Trio Kancil

Trio Kancil
BAB 34


__ADS_3

Sekarang adalah hari Minggu, hari yang ditunggu - tunggu hampir semua orang. Termasuk si Trio Kancil yang sejak tadi subuh merengek pada Mamanya ingin main ke time zone. Tetapi ditolak oleh Cantika, karena dia masih trauma akan penculikan anaknya. Hari Minggu biasanya dia menghabiskan waktu bersama anak - anaknya mau itu main dirumah atau main di luar rumah.


" Sayang mainnya dirumah saja, ya ?",


" Tuh ada Tante Christina sama Tante Gaya lagi bercocok tanam di belakang. Katanya mau nanam pohon strawberry ", rayu Cantika pada anak - anaknya.


" Beneran Ma ?!" Bintang sangat antusias.


" Ayo kita ke kebun belakang ", Langit mengajak sambil berlari keluar menuju kebun yang berada di belakang rumah.


Angkasa dan Bintang berlari mengikuti Langit dengan antusias. Sedangkan Cantika berjalan sambil tersenyum melihat tingkah mereka.


" Cantika, Paman mau pamit pulang. Nanti kalau ada apa - apa, cepat hubungi Paman, ya " Ja'far berjalan kearah Cantika yang di ikuti istrinya.


" Iya, Paman. Terima kasih sudah mau membantu Cantika ", Cantika menyalami dan mencium tangan Paman dan Bibinya.


" Paman sudah meminta seorang teman untuk menyelidiki kembali kasus kemarin dan akan mengumpulkan bukti kalau benar Anggit adalah biang keladi dari penculikan si kembar ",


" Terima kasih. Tapi dari kejadiaan ini Cantika dapat mengambil hikmahnya. Begitu juga dengan anak - anak, agar mereka tidak mudah ikut dengan orang yang tak dikenal ",


" Sayang semoga kamu dan anak - anak selalu dalam lindungan Allah ", Bibi Sinar mendo'akan sambil memeluk Cantika.


" Aamiin ".


" Mentari masih mau menginap disini katanya", 


" Cantika senang kalau Mentari mau tinggal disini ", 


" Ah, dirumah sepi dong. Cuma Paman sama Bibi, berdua ?"


" Nggak apa - apa Bun. Biar terasa pengantin baru lagi, kalau tinggal berdua " Ja'far tersenyum menggoda istrinya.


"  Emm, Ayah maunya gitu ?!", 


" Udah kita berangkat sekarang keburu siang ", ajak Jafar.


                  * * * * * * *


     Di kebun belakang tampak Christina dan Gaya sedang asik menanam pohon strawberry yang ditanam di dalam polybag tanaman. Keduanya sibuk memasukan tanah ke polybag kemudian di tanami benih pohon strawberry, sambil membicarakan masalah penculikan kemarin.


" Chris, gue curiga kalau otak dibalik penculikan kemarin adalah si Mak Lampir ", Gaya mengemukakan apa yang ada di pikirannya.


" Iya, gue juga curiga. Tapi tuh orang be*go banget kalau mau disuruh ngaku kalau dia yang menyuruh menculik anak - anak. Apalagi alasannya nggak masuk akal lagi "


" Ini pasti ada campur tangan orang yang berkuasa ", Gaya menata polybag berjajar di bawah pohon pisang.


" Apa ada sangkut pautnya dengan si Arga, ya?" Cristina memalingkan wajahnya menghadap Gaya.

__ADS_1


" Bisa jadi. Karena beberapa hari kemarin si Mak Lampir itu datang ke cafe, terus marah - marah ".


" Wah, gila juga tuh cewek. Apa udah putus urat malunya !?", 


" Iya kali. Kalau punya urat malu nggak akan gitu ", Gaya dan Christina tertawa.


" Tante, Langit pingin ikutan nanam juga ", 


" Bintang juga ",


     Gaya dan Christina menoleh kebelakang dan dilihatnya ketiga anak kembar itu berlari kearahnya.


" Ayo sini !",


" Ini sekop sama polybag-nya ", Gaya memberikan pada Langit dan Bintang.


" Lalu bagian Angkasa mana ?"


" Ini Angkasa masukin benih pohonnya " Gaya memberi contoh.


" Tante dapat benih pohon strawberry dari mana kok banyak banget ?", Bintang bertanya sambil memasukan tanah ke polybag.


" Kebetulan kemarin ada temen yang datang ke butik, dia punya perkebunan strawberry. Dulu Tante pernah minta benihnya mau nanam disini. Karena kalian suka sama strawberry yang Tante bawa dari perkebunannya saat main kesana. Ingat nggak ? ".


" Oh strawberry yang buahnya besar - besar, yang pernah Tante Gaya bawa dulu saat pergi ke Bandung!? ", Langit mengingat kalau dulu Gaya pernah bawa oleh - oleh strawberry .


" Tante pohon strawberry-nya jadi banyak ada dua puluh pohon ", Angkasa menghitung pohon yang telah mereka taman.


" Lumayan tuh kalau sudah berbuah ", Gaya tersenyum pada ketiga bocah yang sibuk merapikan barisan pohon strawberry-nya.


" Sekarang, ayo kita siram !!" Ajak Gaya dan disambut antusias sama anak - anak.


