Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 46


__ADS_3

     Langit dan yang lainnya segera pergi meninggalkan markas milik kelompok Madrid. Saat mereka sudah masuk ke dalam mobil dan pintu rumah Madrid ditutup. Terdengar suara tembakan beberapa kali.


     Akira memeluk Athena yang kini sedang menahan tangisnya. Athena tahu suara tembakan itu adalah eksekusi dari Jonathan untuk kakeknya. Dia baru sadar kenapa mama papa, selama ini selalu menyembunyikan dirinya dari orang luar dan jarang mengajak pergi kemana-mana.


     Dunia bawah memang sudah mengenal San Marino dan putra tunggal yang kabur dan memutuskan hubungan dengannya. Untuk melindungi Athena, cara terbaik adalah dengan menyembunyikan identitas asli.


     Langit pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena terus diperintah oleh Bintang. Padahal, dia juga harus memperhatikan rambu-rambu lalulintas.


     Bintang belum tenang hati dan pikirannya karena masih mencemaskan kondisi Angkasa. Dia tidak mau kalau Angkasa harus menjadi korban.


     Berbeda dengan Madina yang menahan rasa kesal sama dirinya sendiri. Dia kali ini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi.


******


     Peter membawa Angkasa ke rumah sakit dengan kecepatan penuh. Dia tidak mau membuang-buang waktu, untungnya tidak ada polisi yang menilang dia karena mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.


     Angkasa langsung dimasukan ke UGD agar segera mendapatkan perawatan. Dokter jaga pun langsung mengobati luka yang ada pada tubuh Angkasa.


     Selagi Angkasa menjalani perawatan, Peter duduk di kursi dekat ruang UGD. Kini dia malah teringat kepada Madina. Gadis pemalu yang baru beberapa hari tidak ditemuinya secara langsung, membuat dia menjadi galau. Selama beberapa hari ini, mereka menjalin komunikasi dengan baik. 


     Peter mengira kalau perasaannya disambut baik oleh Madina. Dia terlalu percaya diri cinta itu mendapat balasan dari gadis pujaan hatinya.


"Kamu bodoh, Peter! Mana mungkin gadis baik-baik seperti Madina mau menerima langsung laki-laki sepertimu!" Peter bermonolog tidak peduli ada orang yang memperhatikan.


"Dia pasti punya laki-laki yang menjadi kriteria sendiri sebagai pendamping hidup," gumam Peter kali ini.


     Peter berjalan mondar-mandir karena belum mendapat kabar tentang Angkasa dari dokter yang memberikan perawatan untuknya. Dia pun melihat gerombolan Langit dan Bintang berlari kearahnya. Juga di sana ada Madina yang berlari ditarik oleh Bintang.


"Peter bagaimana keadaan Kak Angkasa?" tanya Langit.


"Belum ada kabar." Peter menggelengkan kepalanya.


     Madina berjalan mendekati Peter dan berdiri di sampingnya. Dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Peter.

__ADS_1


"Apa bisa kita bicara?" Suara Madina mencicit dan tangannya menarik sedikit ujung kemeja Peter.


"Hm, katakan 'lah!" jawab Peter.


"Apa tidak apa-apa kita membicarakannya di sini?" tanya Madina lagi.


     Peter pun berjalan menjauh dari gerombolan karena dia yakin kalau Madina akan membicarakan sesuatu yang penting. Peter mengajak ke kantin sekalian membeli minuman.


"Ada yang mau saya bicarakan," ucap Madina begitu mereka duduk.


"Katakan langsung to the points. Karena yang lain pasti ingin minum setelah kejadian tadi," balas Peter.


"Ikut aku ke Indonesia!" ajak Madina.


"Untuk apa?" tanya Peter langsung dengan nada datar.


     Madina menjadi semakin gugup. Dia yang tidak pernah duduk berdua dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Merasakan jantungnya berdetak begitu kencang sampai lidahnya terasa kelu dan tidak mampu berbicara. Madina pun menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Peter.


"Untuk apa? Aku ikut kamu ke Indonesia." Peter berbicara lebih lembut kali ini.


     Peter ingin tersenyum, tetapi ditahan. Saat melihat tangan Madina saling bertautan karena gugup. Juga suaranya yang bergetar.


