
Bintang mengerjapkan matanya, melihat ke sekelilingnya. Dia merasa di tempat asing, yang berbau air laut, dan tempatnya terasa bergoyang. Tangan di borgol ke belakang dan kakinya di ikat dengan rantai besi yang ada bandul besinya berukuran sedang.
Bintang mencoba mendudukan tubuhnya yang tadi dalam keadaan berbaring. Tidak ada jendela di sana, yang ada hanya satu pintu untuk keluar masuk ruangannya. Bintang melihat gamisnya telah diganti dan kakinya kini tidak memakai alas kaki.
Di ruangan itu hanya ada satu kursi kayu, dan tidak ada apa-apa lagi. Dengan sisa kekuatannya yang belum terkumpul, Bintang mencoba untuk bangun. Dia merasakan masih agak pusing di kepalanya.
Setiap langkahnya akan terdengar suara besi yang beradu. Kakinya juga terasa berat saat melangkah. Perut Bintang sudah terasa lapar, karena jam makan siang sudah waktunya.
"Aduh … lapar banget! Ini jam berapa ya?" Bintang bermonolog.
"Sekarang ini apa masih siang atau sudah malam, ya?" Bintang akhirnya duduk di kursi kayu itu, karena merasa lelah.
"Papa dan yang lainnya, sudah tahu nggak ya? Kalau aku sedang di culik." Bintang menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Sekarang pikirannya melayang kepada suaminya. "Om … kamu, akan datangkan?!"
Bintang pun kembali tak sadarkan diri. Entah tidur karena ngantuk, atau pingsan karena lapar. Karena keduanya dirasakan sekarang oleh Bintang.
*******
Sementara Alex meminta kepada tim keamanan keluarga Hakim untuk mengirimkan helikopter juga ke tempatnya sekarang berada. Juga beberapa senjata untuknya. Karena Alex tidak membawa senjata andalannya.
Tidak sampai tiga puluh menit, helikopter mendarat di sebuah lapangan yang luas. Karena Alex meminta helikopter milik pasukan khusus keluarga Hakim. Selain ukurannya yang lebih besar, helikopter itu juga dilengkapi oleh senjata.
Alex dan yang lainnya sedang menuju ke tengah lautan. Mereka juga sedang mengecek ulang senjata mereka. Karena ada laporan yang masuk kalau yang menculik Bintang itu adalah agen-agen profesional. Jadi mereka tidak boleh sembarangan.
"Langit … Angakasa, kalian sudah pasang baju Anti pelurunya?" tanya Alex kepada kedua putranya itu.
"Sudah, Pah!" jawab keduanya kompak.
"Baju Anti peluru yang sekarang lebih nyaman dipakai!" kata Angkasa sambil mengacungkan jempol kepada Langit.
Langit langsung merasa melambung, karena sudah dipuji oleh saudara kembarnya. Langit lebih cenderung mempelajari ilmu teknologi dan mengembangkan kesukaannya itu untuk membuat alat-alat canggih lainnya.
Dia ingin mengalahkan Papa sama Grandpa-nya. Langit juga yang melanjutkan perusahaan milik Arthur di bidang otomotif dan juga perusahaan otomotif dan senjata milik Alex, diserahkan kepadanya. Langit menggabungkan dua perusahaan besar itu menjadi perusahaan otomotif raksasa, yang ada di Amerika dan Italia. Banyak alat canggih yang dibuat oleh Langit. Karena di punya guru yang hebat selain papanya dan Akira.
__ADS_1
Langit sering membuat senjata khusus untuknya dan kedua saudara kembarnya. Senjatanya ringan, bentuknya simpel, tapi punya daya serang yang hebat.
*******
Sementara itu Ghazali dan Khalid sudah melihat kapal feri yang sedang berlayar di tengah lautan luas. Sinyal dari alat pelacak Bintang terlihat berada di kapal feri itu.
"Kalian semua bersiaplah!" Khalid memberikan komando kepada beberapa orang pasukannya.
"Siap!" jawab mereka semua dengan kompak.
Satu per satu pasukan itu meluncur turun. Pasukan yang masih di atas melindungi pasukan yang pertama yang sedang turun. Karena pihak musuh sudah langsung menembaki mereka. Begitu menyadari ada helikopter yang mendekat ke arah mereka.
*******
Bintang yang sedang duduk dan menelungkupkan badannya ke meja. Tersadar saat mendengar suara helikopter di dekatnya. Dia senang karena yakin kalau helikopter itu adalah milik keluarga Hakim.
