
Bintang menggendong Chelsea dari arah depan. Akira menemukan jalur rahasia yang diduga jalannya nggak tadi di lalui oleh Milan. Chelsea terlihat mengantuk dari matanya yang terkadang menutup dan terbuka. Maka, Bintang pun menepuk-nepuk pan-tatnya agar bisa cepat tidur. Baru sebentar sudah terdengar hembusan napas halus dari Chelsea. Bintang bersyukur melihat Chelsea cepat tidur. Kini, dia bisa fokus untuk mendengarkan penjelasan Akira dan Alessio.
Mereka di bagi dua tim karena ada dua jalan rahasia di dalam lorong itu. Tim Akira dan tim Alessio. Tim Akira adalah Langit, Athena dan Akira sendiri. Mereka di ikuti lima anggota kelompok mafia Alessio. Tim Alessio terdiri dari Angkasa, Bintang dan Alessio serta lima anak buahnya.
Tim Alessio berjalan di lorong sebelah kanan. Di dalam sana hanya lorong panjang dan kosong tidak ada apa-apa. Mereka merasa sudah berjalan sangat jauh. Mereka merasa mustahil kalau lorong itu masih di area markas. Sebab, hampir setengah jam mereka berjalan dan belum menemukan apapun. Tidak ada ruangan atau petunjuk apapun.
"Apa kita melewatkan sesuatu? Mungkin saja ada pintu rahasia yang kita tidak tahu saat berjalan melewati lorong ini, tadi." Angkasa dalam hatinya merasa jengkel karena tidak menemukan petunjuk tentang keberadaan Paris.
"Apa kita harus putar balik lagi dan memeriksa dindingnya tiap senti?" tanya Bintang yang lelah karena sudah berjalan jauh.
"Kita sebaiknya jalan terus. Kita tidak tahu yang ada di ujung lorong ini!" ajak Alessio.
"Kalian teruslah melanjutkan perjalanan. Aku akan putar balik, sendiri. Karena merasa penasaran," kata Angkasa kepada Bintang dan Alessio.
Bintang tahu kalau Angkasa pasti akan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Maka, dia pun meminta Alessio untuk melanjutkan perjalanan sampai ke ujung lorong. Sementara dia akan ikut Angkasa putar balik perjalanan mereka dan memeriksanya kembali. Bintang juga meminta Alessio untuk menghubunginya, jika terjadi apa-apa dan bila sudah sampai ke ujung lorong. Mereka pun berpisah di sana.
Bintang dan Angkasa kembali berjalan menelusuri lorong tadi. Tangan mereka meraba dinding dan mengetuk-ngetuk di bagian yang kita mencurigakan. Sudah sangat jauh mereka berjalan dan memakan waktu lebih lama dari perjalanan tadi. Bahkan Alessio setengah jam yang lalu. sudah memberitahu kalau mereka sudah sampai ke ujung lorong yang terhubung ke sebuah rumah kecil di daerah pelabuhan tua.
Angkasa merasa ada yang aneh dari bunyi dinding yang diketuknya, dia yakin ada ruangan dibaliknya. Maka dia terus mengetuk dan berjalan perlahan untuk mencari pintu agar bisa masuk ke ruangan yang berada di balik dinding itu.
"Eh," Angkasa menemukan satu baru yang menonjol di bagian bawah. Maka, dia menekan lalu menarik batu itu. Namun, tidak ada apa-apa yang terjadi di sana.
"Sini, biar aku coba!" Kata Bintang sambil menendang batu itu. Maka pintu yang terbuat dari dinding itu terbuka dengan perlahan.
Bintang dan Angkasa pun masuk ke dalam ruangan itu. Tidak ada yang aneh di sana. Hanya ruangan luas yang di isi satu set kursi dan lemari penyimpanan anggur dan makanan di sana. Lalu ada dua pintu lagi di sana. Maka Angkasa pembuka pintu itu.
__ADS_1
"Honey!" panggil Angkasa tidak percaya sekaligus senang.
Paris yang sedang duduk di atas kasur mengarahkan wajahnya ketika mendengar suara dari orang yang sedang sangat dia rindukan. Air matanya langsung meluncur membasahi pipinya. Dia pun beranjak dari atas kasurnya dan berlari ke arah Angkasa.