"Aku ingin tahu dulu perasaan kamu kepadaku, itu seperti apa? Apa kamu mencintaiku?" Peter menatap Madina dengan lekat.


"Aku menyimpan rasa cintaku hanya untuk suami nanti. Jika, Peter bersungguh-sungguh ingin menjadikan aku pendamping, maka temuilah Abi. Bicara kepadanya karena dia adalah wali aku. Orang yang bertanggung jawab atas diriku." Madina masih menundukkan kepalanya.


"Jika, aku sudah menemui Abi. Terus beliau bilang semuanya diserahkan kepada kamu. Apa yang akan kamu katakan saat itu?" Peter juga jadi ikutan gugup dan mengepalkan kedua tangannya.


"Asal kamu mau menjadi imam yang baik bagi aku dan keluarga aku kelak. Aku akan katakan 'aku bersedia' seperti itu," balas Madina.


     Peter langsung berdiri dan berjalan ke arah Madina. Menghadapkan tubuh Madina kepadanya. Lalu dia berjongkok dan mengeluarkan cincin berlian bermata hijau sesuai kesukaan Madina.


"Kemarin aku datang ke Indonesia bersama Mommy, dan bersama keluarga Khalid menemui Abi. Mommy melamarkan kamu untukku, dan meminta anak Abi yang cantik ini untuk dijadikan menantunya. Lalu Abi bilang semuanya dikembalikan kepada putrinya. Jika, kamu mau menjadi pendamping aku, itu berarti lamarannya diterima. Namun, bila kamu tidak mau berarti lamaran itu di tolak." Peter bercerita dengan penuh semangat dan senyum diwajahnya terus terpasang.

__ADS_1


"Tunggu. Apa yang sudah datang ke rumah dan mengajukan lamaran itu kamu, Peter?" tanya Madina.


     Peter tersenyum tersipu malu, kalau dia sudah tidak sabar meminta mommy-nya untuk melamarkan sang pujaan hati kepada orang tua si gadis. Bahkan dia meminta bantuan Khalid untuk membantunya dalam proses lamaran. Peter juga mengucapkan ikrar syahadat di pesantren milik Abi Madina. Bagi Peter yang selalu bersama si Trio Kancil bukan hal aneh jika dia tahu banyak soal agama Islam. Saat mereka belajar kadang dia ikut duduk di samping mereka untuk mengawal. Belum lagi dia juga selalu ikut saat Angkasa pergi ke acara forum-forum diskusi pemuda muslim. Maka saat Abi mengetes, Peter bisa menjawabnya dengan baik. Abi tidak mau kalau Peter masuk Islam karena ingin menikahi Madina. Jika tidak tulus dalam hati, maka hanya akan ada kehancuran atau kerusakan nantinya.


"Maaf, aku langsung menemui Abi tanpa memberi tahu kamu dahulu." Peter ingin sekali merengkuh tubuh Madina dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa. Justru aku senang kalau Peter langsung menemui Abi. Aku kemarin sempat bimbang saat Abi bilang ada seseorang yang melamar. Bahkan beliau berharap kalau aku mau menerimanya karena Abi suka dengan pemuda itu." Senyuman Madina tidak lepas dari bibirnya yang merah alami.


"Aku akan bilang sama Abi, kalau kamu menerima aku sebagai calon suamimu." Peter pun mengeluarkan handphone dan langsung menghubungi Abi.


"Assalammualaikum, Abi." Peter yang jongkok di depan Madina agar mereka bisa terlihat di layar.


"Wa'alaikumsalam." Wajah Abi dan Uma terlihat di layar handphone Peter.


"Madina sudah menerima aku. Jadi lamarannya diterima, ya!" Peter berkata dengan semangat membuat Madina tertawa kecil.


"Beneran Madina? Kamu sudah yakin dengan keputusan itu?" tanya Abi.


"Ini sha Allah, Abi. Madina sudah istikharah beberapa malam kemarin dan hari ini tertuju kepada Peter," jawab Madina dengan tersipu malu.


"Berarti Abi, besok jadi ya! Menikahkan kami." Peter menagih janji Abi, jika Madina menerimanya maka mereka akan langsung dinikahkan.


"Iya. Makanya kalian cepat pulang ke Indonesia!" perintah Abi.


******


Peter - Madina sudah kelar.


Lalu bagaimana dengan Angkasa?


Tunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa klik like, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2