan cepat, peluru itu bisa dihindari. Peter pun mengarahkan tembakan ke tangan Rio de Janeiro yang memegang pistol. Pelurunya mengenai tangan sehingga, pistol itu terlepas dari tangan Rio de Janeiro. Namun, Sofia Praha mengambil pistol yang jatuh tepat di dekat tangannya. Kemudian, dia mengarahkan tembakannya kepada Peter.
Peter yang tahu akan serangan dari Sofia Praha bisa menghindarinya. Dia pun membalas tembakan itu dan saat peluru mengarah kepada Sofia Praha, Rio de Janeiro menghalanginya. Sehingga, terkena bahu kanannya.
"Liebling!" [panggilan Sayang di Jerman, dari kata liebe: cinta]
"Tidak apa-apa Schatzi, aku bisa menahannya." [Schatzi : Panggilan Sayang di Jerman]
__ADS_1
Peter pun kembali menembakan peluru ke arah kaki Rio de Janeiro. Di saat bersamaan, pistol di tangan Sofia juga menembakan anak pelurunya ke arah Peter. Namun, bisa dihindari olehnya. Peter pun menembak tangan Sofia Praha yang memegang pistol. Sehingga terlepas, dari pegangan tangannya.
Melihat kekasihnya terluka, Rio de Janeiro marah. Dia menembakan sisa peluru di pistolnya secara membabi buta ke arah Peter. Tidak ada satu pun, peluru yang berhasil mengenai dirinya.
Rio de Janeiro pun akhirnya mengajak, Peter untuk berduel dengan tangan kosong. Luka yang di dapatnya tadi semakin banyak mengeluarkan darah. Namun, Rio de Janeiro bukanlah laki-laki lemah yang hanya karena dua tembakan dapat melumpuhkan dirinya.
Peter pun termasuk orang yang tidak pernah menganggap remeh musuh atau lawannya. Dia akan bersungguh-sungguh saat dia berkelahi atau melawan musuhnya tidak peduli laki-laki atau perempuan, tua ataupun muda.
Rio de Janeiro sering mendapatkan serangan dari Peter. Sampai-sampai dia kepayahan. Sofia yang melihat kekasihnya babak belur, hanya bisa berteriak histeris. Setiap serangan Peter berhasil mengenai tubuh kekasihnya, Sofia selalu berteriak mengumpatnya.
"Aku akan membalas rasa sakit yang di dapat Liebling!" teriak Sofia Praha kepada Peter.
"Aku tidak peduli!" balas Peter.
"Oh, ya. Kita lihat saja, bagaimana keadaan perempuan yang kamu cintai itu, sekarang?" Sofia menyeringai saat melihat wajah Peter berubah menjadi panik.
Dalam pandangan Peter langsung terbesit gambaran Madina yang sedang tersenyum kepadanya. Dia tidak pernah terpikirkan sebelumnya, kalau Madina akan ikut terseret dalam hal ini.
Sofia Praha tersenyum senang bisa memberikan ancaman kepada Peter. Sekuat dan sehebat apapun seseorang, pasti punya kelemahan. Peter yang dikenal berkemampuan hebat di pasukan bayangan pun ternyata lemah jika menyangkut orang yang dicintainya.
Hal tidak terduga oleh Sofia Praha dan Rio de Janeiro adalah Peter menembakan peluru ke arah Sofia Praha di kepalanya. Lebih tepatnya di telinga kiri.
"Aaakh! Sakit!" teriak Sofia memegang telinganya dengan sebelah tangan kiri. Kemudian tidak sadarkan diri.
"Sebelum ada penyesalan, lebih baik lakukan saja sekarang." Peter menyeringai puas dan berkata lagi, "jangan mencoba untuk mengancam aku!"
Rio de Janeiro panik melihat peluru berhasil mengenai kekasihnya. Dia melihat banyak darah yang keluar dan membasahi baju dibagian bahu dan badan Sofia Praha.
"Kau ... berani-beraninya, menyerang orang yang sedang tidak berdaya!" teriak Rio de Janeiro.
"Tidak berdaya? Mana mungkin ada orang yang tidak berdaya masih sanggup memberikan ancaman," balas Peter.
Maka dengan sisa tenaga yang dipunya oleh Rio de Janeiro, dia menyerang kembali Peter. Namun, lagi-lagi gagal karena Peter langsung menembak kedua pahanya. Sehingga lawannya berteriak kesakitan, dan akhirnya pingsan. Polisi yang berjaga di depan pintu pun masuk karena sudah tidak terdengar lagi apa-apa dari dalam.
__ADS_1
"Mister Peter, saya ucapkan banyak terima kasih. Sudah membantu dalam menangani penjahat tingkat Internasional," kata kepala polisi yang ikut dalam menangani masalah ini.
"Justru saya yang harus berterima kasih. Berkat bantuan Anda, saya bisa menyelesaikan misi." Peter pun menyambut uluran tangan Kepala Polisian, itu.
******
Madina sedang berjalan bersama temannya keluar area kampus. Mereka pun mendatangi toko minimarket langganan yang tidak jauh dari kampus. Saat ini, Madina tinggal di apartemen milik Paris. Jadi, dia membeli sedikit bahan makanan karena orang-orang sedang pergi ke Italia.
Meski ada suruhan Langit dan Bintang untuk mengawasi area tempat tinggal mereka. Madina tidak selalu dikawal saat pergi kemanapun.
Madina tersenyum kepada Venesia, begitu masuk ke dalam toko. Venesia pun memberikan kode untuk masuk ke ruang gudang barang.
"Ada apa?" tanya Madina dengan gerakkan bibirnya saja tanpa suara.
"Ada hal penting," jawab Venesia.
"Oke," balas Madina tanpa curiga apapun karena menurutnya Venesia itu adalah orang baik.
Saat Madina masuk ke dalam gudang penyimpanan stok barang. Dia dibekap mulutnya oleh seseorang, sehingga dia pingsan. Madina pun dibawa pergi oleh orang itu.
"Madina, maafkan aku. Ini demi menyelamatkan nyawa kakakku." Venesia menangis saat Madina dibawa pergi menggunakan box container.
Venesia tidak tahu keadaan Sofia Praha saat ini.
******
Bagaimana akhir perselisihan kelompok Red Dragon?
Apa yang akan dilakukan oleh Trio Kancil, untuk menyelesaikan masalah ini?
Tunggu kelanjutannya ya.
Mudah-mudahan bisa cepat selesai sesuai jadwal agenda.
__ADS_1