
Almahira yang panik saat terjatuh, langsung melingkarkan tangannya di leher Langit. Saat Langit berhasil menarik tangan kemudian memeluknya dengan sebelah tangan.
Posisinya sekarang Langit melindungi kepala Almahira menggunakan sebelah tangan. Sementara satu lengannya lagi mendekap erat tubuh Almahira.
Saat Langit dan Almahira mendarat, lift itu bergerak turun kembali ke lantai bawahnya. Mungkin karena beban berat yang tiba-tiba menimpa atap lift itu.
"Aaaahk!" teriak Almahira yang panik saat lift itu bergerak turun ke lantai bawahnya.
Langit pun menundukkan tubuhnya dan Almahira pun semakin mengeratkan pelukannya itu. Keduanya tidak sadar kalau mereka berpelukan lebih dari sepuluh menit.
Langit mendongakan kepalanya dan berteriak meminta bantuan kepada Tim Keamanan yang berada di atas.
"Paman Tim Keamanan! Minta tali buat manjat," teriak Langit menggema dari bawah.
"Tunggu, dulu!" suara dari atas tidak diketahui siapa itu.
Langit pun baru menyadari kalau dia dan Almahira sedang berpelukan. "Aduh lepas jangan ya? Tapi aku suka banget, sangat nyaman memeluk tubuhnya. Biar Alma saja yang lepas. Pura-pura diam aja," bisiknya dalam hati.
Almahira juga baru menyadari, kalau dia dan Langit sedang berpelukan. Sebenarnya dia juga merasa nyaman berada dalam pelukan Langit. Namun dia takut terjerumus dalam dosa yang lebih jauh lagi, maka Almahira menguraikan pelukannya.
"Maaf, aku tidak sadar melakukannya," suara Almahira terdengar mengalun merdu di telinga Langit.
Keduanya kini duduk dengan canggung. Almahira mukanya sudah merah merona semenjak dirinya menyadari sudah memeluk Langit begitu erat. Makanya sekarang dia menunduk tidak berani melihat Langit yang duduk tidak jauh darinya.
Langit merasa dirinya sedang mendapatkan kebahagiaan atau keberuntungan dari suatu musibah yang tengah menimpa dirinya dan Almahira.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Langit sambil memperhatikan Almahira yang sedang menundukan kepalanya dari tadi.
"Iya … saya dalam keadaan baik-baik saja," jawab Almahira.
"Tidak ada yang terluka atau terkilir maksudku?" Langit menggeser duduknya mendekati Almahira.
"Iya, semuanya baik." Almahira pun menggeser lagi menjauhi Langit.
"Kenapa kamu menjauhi aku?" tanya Langit saat Almahira menggeser tubuhnya menjauh.
"Hanya ingin menjaga diri saja," jawab Almahira dengan lembut.
"Kenapa kamu tidak mau melihat aku?" tanya Langit lagi karena merasa gemas dengan Almahira yang sejak tadi terus menunduk.
__ADS_1
"Sedang menjaga diri," jawab Almahira lagi.
Langit geregetan sama tingkah Almahira. Rasanya ingin menariknya lagi kedalam pelukannya dan melihat wajahnya. Kalau saja dia tidak ingat dosa, mungkin dia tidak akan melepaskan pelukannya tadi.
"Boleh aku panggil kamu dengan sebutan Alma?" tanya Langit. Sebab tidak semua orang yang panggil dia Alma, hanya orang-orang yang dekat dengannya yang panggil dia seperti itu. Sementara yang lainnya memanggil dia Almahira.
"Boleh. Kalau begitu aku boleh panggil kamu Langit saja?" Almahira balik bertanya kepada Langit.
"Ya, silahkan. Atau mau panggil 'Sayang' juga boleh," kata Langit sambil tersenyum jahil.
Almahira terkejut dengan ucapan Langit barusan. Ditatapnya wajah bule milik Langit yang sedang tersenyum kepadanya. Jantung dia merasa berdetak berkali-kali lipat lebih cepat saat Langit bilang 'Sayang'.
"Kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Almahira sambil menatap Langit dengan tatapan menelisiknya.