"Darling!" Paris memeluk tubuh Angkasa dengan sangat erat. Begitu juga sebaliknya dengan Angkasa.
"Terima kasih, sudah mencari aku. Aku senang kita bisa bertemu kembali," kata Paris yang masih dalam pelukan Angkasa.
"Tentu saja, aku akan mencari kamu!" kata Angkasa yang semakin mengeratkan dekapannya kepada sang istri.
Bintang sangat senang, akhirnya perjuangan mereka bisa menemukan Paris. Dia pun mengedarkan arah pandangannya menelusuri ruangan tempat Paris di sekap. Kamar yang cukup luas dan bersih. Bintang baru sadar ada Milan sedang duduk di sofa yang tidak jauh dari dirinya.
"Halo, beautiful girl!" Sapanya kepada Bintang sambil tersenyum lebar.
"Apa aku masih terlihat seperti seorang gadis di matamu?" tanya Bintang kepada Milan.
Bintang hanya menarik napasnya. Dia bahkan meninabobokan Chelsea yang menggeliat karena merasa tidurnya sudah terganggu. Saat dia mengarahkan pandangan kepada Paris dan Angkasa. Keduanya sedang berciuman mesra. Seolah keduannya sedang menyalurkan rasa rindu yang terpendam di dalam hatinya.
"Sudah kalian lanjut lagi nanti. Sebaiknya kita pergi dari sini!" ajak Bintang.
Paris hanya tersenyum tersipu malu karena dibilangin sama Bintang. Dia pun senang saat melihat Chelsea yang berada di gendongan Bintang. Saat Paris akan menggendong Chelsea, Angkasa menahannya. Dia ingin agar Chelsea tetap tidur dalam gendongan Bintang.
"Ayo kita pergi dari sini dan pulang!" ajak Angkasa.
"Berhenti!" kata Milan mencegah mereka untuk keluar dari sana.
__ADS_1
Angkasa menatap jengah kepada Milan dan berjalan kehadapannya. "Apa mau kamu?" tanyanya dengan memperlihatkan wajah tidak suka.
"Paris tidak bisa kalian bawa pergi. Kalau kalian mau pergi, silakan saja! Tetapi tidak dengan Paris," balas Milan.
Angkasa yang sedang kesal dan marah kepada Milan. Langsung melayangkan satu pukulan keras pada wajahnya. Kemudian, satu tendangan ke perutnya.
"Aku tidak punya urusan dengan kamu, awalnya. Tetapi, kini kita menjadi musuh karena kamu sudah menculik istriku!" Angkasa menarik kerah baju Milan. Tetapi, dengan cepat Milan pun memukul ulu hati Angkasa. Sehingga, cengkraman di kerah kemeja Milan, terlepas.
Milan dan Angkasa pun terlibat perkelahian. Angkasa memukul wajah Milan, dua kali berturut-turut, sehingga tulang hidungnya patah dan ujung bibirnya sobek. Milan pun sama memukul wajah Angkasa dan membuat pelipisnya sobek karena cincin yang dipakai di jarinya. Pukulan dan tendangan, dorongan dan tarikan, mereka silih berganti melancarkan serangan itu. Barang-barang yang ada di sana, menjadi kacau dan berantakan karena terkenakan tubrukan badan mereka. Bahkan Bintang dan Paris harus menjauh dari mereka.
Meski postur tubuh Milan lebih besar dari Angkasa. Tetapi, bukan hal yang sulit saat membalas pukulan untuknya. Angkasa yang menguasai berbagai jenis ilmu beladiri, dapat mengalahkan Milan dengan tangan kosong. Meski dia juga mendapatkan beberapa kali pukulan dan tendangan dari Milan. Namun, akhirnya Angkasa 'lah yang memenangkan perkelahian itu.
Keadaan Milan yang wajahnya sudah babak belur dan darah keluar dari hidung dan mulutnya. Masih bisa berdiri meski dengan kesusahan.
"Kami pikir dengan luka seperti ini aku akan menyerah dan membiarkan kalian pergi membawa Paris!"
******
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tunggu kelanjutannya ya.
Mampir juga ke karya baru aku. No pelakor No Poligami.
__ADS_1