
Langit dan Rafli masih duduk di ruang kerja. Keduanya larut dalam pembicaraan serius. Langit mulai memahami ada benang merah antara kasus yang sedang di selidiki olehnya, dengan pelaku yang sedang dicari oleh Almahira. Ternyata orang yang meninggal itu terlibat dalam ujian yang ada di lima pulau. Saat terjadinya ledakan bom di Pulau Hi. Baik itu murid atau guru pengawas.
"Sepertinya aku harus memulai lagi dari kecelakaan bom di Pulau Hi," kata Langit.
"Ya, aku rasa awal dari semua ini adalah kecelakaan bom di Pulau Hi. Aku yakin ada yang ingin balas dendam karena kejadian itu."
Rafli pun mengeluarkan album fotonya, yang dia simpan di laci kerjanya juga. "Lihatlah!" Rafli menyodorkan album tua yang berwarna biru. Langit pun menerimanya, kemudian membuka dan melihat isinya. Ternyata banyak juga orang yang sudah dia kenali wajahnya. Apalagi Langit sudah mulai menyelidiki orang-orang yang kenal dan dekat dengan Honda.
" Mereka adalah teman-teman satu angkatanku, dan yang di sini temanku saat di Laboratorium Matsumoto," Rafli memberi tahu dengan menunjuk bagian-bagian dari album foto itu.
"Jadi Ayah pernah bekerja di Laboratorium Matsumoto?" tanya Langit kaget karena tidak menyangka.
"Ya, aku dan Honda adalah dua orang murid SMA beruntung yang bisa ikut bergabung di Laboratorium Matsumoto semenjak usia kita enam belas tahun," jawab Rafli.
"Ternyata Ayah orang hebat!" pekik Langit sambil tepuk tangan memuji ayah mertuannya--calon mertua.
"Hanya keberuntungan saja karena saat itu, ada seorang profesor muda yang, menginginkan aku dan Honda sebagai asistennya."
"Meski begitu, Ayah sudah diakui kemampuannya," ucap Langit memandang takjub kepada Rafli.
"Justru sebaliknya. Aku dan Honda banyak dibantu sama dia, agar bisa membuat suatu karya."
"Bukannya tugas asisten, itu untuk membantu dirinya dalam melakukan pekerjaannya?"
"Dengan kemampuan yang di miliki profesor, tidak membutuhkan asisten sebenarnya. Dia hanya ingin ada teman ngobrol saja saat melakukan pekerjaannya. Aku dan Honda hanya mendengarkan dan memperhatikan dia saat bekerja."
"Profesor itu sangat hebat, ya?"
"Iya. Dia orang hebat dan terkenal. Hanya saja dia tidak suka menonjol di hadapan orang," kata Rafli sambil mengenang masa lalunya saat sekolah dan bekerja di Laboratorium Matsumoto.
"Apa di sini ada foto profesor itu?" tanya Langit penasaran, sambil membuka lembaran album foto.
"Tidak ada. Dia tidak suka difoto," jawab Rafli.
"Ah, sayang sekali!" Langit sungguh kecewa.
__ADS_1
"Dia profesor muda dari Amerika, seperti kamu wajahnya," kata Rafli sambil menelisik wajah Langit.
"Oh, ternyata profesornya, orang asing."
Waktu terus bergulir, tidak terasa sudah tengah malam. Langit pun izin mau pulang, tapi Almahira melarangnya. Dia takut kalau nanti terjadi apa-apa di jalan kepada Langit.
Rafli dan Kartini pun memberikan izin kepada Langit untuk menginap. Kebetulan ada kamar milik adiknya Almahira yang kosong. Adiknya juga sekolah yang ada asrama untuk tinggal para muridnya, hanya saja dia suka pulang sebulan sekali karena jaraknya yang cukup jauh.
*******
Keluarga Rafli sholat subuh berjamaah, dan Langit diminta menjadi imamnya. Awalnya Langit menolak, karena lebih pantas Rafli yang menjadi imamnya. Namun Rafli dan Kartini ingin laki-laki yang menjadi suaminya Almahira harus bisa menjadi imam bagi keluarganya. Akhirnya Langit pun menyetujuinya. Almahira segitu tersentuh oleh suara Langit saat membaca surat pendek di dalam Al Quran.
