
Sesaat setelah Langit dan Bintang naik ke lantai atas, Angkasa melawan sisa musuh yang tinggal beberapa orang lagi. Musuh yang sudah kehabisan peluru, akhirnya memilih bertarung dengan tangan kosong. Angkasa paling suka melawan musuh menggunakan ilmu beladiri pencak silat dan judo. Tidak sampai memakan waktu banyak, musuhnya dapat dikalahkan semuanya.
Angkasa mendengar suara mobil dan saat dilihat ternyata ada sekitar sepuluh mobil yang datang, serta memenuhi halaman rumah Madrid. Banyak sekali orang yang keluar dari mobil-mobil itu. Diantara semua orang yang turun dan berjalan menuju teras, ada seorang kakek-kakek yang wajahnya mirip Athena.
"Apa dia itu kakeknya Athena?" gumam Angkasa dari balik gorden.
Banyak orang yang masuk ke dalam ruangan dan hanya beberapa saja yang berjaga di luar. Angkasa kepergok oleh salah satu anak buah itu.
"Tuan San Marino, ada orang asing di sini!" lapornya kepada pemimpin mereka.
Kakek yang dipanggil San Marino kini, menatap ke arah Angkasa. Begitu juga sebaliknya, Angkasa menatap tidak percaya kalau dia akan bertemu dengan salah satu petinggi legenda dari kelompok Red Dargon.
"Wah, siapa ini? Kalau dilihat dari wajahnya kamu mirip Alex anaknya Arthur," kata San Marino begitu melihat Angkasa.
Angkasa diam saja tidak menjawab apapun. Tindakannya itu membuat San Marino jengkel. Orang yang menjadi kaki tangan San Marino pun, berjalan ke arah Angkasa dan hendak memukul wajahnya. Namun, Angkasa dengan sigap menahan pukulan itu.Ternyata beberapa orang yang lain pun ikut menyerang Angkasa, secara bersamaan-sama.
Kondisi Angkasa yang sudah kelelahan dari tadi terus berkelahi. Menjadi mudah kena pukulan dan tendangan dari musuh. Dia tidak bisa menghindari serangan yang bertubi-tubi terus dilancarkan oleh mereka. Angkasa juga berhasil mengalahkan beberapa lawannya. Hanya saja, dia merasa kalau musuhnya itu tidak ada habisnya.
Angkasa tidak bisa menggunakan senjatanya. Dia yakin pelurunya tinggal sedikit. Kalau dia memaksa menggunakan pistok, pasti kelompok San Marino juga akan menggunakan senjata mereka. Hal itu akan merugikan dirinya, meski sudah memakai baju anti peluru, tetapi bagian kepalanya tidak memakai pelindung saat ini.
Angkasa mendapat tendangan keras dibagian perut dan dada beberapa kali. Begitu juga punggung dan kaki sehingga dia muntah darah berkali-kali. Kedua tangannya dipegang erat oleh dua orang dan yang lain memberikan pukulan ke tubuh Angkasa. Wajahnya pun sudah bengkak serta banyak lebam menghiasi di sana-sini.
Pertarunhan itu sangat tidak adil. Satu anak remaja melawan hampir seratus orang. Angkasa pun tumbang tidak sadarkan diri.
"Hebat juga dia. Akan bagus kalau menggantikan posisi aku," kata San Marino begitu pertarungan itu selesai.
Banyak anak buah San Marino yang terluka parah akibat luka dan tidak sadarkan diri yang dibuat oleh Angkasa.
"Tuan, akan kita apakan orang ini?" tanya orang yang menjadi kaki tangan San Marino.
"Siapa kalian?" terdengar suara dari lantai atas.
"Kenalkan aku San Marino. Salah satu Petinggi kelompok Red Dragon," jawabnya dengan penuh wibawa saat melihat Bintang berdiri di lantai atas.
"Anda Kakeknya Athena?" tanya Madina karena begitu jelas warna iris mata mereka sama.
__ADS_1
"Kamu mengenal Athena?" tanya Sam Marino balik kepada Madina.
"Kita satu unversitas dan sering bertemu," jawab Madina.
"Oh, kamu sepertinya anak yang baik. Tidak seperti anak sombong ini." Tunjuk San Marino pada seseorang yang berbaring di lantai.
Langit dan Bintang sangat terkejut melihat kembaran mereka, kini terkapar penuh darah.
"Kakak!"
"Kak Angkasa!"
