Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 21


__ADS_3

     Peter pun mendatangi flat tempat tinggal Madina. Dia sudah bertekad akan bilang perasaan suka dan sayang untuknya. Dia tidak punya banyak waktu karena nanti malam dia harus segera berangkat pulang ke Amerika.


     Saat Peter turun dari mobilnya dia berpapasan dengan seorang laki-laki berwajah Amerika Latin. Memiliki postur tubuh yang ideal untuk ukuran laki-laki. Orang itu memasuki flat-nya Sofia Praha, begitu saja. Tanpa mengetuk pintu atau memanggil nama orang yang punya tempat.


     Peter diam dulu sejenak setelah mengetuk pintu dan memanggil nama Madina. Dia berdiri tenang di depan pintu sampai Madina sendiri yang keluar flat-nya.


"Hai, Peter. Ada apa?" tanya Madina dengan sopan.


"A-Aku akan kembali bertugas di Amerika. Tapi, sebelum itu ada yang mau aku katakan." Peter diam sejenak dia sedang mencoba menenangkan debaran jantungnya.


"Ya, apa itu?" tanya Madina dengan senyuman yang menghiasi wajahnya yang teduh.


"A-Aku mencintaimu, Madina!" kata Peter dengan penuh keyakinan dan suaranya yang lembut.


"Itu ...." Madina seolah takut salah dengar, apa yang baru saja Peter katakan.


     Madina sebenarnya sangat terkejut mendengar pengakuan Peter yang suka dengannya. Kini, keduanya saling menatap satu sama lain untuk menyelami perasaan di dalam diri orang yang sedang berdiri di depannya.


    Peter menggenggam tangan Madina sejenak kemudian melepaskannya. Dia melakukan itu hanya untuk membuat Madina sadar.


"Aku sangat menyukaimu," kata Peter lagi.


"Ta-Tapi, kita ...," Madina bicara dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku sedang mendalami agama Islam, itu terlepas dari rasa suka aku terhadapmu. Semenjak aku menjadi pengawal tuan muda Angkasa. Aku yang jauh dari Tuhan bahkan tidak percaya kepadanya, mulai tertarik dengan cara orang muslim beribadah kepada Tuhannya. Hanya saja aku masih lambat dalam mempelajari ilmu agama. Aku ingin benar-benar seyakin hatiku kalau ini adalah pilihan yang tepat. Aku masih punya ibu, dia pun mendukung jalan yang aku pilih. Jadi, yang ingin aku tanyakan adalah apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku?"


"Kenapa kamu bertanya mendadak sesuatu yang sangat penting seperti ini?" Madina merasakan debaran jantungnya semakin menggila saat Peter meminta sebagai pendamping hidupnya.

__ADS_1


"Maaf, tadinya aku mau secara perlahan mendekati kamu setelah aku menjadi muslim. Hanya saja terjadi sesuatu sehingga aku harus kembali ke Amerika. Jika, kamu mau menerima menjadi pendampingku. Ayo kita menikah, dan aku akan berhenti dari pasukan shadow." Jelas Peter.


"Bisakah kamu memberi aku waktu satu bulan untuk memikirkan ini?" Madina wajahnya langsung memerah karena dia juga gugup dan malu. Madina senang dengan ungkapan perasaan Peter. Hanya saja, dia tidak mau terburu-buru dan salah pilih untuk laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya.


"Iya, aku akan sabar menunggu jawaban dari kamu!" Peter sangat senang sampai terlihat wajah berbinar.


"Madina, jaga diri baik-baik! Kalau ada apa-apa hubungi saja Tuan Angkasa," kata Peter.


"Iya. Kamu jaga diri baik-baik, di sana!" pinta Madina, "dan jangan lupa, selalu hubungi aku! Mau itu chat atau telepon."


     Peter memekik senang, saat Madina bilang menyuruhnya selalu menghubungi dia. Kalau dia boleh memeluknya maka dengan senang hati Peter akan memeluk Madina. Ketika keduanya saling tatap dan terdiam, terdengar suara tembakan di flat sebelah atau tepatnya berada di tempat Sofia Praha. Itu membuat Peter langsung meminta Madina masuk ke dalam flat-nya.


