Trio Kancil

Trio Kancil
Season 2 #Chapter 9


__ADS_3

Kelima bocah itu mencari petunjuk, pemilik rumah hantu itu. Angkasa dan Langit mencari sesuatu di lemari buku yang ada disana. Bintang dan Didi mencari di lemari bufet. Sedangkan Dodo hanya duduk sambil memainkan miniatur bangunan terkenal di dunia.


    Angkasa membuka beberapa buku yang berjejer di bagian paling atas. Dia mengambil kemudian dibukanya satu persatu buku itu dengan cepat. Begitu halnya dengan Langit, dia membuka buku - buku yang berada di bagian bawah.


" Buku - buku ini hanya berisi tentang sejarah dunia. Dan orang orang terkenal di dunia," kata Angkasa setelah membuka dan membaca beberapa buku yang berada di bagian atas.


" Kalau bagian bawah isinya buku - buku tentang kesehatan. Nama - nama penyakit kronis yang tanda - tandanya." Langit membaca salah satu buku yang sedang dipegangnya itu.


" Sepertinya pemilik rumah ini ada hubungannya dengan dokter, perawat atau tenaga medis lainnya!" Kata Bintang.


     Mendengar kata - kata Bintang, kedua saudara kembarnya itu, mengalihkan pandangannya pada Bintang. Dilihatnya Bintang sedang memegang stetoskop dan alat pengukur tekanan darah.


" Kamu menemukan itu dari mana?" Tanya Angkasa.


" Disimpan di dalam laci paling atas, di bufet ini!" Bintang menunjuk laci bagian atas bufet yang masih terbuka.


" Ya, Langit rasa juga begitu. Karena banyak buku tentang kesehatan, baik jenis - jenis penyakit, jenis - jenis tanaman yang bisa dijadikan obat. Cara pencegahan penyakit menular. Cara memberikan pertolongan pertama pada pasien." Langit membaca judul - judul buku yang berjajar di dekatnya.


" Apa penghuni rumah ini dulunya adalah seorang dokter?" Tanya Didi.


" Ya, mungkin saja." Angkasa mengangkat bahunya.


" Kak lihat patung ini bisa mengeluarkan api!" Teriak Dodo yang sedang memegang payung Liberty. Dan patung itu mengeluarkan api di bagian obornya.


" Itu kamu diapain?" Tanya Didi sambil menghampiri Dodo.


" Matikan, itu berbahaya!" Teriak Angkasa.


" Iya, kita harus berhati - hati. Jangan sampai terjadi kebakaran." Lanjut Langit sambil melihat ke arah Dodo.


     Dodo pun menyerahkan miniatur patung Liberty itu pada kakaknya, Didi. Dan saat Didi menerima patung miniatur itu apinya mati. Kemudian Didi membulak - balikan patung Liberty itu.


" Do, tadi kamu bisa mengeluarkan apinya dari mana?" Tanya Didi penasaran.


" Kepalanya ditekan, Kak." Jawab Dodo dengan suara rendah karena takut dimarahi oleh kakaknya.


    Didi pun menekan kepala patung Liberty itu dan api pun keluar dari obornya.


" Wah…. Ternyata benda ini bukan hanya pajangan ternyata." Didi tersenyum lebar sambil menghidup matikan api dari patung miniatur itu.

__ADS_1


" Hehe… hai, siapa tahu benda yang lainnya juga punya fungsi lain, seperti patung ini!" Didi antusias mengamati dan membolak - balik benda - benda berbentuk bangunan terkenal di dunia itu.


     Ternyata bukan hanya Didi saja yang tertarik pada benda - benda itu. Langit juga sangat penasaran dengan miniatur dari bangun terkenal di dunia itu. Menara jam Big Ben juga dulunya bisa berfungsi sebagai jam. Karena ada batu baterai, di dalamnya.


" Hai, bagaimana kalau kita mencari di ruang yang lainnya lagi?" Ajak Bintang yang sedang berdiri di dekat pintu yang dibukanya.


    Keempat anak laki - laki yang masih asik mengamati miniatur itu, teralihkan pada Bintang.


" Ya, aku setuju!" Ucap Angkasa dan menyimpan miniatur menara Eiffel yang tadi dipegangnya.


" Lebih baik kita cari sesuatu di kamar tidur," kata Langit sambil mengekori Angkasa.


" Kalau begitu kita naik ke lantai dua." Kata Didi sambil menggandeng Dodo.