Langit dan Bintang sangat marah melihat saudara kembar mereka terkapar di lantai dalam tidak sadarkan diri. Keduanya langsung melompat ke lantai bawah. Langit menendang San Marino sedangkan Bintang menarik tubuh Angkasa dan membawanya menjauh.
Gerakan Langit dan Bintang yang tiba-tiba dan sangat cepat. Membuat orang-orang di sana terpana sesaat sampai mereka sadar saat tubuh San Marino terlempar jauh dan menabrak dinding terkena tendangan Langit, yang sangat kuat.
Anak buah San Marino langsung menyerang Langit dan Bintang, ada juga yang melindungi tuannya. Langit dan Bintang berkelahi tanpa memberi ampun. Mereka menggunakan senjata pisau kembar yang memiliki lingkaran di ujungnya agar memudahkan dalam menggunakannya saat berkelahi.
Disaat semuanya sibuk menyerang, membalas dan bertahan dalam perkelahian. Akira dan Athena datang ditengah-tengah hiruk pikuk kekacauan itu. Mereka pun ikut membantu Langit dan Bintang. Athena bahkan menembaki anak buah kakeknya.
San Marino yang baru melihat Athena lagi, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, merasa sangat senang. Dia terteriak mencoba menghentikan perkelahian itu.
Anak buah San Marino banyak yang sudah terkapar tidak berdaya. Tinggal kurang dari sepuluh orang yang masih bertahan dan mampu melakukan perlawanan.
"Kalian berhenti!" Lagi-lagi San Marino berteriak meminta untuk berhenti.
Kali ini semua orang berhenti dan mengalihkan perhatian kepada kakek yang berdiri di dekat jendela. Tangannya juga sudah memegang pistol.
Lagi-lagi terdengar suara mobil berhenti di halaman depan. Bunyi tembakan dan teriakan saling bersahutan, kemudian berhenti. Derap langkah kaki langsung terdengar memasuki rumah Madrid.
Jonathan masuk bersama anak buahnya yang berjumlah begitu sangat banyak. Dia memperhatikan ruangan itu yang keadaan sangat kacau.
"Kenapa Angkasa sampai keadaannya seperti itu?" tanya Jonathan.
"Ini ulah kakek-kakek itu dan anak buahnya, Uncle Jo," jawab Bintang.
__ADS_1
Jonathan pun melihat ke arah San Marino yang ditujuk oleh Bintang tadi. Kedua orang manula itu saling bertatapan. Ada pancaran kebencian dari keduanya. Dendam di masa lalu yang belum terselesaikan kembali memicu emosi keduanya.
"Kau berani-beraninya melukai cucunya Arthur! Padahal aku tidak melakukan kekerasan kepada cucumu kemarin saat datang ke rumahku. Seharusnya, kemarin aku bunuh saja gadis itu." Jonathan sangat marah dan dia akan membalas semua dendamnya hari ini juga.
Athena yang mendengar itu langsung memeluk lengan Akira. Dia meminta Akira untuk melindungi dirinya dari Jonathan.
"Kamu tenang saja. Aku akan melindungi dan menjaga kamu!" kata Akira kepada Athena.
"Aku belum mau mati. Aku belum menikah sama kamu sesuai impianku." Athena sudah berkaca-kaca dan Akira memberikan satu kecupan di kening.
"Akan aku pastikan impian kamu akan terwujud." Akira menghapus air mata Athena yang jatuh membasahi pipinya.
Jonathan memberikan kode kepada anak buahnya untuk menyelesaikan semua kekacauan ini. Sementara itu, dirinya berhadapan dengan San Marino, tidak ada yang boleh mengganggunya.
Langit berlari ke arah Angkasa dan memeriksa keadaannya. Urat nadinya masih berdenyut. Bintang membersihkan darah yang ada di wajah Angkasa.
"Kak Angkasa, bangun! Bisa mendengar suaraku?" Langit meremat tangan Angkasa, tetapi tidak ada reaksi darinya.
"Bagaimana ini?" tanya Madina yang baru ikut bergabung.
******
Peter membawa Madrid dengan tangan yang diborgol kebelakang. Begitu sampai di bibir tangga, dia melihat banyak orang yang sudah tidak berdaya dan sebagian lagi berkelahi. Mata dia menelusuri seluruh ruangan itu mencari tuannya. Betapa terkejutnya dia, saat melihat Angkasa dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Tuan Muda Angkasa!"
******
Bagaimanakah akhir dari perseteruan antara Jonathan dan San Marino?
Apa dendam yang mereka miliki di masa lalu?
Tunggu kelanjutannya ya.
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
TERIMA KASIH.