Trio Kancil

Trio Kancil
#ANGKASA 33


__ADS_3

     Roma berhasil menyalip mobil Angkasa, dan menghadangnya. Mau tidak mau Angkasa menghentikan lajunya karena takut terjadi sesuatu pada Chelsea. Jika, dia memaksa untuk menabrakan mobilnya. Roma keluar dan menghampiri Angkasa.


"Angkasa turun! Ayo kita bicara." Roma berdiri di depan mobil Angkasa.


    Angkasa yang kesal karena telah diganggu oleh Roma, hanya membuka kaca mobilnya. "Apa yang mau kamu bicarakan?"


"Aku, mencari Chelsea selama ini. Karena saat malam kejadian itu Kak Caracas menelepon aku. Dia minta aku untuk melindungi Chelsea. Saat itu aku sedang berada di Hongkong. Meski aku langsung terbang ke sini, tetap saja semua sudah terlambat. Aku mengurus dulu upacara kematian kakak dan kakak iparku. Aku tidak tahu Chelsea ada dimana? Bahkan aku melaporkan ke polisi." Roma berbicara dengan nada agak keras.


"Maaf, ya. Apapun yang terjadi Chelsea tidak akan aku berikan pada siapapun!" Angkasa bicara tidak kalah keras karena kesal.


"Aku adalah wali satu-satunya. Aku keluarga yang masih memiliki hubungan darah dengannya."


"Aku tidak akan mempercayai siapapun!" 


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?" tanya Roma dengan nada rendah.


     Angkasa yang membutuhkan tenaga untuk membantunya menyusup ke Red Dragon. Maka, dia pun memintanya untuk menyelamatkan Paris, dulu. Soal Chelsea, nanti dibicarakan lagi dan Roma pun menyetujuinya.


     Angkasa dan Roma pun sampai ke depan gerbang markas Red Dragon. Keduanya pun keluar dari mobil masing-masing. Angkasa mendekat ke depan pintu besi yang berdiri kokoh.


"Aku ingin bertemu dengan Milan. Katakan Angkasa Ander ... eh, Angkasa suaminya Paris datang!"


     Laki-laki berpenampilan serba hitam itu pun menghubungi lewat earphone dan memberitahu tentang kedatangan Angkasa. Laki-laki itu pun membukakan pintu gerbang. Maka Angkasa dan Roma pun masuk. 


     Angkasa melihat bangunan yang tinggi kokoh dan besar. Sambil menggendong Chelsea di punggungnya dan tas ransel berisi perlengkapan miliknya untuk jaga-jaga.


     Kini Angkasa dan Roma berdiri di sebuah ruang yang luas. Menunggu ke datangan Milan. Hampir setengah jam kedua orang itu berdiri di sana. Angkasa asik bicara dengan Chelsea. Saat Roma mengajak Chelsea bicara, bayi itu malah mengabaikannya.


     Milan pun menuruni tangga dan tersenyum kepada kedua orang itu. Dia senang melihat orang yang menjadi saingan dirinya.


"Selamat datang Angkasa! Roma! Di markas Red Dargon. Aku senang kedatangan tamu di hari yang membahagiakan diriku. 


"Kembalikan Paris, kepadaku!" pinta Angkasa.


"Maaf, kini Paris sudah menjadi milikku." Milan tersenyum dengan lebar dan mendekat ke arah Angkasa.

__ADS_1


"Bagaimana, ya? Paris itu sudah menjadi milikku seutuhnya," bisik Milan tepat di dekat telinga Angkasa.


     Mendengar itu Angkasa langsung mencengkram leher Milan. Kemarahan terpancar dari sorot matanya. Milan yang tidak siap dengan serangan dadakan Angkasa, sangat terkejut dan merasakan sakit di sekitaran lehernya.


"Aku tidak segan-segan untuk membunuhmu!" Angkasa bicara penuh penekanan.


     Milan malah terkekeh mengejek Angkasa, karena ruang itu sudah di kepung oleh beberapa orang anggota Red Dragon. Namun, Angkasa tidak takut atau menciut nyalinya. Dia malah langsung menodongkan pistol ke arah Milan. Roma yang berdiri di depan Angkasa malah mendorong tubuh Milan dan para anggota Red Dragon, langsung menembakan peluru ke arah meraka. Untungnya Angkasa sempat menundukan badan dan kepala. Jadi, dia selamat dari tembakan peluru yang banyak di arahkan kepadanya.


