
Bintang yang sudah sampai ke parkiran rumah sakit, langsung berlari sekencang mungkin yang dia bisa. Tujuannya adalah ruang UGD, untuk mencari keberadaan orang yang telah mencuri hatinya itu.
"Suster … dimana Om Ghaza?!" tanya Bintang begitu sampai depan pintu UGD.
"Maksud Nona, siapa?" tanya Suster itu tidak mengerti.
"Akh … orang yang kecelakaan barusan!" jawab Bintang kesal karena Suster di depannya tidak mengerti maksud pertanyaannya.
"Suster apa tadi ada korban kecelakaan yang dibawa ke sini?" tanya Bintang lagi,"Om Ghaza-ku."
"Nona … tarik napas dulu, baru bicara dengan benar?" Suster itu memberi saran pada Bintang.
Kemudian Bintang pun menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Dia mengulanginya hingga dua kali.
"Tadi aku mendapatkan telepon, kalau Om Ghaza-ku mengalami kecelakaan di jalan raya. Orang yang telah menolongnya menelepon ke handphone-ku. Kalau Om Ghaza, itu sudah mengalami kecelakaan, dan dibawa ke rumah sakit," kata Bintang panjang lebar agar Suster di depannya itu mengerti.
"Nona, di sini ada korban kecelakaan tapi tadi pagi. Keluarga pasien juga sudah membawanya pulang, barusan. Apa benar Om Ghaza-nya, Nona itu dibawa ke rumah sakit ini?" tanya Suster itu sambil melihat ke arah Bintang yang berubah pucat.
Bintang yang baru menyadari kalau dia telah salah mendatangi rumah sakit. Jadi dia bingung harus kemana lagi mencarinya.
"Ah, Langit?! Dia pasti bisa mencari keberadaan Om Ghaza!" pekik Bintang, dan saat dia akan menghubungi Langit, baru sadar kalau handphone-nya tertinggal di hotel.
"Kenapa handphone-ku ketinggalan?!" Bintang merutuki kecerobohannya.
"Nona apa ada yang kami bisa bantu lagi?" tanya Suster tadi.
"Tidak, terima kasih, Suster. Maaf saya telah mengganggu anda," kata Bintang penuh penyesalan.
"Kalau begitu saya permisi," kata Suster itu kemudian pergi menjauh dari Bintang.
Bintang pun berjalan keluar rumah sakit, dia bingung mau mencari ke rumah sakit mana? Karena ada banyak rumah sakit di Jakarta ini. Dengan langkah gontai Bintang berjalan menuju ke halaman parkir rumah sakit.
"Bintang!"
Bintang mendengar suara teriakan seseorang yang memanggilnya. Dia pun mendongakkan kepalanya, yang sejak tadi tertunduk, untuk mencari pemilik sumber suara itu.
"Bintang …," suara yang sangat dirindukannya kini kembali menyapa telinganya.
__ADS_1
Bintang yang melihat sosok laki-laki yang sudah lama tidak dilihatnya. Kini berdiri dengan gagahnya di depan mobil mewah miliknya. Saat itu juga kedua kaki Bintang seperti ada yang menggerakkannya sendiri. Kedua kakinya itu berlari ke arah sosok yang sudah membuatnya cemas dan khawatir beberapa bulan belakangan ini.
Bintang berlari sekuat tenaga ke arah sang pencuri hatinya. Ketika sosok itu merentangkan kedua tangannya. Bintang langsung melompat ke dalam pelukan laki-laki itu. Dengan sigap lelaki itu menahan tubuhnya agar tidak jatuh kebelakang.
"Om … Bintang kangen!" tangis Bintang langsung pecah ketika dalam pelukan Ghazali.
"Bohong …," balas Ghazali sambil mengulum senyumannya, dipeluknya erat gadis yang selalu memporak-porandakan hati dan pikirannya itu.
"Om, nggak percaya sama Bintang?!" kata Bintang malah makin mengeratkan pelukannya kepada Ghazali seakan takut kalau orang yang ada dalam pelukannya itu pergi lagi.
"Buktikan kalau kamu kangen sama aku," bisik Ghazali di telinga Bintang dengan lembut.
