
Bintang dan Satria telah sampai ke Jakarta, dan mereka mencari hotel untuk menginap. Mereka sedang berjalan ke luar bandara mencari taxi, yang akan mengantarkan mereka ke hotel.
" Yang, kita mau nginap di hotel mana?" Tanya Satria kepada Bintang yang sedang duduk di berjalan di sampingnya.
" Hotel Artemis saja Mas, seperti biasanya." Jawab Bintang.
" Baiklah kalau begitu." Satria menggandeng tangan Bintang dan tangan sebelahnya lagi dipakai untuk menarik koper.
" Pak, tolong antar kami ke Hotel Artemis, ya!" Pinta Satria kepada sopir yang sedang berdiri di dekat mobil taxi-nya.
Bintang dan Satria pun meninggalkan bandara menuju Hotel Artemis.
******
Setelah seharian keluarga Cantika, keluarga Khalid, dan keluarga Sakti berkumpul, bercengkrama, dan makan bersama. Mereka membubarkan diri saat sore hari.
" Terima kasih Alex, atas jamuannya. Om merasa sangat senang sekali. Lain kali main, berkunjung ke rumah Om,ya." Pinta Sakti begitu dia akan pamit pulang.
" In sha Allah, Om. Karena rencananya kita akan pergi ke Amerika akhir pekan ini." Jawab Alex.
" Ahhh, padahal kita baru saja bertemu. Masa harus berpisah lagi!" Terdengar nada kecewa dari kata-kata Sakti.
" Tapi akan Alex usahakan sebelum keberangkatan keluargaku, kita mampir ke rumah Om." Kata Alex tidak mau membuat Satria kecewa.
" Beneran, ya. Om tunggu kedatangan kalian." Sakti tersenyum bahagia.
Setelah itu pun mereka berpisah, di depan lobi hotel. Sakti beserta keluarganya, memasuki dua mobil, karena Andromeda tinggal di apartemen sendiri. Begitu juga dengan keluarga Khalid mereka memakai dua mobil. Khalid dengan Aurora dan Fatih dengan Zahra.
" Honey, apa kamu masih betah disini?" Tanya Alex pada Cantika sambil melingkarkan tangannya di pinggang Cantika.
Cantika mengerti apa yang di mau Alex, hanya tersenyum jahil padanya. " Terserah anak-anak!" Jawabnya.
" Ayolah, kita menginap disini satu malam, ya!" Terlihat pancaran dari mata Alex yang memohon.
" Kalau anak-anak nggak mau. Gimana?" Cantika tidak bisa menghentikan senyuman jahilnya pada Alex.
" Ah, aku harus merayu anak-anak supaya mau menginap disini." Alex pasrah dengan keputusan akhir nantinya berada di tangan anak-anaknya.
Interaksi Alex dan Cantika, tidak lepas dari pandangan seorang wanita berusia empat puluh lima tahunan. Yang sedang menunggu suaminya, lagi memesan kamar di Hotel Artemis.
" Pasangan yang manis!" Wanita itu tersenyum. Wanita itu adalah Bintang yang sedang menunggu Satria.
__ADS_1
" Yang, ayo kita naik. Aku sudah dapat kamarnya!" Ajak Satria.
Saat mereka akan masuk ke dalam lift. Ada tiga anak kecil bertampang bule keluar dari sana sambil berlarian.
" Kak Angkasa…. Langit….!!! Tunggu! Jangan tinggalin Bintang!" Teriak Bintang sambil berlari berusaha mengejar dua saudara laki-lakinya.
Mendengar nama-nama yang disebutkan oleh gadis kecil itu. Membuat Bintang dan Satria diam mematung sambil melihat ketiga anak itu berlarian di lobi hotel.
" Lucu sekali mereka!" Bintang tertawa melihat ketiga bocah yang berlari saling mengejar itu.
" Nama mereka, sama seperti nama kamu dan kakak-kakak kamu." Kata Satria.
" Iya kamu benar, Mas." Kata Bintang. Dan mereka pun masuk ke dalam lift.
*******
Alex harus menerima keputusan ketiga anak-anaknya, yang tidak mau menginap di hotel. Karena mereka sudah rindu dengan Didi dan Dodo, karena seharian mereka tidak bermain bersama.
Berbeda dengan Alex yang murung dan menjalankan mobilnya dengan pelan. Ketiga anaknya itu malah bernyanyi riang gembira, atau lebih tepatnya Bintang dan Langit yang bernyanyi dengan penuh semangat. Sedangkan Angkasa hanya sesekali pas bagian yang dia tahu liriknya.
