
Setelah luka - luka Alex diobati, Aurora mengajak Alex ikut dengannya pulang ke mansion miliknya.
" Alex, mau ikut Aunty ?" Ajak Aurora.
Alex terdiam dan melihat ke arah Irene. Dan Irene memberinya tatapan tajamnya. Alex tahu maksud dari tatapan itu. Maka Alex pun menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya kepada Aurora.
" Baiklah kalau kamu nggak mau ikut. Besok Aunty dan Fatih, serta Willi akan main kesini lagi." Kata Aurora sambil tersenyum.
Mendengar itu Alex sangat bahagia. Terlihat jelas dari senyuman di wajahnya dan pancaran matanya. Sedangkan Irene menatap kesal kearah mereka.
Keesokan harinya, pagi - pagi sekali Irene sudah menyuruh para pelayan dan koki menyiapkan hidangan untuk tamunya sarapan pagi, yang mana teman - teman masa sekolah Irene akan berkunjung saat waktu sarapan.
Karena ini acaranya mendadak, banyak para pelayan yang kalang kabut menyiapkannya. Apalagi Irene menginginkan sarapan mereka di taman bunga belakang mansion dekat danau buatan. Entah apa yang ada dipikirannya, ingin mengajak tamu sarapan dengan suasana garden party, dan tanpa menyiapkan sesuatu sebelumnya.
" Ayo cepat, aku ingin semuanya sudah selesai saat tamu - tamu ku datang nanti." Perintah Irene pada para pelayan yang sedang meyiapkan meja dan kursi di taman bunga itu.
" Koki masak beberapa menu sarapan yang enak. Aku tidak mau mengecewakan para tamu karena makanannya tidak enak." Titahnya pada para koki.
Ternyata jam tujuh pagi semua sudah selesai dan siap di hidangkan ketika tamu datang. Alex yang saat itu datang ke dapur seorang diri, dia melihat banyak makanan yang enak tersaji di meja panjang yang ada di dapur itu. Maka Alex pun memakannya dengan lahap, karena sudah beberapa hari ini dia hanya sarapan roti dan jus wortel. Di dapur tidak ada siapa pun karena mereka sedang mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum menyambut tamu Nyonya baru. Kepala Pelayan yang baru, kebetulan masuk kedalam dapur dan alangkah terkejutnya dia melihat makanan yang akan disajikan buat tamu nanti sebagian telah di makan Alex. Dan Alex hampir mencicipi semua menu masakannya.
" Tuan Muda Alex apa yang sedang anda lakukan !" Teriak panik Kepala Pelayan.
" Sarapan," jawab Alex merasa tak bersalah.
Kemudian datang para pelayan lainya ke dapur hendak menyajikan makanannya ke meja taman, karena tamu undangan Irene sudah datang.
" Mana makanan yang akan disajikan untuk tamu. Mereka sudah datang !" Kata salah seorang pelayan.
Mendengar itu semua orang panik, bingung harus bagaimana. Karena mana mungkin harus memasak ulang kembali, karena akan memakan waktu yang lama.
" Bagaimana ini, Nyonya Irene pasti akan marah," kata Kepala Pelayan.
" Tenang pasti ada jalan keluarnya." Ucap si koki.
Maka koki pun menyuruh mereka mengganti piring dan menata lagi sisa makanan yang di makan oleh Alex.
" Tuan Koki apa tidak apa - apa kita menyiapkan ini ?" Tanya Kepala Pelayan.
" Tidak apa - apa. Lihatlah tampilannya sudah cantik kembali, walau takarannya jadi sedikit." Si koki tersenyum.
" Hanya saja kita tidak jadi menyajikan puding mangga, karena sebagian sudah dimakan oleh Tuan Alex," kata Si koki.
__ADS_1
Tak seorang pun memberitahu masalah ini pada Irene. Tapi saat Irene meminta menyajikan puding mangga.
" Pelayan ambilkan puding mangga yang tadi koki buatkan !" Perintah Irene.
" Maaf Nyonya Irene, puding mangganya tadi sudah di makan oleh Tuan Alex." Jawab Kepala Pelayan.
Mendengar itu Irene merasa kebakaran jenggot. Dia sangat marah pada Alex, dan malu pada teman - temannya yang datang.
" Sebagai gantinya Koki kita sudah membuatkan salad buah untuk makanan penutupnya." Kata Kepala Pelayan lagi.
" Kalau begitu cepat sajikan !" Irene malah membentak.
Akhirnya acara sarapan para tamu undangan berjalan dengan lancar. Dan para tamu pulang saat tengah hari. Irene yang sudah menahan amarahnya pada Alex. Menyeret Alex masuk ke kamarnya.
