
Paris berada di dalam kamar bawah tanah. Dia sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari sana. Tanpa memancing keributan dengan Milan. Cuma berdialog dengan tenang, jangan seperti semalam yang ujung-ujungnya malah saling marah dan berteriak.
Milan pun masuk ke kamar tempat Paris, disekap. Dia datang dengan tangan terluka kena tembak.
"Kenapa kamu bisa terkena luka tembak?" tanya Paris.
"Ada Roma dan Petinggi lainnya datang ke sini. Mereka berniat memusnahkan kelompokku," jawab Milan.
"Kenapa kamu harus terjun ke dunia yang kamu tidak mau terlibat?" Paris merobek lengan baju Milan.
"Kamu tahu 'kan kalau hanya ini yang bisa aku lakukan untuk melindungi keluargaku yang tersisa. Biar aku seorang diri yang menanggung semuanya. Sama seperti Roma, demi melindungi Chelsea, dia rela menjatuhkan dirinya ke dunia yang dia benci." Milan meringis saat Paris sedang mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya.
"Ini kesalahan para leluhur kalian, yang melakukan sumpah darah," ucap Paris dengan kesal.
"Iya, makanya aku salut sama Kakek San Marino. Dia tidak mau anak cucunya terlibat, maka dia berusaha untuk terus hidup. Bahkan anak lelaki satu-satunya, dia biarkan kabur dari rumah. Meski baru-baru ini sudah diketahui keberadaan mereka," balas Milan.
"Leluhur kalian itu memang gila semua. Demi menjaga kekuasaan agar tetap terjaga, sampai harus hal seperti ini." Paris memberikan obat penahan rasa sakit dan membalut luka Milan.
"Terima kasih," kata Milan begitu Paris selesai mengobatinya.
"Kamu harus pergi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Ini hanya pertolongan pertama dan pencegahan terkena infeksi." Paris menjauh dari Milan.
Milan memperhatikan Paris, yang kini duduk di sofa tunggal. Sambil menaikan kakinya dan memeluknya. Ada rasa bersalah telah menahan Paris di sini. Namun, ini caranya untuk memancing Helsinki agar dia ikut gabung dengannya. Dia dan Madrid adalah kelompok yang menentang hak waris turun temurun dalam keluarga mafia Red Dragon. Mereka menginginkan perombakan dalam struktur organisasi kelompok mereka. Tidak harus menjadikan pewaris keluarga yang menjadi salah satu Petinggi.
******
Angkasa membaca buku harian milik Helsinki dan mendiang istrinya. Banyak sekali informasi yang tertulis di sana. Bahkan dirinya dibuat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang tertulis di kedua buku harian itu. Maka, dia pun membuka album foto yang tadi diberikan kepadanya, bersama buku hari itu.
Dalam album foto lama itu banyak sekali foto keseharian keluarga Helsinki bersama orang tua dan saudaranya. Kebahagian keluarga itu tergambarkan di sana. Mengingatkan Angkasa bersama saudara-saudaranya.
__ADS_1
Athena sedang menyuapi Chelsea dan dia juga ikut memakan kue biskuit untuk bayi itu. Sejak pagi, dia belum makan. Maka, tidak masalah makan kue bayi. Malah menurutnya biskuit bayi itu sangat enak.
Akira masih memeriksa cctv, milik markas Milan. Dia mencari tahu ruang-ruang dan jalan rahasia. Bangunan markas milik Milan, ini termasuk bangunan zaman akhir abad ke-18. Banyak sekali ruang rahasia dan tembok mereka kokoh-kokoh.
"Iya, ada apa Allesio?" tanya Akira.
"Kita sudah membereskan semua yang ada di luar. Hanya saja ada satu kelompok yang berhasil kabur."
Akira mendapatkan kabar dari Allesio kalau mereka sudah berhasil mengalahkan semua lawan mereka. Hanya kelompok Roma yang berhasil melarikan diri.
"Ada apa, Paman Akira?" tanya Angkasa begitu sambungan Akira dan Allesio terputus.
"Roma, berhasil melarikan diri," jawab Akira.
******
Langit dan Bintang berjalan bergegas di bandara menuju mobil yang sedang menunggu mereka di luar bandara. Langit yang masih bersungut-sungut dan Bintang yang diam cemberut, akibat dari kelakuan kembaran mereka.
Bintang juga sama, dia sedang sayang-sayangan sama Ghazali lewat video call. Angkasa memintanya untuk datang ke Italia sambil membawa senjata miliknya dan juga untuk Paris.
"Apa nggak bisa nunggu sampai besok atau nanti malam?" Gerutu Mentari sambil menarik koper berisi senjata, dan memasukannya ke dalam bagasi mobil.
"Uncle, antara kita sampai markas Red Dragon, ya! Ngebut juga nggak apa-apa!" Perintah Bintang sambil bersandar di punggung kursi jok belakang.
Langit dan Bintang menuju ke markas, sambil beristirahat. Sejak dari pagi keduanya terus sibuk, menyelidiki keluarga Chelsea dan sanak saudara Caracas. Keduanya hanya diam dan memejamkan matanya, tetapi tidak sampai tidur.
"Kak Angkasa kita sudah berada di depan gerbang markas kelompok Red Dragon milik Milan," kata Langit begitu sampai sana dan menghubungi Angkasa.
"Tunggu, berhati-hatilah. Ada anggota kelompok Roma yang berhasil lolos," balas Angkasa.
__ADS_1
"Oke, aku akan hati-hati," lanjut Langit.
Mentari dan Langit terkejut saat mereka bertemu dengan Alessio. Sosok Paman Mafia, yang sudah mereka kenal sejak masih kecil.
"Uncle Ale!" Teriak Bintang sambil berlari ke arah Alessio yang sedang membereskan anggota Red Dragon, yang mati atau yang masih hidup.
"Bintang!" Alessio membalas panggilan Bintang. Betapa bahagianya dia bisa bertemu dengan Bintang.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Alessio begitu Bintang dan Langit berada di sisinya.
"Kita ditelpon oleh Kak Angkasa, di suruh ke sini." Bintang menunjukan tas koper berisi senjatanya.
"Kita mau membebaskan istrinya Kak Angkasa, juga," kata Langit memberi tahu apa yang menjadi tujuannya.
"Angkasa juga sudah menikah?" tanya Alessio dengan sangat terkejut.
*****
Bagaimana pembebasan Paris?
Apa akan berjalan lancar?
Tunggu kelanjutannya ya.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.
__ADS_1
TERIMA KASIH.