    Kelima bocah itu keluar dari ruangan tadi, dan berjalan menuju lantai atas. Sebelumnya mereka harus melalui ruang tamu yang lumayan luas. Disana juga terpajang foto - foto keluarga, dan beberapa lukisan di dinding.


    Ternyata tangga menuju ke atas dekat dengan ruang makan dan dapur. Disana ada meja makan berukuran lumayan besar. Dan diseberangnya ada kitchen set.


    Kelima anak kecil itu menaiki anak tangga, dan di dinding menuju atas ada foto masing - masing dari wajah keluarga itu.


" Hai Kak," Langit menepuk bahu Angkasa yang berjalan di depannya.


    Dilihatnya wajah Langit yang pucat sambil menunjuk salah satu foto yang ada di dinding tangga. Angkasa pun mengalihkan pandangannya pada foto yang ditunjuk oleh Langit.


    Dan Angkasa pun sangat terkejut melihat foto itu beserta nama yang tertera di sana.


" Ada apa Kak?" Bintang yang berada di belakang Langit ikut merapat melihat foto yang ditunjuk oleh Langit tadi.


" Wah, apa ini memang kebetulan ya?" Kata Bintang sambil memandang foto itu.


" Ini kebetulan yang mengerikan!" Kata Langit.


" Apa apa sich?" Didi sangat penasaran dengan apa yang sedang Si kembar tiga itu bicarakan.


" Ternyata nama orang yang wajahnya mirip Om Erlangga itu hampir sama dengan nama Langit." Kata Bintang sambil tersenyum pada Didi.


" Apa kamu bisa juga tersenyum saat nama kamu juga terpampang di foto itu!" Tunjuk Langit pada foto gadis kecil yang berada di bawah beberapa anak tangga tempatnya berpijak.


    Bintang mengalihkan pandangan pada frame foto yang berada di bawah dua frame foto tadi. Dilihatnya foto gadis kecil yang memakai bando sambil memegang boneka beruangnya. Dan dengan jelas ada nama yang sama dengannya.

__ADS_1


" I-ini…. hanya kebetulan…. kan?" Tanya Bintang dengan tergagap sambil melihat ke arah dua saudara kembarnya.


" Dan nama Angkasa juga tersemat di foto ini?" Tunjuk Didi pada foto yang berada di antara foto yang di beri nama Langit dan Bintang itu.


" Yang jadi masalahnya adalah nama kepanjangan kita juga hampir sama!" Kata Bintang sambil melihat foto yang ditunjuk oleh Didi.


" Ya, hanya nama Lazuardi yang berbeda dengan kita yang memiliki nama Abdulmalik." Kata Angkasa.


" Ya, itu karena nama kepala keluarga ini adalah Dokter Lazuardi." Tunjuk Langit pada frame foto paling atas.


" Jadi maksud kalian. Nama lengkap kalian….?" Tanya Didi tak diteruskan.


" Ya, nama lengkap aku adalah Angkasa Rafa Abdulmalik." Kata Angkasa.


" Dan disini foto ini namanya Angkasa Rafa Putra Lazuardi." Baca Didi.


" Begitu juga dengan nama milik aku. Langit Rafi Abdulmalik, dan disini nama pemuda ini, Langit Rafi Putra Lazuardi." Lanjut Langit.


" Berarti nama Bintang juga…?" Tanya Didi tak percaya.


" Bintang Rofi Abdulmalik. Dan gadis kecil di foto ini bernama Bintang Rofi Putri Lazuardi." Kata Bintang dan memandang wajah Didi yang kelihatan terkejut juga.


Bintang merasa merinding, karena dia juga pernah difoto dengan pose seperti gadis kecil difoto itu, lengkap dengan boneka beruangnya. Bahkan dia juga memakai bando di kepalanya.


" Jadi benar dugaan Bintang tadi, kalau pemilik rumah ini adalah seorang dokter!" kata Dodo yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan keempat anak lainnya.


" Ya, sepertinya itu benar!" kata Angkasa dan Langit bersamaan.


********


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


KASIH BINTANG LIMA JUGA DAN JEMPOL YANG BANYAK.


DUKUNG AKU TERUS YA.


KUNJUNGI JUGA KARYA AKU YANG LAINYA


MAMAKU WANITA SUPER & PAPAKU SUPER GENIUS

__ADS_1



__ADS_2