Trio Kancil

Trio Kancil
Season 2 #Chapter 14


__ADS_3

Kini Alex dan dan ketiga anaknya sedang berada di kamar inap Cantika. Karena ketiga anaknya ingin menginap di sana. Jadinya Alex meminta kepada pihak rumah sakit untuk menyediakan lagi brankar dua buah, untuk tempat tidur anak - anaknya.


" Honey, tidurlah!" Alex meminta Cantika untuk beristirahat karena hari sudah malam.


" Seharian tadi aku sudah tidur, Sayang. Jadi sekarang aku nggak ngantuk." Jawab Cantika.


" Ingat kondisimu sekarang. Ada bayi yang harus kamu jaga." Kata Alex sambil memegang perut Cantika.


" Hmm, kalau gitu peluk aku, Sayang. Biar cepat tidur." Alex pun berbaring di samping Cantika.


    Cantika hanya beralasan saja ingin tidur dipeluk oleh Alex. Justru Cantika ingin Alex yang beristirahat. Karena sejak kemarin dia tahu, kalau suaminya pasti kelelahan saat mencari anak - anaknya. Dan benar saja belum sampai tiga menit Alex telah tertidur pulas.


    Cantika tidak bisa tidur, dia teringat dengan cerita anak - anaknya tadi sore. Rumah Hantu di atas tebing, dan di rumah itu ada foto orang yang memiliki wajah yang mirip dengan adiknya, Erlangga.


    Cantika ingin sekali pergi kesana, dan menyaksikan sendiri. Apa yang telah diceritakan oleh anak - anaknya itu. Dirinya sangat penasaran tentang identitas Ayahnya. Terus rumah hantu yang di atas tebing itu, apa benar rumah Ayahnya dahulu sebelum beliau hilang ingatan.


    Cantika ingin melihat wajah orang dari foto - foto yang dibicarakan oleh anaknya itu. Tentang kesamaan nama mereka, dan Bintang juga bercerita memiliki kesamaan dengan Bintang yang ada di foto.


" Aku harus merayu Alex, agar aku diizinkan ikut kesana" gumam Cantika sambil menyentuh wajah Alex.


*****


    Sesuai janji Alex kepada Danang, dua hari kemudian Alex datang lagi, ke Desa Nelayan. Kali ini Alex datang bersama Cantika, Erlangga, dan tentu saja Si Trio Kancil.


" Assalammu'alaikum," salam Alex dan ketiga anaknya saat sampai ke rumah Danang.


" Wa'alaikumsalam." Jawab Danang dari dalam rumahnya.


" Eh, Mister Alex sudah datang. Mari masuk dulu." Ajak Danang.


" Bu…. Didi…. Dodo…. Lihat siapa yang datang!" Teriak Danang memanggil keluarganya.


" Eh, Si Kembar sudah datang!" Teriak Lastri senang saat melihat ketiga anak bule sedang duduk di kursi yang berada di ruang tamu.


    Anak - anak pun datang menghampiri Lastri dan mencium tangannya dengan takzim. Kemudian ketiga bocah itu bermain bersama Didi dan Dodo di teras rumah. Apalagi Si Trio Kancil membawa banyak hadiah mainan untuk keduanya.


" Pak…. Bu, kenalkan ini istri saya, Cantika. Dan ini adik ipar saya, Erlangga." Alex mengenalkan Cantika dan Erlangga kepada Danang dan Lastri.

__ADS_1


    Setelah mereka berbincang - bincang, akhirnya mereka pergi mengunjungi rumah Sesepuh Desa Nelayan. Jarak rumah Danang dan rumah Sesepuh Desa lumayan jauh. Dengan mengendarai mobil, akan memakan waktu sekitar sepuluh menit.


    Kini Danang, Alex, Cantika, dan Erlangga. Telah sampai ke rumah Sesepuh Desa Nelayan. Karena sehari sebelumnya Danang telah menemui keluarga Sesepuh Desa, jadinya mereka menyambut kedatangan tamu dari kota.


" Assalammu'alaikum," salam Danang kepada tuan rumah yang kebetulan sedang duduk bersama di teras rumah mereka.


" Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak.


" Mbah Mugi ini tamu dari kota, yang saya bicarakan kemarin." Kata Danang setelah mereka mengucapkan salam.


" Mister Alex ini, Sesepuh Desa namanya Mbah Mugi." Lanjut Danang.


" Oh, ya. Aku sudah dengar dari Danang, katanya kalian keluarganya Dokter Lazuardi." Kata Mbah Mugi yang sudah sangat lanjut usianya. Tapi masih terlihat sehat.


