Trio Kancil

Trio Kancil
#BINTANG 40


__ADS_3

     Alex memasuki buritan kapal, di sana ada dua orang yaitu Agen X dan Agen M. Mereka malah sedang asik-asik di sana. Ketika yang lain sedang berkelahi ini malah sibuk bercumbu.


"Oh … sepertinya aku salah masuk!" Senyum Alex sinis, dan merasa jijik kepada pasangan mesum itu.


    Tanpa Alex duga, Agen X menembakan pelurunya ke arah dirinya. Untung saja dia cepat menghindar. Sehingga peluru itu tidak mengenainya. Alex pun membalasnya dengan cepat, dan mengenai dada Agen M yang terbuka. Dalam seketika Agen M pun tumbang, tak sadarkan diri.


"Wah, ternyata setelah di kembangkan, efeknya langsung terasa!" kata Alex kagum dengan hasil kerja Angkasa.


    Sebenarnya Angkasa bukan pembuat senjata. Dia adalah seorang Dokter yang merangkap sebagai apoteker, yang suka meracik obat atau penawar racun, sendiri. Angkasa juga diberi kekayaan oleh Arthur berupa semua aset rumah sakit dan laboratorium sains, serta perkebunan anggur tambah perkebunan jagung oleh Alex.


"Apa yang kamu lakukan kepada wanitaku!" teriak Agen X sambil menarik tubuh agen M.


"Tenang saja, dia sudah kena racun mematikan, paling lama racun menyebar dalam tubuhnya adalah dua puluh empat jam," kata Alex sambil tersenyum miring ke arah Agen X.


"Kau …," Agen X menembak secara membabi buta ke arah Alex, menggunakan dua pistolnya. Salah satu pelurunya yang memantul mengenai lengan kirinya.


     Alex pun bersembunyi di sebuah ruangan yang berada di dekat sana. Untungnya, dia membawa alat pertolongan pertama. Tinggal nanti minta tolong ke Angkasa.


     Terdengar suara derap kaki yang mendekati ruangannya. Alex pun bersiaga di tempatnya. Kemudian beberapa orang dari mereka itu menghentikan larangannya. Tak berapa lama, terdengar kembali suara langkah kaki yang menjauh.


*******


    Ghazali dan Bintang sekarang sedang melawan Agen S, yang dibantu oleh Agen W dan agen P. Mereka menggunakan senjata berat yang memiliki isi peluru yang banyak. 


     Agen P memberondong Ghazali dan Bintang di ruangan tanpa ada tempat untuk berlindung. Itu membuat Bintang harus berlari memisahkan dirinya dengan Ghazali. Karena sudah kepepet, dan tidak punya senjata. Maka Bintang menjadikan mayat awak kapal sebagai tamengnya. Kemudian dia melemparkan mayat itu ke arah Agen P.


     Saat Agen P terjengkang akibat lemparan mayat oleh Bintang. Tidak di sia-siakan kesempatan itu oleh Bintang. Kakinya langsung menendang tembakan yang berukuran lumayan besar itu ke arah Ghazali, "Om Ghaza!"


    Ghazali dengan cepat mengambil senjata milik musuh, dan menembakan pelurunya ke arah mereka. Sedangkan Bintang menghajar Agen P dengan tangan kosong. Bintang tidak memberi ampun kepada Agen P. Tiap dia akan bangun, Bintang langsung menghajarnya.


     Ghazali dan Agen W saling adu tembak. Agen S yang melihat Bintang sedang fokus pada Agen P yang sudah tidak berdaya, sehingga melupakan dirinya yang sedang memperhatikannya. Maka dengan cepat Agen S menyandera Bintang, dan langsung memasangkan bom kalung di lehernya.

__ADS_1


     Bintang sungguh sangat terkejut, saat dirasa ada yang menarik dan memeluk lehernya. Kemudian memasang sebuah alat di lehernya,


"Om Ghaza!" teriak Bintang memanggil suaminya.


     Ghazali yang sudah berhasil mengalahkan Agen W, melihat ke arah Bintang. "Bintang!" balas Ghazali dengan suaranya yang melengking.


    Ghazali panik saat melihat Bintang telah kembali disandera. Dia pun maju ke arah Bintang dan Agen S yang berjalan mundur ke arah pintu luar.