Langit tertegun sesaat. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. Saat ini dia harus menyembunyikan identitas dirinya. Langit pun merutuki kebodohannya. Kenapa tadi bilang 'Sayang', bukan 'Darling' saja.
"Hm, mama dan papaku … mereka selalu panggil 'Sayang'. Karena di Indonesia memanggil orang yang disukainya dengan sebutan 'Sayang'. Mama bilang aku juga dibuat di Indonesia, tepatnya di Bali. Hehehe…," Langit salah tingkah dibuatnya.
Almahira kehabisan kata-kata saat Langit bilang, kalau sebutan 'Sayang' untuk orang yang disukainya. Almahira tahu untuk siapa saja sebutan 'Sayang' itu. Namun mana mungkin dia akan memanggil Langit dengan sebutan 'Sayang'.
"Aku panggil kamu Langit saja seperti yang lainnya," kata Almahira pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Langit.
******
Almahira melihat ke arah Langit yang sangat terlihat tampan dari samping. Almahira baru pertama kali merasa ada perasaan asing dalam dirinya. Dadanya berdetak terlalu cepat, maka dia memegang dadanya itu.
"Dada kamu sakit, Alma?" tanya Langit sambil melihat ke arah Almahira dengan cemas.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menahannya," jawab Almahira gugup kemudian menundukkan kepalanya.
Walau Almahira bilang tidak apa-apa, Langit tetap cemas. Dilihatnya lagi ke atas, mungkin saja Tim Keamanan sedang melakukan penyelamatan untuk mereka.
"Hei! Apa kalian bisa mendengar aku!" teriak Langit dengan suaranya yang lantang.
"Iya kami mendengarnya. Kalian bisa keluar lewat pintu life lantai dua. Kami sedang membukanya. Akan lebih aman kalau kalian keluar lewat sana!" Seorang Tim Keamanan melongokan kepalanya ke bawah.
"Jadi kami harus turun ke bawah?" tanya Langit dengan berteriak lagi.
"Iya! Turunlah, masuk ke kotak lift!" jawab Tim Keamanan itu lagi.
__ADS_1
Langit pun menghela napasnya. Dia sungguh tidak suka kalau, orang-orang di sekitarnya bergerak lambat.
"Langit san, bisa mendengar kami?" tanya seseorang dari bawah.
"Iya, aku bisa mendengar," jawab Langit sambil membungkukkan badannya ke bawah lubang lift.
"Turunlah ke bawah! Kami sudah membuka pintu liftnya," kata seseorang memberi perintah kepada Langit.
"Baik. Kami sekarang akan turun!" Langit menjawab dengan suara yang lantang.
Langit pun melihat ke arah Almahira, yang juga sedang menatap kepadanya. Langit hanya tersenyum, sambil menunjuk ke lubang untuk turun.
"Apa kamu bisa?" tanya Langit.
Almahira tidak menjawab, tapi wajah dan tatapannya, mengisyaratkan kalau dia tidak bisa atau ragu-ragu bisa melakukannya.
"Baiklah aku turun duluan. Selanjutnya kamu, akan aku bantu dari bawah," kata Langit sambil tersenyum tipis.
Langit pun turun dan mendarat dengan mudahnya. Kini tinggal Almahira, yang menengok ke bawah melihat Langit.
"Ayo turun saja aku akan menangkapmu dari bawah!" seru Langit sambil mengangkat kedua tangannya.
"Tangkap aku, ya!" pinta Almahira dengan wajah memohonnya.
"Iya, pasti aku akan tangkap kamu!" jawab Langit.
Maka Almahira pun turun dan melompat ke dalam pelukan Langit. Dia langsung memeluk tubuh laki-laki, yang sejak tadi sudah membuatnya jantungnya berdebar kencang. Mata dia tutup dengan rapat saat melompat tadi, bahkan sampai sekarang.
Wajah Langit dan Almahira hanya berjarak beberapa senti saja. Membuat Langit gugup tapi seneng. Dia pun tidak menurunkan tubuh Almahira, masih saja dalam pelukannya.
Almahira merasa aneh karena kakinya belum juga menyentuh lantai lift. Dibuka matanya, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah tampan Langit yang beberapa senti jaraknya dengan dia. Kedua orang itu saling menatap dan seolah terhipnotis oleh wajah orang yang berada di depannya.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1