" Iya Mbah, kami kesini mau bertanya mengenai keluarga Dokter Lazuardi." Kata Cantika dengan suaranya yang halus.


" Apa yang mau kamu tanyakan, Nduk?" Tanya Mbah Mugi melihat Cantika yang kini duduk di dekatnya.


" Apa saja, yang Mbah tahu tentang keluarga Dokter Lazuardi." Jawab Cantika.


    Terlihat Mbah Mugi menerawang, menggali ingatannya tentang Dokter Lazuardi.


" Dokter Lazuardi itu adalah orang yang telah menyelamatkan seluruh penduduk Desa Nelayan saat terjadi wabah penyakit menular di sini saat itu."


" Beliau dibantu oleh istrinya yang kebetulan juga dia seorang dokter. Pasangan suami istri itu tidak takut tertular penyakit saat mengobati kami para penduduk desa."


" Selama enam bulan mereka berdua tidak lelah dalam mengobati kami. Kadang ada orang yang membantunya dalam memasok obat dan bahan makanan. Dan semua kebutuhan kami semuanya di biayai oleh Dokter Lazuardi."


" Tak sepersen pun, mereka meminta bayaran kepada kami."


" Tiap harinya keadaan penduduk disini semakin membaik. Walau begitu, daerah kami masih di isolasi."


" Kebutuhan sandang, pangan ,dan papan penduduk desa mengalami kekurangan."


" Ternyata selain seorang Dokter yang bisa mengobati penyakit. Dokter Lazuardi juga mengajari kami cara membuat tambak ikan dan garam, dan mengajari kami cara membudidayakan  mutiara."


" Sedangkan istrinya, Dokter Paramitha mengajari anak - anak membaca dan berhitung, serta belajar menulis."

__ADS_1


" Kami, penduduk disini sangat senang dengan keberadaan suami istri itu. Mereka juga sangat ramah dan humoris. Semua orang yang berada di dekatnya pasti akan merasa senang."


" Dan sebagai ucapan terima kasih kami atas pengabdian mereka, Kepala Desa saat itu memberikan tanahnya untuk suami istri itu."


" Kami penduduk desa tidak mau kehilangan mereka. Jadi kami meminta mereka untuk tinggal disini."


" Akhirnya Dokter Lazuardi membangun rumah di atas tebing itu. Dan sesekali keluarga mereka liburan kesini."


" Tapi entah apa yang terjadi dengan keluarga Dokter Lazuardi, mereka tidak pernah datang lagi kesini. Sudah lebih dari tiga puluh tahun rumah itu tak didatangi oleh keluarganya."


" Kami penduduk disini selalu menanti kedatangan keluarga mereka. Apalagi Dahlia, anak bisu yang dulu selalu diasuh oleh Bu Dokter. Sampai kematiannya dia selalu menunggu di rumah itu seorang diri."


" Kami yakin kalau keluarga Dokter Lazuardi pasti akan datang lagi kesini."


" Sebagai penghormatan kami sebagai penduduk Desa Nelayan yang pernah ditolong oleh beliau. Kami semua sepakat akan menjaga harta peninggalan mereka dengan sangat baik. Dan kami sengaja menyebarkan rumor soal rumah hantu itu. Agar orang - orang diluar desa tidak berani memasukinya."


    Mbah Mugi mengambil air minumnya, tenggorokannya sudah terasa sangat kering karena telah banyak bicara.


" Apa penduduk desa juga yang membersihkan rumah itu?" Tanya Alex.


    Mbah Mugi terkejut dengan ucapan Alex barusan. Kemudian dia tersenyum kearah Alex.


" Iya benar kami bergilir membersihkan rumahnya, tapi tidak dengan halaman rumahnya. Apa kamu sudah pernah masuk kedalam rumah itu?" Tanya Mbah Mugi.


" Tidak, bukan saya. Tapi anak - anak kami yang sudah masuk ke dalam sana. Dan salah satu dari mereka bercerita kepada ku. Kalau dia merasa ada yang aneh dengan rumah hantu itu." Jawab Alex.


" Hahaha…. Memangnya apa yang aneh?" Mbah Mugi tertawa lepas.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


KASIH BINTANG LIMA JUGA DAN JEMPOL YANG BANYAK.


DUKUNG AKU TERUS YA.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


MAMPIR JUGA KE KARYA AKU YANG LAINNYA JUGA YA. NGGAK KALAH SERU LOH....


JUDULNYA : MAMAKU WANITA SUPER & PAPAKU SUPER GENIUS


__ADS_2