"Apa yang kamu lakukan!" teriak Angkasa kepada Roma.


      Angkasa langsung berlari mencari tempat berlindung. Chelsea pun menangis dengan sangat kencang karena mendengar suara tembakan yang saling bersahutan. Angkasa merutuki dirinya karena lupa kepada kalau dia sedang mengendong Chelsea. Maka dengan cepat dia memasangkan penutup telinga dan mata untuk bayi. Agar mengurangi ketakutan Chelsea.


"Cup ... Cup ... anak Papa yang pinter diam dulu, ya. Jangan menangis! Kita jemput mama," kata Angkasa saat memasangkan penutup telinga pada Chelsea. Ajaibnya bayi itu langsung diam dan memanggil Paris.


"Mama!" 


"Iya, kita jemput Mama," ulang Angkasa.


     Angkasa melihat Roma juga ikut melancarkan tembakan ke arah anggota Red Dragon. Dia tidak tahu siapa Roma sebenarnya. Saat ini baginya tidak ada yang boleh di percayai. Posisi Angkasa dekat anak tangga yang menuju ke lantai dua. Dia melihat ada Akira yang sedang mempersiapkan senjatanya. Senyum di bibir Angkasa pun tercipta.


     Akira memberi kode kepada Angkasa untung berlindung karena peluru senjata dia bisa saja  mengenainya. Senjata andalan Akira pun langsung terbang dan menembakan peluru lasernya. Para anggota Red Dragon yang terkejut mendapat serangan seperti itu. Banyak yang menjadi korban oleh senjata milik Akira. 


     Roma dan Milan pun menembaki senjata Akira yang terbang di dalam ruangan itu. Ada lima bola yang diterbangkan oleh Akira, dan Roma berhasil menembak jatuh dua diantaranya. Milan juga berhasil menembak dua bola senjata itu. Tinggal satu yang masih melancarkan tembakan ke sembarang arah. Angkasa tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan itu. Dia bergegas naik ke lantai atas, di mana Akira sedang bersembunyi dibalik pagar tangga. Angkasa melihat ada Athena yang duduk di dekat Akira dalam keadaan siaga dengan pistol ditangannya.


"Paman Akira," panggil Angkasa dengan pelan.


"Tuan Angkasa ke sini, cepat!" pinta Akira.


     Angkasa pun mendekat ke arah Akira dan Athena. Dia pun bersembunyi di balik sofa yang ada di sana.


"Apa tempat Paris disekap sudah di temukan?" tanya Angkasa.


"Belum. Maaf Tuan," jawab Akira.


"Nggak apa-apa, kita bisa cari bersama-sama." Angkasa merasa sangat kecewa karena keberadaan Paris belum di ketahui.

__ADS_1


"Ada masalah yang lebih besar lagi!" Athena memberitahu Angkasa.


"Apa itu?" tanya Angkasa penasaran.


"Para petinggi Red Dragon dan anak buahnya sedang datang kemari karena laporan Roma!" jawab Athena dengan berbisik


"Roma, itu siapa dia sebenarnya?" tanya Angkasa Lagi.


"Salah satu petinggi Red Dragon menggantikan Caracas, kakaknya. Sementara Milan dan Madrid adalah kubu yang menolak adanya Roma. Intinya sekarang Red Dragon terbagi dua kubu. Kubu Pemberontak dan kubu Petinggi." Terang Athena karena melihat wajah Angkasa yang tidak mengerti.


"Jadi ... saat ini kita sedang berada di tengah-tengah pertempuran kelompok mereka?" tanya Angkasa tak percaya.


"Iya, begitulah!" Akira yang sudah kehabisan semua senjatanya, mematikan laptop miliknya.


"Kita kabur dulu. Mereka sudah sampai di depan gerbang!" Ajak Akira.


"Lalu bagaimana dengan Paris!" Angkasa tidak setuju jika mereka harus pergi tanpa istrinya.


"Dia pasti berada di tempat yang aman. Kita bersembunyi dulu sambil menunggu bantuan datang!" Akira menarik Athena dan berlari menuju ruang kerja untuk bersembunyi di lorong rahasia, tempat mereka masuk tadi.


*******


Bagaimana nasib Angkasa dan yang lainnya?


Siapakah yang akan datang membantu mereka?


Tunggu kelanjutannya ya.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAVORIT, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2