
Cerita masih flashback....
Langit memberikan koran yang dipegangnya kepada Satria. Dan Satria pun membacanya dengan seksama berita di koran itu.
" Ngeri juga ya, kasus pembunuhan dan pembakaran rumah korban!" Kata Satria dengan suaranya yang pelan.
" Kak Langit sepertinya sebentar lagi pesawatnya akan take off. Aku harus segera pergi." Kata Angkasa sambil melihat jam tangannya.
" Ya, sudah. Ayo kita antar Angkasa masuk kedalam." Langit pun membawa koper milik Angkasa. Dan mereka semua mengikutinya dari belakang.
" Aduh, Kak Satria. Kenapa ya, tiba-tiba jantung Bintang berdebar dengan kencang!" Kata Bintang sambil memegang dada yang dirasanya sakit.
" Kenapa bisa begitu?" Tanya Satria sambil meletakkan telapak tangannya di kening Bintang. " Nggak panas kok!" Katanya lagi.
" Bukan itu maksud Bintang! Hati dan pikiran Bintang tiba-tiba tidak tenang!" Balas Bintang dengan bibir mengerucut lucu.
" Mungkin karena kamu akan berpisah sama Angkasa? Kalian kan kaya Tom and Jerry." Satria tertawa renyah, dan Bintang membalas dengan pukulan di lengan Satria.
Angkasa dan saudaranya saling berpelukan karena mereka akan berpisah. Tentu saja Bintang menangis paling duluan.
" Sudah jangan nangis, nanti Kakak bawakan oleh-oleh dari Jerman." Kata Angkasa menenangkan adik perempuannya itu.
" Entah kenapa hati Bintang merasa sangat sedih, takut nggak bisa bertemu lagi dengan Kak Angkasa!" Bintang masih menangis di dalam pelukan Angkasa.
Mendengar ucapan Bintang barusan, Angkasa langsung mencubit gemas pipi chubby adiknya itu.
" Kamu mendo'akan Kakak biar nggak kembali pulang!" Kata Angkasa gemas kepada Bintang.
" Sakit…!" Bintang berusaha melepaskan pipinya dari cubitan Angkasa.
" Sudah sana pergi. Nanti malah ketinggalan pesawat lagi!" Langit menengahi kedua adiknya itu.
*******
Dalam perjalanan pulang semua orang terdiam dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba Satria mengalihkan pandangannya kepada Langit yang duduk di kursi samping pengemudi. Sesaat matanya melihat Bintang yang sudah tertidur di kursi belakang.
__ADS_1
" Kak Langit, tadi bilang kalau ada teman Ayah Lazuardi yang jadi korban pembantaian dan pembakaran berantai itu, ya?" Tanya Satria sambil mengalihkan pandangannya ke Langit, kemudian kembali fokus ke depan.
" Iya, keluarga Pak David. Istrinya yang seorang dokter itu teman seprofesi Ayah." Jawab Langit.
" Tapi diantara nama-nama keluarga yang jadi korban juga ada dua nama keluarga yang dulunya teman Bapak saat menjadi tentara. Keluarga Matius dan keluarga Haris." Kata Satria.
Langit mencoba merangkaikan pikirannya, yang tak menentu sejak melihat ada pistol di bawah meja di ruang tamu. Dan dia juga menemukan pistol di laci meja bar di dapurnya, saat tadi mencari gunting untuk membuka plastik Snack. Karena sangat aneh ada pistol disembunyikan di dapur.
" Kalau mereka berdua teman Pak Dirman saat menjadi tentara, berarti mereka juga temannya Ayah!" Pekik Langit terkejut saat tahu fakta itu.
" Aku rasa begitu! Sejak tadi aku mengingat-ingat nama-nama yang tidak terasa asing itu bagiku. Dan saat kita melewati markas tentara nasional barusan, aku jadi mengikat mereka." Kata Satria.
". Kalau gitu saat ini keadaan di rumah sedang gawat! Aku merasa aneh kenapa hanya kita yang disuruh mengantar Angkasa ke bandara. Tanpa diantar oleh Ayah, Ibu, dan Pak Dirman." Wajah Langit langsung pucat saat menyadari itu.
" Cepat ngebut! Kita harus segera sampai ke rumah!" Perintah Langit kepada Satria. Dan Satria pun melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal karena jalanan lenggang.
