
Hampir dua jam mereka di dalam sana. Seandainya saja bunyi alarm di jam tangan Langit tidak berbunyi, mungkin mereka akan betah tidak ingat waktu.
"Kak Angkasa, ayo kita kembali!" ajak Langit sambil mengetuk jam di tangannya, memberitahu kalau sudah habis waktunya.
Akhirnya kedua saudara kembar identik itu keluar dari ruang rahasia. Berbeda dengan dahulu, saat Langit menyusup ada Lovely yang juga kebetulan ada di dalam ruang kepala sekolah. Kali ini semua berjalan dengan lancar.
*******
Begitu sampai rumah, mereka langsung sholat Subuh berjamaah karena sudah mulai masuk waktunya. Setelah selesai, Langit dan Angkasa pun memasuki kamar Alex. Mereka menceritakan kejadian semalam. Terutama tentang kondisi Honda yang sengaja ingin membunuhnya secara diam-diam. Alex pun akan menemui beberapa orang petinggi Matsumoto, yang dia kenal dekat.
Langit dan Angkasa yang kelelahan akhirnya beristirahat di kamar masing-masing. Langit lupa, kalau kini dia tidak sendiri lagi di kamarnya. Saat dia tidur, ada sebuah tangan memeluknya dari belakang. Langit langsung bangun dari kasur dan dalam keadaan siaga untuk menghajar orang yang tiba-tiba mengganggunya. Namun begitu dilihat orang yang sudah memeluknya, Langit langsung tersenyum.
"Alma, Sayang. Kenapa membuatku kaget?!" Langit tersenyum bahagia kemudian menarik tubuh istrinya dan tidur sambil berpelukan.
"Semalam aku juga nggak bisa tidur. Karena mencemaskan kamu," jawab Almahira sambil menatap Langit.
"Maaf, sudah membuat kamu cemas. Padahal semalam itu malam pengantin kita, ya? Kalau tidak salah." Langit membelai rambut Almahira dengan penuh rasa sayang.
Almahira yang langsung merona pipinya karena malu. Saat Langit bilang malam pengantin.
"Apa sekarang kamu ngantuk, Sayang?" tanya Langit.
"Hm," jawab Almahira dengan jantungnya yang bertalu-talu karena dipanggil 'Sayang' oleh suaminya.
"Kalau gitu, ayo kita tidur!" Langit pun berdoa dan memejamkan matanya, sambil memeluk tubuh Almahira.
Begitu juga dengan Almahira, di berdoa kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Langit. Ada rasa kesal Almahira kepada Langit. Sebab detak jantung Langit berdetak dengan normal. Sementara jantung dirinya berdetak dengan sangat cepat. Mungkin karena mendengarkan detak jantung Langit, membuat Almahira cepat terlelap.
*******
Langit dan Almahira bangun saat waktu makan siang. Almahira sangat malu sekali kepada seluruh keluarga Langit. Meski mereka tidak mempermasalahkan itu.
Kini mereka makan siang bersama. Mereka malah asik menggoda pengantin baru itu. Godaan mereka membuat Almahira malu setengah mati. Mukanya sudah sangat merah karena malu sekali. Begitu juga dengan Langit.
Pelaku utama yang membuat pasangan baru itu kelabakan saat menjawab, adalah Ghazali dan Bintang. Tadinya mereka adem ayem saja tidak menggoda pengantin baru itu. Namun, ketika ketiga anak Alex dan si kembar anak Fatih, yang masih kecil itu pergi dari ruang makan. Baru mereka menggoda habis-habisan Langit dan Almahira, sampai keduanya tidak bisa berkutik lagi karena malu setengah mati.
"Sudah! Kalian jangan ganggu Alma lagi!" Cantika menghentikan kejahilan Bintang yang terlalu bersemangat menggoda Langit. Apalagi ke hal-hal yang menjurus dua satu plus.
__ADS_1
"Ghazali, ikut aku ke rumah sakit!" ajak Alex sambil bangkit dari kursinya.
"Mau ngapain, Kak Al, ke rumah sakit?" tanya Ghazali.
"Bantu temanku," jawab Alex.
"Baby, sayangku ... cintaku! Abang pergi dulu, ya!" Ghazali mencium kening dan bibir Bintang.
"Iya, Bang. Hati-hati ya," jawab Bintang sambil mencium tangan Ghazali.
