Trio Kancil

Trio Kancil
#LANGIT 19


__ADS_3

     Langit dan Rafli yang sedang berhadapan, serta menelisik satu sama lainnya. Kedua orang itu sama-sama saling menilai.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Rafli, dengan nada yang datar.


"Aku hanya kulir yang diberi tugas untuk menyampaikan pesan," jawab Langit sambil tersenyum.


"Dimana dia--macan jantan--sekarang?" tanya Rafli, yang kali ini terselip rasa khawatir.


"Di rumah sakit. Namun, Ayah tidak bisa menemuinya. Karena dia sedang di awasi dan dijaga dengan sangat ketat," bisik Langit.


"Bagaimana keadaannya?" Rafli masih saja bertanya karena belum merasa tenang hatinya.


"Sekarang sudah lebih baik, dibandingkan beberapa hari yang lalu," jawab Langit dan itu membuat hati Rafli lebih baik.


     Rafli kini tahu kenapa nomor handphone temannya itu tidak aktif saat dihubungi. Dia melihat ke arah Langit lagi. Calon menantunya itu ternyata bukan orang biasa.


"Saat ini dia sudah dalam keadaan baik. Tinggal pemulihannya saja," lanjut Langit dengan suaranya yang pelan.


     "Kenapa dia mengirim kamu kepadaku?" tanya Rafli dengan tidak sabar.


     "Entahlah. Aku juga tidak tahu. Hanya saja mungkin aku terlihat selalu dekat dengan putri Anda," jawab Langit dengan mengangkat kedua bahunya.


    "Sejak kapan kamu dekat dengan Alma?" Rafli sudah tidak sabar ingin menginterogasi Langit, sampai dia merasa puas.


"Sejak pertama kali masuk ke sekolah," jawab Langit langsung tanpa jeda dan dengan santai.


"Apa kamu serius dengan keinginanmu tadi?" tanya Rafli dengan tatapannya yang semakin tajam saja kepada Langit.


"Melamar Alma?"


"Iya, tentu saja! Memangnya kamu mau melamar sama siapa lagi?"


"Tentu saja saya serius!" Langit menjawab dengan wajah dan suaranya yang serius.


"Lalu kapan kamu akan melamar Alma?" tanya Rafli dengan nada suaranya yang serius.


    Langit membelalakkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Senang dan gugup, dia rasakan saat ini.

__ADS_1


"Ayah ... memberikan restu ... kepada kami?" tanya Langit dengan tergagap tapi terlihat jelas senyum kebahagiaan terpatri di wajah bulenya.


"Jadi kamu tidak butuh restuku!" Mata Rafli melotot ke arah Langit.


"Tentu saja aku ingin restu dari Ayah. Bagaimana kalau besok aku langsung menikahi Almahira, saja?" Langit memberitahu keinginannya itu langsung kepada ayah mertuanya. 


"Apa! kamu sadar dengan ucapan yang baru saja ucapkan!"


"Tentu saja. Makanya kalau aku mau langsung menikah sama Alma saja."


     Rafli hanya bisa membelalakkan matanya, saat mendengar ucapan Langit. Dia salut dengan keberanian pemuda yang sudah mencuri hati anak gadisnya itu.


    Almahira yang baru masuk ke ruang tamu, dikejutkan dengan ucapan Langit. Jantungnya berdebar dengar kencang, tapi hatinya merasa sangat senang. Senyum simpul dan tatapan malu-malu kini yang dilakukan oleh Almahira ketika sudah dekat dengan Langit.


"Ayah, makanannya sudah siap. Langit juga ikut makan malam di sini, ya!" ajak Almahira.


     Mereka pun makan malam bersama. Pembawaan Langit yang ramah dan ceria membuat suasana makan malam itu sungguh menyenangkan bagi Almahira.


*******


    Kini Langit berada di ruang kerja Rafli. Keduanya duduk saling berhadapan di meja kerja Rafli.


"Aku dimintai tolong untuk mengungkap siapa pembunuh ketiga ilmuwan yang bekerja di Laboratorium Matsumoto," jawab Langit.


"Jadi benar ada penyusup yang menyamar ke sekolahan Academy Matsumoto. Ini tidak bisa dimaafkan. Dasar orang-orang rendahan!" Rafli berkata dengan geram.