" Jadi ini sebabnya kenapa Kak Angkasa di suruh berangkat malam ini oleh Ayah ke Jerman!" Kata Bintang dan berhasil membuat kedua orang yang duduk di depannya kaget.
" Apa maksud kamu, Bintang?" Tanya Langit sambil memutar tubuhnya.
" Ah! Kenapa bisa ada kejadian seperti ini!" Langit perasaannya sudah tidak menentu.
******
Kini mobil yang dikemudikan oleh Satria telah terparkir di halaman rumah Dokter Lazuardi. Kedatangan mobil mereka membuat para penghuni rumah sungguh terkejut. Mereka tak menyangka kalau anak-anak itu akan sampai lebih dulu dari orang-orang yang telah ditunggu-tunggu oleh mereka.
" Kenapa mereka pulang lebih cepat satu jam dari perkiraan!" Lazuardi melihat mobilnya sudah terparkir di halaman depan.
" Assalammu'alaikum" salam ketiga anak itu.
" Wa'alaikumsalam" jawab Lazuardi yang berada di dekat pintu.
" Kenapa kalian pulangnya cepat sekali!" Kalian nggak menunggu Angkasa sampai naik pesawat?" Tanya Lazuardi sambil menutup pintu depan.
" Kami menunggu Angkasa sampai naik pesawat. Hanya saja saat pulang kita ngebut." Langit hanya bisa tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
__ADS_1
Belum juga Lazuardi membuka mulutnya, di halaman depan sudah terdengar suara dari beberapa mobil yang mulai terparkir.
" Langit bawa Bintang bersembunyi, cepat!" Perintah Lazuardi dengan suara rendahnya.
Langit langsung menarik Bintang ke lantai atas. Sedangkan Satria didorong oleh Lazuardi ke arah ruang keluarga.
" Satria kamu pergilah bersembunyi, aku titipkan ketiga anakku padamu. Terutama Bintang, kumohon jagalah dia. Apapun yang terjadi jangan sampai kalian ketahuan oleh mereka!" Perintah Lazuardi kepada anak angkatnya.
Lazuardi pun menghadang mereka yang langsung menyerbu masuk lewat pintu depan. Ada sekitar tiga orang yang masuk lewat pintu depan, dan sisanya masuk lewat pintu samping dan pintu belakang tempat kamar para pegawai.
" Senang bertemu kembali dengan anda. Pak Lazuardi, wakil ketua tim Garuda. Sudah lama ya, sejak terakhir aku melihatmu." Kata seorang laki-laki berbadan kurus tapi wajahnya memiliki garis rahang yang keras.
" Apa aku pernah bertemu denganmu, sebelumnya?" Tanya Lazuardi kepada laki-laki yang kini sedang duduk di kursi tamu sambil menaikan kakinya ke atas meja.
" Hm…. Aku pernah melihat wajahmu walau sudah dilumuri oleh arang. Tapi sorot mata milikmu itu tidak akan pernah aku lupakan!" Katanya lagi.
" Wah, memangnya ada apa dengan sorot mata milikku?" Tanya Lazuardi berusaha mengulur waktu buat anak-anak itu bisa kabur.
" Sama seperti mereka yang mati demi kemerdekaan negeri ini!" Katanya sambil menganggukkan kepalanya.
" Oh, aku sungguh tersanjung bisa disamakan dengan mereka yang para pahlawan negeri ini." Jawab Lazuardi dengan nada santainya.
" Kamu juga pasti sudah tahukan akhir dari orang-orang seperti itu?" Katanya lagi sambil mengeluarkan cerutunya. Dan dia pun menyalakan api dari gasolin miliknya. Dihisapnya kuat-kuat cerutu itu, kemudian di hembusannya sehingga asapnya menyebar di ruang tamu itu, dan bau khas dari cerutu itu dapat tercium sampai ke ruangan lainnya, karena terbawa angin malam.
" Ya, bagi kami para patriot bangsa. Menjaga kedamaian dan keamanan negeri ini adalah suatu kewajiban yang dijalani dengan sepenuh hati dengan jiwa raga kami." Lazuardi mulai menerka siapa mereka ini.
" Apa anda sudah tahu, apa yang sudah terjadi kepada rekan tim Garuda anda yang lainnya?" Tanyanya dengan mata yang menatap Lazuardi tajam. Mendapat pertanyaan itu Lazuardi tidak langsung menjawab.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH, MALAH BIKIN SEMANGAT LAGI.
__ADS_1
TERIMA KASIH.