
Gara-gara ada yang mengincar Bintang, jadinya kedua orang tua mereka memutuskan untuk memajukan hari pernikahan Bintang dan Ghazali. Hari ini adalah hari bersejarah bagi keduanya, dimana ikatan mereka akan berubah menjadi suami istri. Baik Bintang ataupun Ghazali merasa sangat bahagia.
Setelah sholat subuh dua keluarga besar Bintang dan Ghazali berkumpul di masjid yang ada di dekat rumah Bintang. Para tetangga juga ada yang hadir. Hari ini hanya proses ijab qobul, sedangkan acara resepsinya tetap tidak berubah, yaitu dua Minggu lagi.
Para lelaki semuanya berada di lantai satu, sedangkan para perempuan berada di lantai dua. Baik Bintang maupun Ghazali, keduanya merasa tegang dan deg-degan.
Karena Bintang terlahir dari hasil diluar nikah, maka walinya adalah wali hakim. Saat Bintang meminta wali hakim untuk menikahkan dirinya dengan Ghazali, itu membuat Alex sedih, bahkan menangis. Anak gadis satu-satunya, saat menikah yang menjadi wali nikahnya bukan dia.
Kini Ghazali menjabat tangan yang menjadi wali nikahnya Bintang. Jantungnya berdebar dengan kencang, tapi hatinya senang. Dalam hati Ghazali berdoa semoga diberi kelancaran dan kemudahan.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan memohon Rahmat dan berkat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Saya nikahkan dan kawinkan Bintang Rofi Abdulmalik binti Cantika Safira Abdulmalik dengan engkau Ghazali Green Hakim dengan wali hakim dengan mas kawin sebuah perusahaan Edward corporation dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Bintang Rofi Abdulmalik binti Cantika Safira Abdulmalik untuk saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah!"
"Sah."
Semua yang di sana mengucapkan hamdalah, karena proses ijab qobul nya berjalan dengan lancar. Kini Bintang telah sah menjadi istrinya Ghazali. Senyum kebahagiaan terus terpasang di wajahnya yang cantik. Walau hanya make up sederhana, Bintang sungguh terlihat sangat cantik mempesona.
Begitu proses akad nikah sudah selesai. Mereka semua kembali ke rumah Alex, dan menikmati hidangan yang telah disediakan oleh Cantika dan di bantu Pelangi, serta para koki dari cafe-nya.
"Bintang selamat, ya. Semoga kalian bisa menjadi pasangan yang terbaik baik di dunia maupun di akhirat," doa Aria saat bertemu dengan Bintang dan Ghazali.
"Terima kasih Om Aria. Semoga Allah secepatnya menyatukan Om dan jodoh Om," balas Bintang dengan mata yang berkaca-kaca.
"Semoga Om diberi jodoh yang lebih baik dari Bintang," lanjut Bintang dengan senyumannya yang getir.
"Aamiin," jawab Aria.
"Om Aria, sama aku aja! Mau nggak?" tanya Selena sambil tersenyum manis.
"Huh, kamu itu lebih manja dari Bintang," jawab Aria sambil memencet hidung Selena.
"Ya, nggak apa-apa. Kan ada Om yang bakal jadi hot daddy-nya," kata Selena sambil mengikuti Aria di belakangnya.
__ADS_1
"Wah … nggak nyangka, ternyata si Selena suka sama yang tua-tua," kata Luna sambil melongo ketika melihat kelakuan Selena yang lain dari biasanya.
"Jangan-jangan orang yang menolong Selena saat dirampok itu adalah Om Aria?!" Bintang menduganya, karena Selena hanya bilang Om saja, tanpa menyebutkan namanya.
"Kalau begitu kita semua sukanya sama laki-laki yang sudah tua?!" Husna menahan tawanya karena malu banyak keluarga Bintang.
"Pria tua lebih menggoda …," kata Luna sambil tersenyum lebar, dan di ikuti tawa teman-teman yang lainnya.
"Bintang, Daddy-ku kemana? Kenapa nggak kelihatan?!" tanya Luna sambil mengarahkan pandangannya ke seluruh halaman taman di belakang rumah Alex.
"Tuh lagi di atas!" tunjuk Bintang ke sebuah balkon yang ada di lantai dua.
"Aduh … si Daddy kok malah di atas?! suruh turun dong!" pinta Luna kepada Bintang.