Cantika yang melihat mood Alex lagi down hanya bisa mengusap pundaknya, sambil tersenyum.
" Kita bisa makan malam berdua sebelum kita ke Amerika nanti." Cantika mencoba merayu Alex. Tapi tetap saja Alex diam saja tak memberi respon.
Karena kesal dengan sikap diam Alex, Cantika membisikan sesuatu ke telinga Alex. Dan itu membuat Alex mengerem mendadak. Untung dibelakang tidak ada mobil.
" Honey, kamu jangan mengatakan hal sesuatu yang berbahaya di tengah jalan seperti ini." Kata Alex sambil menatap mata Cantika.
" Itu karena, kamu diam saja saat aku mengajak bicara." Kata Cantika memalingkan wajahnya menatap pemandangan di luar kaca mobil di sampingnya.
Alex menjadi merasa bersalah, dan dia meminta maaf kepada Cantika. Anak-anak yang sedang duduk di belakang diam tak bersuara. Mereka bertiga memperhatikan kedua orang tuanya. Yang satu lagi ngambek dan yang satu memohon minta maaf.
" Mama…. Papa…. Apa mobil kita mogok?" Tanya Langit.
" Iya kayaknya mobil kita rusak. Buktinya kita berhenti di tengah jalan." Lanjut Bintang.
" Nggak yang benar adalah, Papa tiba-tiba menghentikan laju mobilnya." Jawab Angkasa.
" Itu berbahaya!!!! Papa!" Teriak Langit dan Bintang bersamaan seolah memarahi Alex.
" Maaf, tadi Papa kehilangan konsentrasi. Saat akan mendapat hadiah dari Mama." Alex tersenyum kepada ketiga anaknya. Dia pun melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya yang tinggal beberapa belokan lagi.
__ADS_1
*******
Alex duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Dia memikirkan hasil laporan dari Michael dan Akira tadi, sesaat sebelum meninggalkan hotel. Alex memejamkan matanya sambil mengingat kembali percakapan dengan Michael di telepon genggamnya tadi.
Satu jam yang lalu….
Alex mengangkat panggilan teleponnya, saat handphone miliknya itu berbunyi. Dan nama yang memanggil tertera di layar.
" Halo, Michael ada apa?" Tanya Alex sambil melihat interaksi istri dan anak-anaknya yang sedang berbicara entah apa.
" Tuan saya mau melaporkan, bahwa dulu di waktu yang hampir bersamaan. Ternyata ada kasus yang sama seperti yang terjadi kepada keluarga Dokter Lazuardi!" Kata Michael di seberang sana.
" Maksud kamu?" Tanya Alex.
" Semenjak satu bulan itu ada lima kejadian serupa. Yaitu pembantaian satu keluarga dan rumah mereka juga dibakar." Lapor Michael lagi.
" Apa kamu tahu siapa saja yang menjadi korban dari kejadian itu?" Alex menjadi makin penasaran dengan kasus yang menimpa keluarga Dokter Lazuardi.
" Iya, saya sudah mengantongi nama-nama keluarga yang mengalami tragedi itu!" Jawab Michael.
" Bagus. Aku tunggu laporan lengkapnya." Kata Alex sebelum menutup panggilannya itu.
*******
Cantika yang baru keluar dari kamar mandinya, melihat Alex sedang memejamkan matanya sambil terduduk di sofa. Cantika merasa kasihan dengan suaminya itu. Alex terlalu memplosir tenaga dan pikirannya. Mengurus perusahaan miliknya, ikut mengurus dan mengajarkan Erlangga dalam mengelola Mega Mall warisan ayahnya. Dan sekarang, Alex juga ikut mencari keluarga ayahnya.
" Sayang, tidurnya di ranjang saja. Nanti badan kamu sakit." Cantika menyentuh pundak Alex.
Alex yang merasakan sentuhan dari Cantika malah menariknya supaya duduk di pangkuannya. Kini Alex memeluk Cantika dan membenamkan wajahnya di leher Cantika. Menghirup wangi sabun di tubuh istrinya itu. Yang membuat pikirannya tenang.
" Honey, diam sebentar saja." Kata Alex sambil mengeratkan pelukannya kepada Cantika.
" Ada apa? Ceritakan kepadaku!" Bisik Cantika, sambil mengelus kepala Alex.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL, BUNGA, KOPI, YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1