Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 16


__ADS_3

     Bintang yang saya sedang berbalas pesan dengan Isabella. Sering membuat jantungnya melompat-lompat senang. Seperti saat dia menerima pesan yang berbunyi.


Karena Ghazali begitu sangat mencintaimu, Bintang.


    Bintang sampai berguling-guling di atas kasurnya. Cinta yang ada di pikiran Bintang bukan cinta antara laki-laki dan perempuan. Melainkan cinta sebagai keluarga yang paling di sayangi olehnya.


"Ah, senangnya ternyata Om mencintai ku juga," Bintang tersenyum sambil menutup wajahnya karena malu, entah pada siapa.


    Maka Bintang pun membalas pesan itu, dengan perasaan yang berbunga-bunga. Dengan semangat Bintang mengetik balasannya.


Bintang juga mencintai, Om Ghaza.


     Namun saat pesan akan dikirim, Bintang mengurungkan niatnya itu. Dibacanya lagi pesan yang baru saja diketik olehnya itu.


"Isabella akan salah paham nggak, ya? Kalau aku membalas seperti ini," kata Bintang seorang diri.


    Maka Bintang pun mengganti balasannya lagi. Dia jujur dengan apa yang diketahuinya, agar Isabella tidak salah paham.


Aunty, perempuan yang dicintai oleh Om Ghaza adalah Kak Amara, pacarnya semenjak zaman sekolah.


    Ternyata dalam waktu singkat pesannya langsung dibalas.


Tapi, Ghaza sendiri yang bilang kalau gadis yang dia cintai, adalah Bintang. Lalu, bagaimana dengan Bintang, apa kamu juga mencintai Ghaza?


  Mendapat balasan seperti itu membuat Bintang terbangun dari rebahannya. Dia berulang kali membaca pesan itu agar tidak salah mengerti.


"Apa maksudnya Om Ghaza mencintaiku, seperti Papa dan Mama?" gumam Bintang.


"Ah … kalau benar seperti itu aku harus bagaimana … !" pekik Bintang sambil kembali rebahan dan menutup mukanya dengan bantal.


"Apa … aku juga cinta sama Om Ghaza?" tanya Bintang pada dirinya sendiri.


"Tidak … tidak … orang yang aku cintai dan akan menjadi suamiku adalah Om Aria" gumam Bintang sambil menggelengkan kepalanya.


   Bintang terdiam dan berpikir lagi, tentang perasaannya kepada Ghazali. Dia sangat sayang kepadanya, bahkan akan sedih saat melihatnya sedang sakit. Dia juga akan rindu jika tidak melihatnya meski beberapa saat. Seperti sekarang ini, Bintang akan langsung terbang ke Italia, seandainya saja Ghazali meminta dirinya untuk datang menemuinya.


   Maka Bintang pun mengetik balasan untuk pesannya tadi dari Isabella.


Bintang sangat sayang sama Om Ghaza. Bintang juga sedih saat Om Ghaza pergi, apalagi dia tidak pamit saat pergi, seakan Bintang itu orang yang tidak penting baginya.

__ADS_1


     Bintang menunggu balasan dari Isabella, tapi tak kujung juga datang. Sampai-sampai dia tertidur masih dengan menggenggam handphone-nya.


     Suara adzan subuh membangunkan Bintang dari tidurnya. Dilihatnya telepon genggam yang ada di tangannya sejak semalaman. Tapi tidak ada balasan lagi dari Isabella. Saat mengetahui itu ada rasa sedikit kecewa.


     Bintang pun bangun untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah itu dia duduk di yang berada di balkon kamarnya, Bintang sangat senang mengaji di sana sambil merasakan hangatnya sinar mentari. Udara yang masih segar, itu semua membuat hati dan pikirannya akan menjadi lebih tenang.


   Hari ini Bintang pergi ke kampus membawa mobilnya sendiri, meski begitu Michael akan tetap mengikutinya dari belakangnya sampai dia masuk ke ruang belajarnya, dan memastikan semuanya baik-baik saja.


    Mahasiswa yang melihat Michael sering menyebutnya Hot Daddy. Dengan wajahnya yang masih terlihat tampan meski usianya lebih dari empat puluh tahun, bahkan hampir lima puluh tahun. Mereka pasti tidak akan ada menyangkanya. Tubuhnya yang berotot dan berdada bidang itu membuat para wanita ingin memeluknya.


"Eh, Daddy ikut mengantar Bintang seperti biasa," kata Luna sambil tersenyum menggoda, saat berpapasan dengan Michael. Si janda kembang itu mulai beraksi. 


    Luna yang pernah mengalami kegagalan rumah tangganya, tidak takut untuk menjalin kembali hubungan dengan seseorang. Hanya saja dia akan pilih-pilih laki-laki yang pantas baginya untuk dijadikan pendamping hidup.