Mendengar bisikan Ghazali barusan seakan mengundang banyak setan untuk menggoda Bintang. Rasanya dia sudah ingin melakukannya lagi bersama dengannya. Rasa yang memabukkan bagi dirinya itu.
"Om minta bukti apa dari Bintang?" balas Bintang dengan suaranya yang bergetar.
"I love you," bisik Ghazali dengan mesra.
Mendengar tiga kata yang barusan di ucapkan oleh Ghazali membuat Bintang kembali menangis, tapi kali ini tangisan kebahagiaan.
"I love you to," balas Bintang dengan penuh semangat.
Bintang yang melihat kesungguhan dari pancaran matanya Ghazali sangat senang. Berarti cinta dia tidak bertepuk sebelah tangan.
"Aku juga mencintaimu, Om!" jawab Bintang dengan dihiasi senyuman cantiknya.
Melihat senyuman Bintang tepat di depannya, membuat Ghazali harus makin menguatkan dirinya. Agar dia tidak kembali melakukan kesalahan hal yang sama lagi dengannya. Tangannya kini melingkari pinggang Bintang, dan makin merapatkan tubuh keduanya. Kedua mata biru langit mereka saling menatap penuh cinta dan rindu.
"Tahan Ghaza … tahan …!" gumam Ghazali dalam hati merapalkannya bagai mantra.
"Jadi … Bintang sudah jatuh cinta sama aku?" goda Ghazali dengan senyuman khas-nya yang menggoda Bintang.
"Bintang nggak mau jatuh cinta sama Om!" kata Bintang yang sukses membuat Ghazali langsung down hatinya.
"Ke--Kenapa?" tanya Ghazali dengan nadanya yang sangat shock.
"Karena, Bintang inginnya membangun cinta sama Om. Kalau jatuh cinta rasanya sakit!" kata Bintang yang sukses kembali melambungkan hati Ghazali.
__ADS_1
"Bintang, apa boleh aku menciummu?" tanya Ghazali dengan tatapan penuh harapnya.
"Om boleh mencium Bintang, jika kita sudah jadi suami istri," jawab Bintang sambil tersenyum malu dan kedua pipinya kini merona. Sejujurnya Bintang juga mau, tapi dia masih takut sama dosa.
"Kalau begitu kita kawin lari, yuk!" ajak Ghazali kepada Bintang dengan senyuman menggodanya.
"Eh ...!" Bintang sangat terkejut mendengar ajakan Ghazali padanya barusan.
*****
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Sepasang mata itu melihat mereka berdua dengan tatapan matanya yang terluka. Melihat gadis yang dicintainya kini bisa tersenyum bahagia kembali setelah tiga hari tidak dilihatnya itu.
"Bintang, ternyata kamu lebih bahagia saat bersama dengan dirinya." Aria mengepalkan kedua tangannya menahan sakit dihatinya saat melihat pemandangan romantis antara calon tunangannya dengan sahabatnya itu.
"Sepertinya aku harus rela melepaskan dirimu." Mata Aria sudah mulai berkaca-kaca tanpa dia sadari.
"Kenapa kisah cinta kita harus berakhir seperti ini?" suara Aria tercekat karena menahan tangisnya.
"Apa kamu akan lebih bahagia lagi, jika aku melepaskanmu?" air mata Aria akhirnya jatuh dari mata yang selalu menatap Bintang penuh cinta dan kekaguman padanya.
"Aku sungguh rela akan melepaskan kamu, jika di dalam hatimu sudah tidak ada aku lagi," Aria menahan sakit dengan menekan-nekan dada di sebelah kirinya.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu itu, Bintang."
Aria menarik napasnya, kemudian menghembuskannya kembali lewat mulutnya. Dia melakukan itu berulang kali, untuk menghilangkan rasa sesak dan sakit di dadanya.
Aria pun membalikkan badannya, dan berjalan kembali masuk, menaiki mobil sport mewah miliknya. Dia melajukan mobilnya, kearah Hotel Artemis, tempat tadi dia akan menggelar pesta pertunangannya dengan Bintang. Sepertinya kini acara itu akan segera dia batalkan.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
MAMPIR KE KARYA BARU AKU YA.
__ADS_1