
Bintang tak menyangka kalau Ghazali akan menciumnya kembali bahkan ciumannya kali ini terlalu vulgar menurutnya. Ini pertama kalinya dia berciuman seperti ini. Hati, otak, dan tubuhnya tak sejalan. Hatinya entah mengapa terasa sangat senang saat Ghazali bilang sudah putus dengan Amara, otaknya berpikir dia tidak boleh berciuman dengan Ghazali, karena itu dosa. Tapi tubuhnya malah merespon menerima dan membalasnya.
Bintang dapat merasakan jantungnya berdetak terlalu kencang sampai-sampai dia merasakan sakit di dadanya. Keringatnya dingin membasahi tubuhnya yang bergetar. Dia juga merasa kakinya meleleh dan terasa tidak berpijak pada bumi, dia merasa melayang. Untungnya Ghazali memeluk pinggangnya erat, dan Bintang pun berpegang kepada Ghazali.
Setelah mereka mengakhiri kegiatan panas mereka, bahkan di hadapan Aurora secara langsung. Membuat Bintang sangat malu, ingin sekali rasanya dia bersembunyi saat ini juga.
"Bintang, kamu pulang sendiri, ya?!" kata Ghazali setelah dia melakukan hal gila itu. Bahkan dia meninggalkan Bintang di ruang meja makan.
Dengan langkah berat dan dadanya yang terasa nyeri, Bintang keluar dari kediaman Khalid. Di dalam mobilnya dia diam sambil melihat ke arah kamar Ghazali.
"Apa aku hanya menjadi pelampiasan kamu saja! Karena sudah putus dari pacarmu itu!"
"Apa aku hanya anak kecil yang bisa seenaknya saja kamu cium, ketika kamu ingin menciumku!"
"Apa kamu pikir aku tidak punya perasaan!"
"Aku sangat membenci, Om!"
Bintang berteriak di dalam mobilnya mengungkapkan perasaannya. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang mulus dan selalu merona.
Bintang pun meninggalkan kediaman Khalid dengan menangis tertahan. Kadang dia menepikan mobilnya, disaat dia tidak kuat menahan tangisnya. Penglihatannya menjadi buram karena matanya terus mengeluarkan air mata.
Sesampainya di rumah, Bintang membanting pintu kamarnya, melampiaskan rasa kesal di hatinya. Dia juga masih saja menangis sambil telungkup di atas kasurnya.
Michael yang sedang bekerja di ruang kerjanya, mendapat laporan dari Lastri kalau Bintang pulang sambil menangis dan membanting pintu kamarnya. Langsung mendatangi Bintang di kamarnya.
"Nona aku masuk, ya!" kata Michael setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dilihatnya Bintang yang menangis tersedu-sedu, di atas kasurnya.
"Kenapa Nona menangis?" tanya Michael sambil duduk di samping tempat tidur.
"Uncle … " cuma itu yang diucapkan oleh Bintang di sela-sela tangisnya.
"Ya, ada apa?" tanya Michael dengan suaranya yang lembut sambil mengelus kepala Bintang.
"Bintang benci … " katanya dan masih di posisi menelungkup dan memunggungi Michael.
"Sama siapa?" tanya Michael dengan sabar.
"Sama … Om!" akhirnya Bintang membalikkan badannya ke arah Michael.
"Tuan Ghaza?" tebak Michael karena Bintang itu punya banyak sekali orang yang dipanggilnya Om.
__ADS_1
"Iya, Om Ghaza. Bintang membencinya!" teriak Bintang sambil menangis makin kencang.
"Memang apa yang sudah Tuan Ghaza lakukan sampai Nona menangis seperti ini?" tanya Michael walau sudah nggak aneh Bintang menangis karena dijahili oleh Ghazali. Namun biasanya nangis dia tidak sampai seperti ini.
"Om Ghaza menciumku!" jawab Bintang sambil menghapus air matanya dengan menggunakan ujung jilbabnya.
"Bukan, Nona yang menciumnya?!" tanya Michael dengan keraguan.
Biasanya yang sering duluan nyosor itu Bintang, dan itu bukan hal aneh bagi mereka. Bahkan Alex sering marah pada Ghazali sebagai pelampiasannya, karena hanya pada dia saja, Bintang sering menciumnya. Cantika juga sering menasehatinya, jangan sembarangan mencium orang, dan Bintang menghentikan kebiasaannya itu setelah remaja atau baligh.
"Bukan! Tapi Om Ghaza, dia menciumku karena baru putus dari pacarnya. Dia kira aku ini perempuan macam apa!" Bintang meluapkan emosinya dihadapan Michael.
"Wah, ini nggak bener. Dia telah melakukan pelecehan,"
Tiba-tiba terdengar ada seseorang yang berbicara. Bintang dan Michael memalingkan wajah mereka ke sumber suara. Dilihatnya ada Didi yang sedang berdiri di pintu kamar Bintang.