"Lepaskan Bintang!" perintah Ghazali kepada Agen S, sambil mengacungkan senjatanya, ke arah Agen S.


"Silahkan saja tembak, maka istri kamu akan mati. Karena di lehernya sudah dipasang alat bom," Agen S tertawa terkekeh.


     Mendengar itu, Ghazali tidak bisa berkutik. Agen S menarik Bintang dengan paksa. Saat Bintang akan melawan Agen S berusaha menghentikannya.


"Nona kalau kamu melawan maka bom di lehermu akan meledak!" Agen S mengingatkan Bintang, kalau dia saat ini adalah seorang sandera yang harus menuruti keinginan si penyandera.


"Bintang, aku mohon jangan membuat dia marah," kata Ghazali berusaha menenangkan Bintang.


    Maka, Bintang pasrah aja saat di bawa ke bagian geladak kapal dan menaiki sekoci. Meski awalnya Bintang menolak, tapi Agen S memaksanya, untuk ikut naik. Jadilah kini Bintang dan Agen S menaiki sekoci meninggalkan kapal feri yang tadi membawa mereka.


"Bintang!"


"Bintang!"


     Teriak Langit, kemudian Alex yang berada di buritan kapal juga ikut memanggilnya. Mereka melihat Bintang sudah menaiki sekoci. Saat Langit dan Alex akan menembak Agen S. Ghazali menghentikannya.


"Hentikan! Kalian jangan tembak dia. Bintang saat ini sedang menjadi sandera dan terpasang bom di lehernya!" teriak Ghazali agar bisa didengar oleh semuanya.


     Semua orang yang berada di kapal feri itu jadinya terdiam. Mereka harus hati-hati mengambil keputusan. Agar jangan sampai Bintang celaka.


     Setelah Bintang dan Agen S mulai menjauh, maka dua saudara kembarnya mulai beraksi. Kedua pemuda itu kini sudah memakai baju selam.

__ADS_1


"Papa, tolong antarkan kita sampai ke dekat mereka. Nanti alihkan juga perhatian mereka, ya!" pinta Langit kepada Alex yang mulai menghidupkan mesin sekoci.


"Tuan Alex, izinkan saya juga ikut!" Michael sudah siap dengan rompi pelampungnya.


"Ya, Kamu juga boleh ikut." Akhirnya mereka berempat menaiki sekoci itu. Kalau Ghazali lebih memilih naik helikopter, bersama dengan Khalid. Sedangkan A dan tim keamanan keluarga Hakim, membereskan para penculik yang sudah tak sadarkan diri di kapal feri itu. Sedangkan Nahkoda, mereka biarkan saja. Namun saat semuanya sudah diangkut ke dalam helikopter milik Khalid. Nahkoda itu juga bilang ingin ikut pulang. Maka, mereka pun membawanya.


     Alex melajukan sekocinya dengan cepat dan berusaha mendekati posisi Bintang. Saat sudah dekat Langit dan Angkasa turun menyelam kedalam laut, dan mendekati sekoci Bintang.


"Tunggu! Berhenti kataku!" teriak Alex mencoba mengalihkan Agen S.


"Bagaimana kalau kita tukar dengan uang tebusan?!" Teriak Alex tersapu suara angin laut yang begitu kencang.


"Kamu mau berapa?! Akan aku bayar!" teriak Alex kembali.


     Sekoci Alex bisa menyusul Agen S dan Bintang. Kemudian menghadangnya dari arah depan. Mau tidak mau Agen S harus menghentikan laju sekocinya.


"Ayo kita negosiasi! Kamu mau berapa? Maka akan aku bayar," kata Alex yang kini menatap tajam kepada Bintang.


    Bintang mengerti kalau Alex sedang memberikan kode kepadanya. Maka dia pun diam menunggu instruksi selanjutnya. Bintang juga ikutan memprovokasi Agen S.


"Iya, Paman. Tinggal ngomong aja berapa uang yang di minta, pasti akan Papa penuhi ke inginan Paman itu." Bintang berbicara selembut mungkin agar Agen S tidak curiga kepadanya.


"Paman mau Sepuluh Milyar pun akan Papa penuhi," kata Bintang.


Mendengar itu Agen S, jadi bercabang pikirannya. Dia sudah tidak bisa konsentrasi tinggi lagi.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2