"Kamu akhirnya sudah sadar." Suara laki-laki yang asing menyapa pendengaran Bintang.
Bintang pun mencari sumber suara itu, dan di pojok sana ada seorang laki-laki sedang berdiri memandanginya. Kemudian laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Bintang.
Bintang yang diperlakukan seperti itu sangat marah. Dia meludahi wajah laki-laki itu, tapi malah membuatnya senang.
"Kamu siapa?" tanya Bintang sambil menatapnya tajam dan nyalang.
"Ah … benar juga, tak kenal maka tak sayang. Kenalkan aku adalah Agen S. Pemimpin kelompok ini," bidiknya di dekat telinga Bintang.
"Kamu ternyata lebih cantik aslinya. Saat pertama kali aku melihat fotomu. Aku sudah langsung suka. Begitu aku melihat kamu secara langsung. Aku langsung jatuh cinta kepadamu, dan ingin menjadikannya milikku."
Agen S memegang dagu Bintang dan mengarahkan wajahnya agar saling berhadapan, tapi Bintang berontak dengan cepat memalingkan wajahnya. Sehingga ciuman dia mengenai hijabnya. Meski begitu Bintang merasa jijik.
Seandainya tangan dia tidak diborgol ke belakang. Bintang sudah akan menyerang Agen S itu.
"Ah … aku suka kamu yang melakukan perlawanan." Agen S pun menegakkan badannya di saat ada suara yang mendekat ke arahnya.
Seseorang menendang pintu dengan kuat. Sehingga pintu itu langsung terlepas dari engselnya. Menampilkan sosok tubuh tinggi atletis yang sedang dirindukan oleh Bintang.
__ADS_1
"Bintang!"
"Om Ghaza!"
Agen S menghadang langkah Ghazali saat akan berjalan ke arah Bintang. Kini keduanya saling berhadapan, dan menatap tajam satu sama lain.
"Ah … sayang sekali! Tadinya aku mau menjadikan istri kamu yang cantik ini menjadi milikku." Agen S tertawa terkekeh sambil melihat Ghazali.
"Kenapa kamu menculik Bintang?!" suara Ghazali melengking di ruangan itu.
"Awalnya ada permintaan dari seorang klien. Namun saat aku melihatnya langsung. Aku jadi ingin memilikinya juga. Wanita cantik dan seksi, semua yang laki-laki sukai ada di dalam dirinya." Agen S sengaja memanas-manasi Ghazali agar marah dan kehilangan kendalinya. Karena saat seseorang yang sedang marah akan mudah kehilangan kendali pada dirinya, sehingga mudah untuk dikalahkan.
"Om Ghaza! Jangan dengarkan kata-katanya. Dia hanya ingin membuat Om marah. Agar bisa mudah mengalahkan Om, kalau sudah kehilangan kendali." Teriak Bintang mencoba menyadarkan Ghazali.
Mendengar teriakan Bintang barusan, Ghazali malah tersenyum. "Apa yang kamu katakan tadi benar adanya. Kalau Bintang itu wanita cantik dan seksi. Semua yang ada pada dirinya, aku juga suka. Makanya aku menikahinya agar hanya aku saja yang boleh memilikinya. Berarti aku sama kamu adalah laki-laki normal," kata Ghazali sambil tersenyum manis melihat ke arah Bintang. Membuat Bintang jadi merona wajahnya.
"Ah … aku juga mau menjadikan dia milikku. Kalau begitu aku harus merebutnya dari kamu. Walau secara paksa akan aku lakukan!" Agen S mendekat ke arah Bintang, tapi dengan cepat Bintang menjauh darinya. Perbuatan Bintang itu membuat Agen S kecewa.
"Mau ngapain kamu pegang-pegang aku! Hanya Om Ghaza yang boleh menyentuhku!" kata Bintang galak dengan tatapan matanya yang tajam.
"Hahaha …." Ghazali tertawa mendengar penolakan dari Bintang. Istri kecilnya itu memang menggemaskan.
"Tuh lihatkan kamu ditolak olehnya, karena aku lebih pantas untuknya," sindir Ghazali.
Agen S menjadi sangat marah, dan mengarahkan pistolnya kepada Bintang. "Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka orang lain pun tidak akan bisa!" kata Agen S dengan senyum miringnya.
Dilepaskannya satu tembakan, dan suaranya memekakkan telinga orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1