Almahira menganga saat melihat Bintang dan Ghazali berciuman di depan keluarganya, meski hanya sekilas. Dia tambah shock lagi, saat melihat mertuanya juga melakukan hal yang sama.
"Jangan terkejut begitu! Kalau mau, kita juga bisa melakukannya," kata Langit dengan senyum jahilnya.
"Tidak! Aku nggak mau melakukan itu di depan orang lain," balas Almahira yang menatap tajam ke arah Langit.
"Ah, mungkin karena kamu belum terbiasa melihatnya. Itu akan jadi pemandangan sehari-hari buat kamu nanti kalau kita semua berkumpul." Langit berbisik di dekat telinga Almahira.
Almahira semakin gugup saat mendengarkan ucapan dari Langit. Jantungnya langsung berdetak cepat, dan tangannya pun berkeringat. Almahira terlintas dalam pikirannya, apa nantinya dia juga akan melakukan hal seperti mereka tadi.
*******
"Beneran ini rumahnya?" tanya Bintang yang menatap tak percaya, di tengah hutan ada rumah megah dan besar.
"Iya. Honda sendiri yang memberitahu aku."
"Dia itu siapa?" tanya Angkasa.
"Orang jenius yang menyembunyikan dirinya dari dunia. Takut dimanfaatkan kemampuannya oleh orang tidak bertanggung jawab," jawab Langit.
Ketiganya masih berdiri di depan gerbang rumah yang sangat tinggi. Langit menekan bel yang ada di dekat tembok gerbang.
"Meski rumah ini di dalam hutan tapi, sepertinya dibuat dengan perlengkapan yang canggih," kata Langit sambil melambaikan tangan membentuk kode ke arah kamera cctv yang ada di atas.
Sebelumnya, Honda memberitahu kode yang sering dijadikan sebagai sandi dengan Mazda. Agar dia tidak disangka orang yang dianggapnya sedang memburu dia.
Gerbang itu pun terbuka secara otomatis. Membuat ketiganya tersenyum senang. Sebab mereka diizinkan masuk oleh si tuan rumah.
__ADS_1
"Sepertinya akan seru kalau kita bermain dan menjelajahi rumah ini," kata Bintang sambil melirik ke kanan dan kiri, melihat taman di halaman yang luas itu.
"Ngomong-ngomong, kenapa kita meninggalkan mobil di luar gerbang?" tanya Angkasa dengan menunjuk mobil yang dikendarai oleh Peter, di tinggalkan di depan gerbang.
"Karena dia selalu merasa curiga kepada semua orang. Mau dia kenal atau tidak, kepada orang yang menemuinya," jawab Langit sambil melihat ke arah Angkasa.
Si Trio Kancil, berjalan lumayan jauh. Sekitar sepuluh menit mereka berjalan. Setelah itu ada dua orang berpenampilan rapi menyambut mereka.
"Selamat datang!" sapa mereka kompak.
"Apa tujuan Anda, datang kemari?" tanya salah seorang pelayan.
"Saya membawa surat cinta dari macan jantan," kata Langit.
Kedua pelayan itu terdiam saat mendengar ucapan Langit barusan. Kemudian salah seorangnya lagi menghubungi lewat earphone, dan mengulangi kata-kata Langit barusan.
"Baiklah. Silahkan masuk!" pinta seorang temannya lagi.
Ketiganya, Langit, Angkasa, dan Bintang. Masuk kedalam rumah. Di dalam sudah ada tiga pelayan yang menyambut mereka. Dengan sopan mereka menyambut Si Trio Kancil.
"Pelayan di sini ramah dan sopan, ya. Nggak suka lirik-lirik," kata Bintang sambil berbisik kepada Langit.
"Mau melirik bagaimana, mereka itu semuanya robot. Nggak akan tertarik pada Kak Bintang," balas Langit sambil menyeringai ke arah saudara kembarnya yang suka Pede abis.
"Robot?" tanya Angkasa dan Bintang bersamaan.
"Apa kalian tidak melihat cara jalan mereka? Begitu kaku. Dan mata mereka juga tidak memancarkan cahaya," jawab Langit sambil menepuk bahu kedua saudaranya.
"Padahal kalau sekilas mereka mirip manusia, ya!" Bintang merasa kagum dengan robot buatan Mazda.
*******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.
__ADS_1