"Naik aja kamu kamu berani!" tantang Bintang kepasa Luna.
"Beneran boleh naik ke sana!" seru Luna bahagia dengan matanya yang berbinar.
"Iya, sana temui hot Daddy kamu dan ajak turun ke sini!" usir Bintang.
Ketika Bintang sedang asik mencicipi berbagai makanan yang ada di meja hidangan. Tiba-tiba tubuhnya ditarik dan memasuki ruang paviliun.
Ghazali hanya tertawa terkekeh, saat melihat wajah Bintang yang cemberut. Dia pun memeluk erat tubuh gadis cantik yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Aku mau menagih janji kamu!" kata Ghazali kepada Bintang yang masih ada dalam pelukannya.
"Jan … ji apa?" tanya Bintang dengan terbata karena dia tidak ingat punya hutang janji kepada Ghazali.
"Apa kamu melupakan janji penting yang kemarin diucapkan saat di kamarku?!" tanya Ghazali sambil menguraikan pelukannya terhadap Bintang.
Bintang kembali coba mengingat kembali janji yang dikatakannya saat mereka berada di kamar Ghazali. Begitu otaknya terhubung dengan memori ingatannya, Bintang tersenyum tersipu malu.
"Jadi apa sekarang kamu sudah ingat?!" tanya Ghazali dan Bintang hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Melihat Bintang yang menganggukan kepalanya, tanpa ba-bi-bu Ghazali langsung mencium bibir lembut dan manis milik Bintang. Dia menciumnya dengan sangat lembut dan menuntut, sampai berubah menjadi *******-******* yang membangkitkan gairahnya.
__ADS_1
Setiap mereka melepaskan pagutan itu, maka detik berikutnya mereka akan menyatukannya lagi. Bintang pasarah dan terbuai oleh perbuatan suaminya itu.
"Bintang, yuk kita pergi dari sini!" ajak Ghazali di sela-sela napasnya yang memburu.
"Ke mana?" jawab Bintang dengan suaranya yang pelan.
"Ke rumah kita mansion Keluarga Hakim," balas Ghazali.
Ghazali mendapatkan warisan dari kakeknya, Lukman. Semua saham rumah sakit dan pabrik obat dan jamu, serta mansion utama keluarga Hakim telah menjadi miliknya.
"Nanti saja, kalau semuanya sudah selesai," kata Bintang lagi dengan matanya yang sayu.
"Tidak. Mereka tidak akan memberikan izin kepadaku untuk membawamu, pergi dari sini," ucap Ghazali sambil memegang kedua pipi chubby Bintang.
Akhirnya Bintang pun menganggukan kepalanya. Secara diam-diam, Ghazali menyelinap keluar dari rumah Alex. Bintang agak was-was akan ketahuan, apalagi tadi ada Michael yang berdiri di balkon atas sambil memperhatikan keadaan di sekitar rumah.
Saat Bintang menengadahkan kepalanya ke atas, dan melihat ke arah tempat Michael berada. Dia sangat shock saat melihat Luna dan Michael sedang berciuman dengan ganasnya dan saling meraba.
"Astagfirullahaladzim, apa yang sedang mereka lakukan di sana!" pekik Bintang sambil berjalan cepat karena tarikan tangan Ghazali.
"Sudah jangan pedulikan mereka. Mereka sudah dewasa, tahu apa yang sedang mereka perbuat," kata Ghazali sambil membukakan pintu mobil untuk Bintang.
"Kita tidak pernah melakukan sampai seperti itu 'kan?" tanya Bintang sambil memasangkan sabuk pengamannya.
Kini mobil yang dikendarai oleh Ghazali, sudah meninggalkan jauh rumah Alex. Saat di tengah jalan, Ghazali sengaja memasuki parkiran di mall milik keluarga Cantika.
"Mau ngapain kita ke sini Om?" tanya Bintang sambil melihat ke arah suaminya.
Bintang melihat Ghazali sedang memperhatikan kondisi di belakang mobil mereka. Bintang pun sadar kalau saat ini, sedang ada yang tidak beres yang sedang mengincar mereka.
"Apa kita sedang dibuntuti?!" tanya Bintang dengan waspada ke arah di sekitar mereka.
"iya, semenjak kita keluar dari rumah Kak Al," mereka terus mengikuti kita," jawab Ghazali.
*******
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA AKU YANG LAINNYA YA.