    Langit, menelan ludahnya. Perkataan calon mertuanya itu terasa menampar dirinya. Sebab dia juga murid yang sedang menyusup.


"Sebenarnya Almahira juga sekolah di sana, diminta oleh Honda. Karena dia punya banyak kelebihan di banding orang pada umumnya," kata Rafli sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja.


"Memang apa saja kelebihan yang dimiliki oleh Alma, Yah?" tanya Langit penasaran.


     Rafli melihat ke arah Langit. Dia yakin kalau pemuda di depannya itu bisa dipercaya untuk melindungi dan menjaga Almahira.


"Almahira punya kemampuan fotografis yang sangat hebat, meski hanya sekali lihat dan sekilas. Dia pasti bisa mengingatnya." Jelas Rafli sambil mengeluarkan sebuah buku dari laci meja kerjanya.


     Rafli memberikan sebuah buku tulis kepada Langit. Kemudian dibukanya buku itu. Langit mengerutkan keningnya, melihat banyak berbagai jenis tulisan yang berbeda-beda di setiap lembarnya.

__ADS_1


"Alma yang menulis itu semua," kata Rafli dengan pelan.


"Ini ...?" tanya Langit.


"Iya, kemampuan lainnya itu, Alma bisa meniru tulisan orang dengan sekali lihat." Rafli melihat wajah Langit yang penuh tanya pun, akhirnya menjawab rasa keingintahuan kekasih hati putrinya.


"Hebat!" kata Langit kagum akan kelebihan gadis pujaan hatinya itu.


"Justru karena kemampuannya itu, akan banyak orang yang mengincarnya, jika sampai ketahuan. Makanya aku selalu mengingatkan dia, agar tidak jadi murid yang terlalu menonjol diantara teman-temannya," ucap Rafli.


"Aku tidak menyangka kalau Alma, akan ada banyak yang mengincar dirinya juga." Langit sebenarnya mulai cemas kalau kemampuan Almahira sampai di manfaatkan oleh orang yang tidak tanggung jawab.


"Aku harap kamu bisa menjaga dan melindungi Alma. Saat ini dia juga sedang mencari seorang pelaku, yang telah melakukan kejahatan kepada salah seorang temanku," kata Rafli sambil menarik napasnya, kemudian dia melanjutkan lagi perkataannya, "yang meninggal dua tahun lalu. Baru satu tahun belakangan ini diketahui kalau dia, ternyata meninggal karena dibunuh." Rafli memberitahu Langit kalau Almahira juga sedang menjalankan misi untuk mencari pelaku pembunuhan.


"Jadi Alma di sana juga sedang menjalankan misi?" tanya Langit sangat terkejut.


"Iya, kalau ada apa-apa, aku mohon bantu dia!" pinta Rafli.


    Langit menganggukkan kepalanya, "iya. Ayah tenang saja, Langit akan menjaga dan melindungi Alma. Makanya ingin secepatnya bisa menikah. Biar bebas mau melakukan apa pun juga."


    Rafli membelalakkan matanya ke arah Langit, "apa maksudmu?"


"Kalau sudah jadi suami istri 'kan nggak bakalan canggung atau takut dosa. Saat kita saling menjaga dan melindungi." Langit tersenyum kaku, karena dia mengira ayahnya Alma sudah salah arti dengan ucapannya tadi.


"Kalian itu masih remaja. Emosi juga labil. Kalau mau menikah harus pikir-pikir dulu. Jangan asal nikah, tapi tidak tahu apa itu hidup berumah tangga. Tujuan dan tanggung jawab, dari hidup bersama sebagai suami istri."


"Kalau itu in sha Allah, Langit sudah tahu dan siap. Tinggal dari Alma, mau tidak mengikuti aku sebagai imamnya."


    Rafli senang saat mendengar perkataan Langit barusan. Dia yakin kalau pemuda yang dibawa putrinya bisa menjadi calon suami yang baik. Selain tampan dan cerdas, Langit juga orangnya bertanggung jawab dan penyayang. Banyak nilai plus yang dilihat Rafli ada di dalam diri Langit. Dia yakin kalau putrinya tidak salah pilih pemuda yang disukainya.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


BACA JUGA KARYA AKU LAINNYA.

__ADS_1



__ADS_2