
Jonathan masih mengacungkan senjatanya kepada Athena dan San Marino. Kebetulan dipistolnya masih ada sisa dua peluru lagi. Menurut dia cukup untuk melenyapkan musuh dan keturunan Morino.
Akira yang melihat Athena memohon sambil menangis dan duduk bersimpuh dihadapan Jonathan, sangat merasa kesal. Dia pun berjalan dan menarik Athena, agar menjauh dari sana.
"Jangan mengganggu mereka!" Akira tidak mau kalau nanti Athena juga ikut menjadi korban. Dia tahu dunia hitam itu seperti apa?
"Tapi, kakek ...," ucap Athena.
"Aku tidak mau kamu ikut mati," balas Akira.
"Ta—" ucapan Athena terpotong oleh ciuman Akira.
"Setelah ini kita akan menikah!" Akira menatap Athena, agar kekasihnya itu melihat kesungguhan dia untuk hidup bersamanya.
"Iya." Athena pun memeluk Akira.
Peter dan Madina menatap pasangan yang baru saja melakukan lamaran pernikahan di saat keadaan kacau begini. Peter pun iri dan ingin melakukan hal yang sama kepada Madina. Maka, dia pun melirik ke arah Madina, yang ternyata sama-sama melihat kepadanya.
"Apa kamu menjadi istriku? Untuk di dunia dan akhirat?" tanya Peter dengan segenap perasaannya.
Madina bukannya tidak mau, hanya saja dia belum bicara lagi dengan orang tuanya. Kemarin bilang, mereka kedatangan tamu yang ingin melamar dirinya. Mereka sudah merasa cocok dengan laki-laki itu dan berharap liburan kali ini, dirinya bisa pulang dan akan dipertemukan dengannya.
__ADS_1
Madina bingung, satu sisi hatinya sudah mulai terpaut kepada Peter. Namun, sisi yang lain tidak mau mengecewakan orang tuanya yang sudah mempunyai calon terbaik untuknya. Akhirnya, hanya ada air mata yang keluar untuk mengungkapkan perasaan dia.
Melihat Madina menangis, Peter merasa bersalah. Mungkin dia bergerak terlalu cepat. Tidak seperti Angkasa yang bergerak cepat tapi pas dengan tujuannya. Akira juga bergerak cepat dan mendapat sambutan baik dari wanitanya. Namun, Peter baru sadar kedua orang itu bergerak cepat dan mendapatkan balasan yang diharapkan karena wanitanya juga sama-sama punya perasaan saling mencintai.
Peter pun tersenyum kecut, dia mengira kalau Madina tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia pun langsung membalikan badan dan membopong tubuh Angkasa untuk dibawa ke rumah sakit.
"Biar saya saja yang membawa Tuan Muda Angkasa, agar bisa cepat mendapat perawatan," kata Peter langsung saat Bintang dan Langit baru membuka mulutnya.
Madina menangis tergugu saat melihat Peter pergi. Bintang dan Langit, terkejut saat mendengar Madina menangis. Akira dan Athena pun mengalihkan perhatian mereka kepada Madina.
"Kamu kenapa?" tanya Bintang.
Belum juga Madina menjawab pertanyaan dari Bintang. Terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga. Semua pun melihat ke arah sumber suara.
"Athena dengarkan baik-baik, perkataan terakhir dari kakekmu!" Suara tinggi Jonathan memenuhi ruangan itu.
Semua anak buah San Marino sudah dikalahkan. Sepuluh orang yang sisa terakhir tadi juga sudah mati semua di tangan anak buah Jonathan.
Kini keadaan dalam keadaan senyap. Maka, San Marino pun akhirnya berbicara.
"Athena, cucuku. Kamu harus tahu kenapa orang tuamu bersikap masa bodo dan sangat sibuk sampai kamu merasa di terlantarkan. Itu karena akan banyak orang yang mengincar nyawa kamu. Jika, orang lain tahu siapa identitas asli kamu. Mereka juga selalu memantau keadaan kamu. Begitu juga dengan diriku, yang selalu memantau keberadaanmu. Seperti, tadi kalian pergi kencan kemana? Makan apa saja? Semuanya kakek mendapat laporannya. Begitu juga orang tua kamu. Jangan beranggapan kalau kamu itu orang yang tidak diinginkan oleh siapapun dan memilih mati. Banyak orang yang sayang dan peduli sama kamu. Maka, hiduplah lebih lama dan cari kebahagian kamu bersama orang-orang yang mencintai dan menyayangimu. Jangan libatkan dirimu di dunia bawah dari kelompok mafia."
__ADS_1
"Iya, Kek," jawab Athena berlinang air mata.
"Akira, aku titip Athena! Bahagiankan 'lah cucu kesayanganku. Aku percayakan dia kepadamu."
San Marino pun menatap Jonathan, dia sudah siap menerima eksekusi. Jonathan pun memberi kode dan anak buahnya pun memahami kode itu.
"Tuan Muda Langit dan Nona Bintang, kalian harap segera pergi dari sini!" pinta kaki tangan Jonathan.
"Tuan Akira dan Nona Athena juga, sebaiknya keluar dari sini."
Madina yang tidak tahu apa-apa ditarik oleh Bintang agar ikut bersamanya. Dia pun hanya menurut saja karena situasi di sana juga sangat mengerikan untuknya.
"Kita susul Peter dan Kak Angkasa!" ajak Bintang melihat wajah Madina yang terlihat bingung.
Madina pun akan memanfaat kesempatan ini untuk berbicara dengan Peter. Dia pasrah saja kisah cintanya apa akan berakhir bahagia dengan Peter atau dengan laki-laki lain.
******
Jangan lupa klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.
Dukung aku terus dengan memberikan komen yang membangun.
__ADS_1
Terima kasih.