Rafli dan Langit melanjutkan pembicaraan yang semalam di ruang keluarga. Sementara Almahira dan Kartini masak di dapur untuk menu sarapan.
Terdengar suara bel rumah Rafli berbunyi. Itu membuat para penghuni rumah kaget. Jarang-jarang ada tamu yang datang di pagi hari seperti ini.
"Siapa, ya?" tanya Kartini begitu membuka pintu depan rumahnya menampilkan dua orang berwajah bule.
"Assalammu'alaikum, apa benar ini rumahnya bapak Rafli, ayahnya Almahira?" tanya tamu perempuan yang memakai jilbab.
"Siapa, Bu?" tanya Rafli yang baru saja datang bersama Langit ke ruang tamu.
"Bintang, Om Ghaza!" Langit langsung memeluk Bintang dengan sangat erat.
"Kalian cepat sekali datangnya!" pekik Langit yang masih saja memeluk tubuh Bintang. Dia tidak sadar menyapa saudara kembarnya dengan bahasa Indonesia.
"Iya, dia orangnya tidak sabaran. Begitu dapat pesan dari kamu. Kita langsung berangkat," kata Ghazali sambil terkekeh karena teringat akan kelakuan istrinya itu.
"Hm! Hm!" Ketiga orang di belakang Langit berdeham dengan sangat keras.
Langit pun melepaskan pelukannya dari Bintang. Kemudian membalikkan badannya dan terlihat wajah tidak suka dari ketiga orang itu. Apalagi wajah Almahira terlihat kalau dia sedang cemburu.
"Ayah, Ibu, Alma. Kenalkan ini Bintang Kak kembar Langit, dan ini Om Ghaza suaminya," kata Langit mengenalkan dua orang tamunya itu.
Ketiga orang itu terkejut saat mendengar Langit berbicara bahasa Indonesia. Sebab sejak datang ke rumah kemarin, Langit berbicara dengan bahasa Jepang.
__ADS_1
"Kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Rafli dengan wajah penuh kecewa karena merasa sudah di bohongi oleh Langit.
"Iya, Ayah. Maaf, bukan maksud membohongi kalian. Sudah menjadi kebiasaan. Hanya saat bersama keluarga kita bicara bahasa Indonesia. Sedangkan bila bicara dengan orang lain, kita pakai bahasa asing." Langit memberikan alasan itu sebagai jawabannya, saat melihat raut wajah calon mertuanya.
"Ternyata kamu pembohong!" teriak Almahira kemudian dia berlari meninggalkan semua orang yang ada di sana.
"Alma, tunggu!" teriak Langit dan menyusul Almahira yang berlari ke arah kamarnya.
Saat Almahira hendak menutup pintu kamarnya, Langit menahan menggunakan tangan dan kakinya. Sehingga Almahira tidak bisa menutup pintunya.
"Dengarkan aku dulu!" Langit menarik tangan Almahira kemudian memeluk tubuhnya. Almahira menangis dan memberontak dalam pelukan Langit.
"Kamu bohong saat dulu aku tanya bisa bahasa Indonesia, tapi jawabnya tidak bisa,"
"Maaf, bukan aku berniat membohongi kamu. Saat itu aku harus menyembunyikan identitas asliku," bisik Langit.
"Jangan-jangan kamu juga tidak pernah sungguh-sungguh mencin--" ucapan Almahira terputus karena dibungkam oleh jari telunjuk Langit.
"Justru karena aku sungguh-sungguh dengan perasaan cinta ini. Maka aku meminta seluruh keluarga datang ke sini untuk meminangmu," bantah Langit.
Almahira dan Langit saling pandang mengunci satu sama lain, untuk meyakinkan akan perasaan cinta mereka. Baik Langit maupun Almahira melihat kesungguhan dari mata mereka. Kalau rasa cinta itu memang benar ada dan tulus.
"Jadi ... mau 'kan memaafkan aku?" tanya Langit kepada gadis pujaan hatinya itu, sambil mengangkat alisnya.
"Hm," Almahira menganggukkan kepalanya tak lupa senyum lebarnya terpatri di wajahnya yang ayu. Langit pun senang dengan jawaban gadis si pencuri hatinya.
"Terima kasih." Langit pun menggandeng tangan Almahira, serta mengajaknya untuk bergabung di ruang tamu dan menemui Bintang.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1