"Boleh aku masuk?" tanya Didi yang masih berdiri di depan pintu.
"Hm … " Kata Bintang, membolehkan Didi masuk ke dalam kamarnya.
Didi pun berjalan memasuki kamar Bintang. Kemudian berdiri di sisi kiri dekatnya, Michael duduk.
"Ceritakan apa yang sudah terjadi tadi pada kalian?!" pinta Didi pada Bintang agar mengerti duduk permasalahannya.
Kemudian Bintang pun menceritakan kejadian yang dilakukan oleh mereka berdua, mulai dari kedatangannya ke rumah Khalid sampai Ghazali menyuruhnya pulang sendiri.
Setelah tidur selama tiga puluh menit, Michael pun membangunkan Bintang, karena dia belum sholat ashar. Michael nggak mau, nanti Bintang tambah ngamuk karena tidak membangunkannya.
Setelah menjalankan kewajibannya, Bintang berendam di air hangat yang telah diberi aroma terapi. Agar pikiran dia lebih tenang. Hampir satu jam Bintang di dalam kamar mandi, bahkan sampai masuk waktu magrib.
Bintang membuka ponselnya, ternyata banyak pesan dan panggilan yang masuk. Salah satunya dari nomor baru Ghazali. Ada beberapa pesan yang dikirimnya.
Bintang, apa kamu sudah sampai ke rumah?
Maaf aku tadi tidak bisa mengantarkan kamu pulang.
Kenapa nggak dibalas, ini nomor baru aku!
Bintang, angkat dong telponnya.
Bintang hanya membaca pesan itu, tanpa satupun yang dibalas olehnya. Dia masih kesal sama Ghazali, dan akan membiarkannya sampai besok. Biasanya bila dia marah, Ghazali yang akan duluan minta maaf.
Pesan-pesan dari Ghazali masuk kembali ke ponselnya. Isinya masih sama seperti yang tadi. Bintang pun hanya membacanya saja. Sampai dia mendapatkan kembali pesan yang baru dikirim oleh Ghazali.
__ADS_1
Bintang kamu marah, ya?!
Bintang, aku ingin bertemu. Sekarang aku menuju kesana?
Mendapat pesan seperti ini, Bintang bingung harus bagaimana.
"Ada apa Bintang? Kenapa kamu mondar-mandir seperti itu?" tanya Didi yang kebetulan lewat depan kamar Bintang.
"Eh, Didi. Aku dapat pesan dari Om Ghaza, katanya dia mau kesini ketemu sama aku," kata Bintang sambil memegang ponselnya.
"Terus kenapa kamu gelisah seperti itu?" tanya Didi, biasanya Bintang sangat antusias kalau bertemu dengan Ghazali.
"Aku masih kesal padanya!" jawab Bintang dengan cemberut.
"Jadi kamu nggak mau bertemu dengan Om kesayanganmu itu?" tanya Didi kembali sambil melihat ke arah wajah Cantika yang sembab karena kebanyakan nangis tadi sore.
Bintang pun menganggukan kepalanya, tanda dia nggak mau bertemu dengan Ghazali.
"Ya sudah nanti aku bilangin kamu nggak mau ketemu lagi sama dia," goda Didi ingin melihat reaksi Bintang.
"Kok nggak mau ketemu lagi? Bintang masih kesal padanya, jadi malam ini nggak mau bertemu!" Bintang jadinya sewot jangan sampai Didi memberi informasi yang salah.
"Hahaha … tuh lihat kamu itu, sebegitu sayangnya sama Om Ghazali. Sudah temui saja dia, dan bicarakan baik-baik. Jangan sampai marahnya kelamaan, nanti Om Ghazali diambil orang lain," goda Didi sambil tertawa terkekeh.
"Ih, Didi jahat! Om Ghaza itu punya Bintang! Jadi orang lain nggak boleh mengambilnya!" Bintang malah marah-marah sama Didi.
"Lalu Om Aria itu, siapanya Bintang?" tanya Didi sambil tersenyum jahil.
"Om Aria itu calon tunangannya Bintang!" jawab Bintang dengan mantap.
Pembicaraan mereka terhenti saat mobil Ghazali sudah sampai di halaman depan.
"Tuh Om kesayangannya Bintang sudah datang," kata Didi saat mendengar suara Ghazali bicara dengan Danang dibawah.
"Akh! Cepat cegah dia untuk menemuiku!" pinta Bintang pada Didi dengan mendorongnya agar menemui Ghazali.
"Yakin nggak mau ketemu dengan Om kesayanganmu itu?!" Didi masih saja menggoda Bintang.
"Iya, Bintang ketemunya besok saja. Nggak mau malam ini!" sanggah Bintang.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA MUMPUNG HARI SENIN.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
TERIMA KASIH.