" Berdiri menghadap dinding !" Perintah Irene pada Alex dengan berteriak. Alex yang ketakutan pun menuruti perintahnya.
Ctaaart
Ctaaart
Irene mencambuk Alex menggunakan ikat pinggangnya. Walau ikat pinggang miliknya itu kecil tetap saja Alex merasa kesakitan.
" Maaf Irene....hiks...aku mengaku bersalah...hiks..." Alex terus meminta maaf seiring dengan pukulan cambuk yang diterimanya.
" Kamu bilang maaf semudah itu !!!"
Ctaaart
Ctaaart
Irene terus mencambuk Alex, tanpa mempedulikan tangis pilu Alex yang kesakitan.
" Hiks.... Maaf.... Hiks..."
" Kamu harus dihukum agar kamu jera dan tidak mengulanginya kembali." Kata Irene sambil terus mencambuk punggung bocah yang belum genap empat tahun itu.
" Hiks.... Irene maafkan aku.... Hiks..."
Irene baru berhenti saat merasa dirinya puas. Sedangkan Alex meringkuk di lantai sambil menangis.
" Kamu juga dihukum tidak boleh main lagi sama saudara - saudaramu itu."
" Kalau masih melanggar perintah ku, maka mereka berdua pun akan aku hukum bersama dengan mu !!!"
" Ku mohon.... Hiks.... jangan.... Hiks.... Aku.... Aku.... Hiks.... akan menurutimu.... Hiks....," Kata Alex sambil menangis menahan rasa sakit di punggungnya.
__ADS_1
Irene keluar kamar dan membanting pintu kamar Alex serta menguncinya. Saat Irene turun kebawah Aurora datang mau mengajak Alex jalan - jalan sesuai janjinya kemarin.
" Irene mana Alex ?!"
" Pergi dijemput sama Grandpa-nya !"
" Pergi kemana mereka ?"
" Mana aku tahu. Karena aku tidak suka ikut campur urusan orang lain !" Sindir Irene.
" Justru kadang dengan ikut campur urusan orang lain, membuat kita senang !" Kata Aurora tak mau kalah.
" Dasar wanita tidak tahu diri !"
" Justru aku adalah wanita yang tahu diri. Tidak akan merebut suami orang yang telah berjasa banyak dalam hidupku."
" Aku tidak merebut Arthur dari Anatasya !"
" Karena aku menikah dengannya setelah Anatasya meninggal," sanggah Irene.
" Tapi aku yakin kalau kamu sudah mengincar Arthur jauh - jauh hari sebelum kematian Ana." Aurora menatap tajam Irene.
" Dan saat Ana meninggal, kamu memanfaatkan kesempatan yang ada, kan !"
Irene sungguh tidak suka pada Aurora dari dulu. Aurora selalu menatapnya dengan penuh curiga padanya. Berbeda dengan Anatasya yang selalu menatapnya penuh kasih sayang dan rasa simpati.
" Karena sejak dulu kamu selalu memanfaatkan Ana untuk mencapai semua tujuanmu. Tapi ada satu tujuanmu yang sulit terwujud selama masih ada Ana. Yaitu menjadi Nyonya ANDERSSON." Kata - kata Aurora begitu menekan perasaan Irene.
" Jadi siapa wanita yang tidak tahu diri. Aku atau kamu yang sudah ditolong Ana dan diberi kehidupan yang layak, tetapi selalu menghianatinya ?!"
" Jangan kira aku tidak tahu apa - apa tentang mu. Tunggu saja kebenaran akan segera terungkap !" Aurora mendesis tepat di depan muka Irene.
" Aku juga akan membalas perbuatan mu atas apa yang kamu lakukan pada Alex !" Aurora menunjuk muka Irene memberi peringatan. Kemudian pergi meninggalkan mansion Arthur.
" Kamu pikir aku akan diam saja." Kata Irene penuh kemarahan sambil menatap kepergian Aurora.
Alex kali ini sering berdiam diri di dalam kamarnya. Biasanya dia akan bermain di taman bunga atau halaman. Dan itu membuat para pelayan merasa heran. Saat para pelayan mengajaknya bermain, Alex akan menjawab sedang malas main di luar. Dan saat keesokan harinya Aurora datang lagi, Irene memberikan jawaban yang sama kalau Alex sedang pergi dengan Grandpa-nya. Dan itu membuat Aurora kesal, seolah dia tidak diperbolehkan bertemu dengan Alex.
\* \* \* \* \* \* \*
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, SAMA VOTE.
KASIH BINTANG LIMA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS.
TERIMA KASIH.