                 * * * * * * *


     Di sebuah rumah mewah bertingkat, ketiga penghuninya sedang duduk di ruang keluarga.


" Apa maksudnya ini Anggit !!!"


" Kamu mau mencoreng nama baik keluarga ini, dengan menculik anak - anak yang tidak bersalah ?!!"


     Suara kepala keluarga itu terdengar keras memenuhi ruangan yang luas dan mewah itu.


" Tidak Papi, Anggit tidak punya maksud apa - apa . Hanya saja...", tiba - tiba Anggit terdiam tidak meneruskan kata - katanya.


" Hanya apa ?"


" Apa hanya karena kamu cemburu dan marah pada ibunya mereka, sehingga kamu menculik anaknya !", 

__ADS_1


" Bagaimana cara jalannya pikiran kamu itu !!!"


" Untung saja kali ini ada Baharudin yang membantu. Kalau tidak kamu bakal dipenjara ", 


     Budiono Dijaya marah akan kelakuan anak perempuan kesayangannya itu. Karena kelakuannya bisa menyeret dirinya dan mendapat penilaian buruk dari masyarakat. Apalagi dirinya selain seorang pengusaha, dia juga seorang wakil rakyat.


     Anggit hanya bisa menangis tersedu - sedu di pelukan Maminya. Dia tidak menyangka kalau tindakannya yang semula hanya mau menggertak Cantika, karena dia mendapat laporan dari anak buahnya kalau Arga mendatangi Cantika di cafe pagi - pagi sekali. Ternyata jadi begini akibatnya, semua jauh dari rencana dia. Dia sebenarnya cuma mau meminta Cantika untuk pergi jauh beserta anak - anaknya agar Arga tidak bisa menemui mereka lagi. Tapi karena berita yang ramai di dunia maya dan berita gosip di televisi, jadinya dia nggak bisa berbuat apa - apa. Dirinya tidak menyangka kalau ketiga bocah itu ternyata terkenal.


     Anggit bisa lolos dari kasus ini dengan bantuan orang dalam yang pandai tapi di salah gunakan kepintarannya untuk hal yang buruk. Anggit juga mendapat kabar kalau keluarga Arga mau membatalkan pertunangan dengannya. Tapi lagi - lagi Papinya bisa mengatasinya dengan baik, sehingga pembatalan itu tidak jadi.


" Kali ini sebelum kamu bertindak harus dipikirkan baik - baik " Andi menasehati putrinya itu.


" Iya, Pih. Maafin Anggit " Anggit memeluk Papinya dan dibalas pelukan yang penuh kasih sayang.


                  * * * * * * *


     Di sebuah rumah yang berada diseberang depan rumah Cantika. Akira sedang memainkan laptopnya. Dia sedang mencari bukti yang bisa menjerat Anggit masuk ke penjara. Sedangkan Alessio sesekali memantau rumah didepannya.


" Wah aku nggak menyangka ternyata wanita ini anak dari seorang dewan yang punya reputasi baik ",


" Orang tua baik, belum tentu anaknya juga baik ", Mark datang membawa sebotol minuman anggur dan beberapa gelas.


" Kalian mau minum ?" Tawarnya pada kedua rekannya.


" Hey, kita sedang bertugas. Jangan sampai mabok karena kebanyakan minum ", tolak Alessio


" Sudah lama kita tidak bekerja sama. Dan sekarang kebetulan bisa berkumpul lagi ", Mark meminum Anggur mahal yang didapatnya dari kiriman anak buah Alex yang ada di Amerika.


" Menurut kalian lucu nggak sich. Big Bos kita punya pabrik anggur berkualitas baik, tapi dirinya tidak pernah minum. Sayang sekali kan ?" Mark masih menikmati minuman di gelasnya.


" Ya, karena kepercayaannya melarang dia minum yang dapat memainkannya ", jawab Alessio.


" Terus kenapa dia punya pabrik anggur ?"


" Itukan peninggalan leluhurnya, dan lagian Big Bos kita tak pernah menggunakan uang dari hasil penjualan minuman anggur itu ", Alessio duduk di samping Akira.


" Padahal uang yang dihasilkan dari pabrik minuman anggur sungguh banyak. Mengingat harganya yang mahal dan menjadi minuman favorit karena rasanya yang enak ", Mark menuangkan lagi Anggur kedalam gelasnya.


" Kalau menurutku yang paling lucu adalah harus bisa bahasa Indonesia kalau mau mengajukan proposal kerjasama dengannya ", Akira masih asik dengan jari - jari yang lincah bermain di laptopnya.


" Kalian ingat sayembara yang dia buat untuk mencari seorang gadis Indonesia yang ditemuinya waktu di Bali. Hanya dengan sebuah gambar lukisan wajah saja tanpa informasi apa pun ", Alessio mengingatkan teman - temannya itu akan tindakan Alex yang membuat semua anak buahnya menyerah.


" Hahaha.... Iya padahal hadiah yang dia berikan tak tanggung - tanggung. Dua puluh persen saham di pertambangan miliknya. Tapi tak seorang pun yang dapat menemukannya ", Mark masih terus tertawa.


" Wow, lihat si Big Bos akan datang kesini ", Alessio memperlihatkan pesan singkat yang baru saja diterimanya dari Alex.


                 * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2