"Masuklah ke dalam jangan sampai keluar sampai benar-benar keadaan aman," kata Peter begitu Madina masuk ke dalam flat-nya.


"Peter, kamu juga hati-hati!" pinta Madina dengan tatapan matanya yang terlihat mencemaskannya.


     Peter yang masih berdiri di depan flat Madina, melihat laki-laki tadi berlari keluar dari flat itu. Tanpa menghiraukan adanya Peter di sana. Peter pun melihat ke dalam flat milik Sofia Praha. Ternyata wanita itu sudah terkapar mengeluarkan banyak darah di perutnya akibat dari luka tembakan. 


    Ada gerakan lemah dari Sofia Praha sebagai jawaban. Peter senang, setidaknya dia masih hidup. Dia pun menghubungi ambulance agar secepatnya datang. Peter juga menghubungi Angkasa, mengenai apa yang sudah terjadi pada Sofia Praha. Ternyata bukan hanya dia yang mendengar suara tembakan tadi. Ada beberapa orang yang baru keluar setelah terdengar suara ambulance. Hanya untuk memastikan kalau benar tadi ada orang yang ditembak karena terdengar suara tembakan.


     Ini 'lah yang Peter khawatirkan, bila sesuatu terjadi pada Madina, tidak ada yang langsung menolongnya. Apalagi pujaan hatinya itu orang yang dianggap asing oleh orang daerah sekitar.


     Peter mengurus Sofia Praha yang dibawa ke rumah sakit. Madina pun tadi ikut dengannya. Madina takut kalau Peter malah dicurigai karena dia bukan salah satu penghuni di sana. Jika, ada Madina, dia bisa jadi alasan keberadaan Peter di daerah sana untuk menemuinya.


      Angkasa dan Langit pun datang kerumahnya sakit, untuk melihat kondisi dari Sofia Praha. Peter dan Madina yang sedang duduk di depan ruang UGD. Mereka berdua berharap kalau Sofia Praha bisa selamat dari maut. Agar dia bisa memberitahu kejadian yang sebenarnya.


"Bagaimana keadaan Sofia?" tanya Angkasa begitu sampai di sana.

__ADS_1


"Belum ada kabar. Sepertinya, harus melakukan operasi karena pelurunya mengenai organ dalam perutnya," jawab Peter.


"Kamu malah terlibat kasus saat harus pulang," kata Langit dengan nada simpati kepada Peter.


     Ini pertemuan Madina dan Langit untuk pertama kalinya. Madina tidak tahu kalau Angkasa punya saudara kembar identik dengannya. Hanya saja aura yang dimiliki oleh Langit terasa hangat dan ramah orangnya. Senyum di wajahnya juga selalu terpatri dan memperlihatkan ketampannyaa.


"Oh, Peter ini 'kah kekasih hatimu?" Langit bertanya dengan nada berseru saat melihat Madina yang kini wajahnya sudah memerah.


"Tuan Muda Langit, Anda sudah membuatnya malu, dengan bertanya seperti itu!" kata Peter dengan sama-sama menahan malu.


"Hei, kamu pandai memilih calon pendamping hidupmu. Dibanding Paman Akira sampai sekarang dia masih saja melajang. Setiap aku tanya kapan menikah dia selalu saja, banyak alasan," gerutu Langit dan itu terlihat lucu di mata Madina.


"Coba kamu punya rekomendasi seorang perempuan yang pantas untuk Paman Akira, nggak? Biar dia cepat-cepat membangun keluarga," tanya Langit kepada Peter dan di jawab oleh kekehan tawa sambil menggelengkan kepalanya.


Angkasa hanya diam tidak berbicara atau menanggapi obrolan Langit dan Peter. Pikiran dia masih kepada Paris. Angkasa menyesal tidak memasang alat pelacak pada cincin pernikahannya karena kemarin dilakukan mendadak. Ada rasa takut dalam diri Angkasa, akan kehilangan diri Paris.


*******


Berada dimanakah Paris sekarang?


Siapa laki-laki berwajah Amerika Latin yang menembak Sofia Praha?


Tunggu kelanjutannya ya.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2