   Luna merupakan seorang wanita cerdas dan pekerja keras. Dia bangkit kembali mendirikan usahanya sendiri setelah semua usaha yang dirintis bersama mantan suaminya itu, diambil alih oleh suami dan istri mudanya. Bahkan saat mereka bercerai, Luna tidak diberi harta gono gini. Itu karena kelicikan wanita selingkuhan suaminya.


"Selamat pagi Madam," sapa Michael dengan sopan. Pria bule itu menjadi lebih ramah ke setiap orang setelah sering diberi ceramah oleh Bintang.


"Selamat pagi, Mister," sapa Husna saat melihat dirinya.


"Selamat pagi, Nyonya," balas Michael sambil tersenyum ramah.


"Maaf Madam, jadwal ku sudah sangat padat, jadi tidak punya waktu luang," jawab Michael. Kemudian melihat ke arah Bintang yang asik sedang berkirim pesan dengan Aria.


"Saya titip Nona Bintang, kalau ada apa-apa, tolong secepatnya hubungi aku," kata Michael sebelum dia pamit.


    Bintang yang sesekali melihat temannya, hanya tersenyum saat melihat Luna.


"Ah … Luna, kamu itu kurang dalam melancarkan aksinya dalam merayu Michael," tawa Bintang saat melihat wajah Luna cemberut.


"Aku penasaran dengan kisah cintanya Daddy," tanya Luna sambil melihat ke arah Bintang.


   Bintang hanya mengangkat kedua bahunya, karena dia sendiri juga tidak tahu. Selama Michael menjadi pengawalnya dia tidak pernah membicarakan tentang kekasihnya. Walau Bintang beberapa kali melihat kalau Michael pernah menghabiskan malam-malam panas bersama seseorang yang tidak diketahuinya. Saat Bintang menceramahinya, dia hanya menjawab dia wanita baik-baik.


"Sudahlah cari laki-laki lain saja, kalau si Daddy tidak mau sama kamu," kata Husna.


"Kamu itu, tahu kan betapa menggodanya hot Daddy. Buktinya kamu sangat senang sampai setiap hari keramas," goda Luna kepada Husna.


"Iya. Makanya kamu cepat menikah lagi!" balas Husna sambil meleletkan lidahnya membalas godaan Luna.

__ADS_1


      Bintang hanya bisa tertawa melihat itu. Otaknya sering dikasih imun sama dua orang temannya itu. Katanya buat bekal untuk berumah tangga nanti. Seperti itulah keseharian Bintang dan teman-temannya.


********


    Bintang sedang makan siang bersama Aria, di restoran dekat kantor perusahaan Aria. Setiap hari mereka berdua akan diusahan makan siang bersama. Dengan begitu mereka akan punya waktu untuk berbagi cerita, dan saling berkomunikasi mengeratkan perasaan mereka.


    Walau Aria kadang harus menahan cemburunya, kala Bintang bercerita tentang Ghazali. Bagaimana pun sosok itu tidak akan pernah bisa hilang dari keseharian Bintang, semenjak bayi.


     Sebenarnya Aria ingin mengajak Bintang, langsung saja menikah. Tidak perlu tunangan dulu, karena dia takut Bintang nantinya akan berpaling kepada yang lain. Mungkin dua tahun kebelakang dia tidak takut akan kehilangan Bintang, karena dia bisa merasakan cinta Bintang hanya untuknya. Namun beberapa bulan belakangan ini, dia merasa cinta Bintang sudah bukan lagi miliknya.


"Om, kenapa diam saja?" tanya Bintang sambil memegang tangan Aria.


      Aria terkejut dengan pertanyaan dari Bintang. Kemudian dia membalas genggaman tangan Bintang dan tersenyum kepadanya.


"Aku hanya berpikir, bagaimana kalau kita langsung menikah saja, tidak perlu tunangan?" tanya Aria sambil menatap Bintang dengan mesra, dan itu membuat Bintang salah tingkah karena malu.


"Tapi Om, nanti Papa marah. Kalau Bintang menikah di usia kurang dari dua puluh tahun," jawab Bintang sambil menunduk.


"Ya, nggak apa-apa. Om hanya mengutarakan apa yang ada dalam pikiranku saja," kata Aria lagi.


"Apa Om, punya waktu malam ini?" tanya Bintang sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Kenapa memangnya?" tanya Aria sambil menatap Bintang penuh selidik, karena ada yang aneh dengan Bintang.


"Hehehe ... ada deh," jawab Bintang sambil tersenyum jahil.


"Kamu itu kalau bicara yang jelas, biar orang lain tidak salah paham," kata Aria sambil mencubit pipinya Bintang.


"Ih, Om ... kayak Om Ghaza saja suka cubit pipi Bintang," kata Bintang sambil menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi miliknya.


Aria langsung terdiam, saat lagi-lagi nama Ghazali disebut oleh Bintang.


"Apa nama itu selamanya akan kamu sebut setiap hal yang terjadi pada dirimu" gumam Aria sambil menatap nanar ke arah Bintang.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2